Bab 8. Hoki

1206 Words
"Zea, lo beneran mau traktir gue makan di sini?" tanya seorang gadis berbalut dress pendek warna merah marun saat taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah restoran mewah yang ada di kota Surabaya. Gadis yang tidak lain adalah Rully, teman Zea itu tampak ragu saat hendak turun taksi. Keduanya berteman semenjak Zea pindah ke Surabaya. Rully seorang mahasiswi fakultas ekonomi dan bisnis di Universitas Airlangga . Tidak banyak yang tahu kalau selain sebagai mahasiswi, Rully bekerja sebagai kupu-kupu malam untuk biaya kuliahnya. Gadis itu juga yang yang mengajak Zea untuk menjadi pekerja seks komersial di sebuah rumah bordil Rully lah yang memperkenalkan Zea kepada Mami Mike, Sang g***o rumah bordil. "Beneran, dong. Masa iya gue bohong," balas Zea sembari melempar senyuman. "Memangnya tamu lo tadi malam tajir banget ya, Ze?" tanya Rully. Gadis itu heran karena baru semalam Zea melayani pelanggan, tetapi sekarang hendak mentraktirnya di sebuah restoran mewah. Tadinya Rully menyangka Zea mengajaknya makan di kafe-kafe biasa sebagai tanda terima kasih karena telah memperkenalkannya dengan Mami Mike. Namun, gadis itu tidak menyangka sama sekali kalau Zea malah mengajaknya ke sebuah restoran mewah. "Bukan cuma tajir, tetapi tajir melintir. Udah gitu dia masih muda dan ganteng banget," jawab Zea membuat Rully melebarkan kedua matanya. "Gila! Hoki banget lo, Ze! Baru dapat pelanggan pertama sudah dapat yang muda dan tajir, ganteng pula. Memangnya tadi malam kalian main berapa kali?" bisik Rully kepo, membuat Zea tertawa. "Elo pasti nggak bakal percaya. Kami sama sekali nggak main dan gue masih virgin." Jawaban Zea membuat Rully melongo. "Apa? Yang bener saja, Ze?" Rully tampak tak percaya mendengar jawaban Zea. "Nanti gue ceritain. Sekarang kita masuk dulu," ajak Zea sembari keluar taksi. Sementara Rully mengikuti gadis itu. Keduanya berjalan beriringan masuk restoran mewah itu. "Lo boleh pesan makanan apa saja yang lo mau," ucap Zea setelah keduanya duduk Ruli yang sedang memegang buku menu sontak melebarkan matanya "Lo serius, Ze?" Tanya Rully ragu. "Serius! Lo jangan takut gue nggak bisa bayar. Kalau perlu habis ini kita jalan-jalan ke mall dan lo boleh belanja apa saja yang Lo mau. Gue yang traktir." "Tunggu! Ini beneran, kan, Ze? Gue gak lagi mimpi?" tanya Rully meyakinkan. Zea hanya tertawa lalu mengeluarkan kartu kredit dari dalam tasnya. "Dia ngasih lo kartu kredit?" tanya Rully lagi. Zea hanya mengangguk. "Udah, sekarang lo pesan makanan aja. Jangan tanya-tanya kayak polisi." "Oke, oke! Gue mau pesen makanan yang enak-enak yang belum pernah gue makan," ucap Rully bersemangat. Gadis itu segera menuliskan pesanannya dan memberikan kepada pelayan restoran. "Gue jadi nggak sabar dengar cerita lo tadi malam," ucap Rully setelah pelayan restoran pergi. "Jadi gini, pelanggan gue tadi malam itu masih bujangan, seorang Ceo, tampan dan kaya raya. Dia datang ke rumah bordil bukan untuk melampiaskan nafsu seperti kebanyakan laki-laki hidung belang, melainkan dia sedang cari istri." "Apa? Jadi dia ngajakin elo menikah?" tanya Rully terkejut. Zea menjawab dengan anggukan kepala. Tentu saja gadis itu tidak menceritakan kalau Axel hanya memintanya menjadi istri pura-pura. Bisa jatuh harga dirinya di depan Rully. "Apa orangnya yang lo bikin story tadi pagi itu?" tebak Rully. Lagi-lagi Zea hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Gila! Kalo itu sih bukan hanya keren, tetapi keren banget. Terus bagaimana dengan Mami Mike? Apa dia bakal melepaskan elo begitu saja?" "Tentu saja tidak. Seperti yang lo bilang, sekali kita masuk menjadi anak buah Mami Mike, maka kita selamanya akan menjadi budaknya." "Terus bagaimana elo bisa menikah dengan Ceo Tampan itu?" "Calon suami gue kan kaya raya. Dia sudah membeli gue dari Mami Mike. Tentu saja Mami langsung setuju karena dia juga tidak akan rugi." "Wah, beruntung sekali elo, Ze. Andaikan gue bernasib sama kayak lo." "Semoga aja ya suatu saat nanti lo juga bisa ketemu lelaki yang tampan, kaya raya dan benar-benar bisa membuat lo bahagia." "Apa gue masih punya kesempatan itu, Ze? Secara gue sudah kotor. Entah sudah berapa banyak lelaki yang menyentuh gue, hanya demi bisa kuliah dan bertahan hidup di Surabaya." "Gue yakin suatu saat pasti ada, Rul. Lo jangan berkecil hati, ya! Udah, deh. Jangan mewek! Hari ini gue ngajakin elo makan di sini dan jalan-jalan ke Mall biar kita bisa happy. Jangan mellow! Lagian gue dapatkan keberuntungan ini juga berkat elo, kan? Elo yang ngajak gue kerja di rumah bordil. Seandainya lo nggak ngajak gue, mungkin gue nggak akan pernah ketemu sama calon suami gue." "Tapi kok aneh ya, Ze? Kok ada lelaki cari calon istri di rumah bordil? Meskipun memang lo masih virgin, tapi kan dia nggak tahu. Pada umumnya yang namanya cewek kerja di rumah bordil menjadi pekerja seks sudah pasti bukan wanita baik-baik. Kenapa dia bisa cari istri di tempat seperti itu, ya?" Pertanyaan Rully membuat Zea terdiam. Gadis itu tidak mungkin menceritakan perjanjiannya dengan Axel bahwa mereka hanya akan menjadi suami istri pura-pura, meskipun akan menikah secara resmi. "Ya mana gue tahu, Rul? Kenyataannya seperti itu, kan? Gue nggak tau apa alasannya cari jodoh di tempat maksiat itu. Nanti kalau gue sudah menikah, gue bakal cariin lo cowok, deh. Barangkali suami gue punya temen-temen yang ganteng dan tajir juga," hibur Zea. "Ya semoga saja ada, Ze." Percakapan keduanya terjeda dengan kehadiran pelayan restoran yang membawakan makanan pesanan Rully. Keduanya pun makan dengan lahap. Setelah itu Zea memenuhi janjinya mengajak Rully jalan-jalan ke mall dan membelikan pakaian-pakaian bermerek yang diminta sahabatnya itu. Tidak lupa Zea membelikan juga untuk sang mama. Setelah puas belanja-belanja, Zea mengantarkan Rully pulang ke tempat kosnya. Semenjak kuliah di Universitas Airlangga, Rully memang tinggal di tempat kost. Sementara keluarganya tinggal di Jombang. Keluarga Rully termasuk orang yang tidak mampu. Gadis itu bisa kuliah di Surabaya karena mendapatkan beasiswa. Sementara untuk biaya hidup di Surabaya, Rully terpaksa menjadi kupu-kupu malam agar bisa bertahan hidup di kota itu. Namun, hal tersebut dia lakukan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Rully berdalih kepada kedua orang tuanya bahwa dia kerja paruh waktu untuk membayar kos dan biaya makan. "Terima kasih banyak ya, Ze. Hari ini gue bener-bener seneng banget karena dapat makan enak gratis dan juga baju-baju bagus," ucap Rully saat taksi yang mereka tumpangi berhenti. "Udah jangan sungkan. Gue akan sering ajak lo jalan-jalan kek gini." "Beneran, Ze? Lu gak bakal lupain gue kalau sudah menikah?" "Gue janji, nggak bakal lupain lo. Ya udah, gue harus segera pulang. Takutnya Mama nyariin." Zea memeluk temannya. Taksi itu kemudian meninggalkan tempat kost Ruli. Sementara gadis itu hendak masuk ke gerbang rumah kosnya. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggil. "Tunggu, Mbak!" Rully terkejut dan segera menoleh ke arah orang tersebut. "Siapa kalian?" tanya Rully takut. Dua orang wanita beda generasi sudah berdiri di belakangnya sembari tersenyum. "Boleh kita bicara sebentar?" tanya wanita yang lebih muda. "B-boleh, tetapi kalian siapa? Saya tidak kenal kalian," ucap Rully ragu. "Kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin mencari informasi. Kalau kamu bisa memberikan informasi yang kami inginkan, maka kami akan memberikan imbalan," ucap wanita yang lebih tua. Wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu mengulurkannya ke arah Rully. Gadis itu terdiam melihat sebuah amplop berisi uang yang lumayan banyak. "Aku rasa ini cukup untuk membeli informasi yang akan kami tanyakan kepadamu." "Tapi kalian mau cari informasi tentang apa?" tanya Rully bingung. "Mari ikut kami sebentar!" ucap wanita yang lebih muda. Tanpa berpikir panjang, Rully pun mengikuti dua wanita beda generasi itu menuju mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD