#8 - Found

2487 Words
Dentingan lift mengembalikan kesadaran Angelica. Bergegas dia memasuki penthouse Adam. Tangannya penuh tas belanjaan dengan nama brand mahal yang tertempel di permukaannya. Saking banyaknya dia sedikit kesusahan membawa barang-barang ini. Ulahnya juga yang terlalu bingung memilih hingga memesan apa saja yang menurutnya bagus. Seandainya kemarin sore Adam tak buru-buru membawanya pulang ke penthouse ini, Angelica bisa mempersiapkan lebih dulu barang-barang pribadinya di apartemen untuk diangkut ke sini. Sayangnya, bosnya itu terlalu berkuasa. Menolak adalah hal mustahil. Alhasil, dia tak protes saat menemukan mobil berbelok menuju ke penthouse Adam, bukan ke tempatnya. Setidaknya ini kesempatan perdananya menggunakan kartu kredit unlimited milik atasannya untuk berbelanja. Tanpa sadar dia mendesah panjang. Saat menerima pakaian-pakaian ini di lobi tadi, Angelica merasa seperti seorang wanita penghibur. Memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan jabatan, uang, dan juga seks hebat. Hingga sepanjang lift membawanya pulang ke unit Adam, dia gunakan untuk berpikir keras. Hubungan mereka selamanya akan berjalan di tempat. Kebebasannya juga semakin berkurang setiap harinya. Bersikap terlalu baik untuk satu sama lain akan membuat mereka terlalu terikat. Jadi, semakin dirinya terlihat seperti pengeruk harta atau wanita berperilaku buruk, maka perpisahan mereka tak akan menyakitinya terlalu dalam. Adam juga pasti akan bersyukur karena terlepas dari wanita gila harta seperti dirinya. “Dari mana saja kau?” teriakan tersebut berhasil menghentikan langkah Angelica yang hendak menaiki tangga. Kepalanya menoleh. Matanya sontak terbelalak saat menemukan Adam keluar dari area dapurnya. Telanjang bulat. Sorot matanya berkobar penuh amarah. Oh, tidak lagi! Keluh Angelica dalam hati. Meskipun sedang kesal, tapi dia tak sanggup mengalihkan perhatiannya pada bosnya itu. Otot paha Adam tampak kuat. Perlahan pengelihatannya naik ke area panggulnya. Menatap takjub milik pria itu yang perkasa dan selalu memuaskannya. Angelica berdeham cepat. Buru-buru mengembalikan fokusnya pada wajah Adam. Takut saja dia lepas kendali dan menerjang pria seksi di hadapannya itu. “Aku dari lobi,” balas Angelica tenang. Dipamerkan tas-tas belanjaan di depan Adam sambil bersikap santai bahwa kebugilan pria itu tidak memengaruhinya. “Kau tidak memberiku kesempatan untuk berkemas, jadi aku menggunakan kartu kreditmu untuk memesan beberapa kebutuhanku,” lanjutnya. Adam mengangguk kaku. Suasana hatinya masih jelek sekali. “Kemarin aku sudah mengatakan bahwa kau harus tetap berada di ranjangku saat aku bangun! Kau menghilang untuk ketiga kalinya, Angelica!” “Adam.” Angelica mengehela napas berkali-kali. Meredam emosi yang siap meledak detik ini. Dengan tenang, dia membalas teriakan Adam. “Aku bukan cenayang. Jelas, aku tak tau kau akan bangun selama aku turun ke bawah untuk mengambil ini. Hanya sepuluh menit, Adam.” Segera dia melirik jam tangan. Seketika dia melotot karena sudah pukul tujuh lebih. Dia harus mandi sekarang lalu bersiap-siap. Wanita selalu butuh ekstra waktu untuk berdandan, tak ingin terlihat jelek terlebih di depan kekasih paruh waktunya ini. “Aku tidak punya waktu berdebat, Adam,” putus Angelica tegas. “Kuharap kau punya kamar lain atau kamar mandi lain, aku butuh untuk bersiap-siap kerja tanpa gangguan. Kau tau, sebagai sekretaris pribadi, aku tak boleh datang terlambat.” Adam langsung melewatinya begitu saja menaiki tangga. Meskipun bungkam, tapi gerakan pria itu terlihat jelas seperti menyuruh Angelica mengikutinya. Berbelok ke lorong lain yang berlawan dengan kamar pria itu. Sebuah pintu bercat putih langsung dibuka oleh Adam. Sejenak Angelica terperanjat, menemukan kamar bernuansa putih cerah, sangat kontras dengan dekorasi lain di rumah ini. “Kamar tamu. Pakai ini,” jelas Adam sambil menyingkir dari pintu. Memberi akses agar Angelica memasuki kamar. Untung saja bosnya menjelaskan fungsi ruangan ini, kalau tidak mungkin Angelica akan dihantui rasa penasaran. Sebelum menutup pintu, Angelica kembali berbalik. Tatapannya lekat pada Adam. “Terima kasih untuk kamar ini, Adam,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum tipis. Kekesalannya masih ada, tapi itu tidak menghalanginya bersikap ramah pada pemilik rumah. “Terima kasih juga untuk pakaian-pakaian ini.” “Menikmati peran barumu, Angelica?” ejek Adam yang langsung dibalas anggukan Angelica. “Tentu saja, bos! Siapa yang tak suka menjadi kekasih simpanan salah satu miluener di New York? Wanita bodoh!” Angelica memamerkan senyum lebar. Harus benar-benar menyakinkan diri bahwa dia ahli menjadi pengeruk harta. Begitu pintu ditutup dan langkah kaki Adam terdengar menjauh dari luar, seketika kedua lututnya lemas. Pertahaannya runtuh. Pelan-pelan dia menjatuhkan dirinya dan belanjaannya di lantai. Menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. *** Langkahnya melambat saat menuruni tangga. Aroma lezat yang mengisi rongga hidungnya berhasil membunyikan cacing-cacing di perutnya. Kakinya kembali bergerak cepat mengikuti aroma itu menuntunnya. Tepat di balik tangga, area dapur penthousenya berada. Sesaat dia terdiam di ambang pintu dapur. Matanya memperhatikan gerak-gerik Angelica yang tengah membelakanginya. Terlalu sibuk dengan masakannya, entah apa itu, dia sampai tak menyadari kehadiran Adam. Wanita itu tampak memukau dalam pakaian kerja lengkap serba putih gading tersebut. Rambut panjangnya lagi-lagi dicepol sederhana, membuat jemari Adam gemas dan ingin melepaskan jepitan rambut sekretarisnya. Merendam jari-jarinya ke dalam kelembutan rambut bak sutra tersebut. Wanita itu terlihat senang dengan senandung pelan yang dia gumamkan. Serta gerakan ringan yang gemulai. Pagi ini, Adam terpaksa mengakui bahwa dia berlebihan menyikapi ketidakhadiran Angelica di ranjangnya. Sekretarisnya itu benar, bukan salahnya jika Adam terbangun saat dia tengah mengambil pakaiannya. Lagi pula, kepergiaannya hanya sekitar sepuluh menit. Adam berlebihan, tapi kekesalan itu muncul begitu saja hingga menimbulkan ribut-ribut kecil. Memulai hari dengan cukup buruk. “Ya Tuhan!” pekikan Angelica berhasil mengembalikan fokus Adam. Ditatapnya lekat sang sekretaris. Angelica sangat cantik dalam riasan profesionalnya; make-up mata yang memamerkan mata berbentuk seperti kucing itu serta bibir mungil yang dipulas lipstik merah muda. Segar dan sederhana. Sambil menyunggingkan senyum canggung pada Adam, Angelica bergumam pelan. “Kau mengagetkanku.” Tanpa menunggu respons Adam, Angelica segera mematikan kompor. Mengangkat teflon lalu memindahkan isinya ke atas meja makan. Satu piring berisi Omelet tersaji. Adam baru menyadari sejak tadi di meja makan sudah tersedia dua piring kosong serta dua gelas air mineral. Sekretaris penggodanya itu terlalu menyita seluruh fokusnya. Membahayakan, tapi dia merasa tak terlalu terganggung karenanya. “Apa ini?” tanya Adam seraya berjalan mendekati meja makan. Suaranya terdengar serak. Tenggorokannya mendadak kering. “Omelet,” jawab Angelica santai. Wanita itu berbalik untuk menaruh teflon ke tempat semula dan sekali lagi aroma lezat dari arah kompornya tercium, sekretarisnya membuat masakan lain. “Hanya itu bahan makanan yang tersisa di kulkasmu. Bahkan Omelet ini terlalu hambar, tidak ada keju yang tersisa.” “Aku tau ini Omelet, Angelica.” Adam berdeham. Mencoba untuk tidak terpengaruh apalagi sampai menarik sekretarisnya itu ke dalam pelukannya dan b******a di atas meja makan lagi pagi ini. Keadaan ini asing, tapi kehangatan seolah menyelubungi hatinya. “Aku hanya tidak pernah melakukan ini,” akunya. Tiba-tiba Angelica kembali menoleh padanya. Melempar tetapan bertanya ke arah Adam. “Sarapan? Kau tidak pernah sarapan?” Adam menggeleng pelan. Terakhir kali dia sarapan mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat dia masih tinggal di Roma bersama orang tua dan kakak laki-laki tirinya. Mamma tak akan mengizinkan anak-anak sekolah atau keluar rumah, jika makanan yang wanita itu sajikan masih tersisa. Kemudian, kepindahannya ke Amerika untuk sekolah di Universitas lalu langsung terjun untuk mengembangkan perusahaan Valentini membuatnya terlalu sibuk hanya untuk sarapan. Tak ada asisten rumah tangga yang datang terlalu pagi untuk membuatkannya makan pagi dan Adam terlalu malas ke dapur hanya untuk memanaskan makanan semalam atau membuat sesuatu sesimpel Omelete. “Sarapan kalau begitu hari ini.” Angelica menyunggingkan senyum indahnya. Membuat Adam luluh dan berjalan dengan sendirinya menduduki kursi. “Kau mau kopi, Adam?” Adam mengangguk kaku. Momen ini juga terasa canggung. Perasaannya juga sedikit campur-aduk. Karena selain Mamma, satu-satunya wanita yang memasakannya sarapan adalah Angelica. Beberapa menit kemudian, di samping gelas airnya, Angelica meletakan secangkir kopi. Refelks, Adam mencekal lengan Angelica, menahan sekretarisnya itu untuk tetap tinggal. “Kenapa kau melakukan ini? Membuatkanku sarapan?” Kening Angelica berkerut. Sorot matanya menunjukan tanda tanya. “Karena kita butuh sarapan. Oh… aku juga menganggap ini sebagai bentuk terima kasih karena membayarkan pakaian-pakaianku tadi.” “Hanya itu?” Angelica mengangguk cepat. Segera menarik tangannya karena masakannya butuh perhatiannya. Melihat Omelet ini, ada rasa enggan untuk memakannya. Aneh saja melakukannya. Namun, saat perutnya mulai memprotes kelaparan, Adam menyerah. Untuk kali ini, dia akan makan pagi. Memotong sedikit Omelet lalu memakannya. Rasanya standart, tapi senyum puas terukir di wajahnya. Sekali lagi kepalanya terangkat. Angelica tengah menaburi garam ke dalam Omelet miliknya. Tubuh Adam bergerak dengan sendirinya. Berjalan lambat-lambat mendekati sang sekretaris. Tangannya dengan santai melingkari perut Angelica. “Adam!” bisik Angelica seraya mematikan kompor. “Kau sedang apa?” “Aku ingin b******a denganmu sekarang,” balas Adam sambil berbisik tepat di telinga Angelica. Aroma parfum Vanila yang tercium di sekitar leher wanita itu selalu berhasil menaikan gairahnya. Dia memang tidak pernah merasa cukup jika menyangkut Angelica. Refleks, Angelica berbalik. Kedua tangannya menangkup wajah Adam. Mencium bibir pria itu singkat lalu mendesah panjang. “Maafkan aku, aku tidak bisa sekarang. Aku tau bosku akan memaklumi jika aku terlambat hari ini. Tapi mesin absensi tidak akan menolerinya dan gajiku akan dipotong bulan ini.” “Sial!” maki Adam. Harusnya dia menolak usulan mesin absensi otomatis itu. Jadinya dia harus menerima getahnya sekarang karena tak bisa membuat sekretarisnya terlambat. Pria itu mendengus singkat. Lilitannya semakin mengetat. Sambil mengunci tatapan Angelica, dia bergumam. “Tapi masih cukup waktu untuk satu ciuman panas kan, Sayang?” Angelica mengangguk singkat. Dengan santainya dia melingkarkan tangan di leher Adam. Mata wanita itu terpenjam. Pelan tapi pasti Adam membungkam bibir mereka. Dicecapinya rasa samar strawberry dari bibir Angelica. Begitu memabukan. Efek yang jauh lebih dahsyat daripada alkohol mana pun yang pernah dia minum sepanjang hidupnya. *** Pusing, hal pertama yang Angelica rasakan tatkala menemukan restauran yang dia datangi padat. Pukul dua belas, jam makan siang, kesibukan para pekerja New York sangat gila. Mereka seolah memanfaatkan waktu singkat—kurang lebih satu jam— untuk bersantai di tempat makan terbaik. Karena setelah itu, mereka harus menghadapi pekerjaan tanpa henti hingga jam pulang kantor. Angelica celingukkan sejenak. Sulit sekali menemukan satu meja kosong, sekalipun hanya untuk dua orang. Tanpa sadar dia mendesah panjang. Kalau bukan janjinya pada Rhea kemarin, dia pastikan terjebak di kantor sekarang. Kemarin dia sudah membatalkan makan siang mereka. Hari ini, mumpung dia cukup senggang, tak ada alasan menolak. Lagi pula, teman sebelah unitnya itu menyenangkan. Mereka baru berkenalan kurang lebih dua bulan terakhir, tapi rasanya sudah seperti teman lama. Dan Angelica rindu bercengkrama ringan dengan sesama wanita. Selama tiga hari terakhir hidupnya hanya berpusat pada pekerjaan dan bos seksinya. Akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah meja kosong di sudut ruangan. Segera dia mengambil alih sebelum orang lain menyadarinya. Baru saja mendudukan diri di kursi, pintu restauran terbuka. Rambut merah menyala Rhea langsung dikenali. Refleks, dia melambaikan tangan untuk memberi tanda. Temannya itu bergegas mendekat. Keduanya bercipika-cipiki singkat lalu duduk saling berhadapan. “Astaga, aku merindukanmu,” keluh Rhea seraya meminta menu kepada pelayan yang kebetulan lewat. “Kau sudah beberapa hari tak pulang, Angelica.” Angelica tak langsung menjawab. Pelayan dengan menu yang dibawanya itu menarik perhatian keduanya sejenak. Dengan cepat mereka memilih makanan favorit di sini. Menunggu pelayan pria yang tak ramah tadi menghilang membawa pesanan mereka. “Kemarin kita bertemu, Rhea.” Keduanya terkekeh bersamaan. Namun, dasar hatinya merasa sedikit bersalah. Rhea temannya, selalu menemani malam menyedihkannya di apartemen. Berkat Adam, dia jadi jarang menyapa tetangga sebelah unitnya ini. “Jangan membesar-besarkan seolah aku pindah apartemen.” Pelayan tak ramah tadi kembali datang membawa minuman mereka. Angelica mapun Rhea menggumamkan terima kasih yang berakhir dengan gerutuan panjang. Lagi-lagi gelak tawa berkumandangan. Mengabaikan sikap menyebalkan barusan. “Angelica, kita hampir setiap hari bersama. Semalam apa pun kau pulang kerja, kita selalu menghabiskan satu jam untuk mengobrol atau setidaknya makan malam bersama. Lalu pria tampan itu menculikmu! Aku jadi sedikit kehilangan temanku.” Tiba-tiba Rhea mencondongkan badannya. Mendekatkan bibirnya ke telinga Angelica. “Katakan padaku, Angelica, apakah pria itu sangat perkasa dan membuatmu sangat lelah di ranjang sehingga kau terlalu malas pulang ke sarangmu?” Seketika pipi Angelica merona. Harus diakui, Adam memang hebat di ranjang. Hampir setiap malam mereka menghabiskan beberapa sesi panas. Tapi tetap dia tidak tahu, apakah pria lain ada yang lebih memuaskan dari bosnya itu, karena Angelica tak punya pembanding. Sejenak pikirannya melayang. Adam lagi-lagi memenuhi benaknya. Sepertinya ketika hubungan mereka berakhir, dia akan membutuhkan waktu lama untuk mencari pengganti bosnya itu. Tak ada kekasih, apalagi cinta semalam. Takut merasa kecewa karena membandingkannya mereka dengan Adam atau sebenarnya, Angelica tak ingin membayangkan orang lain selain bosnya itu di ranjangnya. Buru-buru dia menggeleng pelan. Pikiran itu seharusnya tidak dipikirkan sekarang. Dia masih bersama Adam. Meski begitu cepat atau lambat, suka atau tidak, hubungan mereka akan berakhir juga. “Kurasa,” balas Angelica singkat. Rhea tergelak seraya menepuk pelan pundak Angelica. “Seperti yang kuperingatkan padamu, Ms Keaton. Oh, trims,” ucapan Rhea terputus tatkala pesanan mereka datang. “Jangan sampai kau yang ditinggalkan, kaulah yang harus meninggalkan orang itu lebih dulu!” Angelica meringis kecil. “Kuharap aku bisa melakukannya. Jadi, apakah makan siang ini hanya mengorek masalah kehidupanku atau kau juga ingin bercerita sesuatu Rhea?” “Tentu, tentu!” Rhea terkekeh pelan seraya menggigit kecil burgernya. “Kau ingat alasanku mengajakmu ke klub malam itu?” Angelica mengangguk lambat. “Oh, aku tidak bersama pria yang kuincar. Ada pria lain. Kami menghabiskan malam beberapa hari terakhir. Dia… tidak buruk. Aku menyukainya. Aku juga melupakan pria incaranku di klub.” “Ya, Tuhan! Selamat!” Refleks, Angelica menggenggam tangan Rhea. Ingin memeluk temannya itu tapi meja di antara mereka menghalangi aksinya. Angelica tersenyum puas. Malam itu bukan hanya hari keberuntungannya, tapi juga Rhea. Dia mendapatkan bosnya yang super seksi itu. Menjawab segala rasa penasaran di balik pakaian kerja Adam. Sementara Rhea, mungkin dia tidak menuntaskan masalahnya dengan seseorang yang dia kagumi diam-diam. Tapi, temannya itu mendapatkan pria yang lebih baik. Yang membuatnya terlihat sama bersinarnya dengan dirinya. Makan siang mereka berakhir setengah jam kemudian. Keduanya terpaksa berpisah sangat cepat karena Angelica harus mengurus perjalanan dinasnya ke Seattle lusa. Rencana pekerjaan ini akan memamakan waktu satu minggu, jadi dia harus memastikan semua berkas-berkas yang dibawa tak ada yang tertinggal. Mereka berpelukan singkat di depan restauran sebelum akhirnya berpisah di sisi jalan yang berbeda. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ponselnya bergetar pelan. Segera Angelica merogoh tasnya. Langkahnya sontak berhenti saat menemukan nama yang tak ingin dia lihat di layar ponselnya, sekarang malah muncul. Dengan enggan, dia menganggkat panggilan tersebut. “Ya?” “Kau di New York, benarkan?” tanyanya yang sama sekali tak Angelica balas. Kemarin bunga tulip kesukaannya dan sekarang pertanyaan yang jawabannya tentu sangat pria itu ketahui. Dengan kesal, Angelica menjawab. “Kau tak seharusnya mencariku. Apa mau?” Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di samping Angelica. Dia menoleh, bersamaan itu pula kaca mobil bagian belakang terbuka. Wajah menyebalkan yang sangat tak ingin dia lihat muncul di depannya. “Angelica, masuk ke mobil!” Refleks, Angelica berlari. Sekencang apa pun yang bisa dia raih. Oh, tidak dia ketahuan. Bergegas dimasukinya salah satu taksi yang dia temui. Meminta supir mengelilingi New York hingga dia tak lagi diikuti. Setelah mengetahui tempat tinggalnya, pria itu tak boleh mengetahui tempatnya bekerja. Berbahaya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD