Deru napas keduanya beradu di udara. Mata mereka terpaku pada satu sama lain di dalam gelapnya ruangan. Satu-satunya pencahayaan hanyalah sinar bulan yang menembus jendela. Badannya penuh peluh dan sangat lembap, padahal pendingin menyala dengan suhu terendah. Semua disebabkan oleh sekretaris seksi yang baru saja dia jadikan kekasihnya, Angelica. Wanita itu cerdas dalam memainkan perannya. Pintar juga menyulut bara dalam dirinya untuk berkobar dan panasnya selalu berhasil menjalari sukujur badannya.
Ingatan Adam melayang ke beberapa saat lalu. Mereka telah menghabiskan satu sesi di dapur. Kemudian, berpindah cepat menuju kamar tidur saat mengetahui satu sesi tak meredahkan gairah keduanya. Alas yang empuk akan sangat bagus untuk melakukan beberapa sesi panas lain bersama Angelica. Seperti saat ini, saking tak lagi dia hitung, dia sudah lupa berapa kali dia harus mengganti pengamannya atau berapa kali dia membuat wanita di dalam pelukannya ini sampai ke puncak kenikmatan.
“Kita harus tidur,” putus Adam dengan enggan. Meskipun hasratnya terhadap Angelica masih sangat besar, tapi dia sadar wanita ini berhasil merontokan tulang-tulannya. Jika dia melanjutkan sesi b******a ini, maka bisa dipastikan dia tak akan terbangun esok pagi untuk bekerja.
“Ya,” bisiknya. “Kali ini benar-benar tidur.”
Adam terkekeh pelan. Sekali lagi dia memberikan sebuah kecupan lembut nan singkat pada bibir Angelica. Merapatkan pelukannya pada tubuh telanjang sang sekretaris lalu memejamkan mata. Rasa kantuk menghantamnya. Dia menyerah dan akhirnya terlelap dalam mimpi indah.
Pekikan kencang alarm berhasil menarik nyawa Adam kembali ke tubuhnya. Sontak kedua matanya terbuka lebar. Sekejap matanya buta karena sinar matahari yang begitu terik menyorot matanya. Ketika pandangannya membaik, refleks, dia membalikan badan. Tangannya dengan santainya meraba sisi ranjang.
Sesaat, Adam membeku saat tak menemukan seseorang yang dia cari. Sontak dia terbelalak. Matanya jelalatan mencari sosok yang semalam membuatnya gila. Wanita yang menguras seluruh energinya di ranjang. Sayangnya, kamarnya kosong. Persis seperti peristiwa percintaan pertama kali mereka. Lagi-lagi dia ditinggal seorang diri di ranjangnya.
“Sialan!” maki Adam. Buru-buru dia menyibak selimut sutranya. Menuruni tempat tidur lalu terbirit menuju ruang gantinya. Menarik celana dalam baru dari lemari untuk dia kenakan.
“Angelica!” teriak Adam, masih setengah berharap sekretarisnya itu tengah berada di kamar mandi atau ruangan lain di penthousenya. Satu per satu ruangan di dalam rumahnya ini dia jelajahi sambil terus memanggil nama Angelica. Sayangnya, tak ada respons yang berarti wanita itu kembali menghilang.
Ditinggal sekali pasca percintaan, Adam mencoba untuk memakluminya. Ditinggal untuk kedua kalinya, kekesalannya membuatnya ingin menghukum sekretarisnya itu. Bisa dipastikan, malam ini Angelica akan kembali menginap di penthousenya. Wanita itu harus belajar dengan benar bagaimana menyenangkannya. Menyambutnya dengan baik begitu membuka dia membuka mata lalu masih tetap tinggal bersamanya di ranjang untuk beberapa menit sebelum akhirnya memaksa diri untuk bangun.
Sambil mengerang frustrasi, Adam segera kembali ke kamarnya. Lagi-lagi suara ribut-ribut yang berasal dari alarm menarik perhatiannya. Hingga sebuah memo yang terselip di bawah ponselnya yang bergetar itu menarik perhatiannya. Segera dia meredamkan bunyi barulah mengambil surat di sana. Tulisan tangan yang rapi dan khas langsung dia kenali. Setiap kali Angelica menaruh berkas pekerjaan, terkadang terselip satu atau dua memo dengan tulisan tangan wanita itu.
Morning, Bos! Mengingat semalam aku pergi tanpa persiapan serta kau fakta bahwa kau menyobek celana dalamku secara brutal di dapur, aku harus kembali ke apartemenku untuk bersiap-siap berangkat kerja. Sampai bertemu di kantor, Adam. Konferensi dengan perusahaan di DC pukul 10 – Angelica.
Mata Adam sontak melotot membaca kalimat terakhir. Belum juga berada di kantor, tapi dia sudah diingatkan jadwal kerjanya yang padat dan gila itu. Hingga sebuah kesadaran berhasil mengundang dengusan gelinya. Baru pertama kalinya dia berkencang dengan wanita, pagi hanya ditinggalkan dengan sebuah memo berisikan jadwal kerjanya. Adam merasa bersyukur telah mengabaikan aturan untuk mengencani sekretarisnya. Ternyata sikap Angelica yang seperti ini berhasil memperbaiki suasana hatinya yang sempat berantakan.
***
Senandung pelan menemani setiap langkah Angelica kembali ke apartemen. Wajahnya dihiasi senyum lebar. Pipinya merona, terlebih setiap adegan semalam berputar dengan senonoh di otaknya. Dia mengira menerima kesepakatan dengan Adam adalah hal sinting. Ternyata ini hanya jenis lain dari mimpi indah dan sekarang dia berharap tak pernah bangun.
Buru-buru dia menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat unitnya berada. Bangun dari ranjang Adam pagi ini bukanlah perkara mudah. Ketika harus menyingkirkan sepasang tangan kuat yang memeluk tubuhnya dengan posesif, Angelica seolah ingin tetap tinggal. Sayangnya, dia harus memaksa diri untuk bangkit dari rasa nyaman itu. Kenyataan bahwa pagi datang, maka dia bukan lagi kekasih Adam di ranjang melainkan sekretaris pria itu. Dan, sebagai seorang sekretaris, dia harus sudah berada di kantor sebelum bosnya datang. Jadi, Angelica harus kembali untuk membersikan diri, berganti pakaian, serta berdandan.
“ANGELICA!” teriakan riang seseorang berhasil menghentikan niat Angelica memasukan kunci ke lubang di pintu.
Sontak dia berbalik, Rhea berjalan mendekatinya. Wanita itu sudah terlihat rapi dalam pakaian kerjanya. Bedanya, tetangga sebelah apartemennya itu bukanlah seorang sekretaris, hanya staf humas di sebuah kantor percetakan. Senyum tipisnya tersungging. “Aku tidak menemukanmu di klub malam itu,” ucapnya sembari menatap lekat penampilan Angelica dari puncak kepala hingga ujung kaki. “Tidak melihatmu juga pulang ke apartemenmu semalam.”
“Ah….” Angelica menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Baru saja menyadari bahwa dua malam terakhir dia tidur di penthouse Adam. “Itu—”
Rhea tergelak. Tangannya mengibas di depan wajah Angelica. “Aku melihatmu berciuman dengan seorang pria itu klub malam itu. Dia kan, pria yang menjadi alasanmu tak terlihat dua malam ini?”
Karena sudah ketahuan, Angelica pun mengangguk lemah. Lagi pula, Rhea juga berada di klub malam itu, melihat dirinya dan Adam berciuman adalah hal yang wajar. “Begitulah,” jawab Angelica malu-malu. Memiliki kekasih, meskipun tidak dalam jenis romansa karena hanya yang mereka miliki hanyalah gairah, adalah sesuatu yang tak pernah dia bicarakan sebelumnya oleh teman.
“Tangkapan bagus, Angelica!” ucap Rhea. Senyum lebar penuh bangga tersungging di wajahnya. Tiba-tiba dia memelankan suaranya seraya mendekatkan bibir ke telinga Angelica. “Satu pesan dariku, jangan lepaskan pria semenarik itu. Tapi, jika hubungan kalian terpaksa berakhir, lepaskan dia lebih dulu sebelum dia melakukannya. Angelica, jangan membuatmu terlihat menyedihkan karena dicampakan, harus sebaliknya!”
Sebuah nasihat yang mustahil terjadi, batin Angelica merana. Dalam perjanjian mereka, Adamlah yang memutuskan. Sudah bisa dipastikan, dialah yang akan dicampakan karena hingga detik ini, dia tak pernah bosan dengan bosnya itu.
Namun, demi membuat Rhea senang, terlebih wanita itu satu-satunya teman yang dia miliki di New York, Angelica mengangguk patuh. Masa depan adalah misteri. Mungkin saat mendapati perubahan Adam, Angelica akan pergi lebih dulu apabila sanggup.
“Kau tahu Rhea, aku harus masuk,” ucap Angelica pada akhirnya. Detik terus bergulir, dia tak bisa terus berbasa-basi dengan tetangga. Terlebih dia juga teringat tak mengenakan celana dalam di balik baju kerjanya. Untungnya Adam membawa serta baju kerjanya kemarin, karena dia akan terlihat konyol jika pulang mengenakan gaun malam seksi itu.
“Ah ya, aku hampir melupakan tujuanku memanggilmu. Tunggu sebentar, aku meninggalkannya di apartemenku.” Rhea segera berbalik memasuki apartemennya di sebelah kamar Angelica. Tak sampai semenit kemudian, dia muncul dengan sebuket tulip putih. Sesaat napas Angelica tertahan menemukan bunga-bunga itu. “Tadi pagi ada pria datang melihat-lihat apartemenmu. Dia tampan, jadi kusapa saja. Ternyata dia sedang mencarimu, Angelica. Saat kukatakan kau tidak pulang semalam, mungkin ada pekerjaan di luar kota, dia langsung menitipkan ini padaku. Aku tak melihat ada surat, tapi saat aku menayakan nama, dia berkata kau akan tahu siapa dia.”
“Trims,” balas Angelica singkat sembari mengambil bunganya.
Rhea mengangguk singkat, sama sekali tak mencurigai perubahan mimik wajah Angelica. Sambil menepuk pundaknya, dia berbicara, “kalau kau senggang, ayo makan siang bersama nanti! Aku benar-benar ingin mendengar cerita lengkap pria itu. Sampai jumpa lagi, Angelica.”
“Dah!” Angelica melambai, menggiring kepergian Rhea.
Buru-buru dia memasuki unitnya. Menutup rapat-rapat pintu. Sedikit parno, matanya menjelajahi kamar mininya ini. Tempat ini masih persis sama seperti yang terakhir kali dia tinggalkan.
Sekali lagi dilihatnya tulip putih di tangannya. Masih sangat baru. Semerbak aroma bunga ini memenuhi rongga hidungnya. Pria itu benar, dia tak perlu menyebutkan nama karena Angelica tahu benar siapa yang mengirimkan ini padanya. Sayangnya, ini belum waktunya mereka untuk bertemu, sepantasnya pria itu tak boleh muncul sekarang.
***
“Angelica!” geraman itu berhasil memecahkan lamunan Angelica.
Sontak dia mendongak, matanya langsung berserobok dengan mata gelap Adam. Tanpa bisa dicegah, rona merah yang telah menghilang sejak tadi kembali muncul. Kilasan e****s yang mereka buat berputar di kepalanya.
“Ikut aku masuk, Angelica,” perintah Adam, hal yang sukses mengembalikan fokus Angelica ke bumi.
Kau sekretaris Adam, bukan kekasihnya. Jangan memandang bosmu seperti makanan penutup! maki Angelica dalam hati. Segera saja dia mengekori Adam memasuki ruangan pria itu. Membawa tabletnya yang berisi jadwal sang bos.
Ketika pintu ruangan pria itu tertutup rapat di belakangnya, Angelica memberanikan diri mengangkat kepala. Bosnya itu tengah duduk di pinggiran meja kerjanya, sementara kedua tangannya terlipat di d**a. Tatapan Adam tajam. Kekesalan seolah menyelimuti pria itu. Alis Angelica mengernyit. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang menyebabkan ekspresi buruk atasannya.
“Mr Valentini,” sapa Angelica pelan. Kepalanya langsung merunduk. Berpura-pura memusatkan perhatiannya pada tablet di tangan. Padahal alasan sebenarnya dia tak ingin menatap mata Adam adalah, dia tak ingin adegan panas mereka bermain-main di kepalanya dan menghancurkan fokusnya.
“Angelica, tatap aku!” Angelica mendesah panjang. Nada suaranya yang tak bisa dibantah itu mengharuskannya kembali mendongak. Matanya langsung terkunci dengan mata gelap Adam. “Kau benar-benar tak punya sopan santun, Angelica.”
“Maaf,” balas Angelica dengan bingung. Dia berusaha mengingat kesalahan yang dia lakukan sepanjang malam ini. Satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah b******a tanpa henti. Angelica sangat yakin Adam tak memiliki kritik masalah ranjang terhadapnya, karena jika itu terjadi bosnya itu tak akan menghabiskan waktu selama itu hanya untuk seks bersamanya. “Aku tidak paham maksudmu, Adam.”
Adam mendengus kesal. Perlahan dia bangkit dari duduknya. Kakinya berjalan memutari Angelica sambil terus mengawasinya. “Pertama Angelica, aku tidak suka terbangun sendirian di ranjangku pada pagi hari selepas b******a dengan wanita. Kedua, jika memang kau harus pergi, bangunkan aku, bukan malah menulis memo super rapi yang berisi informasi kepergianmu sekaligus urusan pekerjaan pagi ini. Ketiga, kalau kau membangunkanku, aku pasti memberikanmu kartu kreditku. Dengan itu kau tak perlu kembali ke apartemenmu karena kau bisa memesan pakaian-pakaian baru dengan benda kotak kecil itu!”
“Itu….” Angelica mengangguk pelan. Berhasil memahami keresahan bosnya. “Maaf karena tidak membangunkanmu, Adam. Pagi tadi kau tampak… lelah. Aku tak tega membangunkanmu, jadi memo adalah pilihan bagus.”
“Sial! Aku jadi terlihat seperti pria tak tahu malu sekarang.” Penjelasan Angelica berhasil memperburuk suasana karena sekarang Adam semakin gusar. “Jika aku lelah, kau jauh lebih lelah, Angelica. Kita berdua sama-sama terjaga! Kau butuh istirahat, bukannya malah menyelinap pergi mengarungi New York pagi-pagi sekali tanpa celana dalam!”
“Maaf.” Sekali lagi dia memohon ampunan. Perangai Adam yang sedang jelek ini sangat bahaya jika disanggah omongannya. Mengalah adalah jalan tengah. “Aku tak akan mengulanginya lagi,” janjinya.
“Bagus! Jadi besok pagi, aku tak ingin melihat kasurku kosong.”
“Besok pagi?” gumam Angelica.
“Angelica, kau tidak lupa dengan kesepakatan kita, kan? Siang hari kau sekretarisku dan malam hari kau kekasih. Malam ini aku tidak ada acara, kau tidur di tempatku!”
Angelica mengangguk paham. Satu hal baru yang dia temukan dari sosok Adam, bosnya itu sangat mendominasinya dalam segala hal sekarang. Bukan hanya mampu mengendalikan reaksi tubuhnya pada pria itu, tapi Adam juga mampu membuatnya berkata ‘iya’ tanpa sempat memikirkan untung rugi suatu hal secara mendalam. Masa depannya terlihat semakin jelas sekarang. Jika Adam berkata selesai, maka Angelica tak akan sanggup merubah pendirian pria itu. Menyedihkan.
***