" fabiayyi Alaa irobbikumaa tukadzdzibaann , shodaqallaahul adziim ," Ravan menutup Al-Qur'an yang ia baca sedari tadi , menciumnya , lalu meletakkannya di atas rak buku . Kegiatan rutin Ravan selepas sholat subuh ialah murojaah hafalan , ia tidak ingin hafalan yang selama ini melekat di hatinya harus sirna karena kesibukannya sebagai seorang dokter . Menyandang gelar kedokteran tidak membuat ia melupakan statusnya sebagai alumni pondok pesantren , tempat ia menimba ilmu selama enam tahun .
" bunda masak apa , harum banget deh , bikin Ravan yang lagi mandi jadi lapar banget ," sambil menuruni anak tangga ia menuju ke arah meja makan , disana sudah tersedia masakan ala bunda Diana yang maknyusnya luarrrrrr biasaaa ...
" hmm ... bersyukur banget deh kalau tiap pagi kayak gini , bangun tidur langsung mandi , terus turun ke bawah , eh tau-taunya hidangan udah tersedia di depan mata , dunia serasa milik sendiri ," ucap Ravan menggombal sang bunda . Bunda Diana tersenyum melihat tingkah putra semata wayangnya ini , benar-benar aneh , tapi nyata di kehidupannya .
" makanya cepetan nikah , kalau kamu udah nikah , terus istrinya yang Sholehah , Insya Allah ... bahagianya beda dari yang kamu rasakan saat ini ," ucap bunda tersenyum .
" Insya Allah bunda ... do'ain aja semoga dapatnya yang pas yah , yang baik agamanya , Sholehah , cantik parasnya , plesss ... baik sama mertuanya ... hehehe ... ," bunda tersenyum menanggapi ucapan putranya , ia benar-benar tidak menyangka di usia Ravan yang telah menginjak 27 tahun , belum juga mengenalkan padanya seorang calon menantu , padahal harapan bunda Diana saat ini hanya ingin melihat putra semata wayangnya itu melepaskan masa lajangnya , tapi biarlah ... tak ada yang bisa ia lakukan , kecuali berd'oa yang terbaik untuk putranya . Karena bagaimanapun juga ia bukanlah tipe ibu yang rela menjodohkan anaknya bahkan sampai mengatur jadwal kencan buta sang anak hanya karena ngebet ingin melihat anaknya menikah .
" makan yang banyak nak ... seorang dokter juga harus memperhatikan kesehatannya , bukan hanya memperhatikan kesehatan pasien ," ucap bunda Diana sambil menyendok nasi dan menaruhnya ke dalam piring Ravan .
" makasih bundaku sayang , semoga Allah memberikan bunda umur yang panjang untuk membenahi diri menjadi lebih baik lagi , dan untuk menghadiri acara pelepasan masa lajang putra satu-satunya bunda Diana dan ayah Dirgantara , aamiiinnn ... ," do'a Ravan ketika melihat wanita yang paling berjasa dalam hidupnya ini . Wanita yang tak pernah mengeluh seberat apapun cobaan yang menerpa dirinya , hanya sabar dan ikhlas yang bisa ia lakukan dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga .
" aamiinnn ," balas bunda sambil tersenyum .
" ekhmmmm ... ada yang lagi senyum-senyum nih ... kayaknya bahagia banget deh , kok bahagianya berdua aja , nggak ajakin ayah nih ," Dirgantara , ayah dari Ravan Erlangga Dirgantara itu pun ikut duduk di meja makan sambil tersenyum , bahagia melihat kedua orang yang sangat penting dalam hidupnya ini tersenyum bahagia .
" telat yah ... pengen ngajakin ayah , tapi kayaknya Ravan bakalan telat deh ," ucap Ravan sambil melirik arloji yang terlingkar di pergelangan tangannya . Ia menyelesaikan sarapannya , lalu berdiri dan berjalan ke arah bundanya , mencium punggung tangannya lalu kedua pipi sang bunda , tak lupa ia mencium punggung tangan sang ayah .
" Ravan pamit dulu ... do'ain Ravan semoga urusannya di lancarkan yah , bunda ayah ," pinta Ravan sebelum berangkat .
" Iyya ... semoga anaknya bunda tetap dalam lindungan Allah SWT , aamiiinnn ... ," do'a sang bunda untuk Ravan .
" aamiiinnn , makasih bunda , kalau gitu Ravan berangkat dulu yah ... dadah ... assalamualaikum ," pamit Ravan.
" waalaikum salam ... ," ucap bunda dan ayah Ravan . Bunda Diana tersenyum melihat kepergian putranya . Belum jauh Ravan melangkah , tiba-tiba ayah Dirga memanggilnya , Ravan berbalik menghadap sang ayah ,
" Van , kalau ada pasien wanita yang periksa kesehatan , masih muda , ples cantik , banyak-banyak do'a yah sama Allah , semoga dia bisa jadi calon menantu ayah ," ucap sang ayah menggombalinya . Ravan hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ayah . Begitu inginnya kah kedua orang tuanya melihat ia menikah , kalau iyya , dia hanya mampu berdo'a semoga Allah cepat mengirimkannya seorang wanita yang mampu menjadi pendamping hidupnya .
" Bismillah ... semoga hari ini bisa berjalan dengan lancar Ya Allah ... aamiiinnn ," do'anya sebelum melajukan mobil . Perlahan-lahan ia meninggalkan halaman rumah yang besar itu menuju tempatnya mengabdikan diri saat ini , yaitu Rumah Sakit Dirgantara .