[6] Harus Berusaha Sendiri

1081 Words
Alana menuruni satu per satu anak tangga sembari mengamati sekitar. Semalam, dia tidak sempat memperhatikan sekeliling karena ingin segera sampai kamar. Lagipula, dia masih merasa kesal dengan tingkah Noah. Hingga dia yang sudah sampai lantai dasar segera menuju ke arah ruang makan. Namun, sesampainya di sana, Alana tidak melihat siapapun. Tidak ada Noah atau yang lainnya. Alana pun mengalihkan pandangan, menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. ‘Seharusnya dia belum ke kantor, kan?’ tanya Alana dengan diri sendiri. “Selamat pagi, Nyonya. Saya Fani, asisten rumah tangga di sini.” Alana yang mendengar pun menatap ke asal suara. Di hadapannya sudah ada wanita yang seusia mamanya. Alana pun tersenyum manis dan menganggukkan kepala. “Silahkan sarapan, Nona. Saya tidak tahu apa yang Nyonya suka. Jadi, saya masak sesuai yang biasanya dimakan Tuan Noah saja. Kalau ada yang tidak cocok dan ingin ganti, Nyonya panggil saya saja, ya,” kata Fani. Alana hanya menganggukkan kepala. Dia langsung mengambil satu per satu menu di meja. Hingga dia yang melihat Fani hendak pergi pun langsung mengalihkan pandangan. “Fani, tunggu sebentar,” kata Alana. “Ada yang bisa dibantu, Nyonya?” tanya Fani sopan. “Tolong kamu bangunkan Noah, ya,” kata Alana. Dia enggan memberikan perhatian untuk pria itu. “Maaf, Nyonya. Sepertinya Tuan Noah tidak ada di rumah. Soalnya mobil beliau saja tidak ada,” ucap Fani. “Apa?” Alana cukup terkejut mendengarnya. Dia pun terdiam dan membiarkan Fani pergi. Sepeninggalan Fani, Alana kembali merenung. Dia cukup ingat kalau semalam dia dan Noah pulang ke rumah hampir pukul sembilan malam. Tapi, sekarang Niah tidak ada di rumah. Hati dan pikirannya pun mulai tidak tenang sama sekali. “Kalau sekarang dia tidak di rumah, itu artinya dia keluar setelah aku masuk kamar, kan?” Alana mencoba menerka. Awalnya dia pikir Noah masuk ke kamar di sebelahnya, tetapi siapa sangka pria itu malah pergi entah kemana. ‘Apa dia benar-benar tidak ingin aku ada di rumah ini?’ tanya Alana dengan diri sendiri. Alana yang mulai merasa pusing langsung membuang napas kasar. Dia tidak mau mengurusi Noah lagi. Tepat di saat Alana menyuapkan makanan, suara langkah terdengar. Alana pun melihat Noah yang baru saja datang. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin. ‘Jadi, semalam dia benar-benar pergi,’ batin Alana. Entah kenapa, ada perasaan kesal, membuat Alana mengalihkan pandangan. “Bagaimana rasa masakannya? Enak, kan?” tanya Noah. Dia mulai duduk di kursi lain, berseberangan dengan Alana. Alana pun mendongakkan kepala. Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, “Semalam kamu pergi?” “Iya. Ke tempat Owen,” jawab Noah dengan tenang. “Minum alkohol?” tanya Alana. Dia mencium bau alkohol yang cukup menyengat. Kali ini, Noah terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mengelak pun tidak akan bisa karena bau tubuhnya yang begitu jelas. Meski dia hanya meneguk satu atau dua gelas saja, tetap saja baunya cukup menempel. “Lain kali, jangan minum alkohol. Gak baik untuk kesehatan,” kata Alana tanpa sadar. Meski nada suara Alana terdengar ketus, tetapi saja Noah merasa terharu. Dia tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. Dia menyahut, “Iya. Aku tahu.” “Aku bukannya perhatian denganmu, Noah. Aku hanya tidak mau kamu sakit dan orang tuamu berpikir aku tidak merawatmu dengan baik,” kata Alana kembali. Dia baru tersadar setelah Noah menyahut. “Aku tahu,” sahut Noah kembali. Sebenarnya jawaban singkat itu membuat Alana kesal, tetapi dia memilih diam dan menahannya. Alana tidak ingin menjadi salah tingkah dan menimbulkan kecurigaan. Sedangkan Noah yang melihat hana mengulum senyum. Mendapat sedikit perhatian membuat hatinya tidak karuan. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Noah mengalihkan pandangan. Melihat siapa yang menghubungi, Noah langsung mengangkat panggilan. “Halo, Pa.” *** “Masuk.” Noah yang mendengar suara itu dari dalam ruangan langsung membuka pintu. Dia melangkah masuk, menuju ke arah sang papa yang masih fokus dengan tumpukan dokumen. Dia pun berhenti dan memilih duduk, tepat di hadapan sang papa. “Ada apa, Pa? Kenapa memanggilku?” tanya Noah. Malex yang awalnya tidak sadar dengan kedatangan putranya pun langsung berhenti. Dia mendongakkan kepala, menatap ke arah Noah. Bibirnya tersenyum lebar dan menutup semua dokumen. “Papa mau berbicara denganmu,” kata Malex. Dia pun bangkit dan membimbing putranya untuk duduk di sofa. Sejujurnya Noah cukup penasaran, kenapa sepertinya serius sekali? Tapi, dia diam saja dan memilih menunggu sang papa menjelaskan. “Jadi, apa yang bisa Noah bantu?” tanya Noah ketika sudah duduk. “Papa tidak membutuhkan bantuan apapun, Noah. Papa hanya mau bertanya, bagaimana hubunganmu dan Alana? Apa baik-baik saja?” Noah pikir papanya ingin membicarakan masalah bisnis, tapi kenyataannya malah masalah istrinya. Noah pun membuang napas kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. Dia yang awalnya bersemangat, sekarang sedikit lesu. “Noah, papa tahu kamu tidak menyukainya, tetapi papa harap kamu bisa memperlakukan Alana dengan baik. Jangan sakiti dia. Lagi pula papa menikahkanmu dengannya juga ada alasannya,” kata Malex. “Alasan? Apa?” Noah menjadi penasaran. Dia juga penasaran, kenapa tiba-tiba papanya menjodohkan dirinya dan Alana. “Alasannya simple. Dia cantik, setara dengan keluarga kita, penyayang dan baik. Selain itu, dia juga wanita yang kamu cinta,” jawab Malex dengan penuh percaya diri. Deg. Noah langsung melebarkan kedua mata ketika mendengar penjelasan terakhir sang papa. Dia pun refleks bertanya, “Bagaimana Papa bisa tahu mengenai hal ini?” Setahu Noah, hanya dia yang mengetahui isi hatinya. Kedua sahabatnya saja tidak tahu. Malex yang ditanya pun langsung tertawa kecil dan menjawab, “Papa tahu semua tentangmu, Noah. Jadi, kamu tidak perlu terkejut.” Noah hanya berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Dia pun memilih mengalihkan pandangan. Melihat wajah congkak sang papa membuatnya kesal. Hingga sang papa menepuk kakinya pelan. “Papa sudah memberikan jalan untukmu, Noah. Jadi, sekarang kamu harus berusaha sendiri. Papa tidak mau semua usaha ini gagal hanya karena kamu yang bodoh dan tidak melakukan apa pun,” kata Malex serius. Mendapat dukungan penuh dari sang papa, Noah pun tersenyum lebar. Dia menganggukkan kepala dan mengatakan, “Aku mengerti.” Sedangkan di luar ruangan, Jovita yang mendengar semua itu hanya diam. Kedua tangannya mengepal dengan rahang mengeras. Dia yang berniat masuk pun hanya berakhir menguping pembicaraan keduanya. Hingga dia yang tidak bisa menahan emosi memilih membalikkan tubuh dan melangkah lebar. “Alana lagi, Alana lagi. Sudah benar wanita itu pergi. Kenapa harus kembali lagi, sih?” Jovita mulai mengomel dan memasuki lift. ‘Sekarang aku harus menjauhkannya dari Noah. Aku gak rela kalau wanita itu mendapatkan Noah,’ batin Jovita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD