#6 - Dessert

1898 Words
Wajah Angelica berubah pucat pasi. Bagian bawahnya berdenyut dan hawa panas menggelenyar ke sekujur tubuhnya. Wajahnya merona. Pertanyaan yang baru saja bosnya itu lontarkan terdengar tidak masuk akal. “Kau bilang apa?” tanya Angelica berusaha untuk memastikan bahwa pendengarannya normal. “Aku menginginkanmu di ranjangku, Angelica.” Nada suaranya lebih rendah. Meskipun jarak antar meja satu dengan lainnya berjauhan, tapi Adam berusaha untuk meminimalisir masalah agar tak seorang pun mendengar obrolan mereka. Seketika napas Angelica tertahan. Matanya mengerjap beberapa kali. Berharap sosok di sebrangnya ini berubah menjadi orang lain, siapa saja asal bukan bosnya. Kejadian semalam memang terjadi di luar kendali mereka. Meskipun dia juga merasakan hal yang sama, masih sangat menginginkan Adam. Tapi melakukan itu untuk kedua kalinya adalah hal gila. “Kau bercanda,” ucap Angelica sedikit terbata. Dihirupnya napas banyak-banyak, dia butuh oksigen untuk memenuhi otaknya agar bisa bekerja dengan benar. Sayangnya, gelengan Adam menandakan keseriusan pria itu. Ekspresinya pun mengeras. “Angelica, apakah semua yang kulakukan terlihat bahwa aku sedang mempermainkanmu?” Dengan kaku Angelica menggeleng. Sekalipun ingin mengelak, tapi bosnya itu memang terlihat amat serius. “Kalau begitu percayalah bahwa aku memang masih menginginkanmu.” “Bagaimana bisa, Adam? Maksudku, aku—” “Menginggalkanku sendirian di ranjang dalam keadaan telanjang, itu yang kau maksud?” tanya Adam yang langsung dibalas anggukan lambat Angelica. Percuma dia menyangga, dia sudah terpojok sekarang. Satu-satunya yang Angelica butuhkan adalah banyaknya logika yang bisa dia kumpulkan agar obrolan ini terdengar masuk akal. Agar keinginan bosnya itu dibatalkan. Tiba-tiba bosnya itu mendengus kesal. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja terlihat tidak sabaran. Sementara sorot matanya seperti mengejek Angelica bodoh atau sejenisnya. “Kau pikir aku mabuk semalam? Tidak, Angelica. Iya, aku minum alkohol. Tapi aku masih sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi.” “Lalu, lalu, kenapa kau tiba-tiba menciumku?” “Sejujurnya, Angelica, aku sudah menginginkanmu sejak pertama kali melihat fotomu di tumpukan berkas lamaran.” Sebuah senyuman tersungging di wajah Adam dan jantung Angelica berdebar tak keruan karena perubah mimik tersebut. Bosnya tampan. Serta fakta yang barusan dia dengar juga sangat menajubkan. Cinderella metropolitan. Bukan sepatu kaca yang membuat pangeran menemukanmu, tapi foto dari banyaknya tumpukan berkas lamaran kerja. “Semalam, aku cukup frustrasi. Aku menginginkanmu, tapi tidak cukup gila mengajakmu terang-terangan ke tempat tidurku. Hingga kau muncul di tengah-tengah kerumunan orang di klub seperti sebuah oase di tengah padang pasir. Aku sengaja mengiyakan saat kau menganggapku mabuk. Karena saat itu kupikir sekali saja, semua selesai. Nyatanya, Angelica, aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sejak pagi karena aku masih amat sangat b*******h terhadapmu!” ucap Adam yang begitu lugas menimbulkan rona yang makin jelas di pipinya. Belum lagi cara pria itu menatapnya dengan sorot penuh puja. Angelica merasa tubuhnya terlalu kurus dan tidak sedap di pandang. Namun bosnya itu berhasil membuatnya merasa sangat diinginkan dan tampak menarik. “Jadi, apa yang kau inginkan, Adam? Satu malam lagi?” tanya Angelica mencoba membaca maksud tersembunyi dari kata-kata Adam. Tapi saat mendapati gelengan tegas Adam, Angelica mengernyit. “Kurasa satu malam tak akan cukup, Angelica. Tidak denganmu kurasa. Aku ingin lebih dari satu atau dua malam, kira-kira sampai aku merasa bosan dan cukup.” “GILA!” suara Angelica tanpa sadar meninggi saking kagetnya. Menyadari beberapa orang menoleh ke arah mereka membuatnya buru-buru memelankan suaranya. Tubuhnya mencondong ke arah Adam. “Harus kuakui semalam… menajubkan. Aku juga masih menginginkanmu, Adam. Tapi aku ini sekretarismu, aku bukan kekasihmu yang berkewajiban melayanimu di ranjang setiap kalau kau menginginkannya.” Adam mengerutkan kening sambil menatap lekat Angelica. Pria itu tampak berpikir keras. “Bagaimana kalau seperti ini?” Adam tahu-tahu saja ikut mencondongkan wajahnya. Menyisakan beberapa senti dari wajah Angelica. Senyum miringnya terukir di wajah. “Siang kau menjadi sekretarisku dan malam kau adalah kekasihku.” “Adam, kau tak mungkin menjadikan seseorang kekasih hanya karena kau butuh seks darinya,” ucap Angelica singkat lalu segera menarik diri. Tubunya bersandar di kursi. Kedua tangannya terlipat di depan d**a. Tawaran itu menggiurkan, tapi risikonya besar. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya sebelum kebebasannya habis. “Aku juga tidak ingin mengambil risiko kehilangan pekerjaan saat kau sudah bosan padaku nantinya. Tak ada untungnya untukku selain seks.” “Kau tidak akan kehilangan pekerjaanmu setelah hubungan kita berakhir,” balas Adam cepat-cepat. “Selain seks kau akan menjadi kekasihku. Tentu saja kau mendapatkan kartu kredit tak terbatas dariku dan bisa membeli apa pun yang kau inginkan. Gajimu sebagai sekretaris akan kutambahkan di luar bonus kinerja. Kau juga mendapatkan kesetiaanku karena aku tak suka berselingkuh. Tapi, aku tak bisa memberikan hubungan yang lebih lanjut daripada ini.” Angelica tak langsung menjawab. Sesaat matanya mengunci tatapan Adam. Ada kesungguhan, kejujuran, hasrat, serta kobaran semangat dalam sorot mata bosnya. Namun tetap saja, masa depan terlalu abu-abu untuk bisa dipastikan. Banyak hal yang bisa saja terjadi untuk beberapa waktu ke depan. Tanpa sadar dia mengalihkan pandangannya. Pemandangan kota New York pada malam hari sangat mengesankan. Lampu-lampu berkelap-kelip tanpa henti. Billboard besar dengan berbagai iklan tersebar di mana-mana. Bangunan puluhan lantai yang berdiri menunjukan betapa berkuasanya kota ini. Waktunya yang tersisa untuk menikmati kota ini tak banyak, begitu pula kebebasannya. Tawaran Adam juga sangat menggiurkan terlebih untuknya yang buta akan romansa. Bosnya itu sangat mengesankan di ranjang dan pria itu baru saja menawarkan kesengan lain yang akan sangat susah dia dapatkan jika kembali ke kehidupannya sebelumnya. Mungkin sebulan atau kurang dari itu bosnya akan bosan, tapi dia tak akan kehilangan pekerjaan seperti janji Adam. Jadi, setelah bosnya itu bosan, dia bisa kembali menjadi sosok profesional hingga dia resign nanti. “Angelica, kumohon.” Adam meraih salah satu tangan Angelica untuk diremas pelan. Kesempatan hanya pernah datang satu kali, tidak ada yang kedua apalagi ketiga. Bosnya ini menginginkannya, begitu pula dirinya. Jika ini adalah mimpi, maka sebelum kembali ke realitas harusnya dia memanfaatkan indahnya fantasinya. Sebuah anggukan pelan adalah jawaban Angelica. “Oke. Sekarang aku sekretarismu dan juga kekasihmu, Adam. Kau puas?” “Tentu saja. Aku puas, Angelica.” Adam mendekatkan tangan Angelica ke bibirnya untuk dikecupnya. “Malam ini kita akan banyak bekerja. Aku tak akan membiarkanmu tidur.” Angelica lagi-lagi tersipu. Sangat memahami maksud Adam, yaitu banyaknya pekerjaan di ranjang. Kata-kata Adam terdengar seperti janji yang tak akan pernah dia langgar. Dan hal itu membuatnya berdebar, menanti dengan tidak sabaran agar janji itu ditepatinya. *** Pintu lift terbuka, Adam segera mengulurkan tangannya. Menggapai pinggang Angelica di sampingnya lalu menggiring wanita itu memasuki area penthousenya. Tempat ini kosong serta bersih. Asisten rumah tangganya selalu pulang tepat pukul lima dan sekarang sudah hampir pukul sepuluh di New York. Adam menuntun Angelica pelan-pelan menyebrangi ruang tamunya, menuju sebuah ruangan yang tersembunyi di balik tangga. Mereka kini berada di tengah-tengah satu set dapur lengkap, tapi nyaris tak pernah dia gunakanan. Membawa sang sekretaris menuju salah satu kursi di meja makan marmer mahalnya. Kemudian, pria itu melanjutkan tujuannya, menuju ke sebuah rak kaca. Satu-satunya tujuannya ke dapur adalah lemar es dan rak koleksi alkohol mahalnya. “Vodka, Martini, Whisky, Gin atau Wine yang lain?” tanya Adam sembari menyebutkan satu per satu jenis koleksinya yang berjejer. Saat mendapati Angelica begitu tegang selama perjalan menuju penthousenya, dia berpikir untuk memberikan treament lain sebelum ke menu utama. Beberapa sloki alkohol selalu merilekskan syaraf-syaraf yang tegang. Seketika Adam mendengus geli saat teringat kejadian di restauran tadi. Untuk pertama kalinya dia memohon kepada wanita untuk b******a dengannya. Kedua, mengabaikan status Angelica sebagai sekretarisnya, padahal dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan seks dengan staff-staffnya, seseksi apa pun mereka. Ketiga, saking mendambanya, jantungnya berdebar kencang menanti jawaban Angelica. Dia benar-benar takut ditolak tadi. Mungkin jika dia ditolak, Adam akan mengamuk di sana. Peduli setan dengan para tamu apalagi Angelica. Semua terdengar tak masuk akal karena biasanya Adamlah yang berada di posisi Angelica, bukan sebaliknya. “Gin.” Angelica berdeham pelan. “Kalau kau tidak keberatan.” Tak lagi ada balasan, Adam dengan segera mengeluarkan salah satu merk Gin kesukaannya. Salah satu tangannya yang bebas mengambil dua gelas sloki. Dalam sekali pegang, ketiga benda itu dipindahkan ke atas meja makan. Dengan cepat dia menuangkan cairan memabukan itu ke gelas-gelas yang telah tersedia. “Bersulang,” ucap Adam seraya mengangkat salah satu gelas ke udara. Angelica menghela napas dalam sejenak, sebelum akhirnya mengangkat gelas lainnya ke udara. Mendentingkan bibir gelas bersamaan. “Bersulang.” Dapur pun kembali senyap. Tatapan Adam mengawasi penuh Angelica. Wanita itu tengah duduk di sebrangnya. Terlihat gusar hingga berkali-kali merubah posisi duduk sembari menyesap minumnya. Malam ini, wanita ini bukanlah sekretaris konservatifnya, tapi w*************a yang mahal berkat permakkan tangan-tangan ahli. Adam menelan ludah banyak-banyak. Gaun emas itu membalut tubuh langsing Angelica dengan sempurna. Semua bagian yang tersembunyi di balik kain sutra itu membuat hasratnya melonjak karena ingin segera dia tanggalkan. Meraba jengkal demi jengkal kulit lembut wanita itu. Kali ini, dua-duanya dalam keadaan sadar dan sama-sama menginginkannya terjadi. “Adam,” panggilan Angelica berhasil mengembalikan fokusnya pada mata wanita itu. Dipasangnya senyum menawannya, sembari menatap Angelica lekat-lekat. “Kenapa?” “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya takut-takut. Dengan geli Adam mengangguk. Sambil menunggu pertanyaan lain Angelica, diraihnya botol Gin untuk mengisi ulang gelas kosongnya. “Sudah berapa wanita yang pernah di sini… bersamamu?” Pertanyaan tak terduga Angelica sontak membuatnya tersedak. Dia terbatuk pelan. Mengakibatkan kepanikan Angelica. Wanita itu buru-buru mengambil segelas air di keran untuk diserahkan padanya. Dengan lambat-lambat Adam menenggak air segar tersebut untuk menetralisir cairan yang tanpa sengaja memasuki jalur napasnya. “Kau tadi tanya apa?” tanya Adam kembali memastikan. “Wanita, berapa banyak yang pernah ke sini?” Angelica mengulangi pertanyaannya. Adam tidak salah dengar. Otaknya mulai menghitung, tapi hasilnya nol. Demi ketentramannya, dia memilih untuk bermalam di hotel atau apartemen lain. Itu memudahkannya untuk meninggalkan wanita itu di ranjang keesokan paginya. Memudahkannya juga untuk menghilang begitu tak lagi menginginkan mereka. Sekarang bersama Angelica, wanita itu jadi sulit dia perlakukan sama dengan mantan-mantannya sebelum ini. Angelica sekretarisnya, wajar wanita itu mengetahui tempat tinggalnya. Sekarang, Angelica juga kekasihnya saat malam menjelang, tak mungkin dia membawa wanita ini ke apartemen sewaannya. Terlebih, ketika dia tak lagi menginginkan Angelica, wanita itu tetap bekerja di bawahnya. “Kau satu-satunya,” aku Adam. “Angelica, hubungan kita ini sedikit berbeda dari biasanya. Jadi, kau yang pertama.” Sebuah senyuman lebar terpasang di wajah Angelica. Wanita itu terlihat sangat menawan dan cantik walaupun hanya sekadar menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tatapannya pun berhasil menambah hasrat yang sejak tadi ditahannya demi membuat Angelica nyaman. Sekarang, persetan dengan sopan santun. Wanita cantik ini tak akan dia anggurkan lebih lama lagi. Segera saja dia melingkarkan kedua tangannya ke pinggul Angelica. Menarik wanita itu hingga berdempetan dengan tubuhnya yang sudah sangat panas dan bergairan. Kepalanya merunduk. Tepat beberapa senti bibirnya di depan bibir Angelica, dia berbisik. “Aku menginginkanmu.” “Kupikir kau akan mengulur waktu lebih lama lagi, Mr Valentini,” balas Angelica. Kali ini sorot geli tampak jelas dari mata ambernya. Wanita ini semakin menarik baginya. Buru-buru Adam menggeleng. Bersumpah tak akan lagi menunggu dan lebih memilih langsung menikmati makanan utama. “Tentu tidak lagi, Angelica. Persetan dengan basa-basi konyol!” Bibir Adam pun dengan cepat menghantam bibir Angelica. Mencecapi rasa masing-masing, hingga keduanya lepas kendali. Erangan demi erangan bergema, mengisi keheningan ruangan. Refleks, Adam mendorong seluruh benda-benda di meja marmernya. Bunyi-bunyi gelas-gelas kaca pecah sama sekali tak menghentikan pria itu. Dibaringkannya tubuh mengoda Angelica di atas meja makan. Akal sehatnya sudah menghilang. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah b******a dengan Angelica. Sekarang. Di dapurnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD