#5 - Appetizers

1682 Words
Kedua tangan Angelica menepuk pelan pipinya berkali-kali. Matanya mengerjap terus menerus sambil menatap pantulan dirinya di cermin seukuran dirinya. Saat mendapati rasa sakit serta sosok cantik di cermin tak berubah, Angelica tahu bahwa penampilannya memang berbeda. Bukan perubah yang nyaris tak dikenali, tapi hanya lebih sedap dipandang serta pulasan riasan yang lebih baik. Perlahan dia memutar badannya. Sesuai yang bosnya minta, dia seorang upik abu telah disihir menjadi Cinderella abad 20an. Sekali lagi dia memutar badannya ke sisi yang berbeda. Gaun sutra berwarna emas sepanjang mata kakinya. Belahannya tinggi hingga beberapa senti di atas lutut. Bagian depan, gaunnya hanya disanggah dua tali bermodel spaghetti, sementara bagian belakangnya dibuat rendah untuk memamerkan punggung telanjangnya. d**a serta pantatnya jadi terlihat lebih menonjol mengingat betapa ketatnya gaun ini. Padahal, Angelica tak pernah percaya diri dengan bentuk badannya yang kata beberapa teman sekolahnya sangatlah kurus. Angelica baru mengetahui bahwa dia mampu tampak semenarik ini. Tatapannya beralih pada riasan wajahnya. Kemampuan make-up artis yang salon ini miliki begitu menajubkan. Dandanannya pagi tadi dihapus total. Bagian matanya dibuat lebih tebal dengan warna-warna cokelat gelap. Memakain riasan mata yang lebih tebal untuk menonjolkan mata ambernya. Bibirnya yang jarang dipulas dengan lipstik mencolok, sekarang menggunakan warna merah bata yang ternyata sangat pas untuk kulit putih pucatnya. Rambutnya juga digerai indah, ditambah sedikit akses gelombang di bagian bawah. Harus Angelica akui, dia memukau. “Kau sudah siap, Ms Keaton?” Sebuah suara menghentikan keterpakuannya. Tubuhnya berbalik, membelakangi cermin. Alora dengan senyum sopan dan ramah berdiri di ambang pintu ruang ganti. “Sudah hampir setengah delapan,” ingatnya yang langsung dibalas anggukan Angelica. “Ah, apa Adam sudah siap?” Mendapati Alora, dia jadi teringat kembali dengan rencana makan malamnya serta segala perubahannya yang terjadi ini karena Adam, sang bos. Alora mengangguk pelan. “Tentu, Ms Keaton. Mr Valentini sudah siap dan sekarang tengah menunggu anda di ruang tunggu VIP. Kalau anda juga sudah siap, saya bisa mengantarkan anda.” “O—ke.” Segera saja Angelica meraih clutch baru yang didapatkannya, sepaket dengan gaun emas serta stiletto berwarna senada. Alora pun berbalik, menuntun Angelica keluar ruang ganti menuju ke ruangan tempat bosnya itu berada. Langkahnya Angelica melambat tatkala mendapati sosok Adam dari balik kaca-kaca yang melingkupi ruang tunggu. Selalu dan selalu, pria itu menundukkan kepala sambil menekuni iPad di tangannya. Tak mungkin bosnya itu membuka sosial media, pasti sedang memastikan beberapa pekerjaannya. Sebagai seorang konglomerat Valentini Group dengan membawahi perusahaan besar dan multinasional, hidupnya sudah didekikasikan untuk bekerja. Sesuai dengan kata Alora tadi, Adam sudah berganti pakaian. Tak ada setelan kerja abu-abu miliknya. Hanya ada tuksedo hitam. Rambutnya pun dibuat serapi mungkin. Akan jauh lebih tampan lagi, jika wajah Adam memamerkan senyumnya. Benar-benar berubah dari seorang bos super sibuk, menjadi seorang kekasih menawan yang sangat memuaskanmu di ranjang. Hanya Adam, pria di tempat tidurku, Angelica menelan ludah banyak-banyak saat kilasan kenangan selayaknya adegan film erotisnya berputar di kepala. Bedanya, pemeran utamanya adalah dirinya serta sang bos yang tengah mabuk berat. Angelica takut, jika bosnya itu mengetahui kebenaran yang terjadi malam kemarin, Adam akan memecatnya. Dan Angelica rasa, salah satu alasan makan malam ini adalah mengorek ingatan Adam yang buram akibat mabuk berat. “Mr Valentini,” sapa Alora lebih dulu setelah membuka pintu ruang tunggu. Kepala Adam sontak mendongak. Matanya langsung mengunci mata amber miliknya. Membuat napas Angelica tersekat saat mendapati senyum tipis nyaris tak kentara yang Adam pamerkan. “Sempurna,” ucap Adam tanpa memutus kontak mata mereka. Perlahan pria itu bangkit seraya mendekati Angelica. “Kau tampak… Cinderella, tentu tidak dengan gaun biru serta sepatu kacanya.” Angelica hanya mengangguk ragu. Mulutnya keluh dan otaknya macet untuk memproses segala hal yang terjadi di depannya. Tiba-tiba saja Adam mengulurkan tangan ke arahnya. “Kita harus pergi sekarang, jika tidak ingin terlambat.” Lagi-lagi Angelica mengangguk. Tanpa menunggu perintah lain dari Adam, segera saja dia menerima uluran tangan bosnya itu. Adam menautkan jemari mereka, lalu menggiringnya pelan keluar ruangan menuju keluar salon. “Angel,” bisiknya begitu bunyi lonceng salon yang menandakan kepergian mereka terdengar. Jantung Angelica semakin tidak keruan debarannya mendengar cara Adam memanggilnya Angel, bidadari. “Kuharap kau tidak berubah saat tengah malam. Kau… cantik.” *** Keheningan langsung menyelimuti perjalanan dari salon menuju ke restauran yang telah Angelica pesan. Tadi saat mereka memasuki mobil, tautan tangan Adam terlepas karena harus mengurusi beberapa pekerjaannya di iPad. Angelica mengakui dia merasa kehilangan. Tangan besar milik bosnya itu teras pas melingkupiki tangannya yang kecil. Namun, buru-buru dia mengabaikan pikiran itu. Hubungannya dengan Adam tak akan berjalan lebih jauh dari sekadar bos dengan bawahan. b******a hanya salah satu dari kesalahan serta mungkin makan malam ini juga termasuk kesalahan lainnya. Laju Audi memelan saat memasuki lobi hotel mewah berbintang di kawasan elite kota New York. Sontak kepala Angelica mendongak. Bangunan puluhan lantai itu menjulang di hadapannya. Megah dan dia akan memasuki tempat itu untuk menuju lantai teratas, tempat restauran berada. “Keluar, Angelica.” Tahu-tahu saja Adam telah berdiri di depan pintunya, menjulang dengan tampan serta penuh percaya diri miliknya. Melihat Angelica yang hanya termangu menatapnya, decakan sebal meluncur dari mulut pria itu. “Keluar, Angelica. Kalau kau tidak bergerak, aku akan menggendongmu.” Ancaman Adam berhasil mengembalikan seluruh perhatiannya pada dunia. Terpaksa dia menuruni mobil. Bosnya itu dengan sigap meraih tangan Angelica untuk melingkarkannya pada lengan pria itu. Dengan langkah elegan mereka berjalan menuju lift. Malam ini, mungkin karena hari kerja, tidak banyak orang yang berdatangan. Lift pun hanya berisikan dua pasangan, termasuk mereka. Bedanya, satunya menuju ke lantai tempat kamar hotel berada, sedangkan Adam dan Angelica menekan lantai puncak. Bunyi lift berdenting disusul dengan pintu yang terbuka, membuat mereka bergegas keluar. Restauran yang mereka tuju memenuhi setiap sisi lantai. Tempat duduk di bagi menjadi dua bagian sama menariknya. Yang paling utama dan termahal adalah meja yang berada di sekeliling jendela besar dengan pemandangan gemerlap New York. Bukan hanya pemandangan yang mereka suguhkan, tapi juga tempat yang sedikit terpisah dari live music, menjadi sisi itu lebih privasi. Yang kedua adalah di tengah ruangan, mengelilingi seorang pianis solo yang tengah mendentingkan alat musiknya. Memainkan sebuah lagu klasik yang cukup asing di telinga Angelica. Kebanyakan di area kedua adalah keluarga atau pasangan berusia lanjut yang mengingkan hiburan serta makanan lezat. Berbeda di area pertama yang kebanyakan pasangan muda. Angelica ingat di mana dan seperti apa makan malam akan berlangsung, mengingat dia lah yang merancang seluruh acara malam ini. Mereka akan menduduki salah satu kursi di dekat jendela. Salah satu Wine terbaik akan menemani hidangan yang disajikan. Dia juga cukup hafal dengan menu-menu makanan yang akan mereka santap nantinya. Beruntungnya, dia menuruti Adam dengan memesan makan malam ini sebaik-baiknya. Karena awalnya, dia berniat untuk mengacaukan kencan ini dengan memesan di tempat yang asal-asalan. Setidaknya, apa pun yang terjadi setelah makan malam ini, Angelica tidak akan pernah penasaran bagaimana makan dengan pemandangan terbaik di kota New York. “Mr Valentini dan Ms Keaton, mari saya antar ke meja.” Suara seorang pramusaji pria berhasil mengembalikan perhatiannya. Sesuai yang sudah dia pesan, mereka diantar menuju meja tepat di sisi jendela. Pegangan Adam lagi-lagi terlepas, tapi jarak meja yang cukup dekat, masih mampu membuat Angelica menghirup parfum beraroma kayu manis, yang bosnya ini pakai. Adam juga masih leluasa menyentuhnya dari sebrang. Pramusaji mengeluarkan sebotol Wine dari dalam seember penuh es batu. Membuka sumpalan botol, kemudian menuangkan isinya ke masing-masing gelas kosong di hadapan mereka. Adegan ini tanpa sadar berhasil membuat mata mereka beradu di udara. Rasanya Angelica seperti terhanyut dalam gelapnya mata milik Adam. Pria itu mungkin cukup ekspresif, tapi lebih sering memamerkan betapa kesal dan arogan dirinya terhadap sesuatu atau seseorang. Ketika pramusaji menghilang, Jantung Angelica kembali berpacu kencang. Suara alunan piano seolah kalah senyap dari keheningan yang menyelimuti meja mereka. Hingga Adam lah yang lebih dulu berdeham. Dengan gaya pongahnya, dia mengedarkan pandangannya. “Pilihan bagus.” Angelica mengangguk ragu. Mati-matian dia memaksa otaknya bekerja untuk memproses kata agar keluar di mulutnya. “Mengapa, Adam?” dan akhirnya hanya dua kata itu yang berhasil lolos dari mulutnya. Kening Adam mengernyit. Tampak tidak mengernyit dengan maksud Angelica. Lagi-lagi dia memaksa otaknya bekerja keras dan akhirnya berhasil membeberkan maksudnya. “Kau, tiba-tiba menyuruhku memesan restauran untuk makan malam. Lalu, mendadaniku jadi… Cinderella. Dan tentu saja memaksaku kencan denganmu. Jujur, aku tidak mengerti apa yang sedang kau rencanakan, Adam,” aku Angelica. Sayangnya, pramusaji mengintrupsi untuk meletakan makanan pembuka di meja mereka. Hal yang mampu menghentikan penjelasan Adam. Dengan kesal, pria itu berkata pada sang pramusaji. “Tolong tahan semua makan malam kami karena kami ingin bicara. Jika aku membutuhkan ini, aku akan memanggil kalian.” Pramusaji mengangguk dengan patuh. Sedikit berjalan cepat, pria itu menghilang menuju pintu dapur. Aura yang bosnya itu keluarkan sangat menyeramkan. Apalagi tatapannya tajam, terlihat mematikan. Jauh berbeda dengan tatapan yang Adam tunjukan tadi. Lembut dan berhasrat padanya. Tidak mungkin, Angelica menelan ludah banyak-banyak. Mengabaikan pikiran konyolnya. Napas Angelica seketika tertahan tatkala mendapati tangan Adam membelai helaian rambutnya. Sentuhan tak terduga ini berhasil membangkitkan hasrat yang sempat padam karena kebingungan yang bosnya ciptakan. Berikut kilasan adegan panas yang telah dia lalui bersama Adam di ranjang pria itu. “Adam.” “Rambutmu halus,” puji Adam setengah berbisik. Tiba-tiba sorot mata pria itu berubah dengan sorot yang sama seperti yang dia ingat kemarin malam. Angelica menjadi gusar sekarang dengan semua yang akan terjadi. “Adam, kau bosku,” ingat Angelica. Setidaknya dia melakukan ini agar tidak ada kejadian lain yang melewati batas terjadi. Sekalipun, Angelica sangat menginginkan Adam sekarang. “Lalu?” Adam mengernyitkan kening. “Kita, kita, tidak bisa seperti ini.” Angelica menjaga suaranya agar tidak meninggi saking terkejutnya. “Tidak makan malam bersama atau kencan seperti ini. Tidak juga membelai rambutku seperti yang sedang kau lakukan.” “Serta berhubungan seks, Angelica. Kau melupakan bagian pentingnya.” Angelica terbelalak. Hatinya mencelus. Sesuatu yang mati-matian dia sembunyikan bahkan sampai menutupi kejadian sebenarnya ternyata sudah ketahuan. “Tidak mungkin.” Adam mendengus. Tangan pria itu sudah ditarik. Senyuman penuh ejekan milik bosnya itu tersungging sangat menyebalkan. “Alasanku mengajakmu ke sini serta mendadanimu selayaknya Cinderella karena satu hal, Angelica. Sejak semalam, sejak kita berhubungan seks, aku masih menginginkanmu.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD