Rencana Pernikahan

1116 Words
PERGINYA ISTRIKU 8 Air dari langit begitu deras menghantam bumi. Rumi duduk di dekat jendela kaca dalam ruangan Indri. Tangannya terus bergerak memutar butiran tasbih. Selama dua hari, Indri belum juga menunjukkan tanda-tanda kondisi membaik. Selang infus dengan cup oksigen masih menempel di tubuhnya. Wanita muda itu sangat memprihatinkan. "Maaf, Bu. Mbak Indri sangat lemah saat ini. Bahkan denyut nadinya ... kita sama-sama berdo'a saja. Hanya dengan kuasa Allah lah yang mampu mengembalikan kebahagiaan." Air mata Rumi tumpah lagi. Ia mengingat pesan-pesan dokter tadi. Wanita tua itu hanya tidur beberapa jam saja selama Indri tak sadarkan diri. Di manapun berada, seorang ibu pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Paling banyak berkorban karena sampai kapanpun seorang anak adalah anak, meskipun sudah menikah. Mereka akan tetap dianggap anak kecil oleh makhluk bernama ibu. . "Mas, kapan kamu mau datang ke rumah bertemu Papa?" tanya Laura. Dia duduk di pangkuan lelaki berkemeja putih. Dalam ruangan sepi itu, dua sejoli layaknya suami istri tengah berbagi rasa. "Secepatnya, kamu maunya kapan?" Rasya tak bisa berkutik dengan sentuhan lembut di pipinya. "Nanti malam aja gimana?" Rasya mengulum senyumnya. "Ide yang bagus. Kalau begitu, aku ke salon dulu, ya? Mau perawatan. Aku ingin terlihat cantik dan wangi. Aku juga akan kasih tahu Papa sama Mama." Gadis itu sangat bahagia. "Permisi, Pak?" Mereka terlonjak ketika mendengar suara ketukan dari luar. Suara lelaki bagian staf direktur meminta izin untuk masuk. "Iya," balas Rasya seraya membenahi kancing kemejanya. "Maaf, anda ditunggu di ruang direktur." Lelaki bernama Leonardo itu mengangguk kemudian keluar lagi. Tidak ingin ikut dalam urusan dua orang di ruangan itu, ia pergi dengan seringai tajam. "Laura, sebaiknya kamu segera pergi. Aku tak mau dia nanti mengadu pasal melihat kita seperti tadi. Maaf, ya?" ucap Rasya, khawatir. Langkah panjang Rasya disertai rasa tak tenang membuatnya berkeringat dingin. Tak lama, dia sudah sampai di depan pintu ruangan dengan dua penjaga berbadan kekar. "Permisi, Pak." Rasya menunduk. Ia terkejut karena di dalam sana sudah ada tiga lelaki. Tak lain salah satunya adalah Ali. "Duduk!" kata lelaki yang duduk di depan meja utama. Rasya mulai menarik kursi dan duduk di sebelah Ali. Mantan iparnya itu kini berwajah dingin. Tatapannya lurus, terlihat tak bersahabat. "Bapak, manggil saya?" tanya Rasya. Ia menoleh pada Ali sekilas lalu ganti pada sosok yang duduk di sofa dengan kaki bertopang. "Iya. Saya mau tanya untuk data keuangan yang sempat kamu input itu karena Ali tidak masuk dua Minggu lalu. Kenapa isinya berbeda sekali, ya?" tanya George, sang direktur. Waduh, gawat. Aku harus jawab apa? "Katakan saja, tidak perlu takut." George menarik satu sudut bibirnya. "Kau pasti tidak menyangka cctv kami merekam semua kerjaanmu. Kau pasti juga tidak menyangka kalau di ruanganmu ada benda pengintai itu." "Em ... em. Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud." Rasya terbata-bata. "Sekarang kamu kemasi barang-barangmu. Besok aku tak mau melihat ada pembohong di kantorku." "Tunggu, Pa." Lelaki yang sejak tadi diam, kini bersuara. "Aku akan ajari dia menjadi karyawan yang baik." Lelaki itu mempunyai rencana yang besar. George, lelaki dengan rambut memutih rata itu menatap putranya. "Oke. Selama perusahaan kau pegang, Dave, aku ingin melihat perkembangannya. Termasuk si Duri dalam perusahaan ini." George berdiri lalu keluar ketika pintu dibukakan oleh ajudannya. Rasya tertunduk malu. Bibirnya mengatup rapat, ia sama sekali tak berani mendongak. Ali yang sejak tadi juga diam kini mulai berdiri. "Masih baik kau diberi kesempatan, lain kali tidak akan ada ampunan lagi." Dia langsung keluar setelah menunduk pada bos barunya. Rasya mengepalkan tangannya. Ia menahan rasa kesalnya pada mantan kakak ipar yang jabatannya jauh di atasnya itu. Malam itu, cuaca sangat mendukung bagi Rasya. Bintang bertaburan di langit gelap. Ia sudah siap dengan kemeja putih dan jas hitam termahal yang pernah ia beli, tak lupa dasi kupu-kupu agar tampilan semakin paripurna. Ia mengemudikan mobilnya, mengarah pada sebuah restoran Jepang bernuansa khas negeri bunga sakura itu. Ia juga sengaja datang lebih awal agar kedua orang tua Laura terkesan. Meski kini hatinya agak kurang baik akibat hal pelik di kantor tadi pagi. Binar bola mata Rasya terlihat jelas. Bibirnya merekah melihat bidadari jelita datang bersama lelaki tua dan satu wanita paruh baya. Mereka memang terlihat sangat sempurna. Keluarga royal, bergelimang kemewahan. "Mas." Laura melambai. Rasya membalas dengan hal yang sama. Di saat bersamaan, di belakang mereka bertiga, Rasya melihat sekelebatan wanita mirip sekali dengan mantan istrinya. Sudah satu bulan lebih, ia tak melihat Indri. Sejak talak saat itu ia jatuhkan. "Indri, sama siapa dia?" batin Rasya. Ia masih menengok ke belakang. Tak sadar kalau Laura dan orangtuanya sudah sampai di depan mata. "Kamu cari siapa, Mas?" tanya Laura seraya menggeret kursi. Papa dan Mama Laura yang sudah duduk ikut mengerutkan dahi mereka. "Ee ... tidak. Ayo, silakan!" Rasya mengalihkan pembicaraan. Mereka larut dalam pembahasan. Rasya yang dikenal cekatan dalam bekerja mendapat sambutan baik dari kedua orangtua Laura. Lamarannya pun langsung diterima. Rasya menerangkan bahwa dirinya memang duda, tetapi ia berjanji akan membahagiakan Laura dan memberikan semua yang gadis itu minta. "Kami percaya sama kamu, Sya. Saya sudah melihat sendiri kerjamu di perusahaan milik Tuan George yang sekarang dikendalikan oleh Dave, putranya yang bujang lapuk itu." Louise tertawa lepas. "Jadi, kapan saya dan Laura bisa melangsungkan pernikahan, Pak?" tanya Rasya sambil mengunyah menu favoritnya. "Bagaimana kalau bulan depan saja? Kita perlu persiapan juga. Saya akan kerahkan semua orang saya untuk mengerjakan persiapan pernikahan yang super megah." Lelaki bernama Louise itu kembali tertawa dengan bangganya. Akhirnya, putri semata wayangnya akan mendapat jodoh juga setelah lima tahun gagal menikah dengan beberapa lelaki. "Mama, sih, terserah yang mau menjalani saja," sahut Milea, Mama Laura. "Baik, saya dan Mama akan siap-siap juga." Rasya berganti pandangan pada Laura yang kini tak henti-hentinya mengulas senyuman. Perbincangan telah usai, dua orangtua itu pulang lebih dulu. Kini, tingga dua sejoli yang asik bercerita. Saling menunjuk tempat-tempat untuk honeymoon. "Gimana kalau ke Bali?" Rasya memberi usul. "Enggak, ah. Aku mau ke Maldives. Di sana lebih indah." Rasya mengalah. "Oke, deh." "Pokoknya aku mau dekorasinya seperti pernikahan seorang selebgram." "Tapi, Ra. Kita harus menyiapkan rumah juga buat tinggal dan ...." "Udah, deh! Kamu ikut aja saran aku. Aku tahu pilihanku adalah yang terbaik, terbagus, termegah. Uang kamu enggak akan habis, kan? Secara sebentar lagi kamu akan diangkat jadi wakil direktur sama Papa," ujar Laura, penuh antusias. Rasya hanya bisa menghela napas serta menahan kepalanya yang mendadak nyut-nyutan. Ia tak bisa mencegah Laura lagi untuk sedikit berhemat. Namun, saat Laura berkata dirinya akan mendapat jabatan tinggi di perusahaan milik Louise, lelaki berpipi tembem itu tak jadi pusing. Mas, kau tahu bagaimana keadaan mantan istrimu itu setelah dia pergi?" Laura mengajukan pertanyaan. "Kenapa memang?" Rasya menajamkan indera pendengaran. "Aku lihat dia jalan sama bos," balas Laura setengah-setengah. Ia malas sebelumnya bercerita tentang Indri. "Bos? Bos, siapa?" Rasya terus menekan pertanyaan pada Laura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD