"Mas!!!"
Pekik seorang perempuan yang sudah tak lagi muda. Namun, diusianya tersebut baik penampilan dan wajahnya masih terlihat imut juga cantik. Resti masuk ke dalam ruang kerja Richard tanpa permisi, melempar asal tas jinjing kecil milikya yang tengah dia bawa ke atas sofa. Dia berjalan menghampiri suaminya
Resti pulang dua hari setelah mendapat telepon dari, Richard. Dan sebelum kembali ke Jakarta, dia sudah meminta ijin dari Dokter khusus yang menangani mama Elsa. Menjadwalkan ulang untuk Medical Check Up selanjutnya. Resti sudah tidak bisa lagi menunda-nunda kepulangannya kali ini. Setelah suaminya mengabari jika lelaki itu membutuhkannya.
Resti juga mencecar barbagai macam pertanyaaan pada, Tito. Akhirnya Bodyguard sekaligus orang kepercayaan suaminya itu mau menceritakan, walaupun hanya bagian pentingnya saja. Tapi, itu semua membuat Resti meradang atas apa yang dilakukakn oleh Richard.
"Kamu udah sampai,-"
"Kamu!!" Resti menatap horor ke arah Richard, yang tengah tersenyum menampilkan gigi geliginya.
"Ups! saya nggak ikutan," kata Ivan sang asisten, mundur beberapa langkah kebelakang. Lelaki itu buru-buru pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Sialan lo, Van!" gumam Richard yang masih bisa di dengar oleh Resti.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Jangan macam-macam kamu ya, Mas!"
"Sini, duduk dulu." Titah Richard menepuk kedua pahanya, agar Resti duduk dipangkuannya.
Resti menurut, lalu duduk dipangkuan Richard.
"Kamu itu baru sampai, bukannya peluk aku, malah marah-marah. Ini Jetlag, kayaknya." Kelakar Richard, menoel hidung lancip milik Resti.
"Nggak lucu!" ketus Resti, menepis lengan suaminya.
"Aku mana bisa melawak, Sayang..." Bisik Richard memainkan anak rambut, Resti. "Aku itu, bisanya bikin kamu mendesah." Sambungnya sembari mengerlingkan sebelah matanya nakal.
"Udah ah, ini jelasin. kamu itu jangan aneh-aneh deh, Mas!"
"Apa nya yang aneh?" tanya Richard pura-pura tak tahu akan maksud dari ucapan istrinya.
"Kamu mau supaya Arka menikah dengan Rachel kan?"
"Suuuttt! jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar," kata Richard menutup mulut Resti menggunakan tangannya.
"Apa sih!" pukul Resti lengan suaminya pelan."Maksud kamu apa, Mas?" tanyanya lagi.
"Iisssh, dengarkan aku bicara dulu dan jangan kaget setelahnya."
Resti menurut. Menganggukkan kepala, mendengarkan apa yang diceritakan oleh, Richard. Dari awal sampai akhir sesuai yang Richard ketahui.
"Aku nggak percaya, Mas." Kata Resti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku pun tidak percaya. Tapi pada kenyataannya, aku melihat semuanya," jelas Richard mengambil ponsel dan memberikan pada, Resti. Richard memperlihatkan apa isi video yang telah di kirim seseorang kepadanya kemarin malam.
Resti menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Rasanya tak percaya akan video yang baru saja dia lihat. Air matanya menetes dikedua pipinya.
"Sudah jangan menangis, kita akan menikahkan mereka,-"
"Tapi, Mas"
"Apa lagi, Sayang. Mereka saling mencintai."
"Bagaimana bisa. Seandainya salah satu dari mereka tidak ada yang mencintai, atau sebaliknya. Arka dan Rachel sama-sama tidak saling mencintai. Mambayangkannya saja aku nggak sanggup, Mas!"
Tumpah sudah air mata Resti saat membayangkan jika pernikahan itu tetap berlangsung. Sesak di d**a semakin menghimpitnya, kala mengingat bagaimana kehidupan Resti saat pertama kali menikah dengan, Richard. Dia tidak mau, apa yang dulu pernah dia rasakaan akan menimpa dengan kehidupan rumah tangga anak perempuan dia satu-satunya..
"Aku nggak mau, apa yang aku rasakan dulu. Akan Rachel rasakan juga dalam rumah tangganya nanti, Mas." ucap Resti dengan suara yang tercekat.
"Kok kamu seperti mengungkit kesalahan aku. Mereka berbeda, Sayang. Percaya sama aku, mereka saling mencintai." Richard memeluk Resti dengan erat mengelus bahunya untuk sedikit menangkan sang istri. "Maaf atas semua kesalahan aku" lanjutnya dengan penuh penyesalan.
Richard mengurai pelukannya menatap manik mata sendu milik Resti. Mengecupi seluruh wajah istrinya mulai dari kening, kedua mata, pipi, hidung, dan berakhir di bibir sang istri. Namun air mata perempuan Resti masih terus berjatuhan. Richard menghapus air mata Resti, kemudian menempelkan keningnya pada kening istrinya.
"Maaf atas trauma yang aku berikan, maaf atas luka yang selalu aku berikan. Tapi percaya padaku, kali ini keputusan yang aku ambil sudah sangat tepat"
Resti tak menanggapi lagi ucapan Richard, perempuan itu hanya merasa takut atas apa yang akan terjadi kelak dalam rumah tangga, Rachel.
"Aku tetap tidak setuju sampai kapan pun. Pernikahan itu salah jika di paksakan. Kamu jangan egois." Resti mendorong tubuh Richard dengan sedikit kasar hingga pelukan itu terlepas.
"Keputusan aku sudah bulat. Dalam minggu ini mereka tetap aku nikahkan. Kamu tahu bagaimana aku,"
"Mas, aku mohon. Bicara lah baik-baik. Aku yakin mereka tidak melakukan sesuatu yang hina."
"Terserah apapun ucapanmu. Aku nggak mau ada bantahan,"
"Mas!!" pekik Resti memanggil suaminya yang berlalu dari dalam ruang kerjanya.
"Kita bicarakan nanti. Sepertinya kamu harus banyak istirahat"
Sudah selama beberapa hari ini baik Richard maupun Resti mereka saling mengabaikan, bertahan dalam ucapan dan prinsipnya masing-masing. Resti dengan tak mau menjadikan pernikahan ke dua anaknya secara terpaksa, dan ingin memberikan waktu bagi ke dua anaknya untuk memikirkan ulang kedepannya. Dia pun takut apa yang menjadi ke khawatirannya menjadi kenyataan. Namun, di lain hal dia merasa seperti yakin jika ke dua anaknya tak pernah melakukan hal-hal di luar batasannya.
Walaupun diabaikan oleh suaminya.Tetapi Resti masih terus melayani segala kebutuhan dan keperluan Richard. Resti mencoba menghubungi Rachel untuk menanyakan keberadaannya karena beberapa hari yang lalu dia terus menghubunginya namun panggilan itu selalu di abaikan oleh Rachel. Pesannya pun tak pernah di balas oleh sang anak.
"Halo, Sayang!"
"Ya, Bun."
"Bunda sudah pulang, Kamu di mana, Sayang? Apa kamu nggak kangen sama bunda?"
"Aku di Cafe, Bun!"
"Pulang, Sayang. Bunda ingin berbicara."
"Nanti malam aku pulang...."
Beberapa saat haning tanpa ada pembicaraan lagi sampai di mana Rachel terisak terdengar dari sebrang sana.
"Hai, kenapa menangis?"
"Bunda percaya kan sama aku? Aku nggak mungkin berbuat yang tidak-tidak!"
"Bunda percaya, tapi kalian harus pulang. Kalian harus menjelaskn semuanya."
"Iya, Bun!"
Tak ada lagi pembicaraan antara keduanya, mereka menutup panggilan tersebut setelah di rasa tak ada lagi pembicaraan lagi. Bersamaan Richard masuk ke dalam kamar nya. Resti langsung berhambur memeluk suaminya.
"Jangan abaikan aku, Mas! Rasa nya sakit. Maaf aku berdosa membantah dan maninggikan suaraku. Maaf juga aku udah kurang ajar sama kamu."
"Aku yang seharusnya minta maaf. Nggak seharusnya aku berbicara kasar. Ingatkan aku terus jika aku salah. Sampai aku bisa terus menjadi suami yang baik yang pantas berdampingan dengan kamu selamanya."
Richard balas memeluk sang istri sesekali dia mengecup keningnya lama. Meresapi rasa kasih sayang yang dia miliki.