PERGINYA ISTRIKU 10
"Ada apa, Mas, pulang ke Indo?" tanya Rasya ketus. Ia menyipitkan matanya lalu berpaling. Rasya sempat melirik penampilan Fabian dari atas sampai bawah. Sudah sangat lain, lebih elegan dan gagah.
"Aku memang sengaja kembali untuk melihat keadaan kalian. Sekalian cari istri orang Indo aja." Fabian Hanggara Putra terkekeh.
Alma ikut tertawa tetapi tidak bersuara. "Bagus. Nanti biar urus Mama kalau sudah tua."
"Bukannya sekarang pun sudah tua?" celetuk Rasya. Seketika membuat ruangan itu terasa hening.
"Bian, kata dokter, Rasya sudah boleh pulang hari ini. Kamu bisa, kan, ngantar? Biar tidak usah pakai taksi." Alma berkata sambil mengemasi barang-barang milik Rasya selama dirawat.
"Aku baru saja datang, Ma. Aku belum ambil mobil. Mana mungkin bisa mengantarkan?" Fabian beralih ke sofa. "Aku juga lelah, Ma, kalau harus nyetir sendiri."
"Ya, sudah." Alma terlihat kecewa. "Kamu bantuin dorong Rasya, biar Mama yang bawa barang." Wanita tua itu mulai menenteng tas sedang dan membawanya keluar.
Rasya yang sejak tadi bungkam karena mendadak moodnya hancur gara-gara kedatangan kakak kandungnya itu. Ia terpaksa pasrah karena belum bisa banyak gerak.
"Oiya, Sya. Istrimu mana? Lima tahun lalu, aku dengar kau akan menikah. Sorry, ya, aku enggak bisa datang." Fabian mencoba mengajak adiknya itu membuka diri setelah sampai di depan rumah. Mereka menatap Alma yang menenteng tas ke dalam rumah.
Paham akan diamnya sang adik, Fabian tak mengambil pusing. Ia bukan tipe lelaki ngambek-an seperti Rasya. Lelaki dengan segudang ketampanan itu mendorong kursi roda Rasya ke kamar.
Sampai di sana, ruangan itu tampak rapi. Ada pakaian bayi yang tergantung pada capstok di gagang pintu lemari. Kening Fabian mengkerut. Sampai di dalam ia melepaskan tangannya dan menyentuh kain lembut dengan corak binatang bernama bunny.
"Punya anakmu, Sya?" tanya lelaki itu. Menilik begitu detail.
"Bukan urusanmu!" Rasya memutar roda kursinya. Ia keluar lagi dan berakhir di ruang tengah.
Fabian hanya tersenyum ringan. Ia merogoh benda dalam saku celananya. Menelpon seorang wanita yang baru-baru ini bekerja sama dengannya dalam bidang design interior dan busana muslim.
Ada senyum menawan yang terlukis di bibirnya. Alma yang baru datang, jadi penasaran. Ia menyenggol lengan putra sulungnya.
"Ciee, yang mau janjian. Sama siapa? Pasti calon mantu Mama. Buruan nikah, Bian! Cari wanita yang sekelas dengan kita. Jangan kayak mantan istrinya Rasya itu, udah kuper enggak pandai urus rumah pula." Alma menaikkan satu sudut bibirnya.
"Mama tenang saja, kalau jodoh tidak akan ke mana," balas Fabian, tersipu malu. Sepanjang perjalanan tadi, ia membayangkan seorang wanita yang belum lama dikenalnya.
.
Pagi yang cerah embusan angin sejuk memeluk wajah, Fabian meletakkan kopi pekatnya di atas meja seraya menatap koran dengan berbagai berita yang terpampang. Sudah lama sekali dia tidak mendengar kabar mengenai Jakarta. Sudah banyak perubahan dan juga beberapa orang yang dia kenal.
"Nih, roti bakar, Bian. Makan dulu sebelum ke kantor," kata Alma. Dia duduk di sebelah putra sulungnya. Menatap cakrawala dunia yang menghadap langsung ke arah matahari terbit.
Taman samping rumah, masih sama dengan sepuluh tahun silam, saat Fabian memutuskan untuk pindah study ke California. Kursi kayu yang masih kokoh dengan payung yang menaungi, membuat mereka berdua mengenang masa itu.
"Makasih, Ma. Bian kalau di sana jarang sarapan, paling minum jus aja. Terus ...."
"Makanya, buruan nikah! Biar ada yang nyiapin kebutuhan kamu. Umur udah 35 tahun masih jomlo aja. Emangnya, di luar negeri enggak ada cewek cantik?" Alma menyipitkan matanya. Sambil mengupas buah apel impor, celotehannya membuat Fabian terkekeh.
"Banyak, Ma. Kalau cuman cari cewek, mudah saja. Tapi, yang susah itu cari istri shalihah," balas Fabian.
Mereka tak tahu, kalau dari balik dinding seorang lelaki dengan kruk penyangga kaki tengah menatap sinis. Ia tak suka melihat kedekatan antara ibu dan anak di sana.
"Kenapa susah? Memangnya cewek di sana tidak ada yang mau dinikahi?" Alma mulai berargumentasi. "Sayang, banget, ya? Padahal, Mama, juga mau punya mantu bule."
"Orang Indo aja, Ma. Gampang, penurut juga lemah lembut apalagi orang Jawa." Fabian tertawa lalu melipat koran tadi dan mulai menyeduh kopinya.
"Oh, kamu mau cari istri orang Jawa? Boleh-boleh, tapi jangan yang kampungan. Kayak mantan istrinya Rasya, tuh," ujar Alma. Ia memajukan pucuk bibirnya mengarah ke samping. Bibirnya yang merona membuat Fabian sedikit geli. Pasalnya, usia Alma sudah tak lagi muda tetapi gayanya melebihi sosialita.
"Mantan istri? Memangnya, Rasya sudah berpisah dengan istrinya?" Putra Alma itu terkejut. Ia hampir saja tersedak.
Rasya yang sejak tadi mengepalkan tangannya kini ia pukulkan pada tembok. Gigi-giginya beradu hingga menimbulkan suara. Ia mati-matian menahan amarah karena dibanding-bandingkan dengan sang kakak.
"Dari dulu dia itu enggak pinter milih. Beli rumah di seberang jalan juga enggak bagus. Sederhana. Hasil dari kerja di perusahaan mantan kakak iparnya." Alma terus berbicara. Sebenarnya, Fabian enggan membahas masalah pribadi adiknya, tetapi demi menjaga perasaan sang Mama, ia pura-pura menanggapi.
"Oh, kakaknya mantan istri Rasya yang punya perusahaan?" Kini Fabian bersiap-siap. "Ma, aku berangkat dulu, ya? Hari ini adalah pertama aku kerja di kantor." Fabian meraih tangan Mamanya. Ia tak sengaja melihat Rasya yang mendelik lalu pergi di ujung sana.
"Bukan kakaknya mantan istri Rasya yang punya perusahaan ... eh, kamu mau berangkat sekarang? Sarapanmu belum habis, tuh!" tunjuk Alma pada dua lapis roti di atas lapik.
"Udah kenyang aku, Ma. Ngopi udah cukup. Nanti, kalau pulang mau dibawain apa?" Demi wanita yang sudah sangat lama sekali tak ia jumpai, lelaki itu berusaha menyenangkannya.
"Wah, kamu dari dulu memang putra terbaik. Selalu membuat Mama bangga."
Rasya yang masih mendengarkan ucapan Mama, semakin murka. Wajahnya merah, garis rahangnya mengeras juga terlihat otot lehernya tegang. Dia menunjukkan diri kali ini karena sudah tak tahan.
"Puji aja terus anak Mama itu! Dia baru datang langsung dapat tempat yang tinggi. Sementara aku yang selama ini menemani Mama, hanya dapat ejekan! Di mana hati nurani Mama?" Rasya pergi dengan tongkatnya. Ia berjalan tertatih membawa perasaan yang terbakar. Lalu, mengunci diri di dalam kamarnya sendiri.
"Ma, Rasya marah. Kita sudah salah. Aku akan temui dia dulu," ucap Fabian lalu meninggalkan Alma.
"Bian!" teriak Alma, mencegah. Akan tetapi, sia-sia belaka. Ia memutuskan untuk mengejar putranya.
"Sya, kamu salah paham. Buka dulu pintunya!" teriak Fabian sambil mengetuk pintu. Ia berusaha masuk, memutar knop pintu berulangkali tetapi percuma.
Rasya tak menjawab. Hening di dalam sana, entah apa yang akan ia perbuat setelah ini. Yang pasti, perasaan sang Kakak kini sangat merasa bersalah. Meski tak ada niat mengghibahnya tadi.
"Gimana, Bian? Apa dia baik-baik saja?" Alma mendadak khawatir.
"Entahlah, Ma. Biar dia menenangkan diri dulu. Aku berangkat, ya? Sudah telat." Fabian menilik arloji mewah di tangannya.
"Berangkatlah, hati-hati. Jangan lupa nanti telpon Mama kalau sudah sampai. Biarkan saja Rasya di dalam. Nanti juga baik sendiri. Mama sudah hafal betul wataknya," ujar Alma lagi.
Fabian hanya bisa menghela napas panjang. Sikap Mamanya juga masih sama seperti puluhan tahun lalu. "Assalamualaikum." Fabian mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Wa'alaykumsalam."
Sampai di depan pintu utama, Fabian yang baru saja membukanya mendadak dikejutkan dengan sebuah kotak berwarna coklat. Ada tulisan di bagian luar dengan tinta bolpoin.
"Ma, ada paket."
Alma yang mendengar teriakan dari depan segera menghampiri Fabian. "Paket apa?"
"Nih, tulisannya buat Mama." Fabian menunjukkan.
Untuk Nyonya Alma di tempat.
"Dari siapa ini?" gumam Alma lalu membukanya.
Betapa terkejutnya ketika ia melihat benda halus berhias manik-manik yang sama persis dengan gaunnya yang sempat terbakar strikaan saat itu.
"Indri ...."