Lima

1163 Words
Arka bukanlah lelaki bodoh yang mau percaya begitu saja atas Konspirasi yang dibuat oleh, Richard. Namun, kali ini dia membiarkan sang papi melakukan apapun. Dia hanya ingin tahu, sampai di mana Richard akan mendesaknya untuk menikahi Rachel. "Mah!!" Panggil Resti menatap mama Elsa yang tengah menangis. "Aku mohon, bicara lah baik-baik tanpa ada kekerasan." Lanjutnya memperingatkan suami dan anaknya. "Apa kalian tidak kasihan dan sayang dengan mama, menyaksikan kalian berkelahi layaknya preman pasar." Sambungnya kembali dengan kesal. Arka menghempaskan b****g pada sofa, lalu menyandarkan tubuhnya disandaran sofa tersebut. Memegang sudut bibirnya yang berdarah. "Ck" berdecak sebal sambil menatap Richard meledek. "Apa?" tantang Richard seperti anak kecil yang bertengkar dan belum puas akan kekalahannya. Dia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Arka. Mata elangnya terus menatap bengis ke arah anak lelaki nya itu. Rachel bergegas beranjak berdiri, mengambil handuk kecil dan wadah yang berisikan air hangat untuk mengompres wajah, Arka. Resti mendorong kursi roda yang diduduki oleh, Mama Elsa. Kemudian membawanya untuk duduk bergabung bersama keluarganya. "Ada apa ini, Nak? Kenapa kalian bertengkar?" Tanya mama Elsa menatap anak lelaki nya, kemudian beralih menatap cucu kesayangannya. "Mereka akan aku nikahkan, Mah." Jawab Richard dengan tegas dan tak mau di bantah. "Aku tetap tidak mau," tolak Arka dengan pendiriannya yang tak kalah tegas. Menepis handuk kecil yang tengah dipegang oleh Rachel. "Karena aku nggak cinta. Lagi pula mana mungkin aku menikah dengan adik aku sendiri,-" "Sudah tahu adik sendiri, kenapa kamu tiduri? lagian kalian tidak satu darah, jadi menurut papi kalian bisa menikah!" sindir Richard memicingkan mata ke arah arka, kemudian dia meyakinkan apa yang menjadi pemikirannya sendiri. "Ck" dengus arka lagi menggelengkan kepala "Kalian akan tetap papi nikahkan, sekalipun kamu menolaknya berpuluh-puluh kali,-" "Cukup, Pih. Cukup... ini hidup aku. Aku yang akan memutuskan" potong Rachel sekuat tenaga menahan tangis, dia menghela napas pelan. "Aku dan abang nggak akan pernah menikah, kami tidak pernah saling mencintai. Jangan paksa kami, Pih." Sambungnya menatap Richard seperti memohon "aku mencintai seseorang, dan itu bukan abang." Ungkap Rachel selanjutnya. Rachel tak kuasa menahan tangis, saat dia mengatakan mencintai orang lain. Sesak di d**a saat mendengar ungkapan kenyataan atas ucapan Arka barusan yang tak mencintainya. Sampai kapanpun lelaki itu tak pernah membalas cintainya. Dia harus sadar diri. "Sayang!" panggil Resti memeluk tubuh Rachel yang bergetar, karena tangisnya tak kunjung mereda. Dia mengecupi pucuk kepala anak gadis nya itu, seolah-olah dia dapat merasakan apa yang Rachel rasakan saat ini. Tangis Rachel bukannya mereda, dia malah semakin terisak dalam peluka Resti. Memeluknya dengan begitu erat. "Ma-af, kalau a-aku, bu-at kalian kecewa!" ucapnya terbata. "Sudah, jangan menagis lagi. Kami tidak akan memaksa, tapi pikirkan kembali keputusan kalian," sahut Resti mengelus bahu Rachel sembari terus memeluknya erat. "Sayang,-" Richard, tidak melanjutkan ucapannya. Saat dia melihat sorot mata Resti yang tajam, seolah-olah memperingatkan dia agar tidak mengatakan apapun. Dia beranjak berdiri meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Resti mengurai pelukan, menangkup pipi Rachel. "Sudah jangan menagis, biar nanti bunda yang akan berbicara dengan, Papih." Kata Resti menghapus sisa-sisa air mata Rachel. "Papi hanya sedang emosi saat ini," lanjutnya mengurai pelukan, dia beranjak berdiri menyusul suaminya menuju lantai atas rumahnya. Bluumm!! Dentuman suara pintu yang dihempaskan oleh Richard di atas sana dengan sangat kuat terdengar sampai ke bawah. Arka beranjak berdiri, mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja. Melangkah, berlalu, meninggalkan Rachel dan mama Elsa yang tengah menangis melihat perdebatan keluarganya. "Bang!" panggil Rachel yang tak dihiraukan oleh Arka. "Maaf, Oma!" lirihnya memeluk mama Elsa. "Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi," ucap mama Elsa mengelus bahu cucu perempuannya. "Oma tahu apa yang papi putuskan , itu adalah yang terbaik untuk kalian," lanjutnya dengan bijak masih terus mengelus bahu Rachel yang tengah terisak. "Aku tahu ini semua ulah kamu kan, Mas! Tapi tolong, pertimbangkan semuanya. Pernikahan bukan sebuah permainan, Mas!!" Bentak Resti kesal dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sesaat setelah dia masuk ke dalam kamarnya. "Sok, tahu kamu." Jawab Richard, dia terkejut karena istrinya tiba-tiba membentak dan menuduhnya. "Pokoknya, kamu tenang saja. Suatu saat nanti, mereka akan menerima dan bersyukur atas apa yang aku lakukan hari ini,-" "Kamu egois, Mas!! Aku pikir, dengan seiring berjalannya waktu, kamu sudah berubah. Nyatanya kamu tetap pemaksa! hanya mementingkan ambisi kamu aja!!" potong Resti dengan bentakan kembali, cairan bening yang berada dipelupuk matanya kini sudah menetes di kedua pipi nya. "Jangan kurang ajar kamu! Turunkan intonasi suaramu!!" hardik Richard menatap nyalang mata Resti. Kini, di kamar itu terjadi perdebatan antara suami dan istri itu. "Aku nggak mau, apa yang aku rasakan dulu. Akan Rachel rasakan juga dalam rumah tangganya nanti," ungkit Resti tentang perasaan nya terdahulu, kini suaranya terdengar sedikit lebih rendah. "Kok, kamu malah terus-terusan mengungkit kesalahan aku. Mereka berbeda dengan kita, ngerti nggak kamu?" "Tetap sama, Mas!!" bentak Resti mulai manaikkan nada suaranya satu oktaf "Kurang ajar kamu!!" bentak Richard, mengangkat tangannya ingin menampar Resti. Tapi, gerakannya terhenti di udara kala tersadar. "Aaaakkkhhh!!" teriaknya kesal, dia mengelus wajah dengan kasar. Resti memejamkan mata, kala melihat tangan Richard terangkat. Namun tangan itu tak mendarat di pipinya. Dia membuka matanya dan berucap, "mereka tidak saling mencintai, Mas. Mereka hanya menyayangi satu sama lain layaknya kakak beradik. Kamu ngerti nggak sih, Mas!" lanjutnya marah "Mereka saling mencintai, Sayang." Richard memengang bahu Resti mnggunakan kedua tangannya. Menatap lekat dua bola mata milik istrinya yang sudah dipenuhi dengan lelehan air mata. "Aku sangat yakin mereka saling mencintai sudah sejak dulu." "Yakin sekali kamu? Pokoknya, aku nggak mau sampai pernikahan itu terjadi, titik!!" potong Resti sembari menepis lengan Richard yang tengah memegang bahunya. Richard berlalu pergi dari dalam kamar, dengan membanting pintu secara kasar. Lelaki itu lebih baik menghindari Resti dari pada nanti akan menyakiti hati perempuan itu lagi. Bluummm!!! Resti memejamkan mata saat mendengar dentuman suara pintu. Air matanya terus mengalir mengingat bagaimana dulu dia menderita karena mencintai lelaki yang membenci dirinya. Bukan belum memaafkan. Hanya saja, dia tidak mau jika suatu saat nanti Rachel akan bernasib yang sama dengannya seperti dia dahulu. "Bun!" Panggil Rachel, dia masuk ke dalam kamar menghampiri, Resti. "Maaf, karena aku kalian jadi bertengkar." Sesalnya memeluk Resti dengan erat. "Sudah, bunda nggak apa-apa. Papi memang keras, tapi percaya sama bunda. Jika kalian tidak siap menikah, bunda yang akan bantu menjelaskan pada, Papih." "Tolong bantu aku, yakinkan papi agar pernikahan ini tidak boleh terjadi. Karena aku nggak mau menyakiti, Abang." Pinta Rachel dalam pelukan sang bunda dengan suara yang tercekat menahan tangis. Resti mengurai pelukannya, manangkup pipi anak gadisnya. Dia menatap lekat bola mata Rachel. "Kamu cinta sama, Abang?" tanyanya seperti mengetahui isi hati sang anak. Sontak saja ucapan Resti mengejutkan Rachel, seperti dirinya tengah tertangkap basah karena melakukan kesalahan. Dengan cepat dia menggeleng, "abang punya kekasih sejak sekolah sampai dengan sekarang, aku nggak mau merusak kebahagiaannya," lanjutnya dengan menundukkan kepala. "Sayang. Bunda tahu apa yang kamu rasakan, bagaimana mungkin bunda nggak peka dengan kata-katamu dan perasaan kamu." Kata Resti menangis memeluk Rachel kembali dengan erat. "Kita akan menikah," kata Arka yang baru saja masuk ke dalam kamar milik kedua orang tuanya. "Aku yakin, keputusan papi yang terbaik untuk, Rachel." lanjutnya ambigu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD