Empat

1108 Words
Setelah kejadian pagi itu. Baik Rachel maupun Arka tak ada yang berniat untuk pulang ke rumah. Mereka lebih memilih menenangkan diri terlebih dahulu. Rachel memilih tidur di cafe tempat dia membuka usahanya. Dan di sana dia bertemu dengan, Vika. Gadis itu menjelaskan semuanya kepada Rachel, bahwa Vika sudah membawa Rachel ke Apartment milik Arka sesuai apa yang Arka dan Rendi perintahkan. Karena, tidak mungkin Vika membawanya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Setelahnya, Vika meninggalkan Rachel sendiri di dalam Apartment tersebut. Jadi untuk itu, Rachel sama sekali tak menaruh kecurigaan apapun terhadap, Vika. Kini setelah tiga hari berlalu, akhirnya Rachel pulang ke rumah. Setalah dirinya merasa sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia duduk terdiam, menundukkan pandangannya, rasanya tak berani menatap wajah sang bunda yang nampak kecewa di hadapannya saat ini. Disebelahnya ada Arka. Entah kapan lelaki itu pulang kerumah dia pun tak tahu dan tak mau tahu. Seperti di sebuah persidangan, mereka duduk ber empat, hanya tersekat meja. Saling berhadap-hadapan, di mana Arka bersisian dengan, Rachel. Dihadapannya, ada Richard dan juga Resti tengah duduk memperhatikan kami. "Apa ada yang mau kalian jelaskan, sebelum papi bertanya kepada kalian?" tanya Richard santai, dia menyilangkan kedua tangan di d**a sembari bersandar pada kursi sofa. Mereka sama sekali tak menjawab pertanyaan Richard. Masih sama-sama diam tak bergeming menundukkan pandangannya. Memang sedari kecil mereka di didik tak pernah membantah kedua orang tuanya. Apa lagi sampai berlaku kurang ajar. Jika sang papi tengah marah, mereka hanya diam sama sekali tak pernah ada yang menjawab apa lagi membantahnya. Richard mengelus wajahnya kasar, lalu menghela napas pelan, agar dirinya bisa sedikit lebih tenang. "Kalian tidur bersama? sudah sejak kapan? apa kalian memiliki hubungan yang kami tidak tahu? atau memang sengaja, kalian sembunyikan dari kami?" tuduh papih memberondong dengan berbagai macam pertanyaan. Namun, keduanya sama sekali tak berniat untuk menjawabnya. Bukan tak berani, lebih tepatnya mereka bingung menjelaskannya. Karena, semua tuduhan yang dilontarkan Richard sama sekali tak ada pembenarannya. "JAWAB!!" bentak Richard menggelegar. Sontak saja bentakan Richard membuat ketiganya berjingjit kaget. Baik Rachel maupun Arka mendongakkan kepala, menatap wajah Richard. "Pih!" Resti menggelengkan kepala. Mengelus bahu sang suami, dia takut tensi darah lelaki itu naik. Oleh karenanya, dia sedikit menenangkan Richard. "Ini nggak seperti apa yang papi pikirkan," sahut Arka. "Lalu... Menurut kalian papi berpikir apa memangnya. Hah?" "Bukan begitu, Pih. Maksud aku,-" Jawab Rachel "Maksud kamu. Papi salah lihat, begitu?" sungut Richard. "Kita tidak melakukan apa pun, Pih. Sungguh!" Sahut Rachel lagi, ingin mejelaskan. Namun Richard, sepertinya tak mau mendengar apapun itu. "Apa kamu pikir papi ini bodoh. Hah!" tangan Richard mengepal kuat di atas pahanya. Dengan mata yang sudah memerah, menahan amarahnya sedari tadi. Kemudian dia mengeluarkan ponsel, melempar ke atas meja dengan kesembarang asal. "Apa papi masih di anggap salah melihat. Hah? Jelaskan semuanya!" Kata Richard menuntut penjelasan. Arka mengambilnya dan melihat isi rekaman video berdurasi singkat itu. Di dalam video tersebut, menampilkan dia yang tengah berciuman sangat terlihat mesra dengan Rachel. Bahkan, dalam rekaman itu mereka berciuman sebanyak dua kali. Terlihat seperti pasangan kekasih. Rachel mengambil ponsel tersebut dari genggaman Arka karena penasaran. Dia melihatnya, kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sekeras apa pun mereka menjelaskan. Tentunya, tidak akan ada siapa pun yang percaya pada mereka. Terlebih, bukti sudah sangat jelas. "Pih! Tenang." Kata Resti, mengelus tangan Richard. Richard menoleh ke arah, Resti. Membalas genggaman tangan istrinya, kemudian mengelusnya pelan. "Mana bisa tenang, Bun!" ucapnya terdengan pelan, dia beralih menatap Arka, "dia itu tidur dengan adiknya!" lanjut lelaki itu dengan helaan napas, "kalian akan segera papi nikahkan." "Nggak!!" Sahut Arka tegas beranjak berdiri, ingin pergi meninggalkan perdebatan itu. Arka sangat yakin, bahwa pada malam itu dia tidak melakukan apapun. "Maksud kamu apa?" Richard beranjak berdiri. Mendekat pada Arka menarik kerah baju anak lelakinya, sembari terus menatap horor ke arahnya. "Aku nggak mau menikah, aku nggak mencintainya. Dia adik aku, mana mungkin aku menikahinya." Sela Arka menepis lengan Richard "Anak kurang ajar!!!" bentak Richard yang langsung memukul wajah, Arka. Arka langsung terhempas ke atas sofa, dengan tubuh Richard berada di atasnya. Dia sama sekali tak membalas pukulan Richard. Aaaakkkkhhhh!!! Pekik Resti dan Rachel bersamaan. Rachel langsung memeluk tubuh, Arka. Dia berusaha melindungi lelaki itu dari Richard. "Pih udah. Stop!" lirihnya. Sedangkan Resti memeluk Richard dari arah belakang, bermaksud menahan lelaki itu walau tenaganya kalah kuat dengan tenaga Richard. "Stop, Mas.... Stop!! dia anak kamu!! hentikan!!" "Justru dia anak aku, makanya aku kasih dia pelajaran. Biar dia sadar. Dasar anak nggak bermoral! adiknya dia tidurin, apa kamu kekurangan perempuan. Hah!!" ttunjuk Richard wajah Arka dengan mata yang sudah memerah, saat genggaman tangannya di kerah baju Arka terlepas. "Pih, udah. Ini bukan salah abang, aku yang meminta abang menciumku. Dan kejadian di hotel itu, baik aku dan abang kita sama-sama tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Tapi percaya padaku kita tidak melakukan apapun" Rachel memohon dengan terus menangis. "MURAHAN!!" Bentak Richard, menampar pipi Rachel. "Mas.!!" jerit Resti, melihat bagaimana Richard menampar anak gadisnya. Dia dengan kasar mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Richard langsung menatap lengannya yang telah kasar menampar pipi anak gadis nya. Terlebih ucapan yang terlontas sangat kasar. Rachel membeku saat Richard menamparnya, terlebih kata "Murahan." Dia memegang pipi bekas tamparan papi nya. Sakit! tapi bukan sakit atas tamparan sang papi, melainkan sakit atas kata yang terucap dari bibir lelaki yang paling dia sayangi. "Pih!" lirih nya, tumpah sudah air mata gadis itu membanjiri pipi mulusnya. "Jangan pernah menamparnya !! apapun itu!!" bentak Arka, dia berteriak menggelegar. Jiwa monster lelaki itu keluar, saat orang yang dia sayangi diperlakukan kasar. Arka menarik kerah kemeja Richard bersiap untuk memukulnya. "Jangan!!" sergah Rachel langsung memeluk tubuh Arka dari belakang. Aaaakkkhhhh!!!! Teriak Arka melampiaskan amarahnya. Dia menghela napas kasar, kemudian dia menghempaskan vas bunga yang berada di atas meja. "Tolong, Pih! Jangan perlakukan adikku dengan kasar." Kata Arka, Dia menatap Richard dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Membalikkan tubuhnya menatap Rachel. "Dek!" Memeluknya dengan erat, mengecupi ujung kepala Rachel. "Maaf" menangis memeluk gadis itu. Di ujung sana, mama Elsa terus menatap sedih keluarganya. Melihat bagaimana perkelahian antara anak dan cucu nya, dengan tak percaya. Selama ini yang dia lihat keluarganya selalu terlihat akur tak pernah ada percekcokan. Tapi sekarang, kenapa seperti ini. Haning, semua duduk tanpa ada yang mau membuka suara. Sampai beberapa menit kemudian barulah Richard berbicara dengan nada sedikit lebih tenang. "Kalian tetap akan papi nikahkan, ingat Arka. Kamu udah rusak adik kamu,-" "Aku nggak yakin, karena aku nggak melakukan apapun. Mungkin kami hanya tidur bersama? atau mungkin ada yang menjebak kami?" Arka memotong ucapan Richard dengan picingan matanya. "Kamu menuduh papi?" "Bisa jadi!" kata Arka mengedikkan bahunya, "kenapa papi bertanya kalau aku menuduh papi? atau memang papi yang menjebak kami? iya kan pih!" "Anak kurang ajar!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD