Kejadian Malam Itu

1093 Words
PERGINYA ISTRIKU 9 Rasya mengantar calon istrinya sampai di depan rumah. Namun, ia tidak ikut turun. Mereka saling melepas kepergian, tak lupa cipika-cipiki yang menjadi rutinitas. Lelaki dengan wajah berseri-seri itu melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Jalanan yang kian sepi membuat dia menekan pedal gas cukup kencang. Ditambah dengan alunan musik yang memenuhi satu mobil, Rasya terbuai. Sayang, ia tak begitu memperhatikan jalanan. Sebuah truk pengangkut barang-barang pengiriman membelok arah dan Rasya baru menyadarinya. Alhasil, ia telat menginjak rem. Mobil pun menubruk bagian ekor truk hingga terguling. Tak lama setelah itu, beberapa orang berkerumun. Membantu mengeluarkan Rasya yang setengah kesadarannya sudah hilang. Riuh suara sirine dan klakson mobil. Rasya mendengar suara wanita yang tak asing. Namun, ia seperti kenal dengan suara itu. Suara khas yang biasanya selalu membangunkan kala itu. "Pak, tolong! Saya kenal dengan lelaki ini." Bibir yang hendak ia angkat untuk sekadar menyebut nama wanita itu saja tak mampu. Pandangannya kabur, gelap menyelimuti dan rasa perih menyertai kepalanya, juga kakinya yang terjepit. Sesaat kemudian, Rasya sudah tak sadarkan diri. . Semburat mentari pagi itu membuat kedua mata dengan bekas lebam dan goresan benda tajam terasa semakin perih. Berdenyut seperti urat nadi yang tertekan kuat, Rasya meringis. Menahan sakit yang teramat melebihi rasanya dihajar massa. "Sya, kamu sudah sadar?" tanya seorang wanita yang sejak lama telah menunggunya. Rasya masih tak menjawab. Ia sibuk menahan. Rasa sakit sekujur tubuhnya. Perban di kepalanya hampir seluruhnya membungkus. Kantung infus yang sudah habis berbungkus-bungkus tak juga cukup membuat dirinya pulih. Satu sisi terdapat kantung cairan berwarna merah karena ia terlalu banyak kehilangan darah karena kecelakaan. "Mah ...." Lemah, suara Rasya membuktikan betapa sakit yang dirasa. "Jangan banyak gerak, Sya! Lukamu cukup parah. Terutama pada kaki. Kata dokter, kau harus istirahat total," balas Alma. Wanita tua dengan cat rambut pirang itu teramat sedih. "Mah ... mana Indri?" Alma mengerutkan dahinya mendengar sang putra menyebut nama itu lagi. Sudah hampir dua bulan lamanya, bahkan mereka tak pernah lagi melihat atau mendengar suara Indri. "Sya, kamu harus istirahat, Sayang. Wanita itu ... anggap saja sudah mati. Dia sudah tidak ada lagi di bumi." Alma menahan kesal dalam hatinya. Urat lehernya terlihat saat gigi-giginya tengah beradu. Tak ada jawaban lagi. Rasya memejamkan matanya lagi. Menetralisir rasa ngilu pada tulang-tulangnya. Malam berganti siang, Rasya sudah bisa menegakkan punggungnya menyandar pada bantal bertumpuk di ruangan itu. Kali ini, Laura yang menemaninya. Dengan telaten, gadis itu menyuapi calon suaminya. Rasya menatap Laura. Sosok gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi wanita kalem dengan senyum manis. Senyuman yang sering kali ia abaikan. Ia sangat berbeda, Laura menyuapi Rasya dengan tatapan pada tangan sebelah yang terus menarik dan menggeser layar selebar lima inci. Menampilkan brand-brand produk terbaru sebuah butik. Laura terus saja melihat aneka barang-barang mewah itu. Ia juga sampai salah sasaran ketika menyuapi Rasya. Sebagian makanan menghiasi sisi bibir tanpa disadari. "Eh, maaf, Mas." Laura yang baru saja menoleh saat bubur ayam tumpah di pakaian rawat Rasya, langsung mengusap dengan tisu. "Maaf, ya, Sayang." Raya dengan wajah ditekuk melengos. Ia berdecak dalam hati mengumpat kelakuan Laura yang menjengkelkan. "Sudah, Ra. Aku sudah tak nafsu makan lagi. Aku mau jalan-jalan ke taman aja," kata Rasya menunjuk kursi roda dalam ruangan itu dengan dagu. "Oh, oke. Aku akan ajak kamu jalan-jalan." Laura segera membantu lelaki itu berpindah. Mereka mulai menyusuri lorong dan berakhir di taman rumah sakit. Rasya menghirup udara segar pagi itu. Ia rindu dengan suasana di luar. Namun, saat tengah menikmati pemandangan hijau di sana, kedua matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang mirip sekali dengan mantan istrinya. "Ra, tolong bawa aku ke sana!" pinta Rasya sambil menunjuk ke suatu arah. "Ke mana? Duh, enggak usah jauh-jauh, Mas! Kamu ...." "Udah, buruan! Nanti keburu hilang," sahut Rasya cepat. Laura masih tak mengerti. Namun, ia tetap menuruti kemauan Rasya. Mereka berjalan menuju ke arah luar tetapi segera dihadang oleh petugas. "Maaf, mau ke mana?" tanya seorang petugas, lengkap dengan masker dan sebuah alat komunikasi di tangan kirinya. Laura diam. Rasya bingung. Ia tak punya alasan untuk menjawab. Ia menoleh pada Laura yang juga menatapnya. "Cuman mau cari udara segar di depan sana, Pak," bohong Rasya. Wajahnya terlihat gelisah. "Maaf, Pak. Sebaiknya anda kembali saja. Udara di depan tidak baik untuk pasien. Banyak kendaraan dengan asap kotor. Mari saya bantu kembali ke kamar," tawar petugas berbaju hitam tadi. Rasya akhirnya pasrah. Ada perasaan kecewa. Ia tak sadar telah mengacuhkan Laura yang berdiri sejak tadi untuknya. "Mas, aku pulang, ya?" ucap Laura saat mereka sampai di kamar Rasya. "Ya," balas Rasya dengan singkat. "Kok, cuman, ya? Kamu cuek banget sekarang." Bibir gadis itu mengerucut dua senti. Alisnya hampir menyatu dengan kerut di pangkal hidung. "Terus aku harus bilang apa?" Rasya membuang muka. "Ya, apa, kek. Sama sekali enggak ada manis-manisnya. Padahal aku udah ngabisin waktu, loh, buat kamu." Rasya terkejut dalam hati mendengar ucapan Laura. "Kamu beda banget, sih, sama Indri. Dia itu tidak pernah bilang begitu kalau aku lagi butuh dia." Rasya juga kesal. "Kamu bandingin aku sama mantan istri kamu? Tega!" Laura lantas pergi. Ia melewati pintu lalu membantingnya dengan keras. Bodohanya aku malah menyebut Indri di depan dia. Bagaimana jika nanti dia mengadu pada Papanya? Bukan hanya kehilangam dia, tetapi karirku juga terancam. Aku belum siap menjadi miskin. Sudah kehilangan Indri, masa harus kehilang Laura juga yang aku cintai. Apalagi, pengeluaran untuk biaya rumah sakit ini sebagian berasal dari Papanya. "Sya," panggil Alma yang masuk tanpa salam. "Ma. Apa Mama lihat Laura tadi keluar?" tanya Rasya balik. "Enggak. Memangnya kenapa?" Alma meletakkan tasnya di meja dalam ruangan tersebut. Juga sebuah bungkusan berisi kue dan makan siang. "Tadi, dia marah." Rasya menunduk. Ia keceplosan dan mulai tak tenang. Tiba-tiba saja takut kalau kena marah juga dari Mamanya. "Loh, marah? Kamu apakan dia? Jangan sampai dia membatalkan pernikahan kalian Minggu depan. Coba bilang, kamu apain, dia?" Alma menekan dengan keras ucapannya. Berdiri di samping tempat tidur putranya sambil melotot khas seorang emak-emak yang tengah mengintrogasi. "Assalamualaikum?" Seorang lelaki berpakaian rapi, mengenakan jas lengkap dengan rompi dan kemeja putih tiba-tiba masuk. Sontak Rasya mendelik. Ia mempertajam ingatannya. Pasalnya, sudah berpuluh tahun tak melihat sosok tersebut. "Wa'alaykumsalam. Masuk, Bian!" balas Alma. Lelaki itu melanjutkan langkahnya. Mendekati Rasya yang masih terlihat bingung. "Bagaimana keadaanmu?" "Ini ... ini?" Rasya gelagapan. Ia mengingat sesuatu. "Masa kamu lupa, Sya. Coba tebak, kalau benar, nanti kamu bakal dapat hadiah dari dia," tambah Alma. "Aku rindu dengan kalian. Apa kalian sama halnya dengan aku? Aku baru saja sampai tadi dan langsung ke sini karena mendapat kabar kamu habis kecelakaan," terangnya. "Aku juga berniat domisili di Indo aja." Senyum bagai madu melukis bibir semu kemerahan lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD