“Jangan pernah janjikan apa pun dengan kedua orang tuaku, Noah.”
Noah yang mendengar hal itu pun langsung mengerutkan kening dalam. Dia menatap ke arah Alana yang duduk di sebelahnya. Dia bertanya, “Maksudnya?” Dia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Alana kali ini. Padahal mereka baru saja sampai di rumah, tetapi Alana sudah membuat masalah lagi.
“Jangan berpura-pura bodoh, Noah. Aku yakin kamu tahu maksudku,” kata Alana dengan tatapan kesal. Sejak keluar rumah orang tuanya, Alana juga tidak menunjukkan senyum sama sekali. Dia kesal setiap mengingat apa yang dikatakan Noah.
‘Akan menjagaku katanya? Dasar munafik. Jelas-jelas dihatinya ada Jovita,’ batin Alana.
Noah semakin bingung, tetapi saat akan bertanya, niatnya terhenti karena Alana yang sudah keluar dari mobil. Wanita itu bahkan tidak mengatakan penjelasan apa pun. Hingga mau tidak mau, Noah harus menahan kekesalannya. Dia keluar dan menyusul Alana yang sudah memasuki rumah.
“Dimana kamarku?” tanya Alana sembari mengamati sekitar. Di sana ada beberapa pintu, tetapi Alana tidak tahu mana yang digunakan sebagai kamar.
“Di atas,” jawab Noah sembari menunjuk ke arah kamar utama.
Alana pun kembali melangkah ke arah kamar. Dia tidak merasa sungkan sama sekali. Bahkan dia tidak meminta izin.
Sedangkan Noah yang sejak tadi tidak diperhatikan hanya bisa mengelus d**a. Dia tidak tahu, dimana letak salahnya. Dia hanya menjemput dan tidak melakukan apapun, tetapi Alana seperti tidak menyukainya.
‘Apa sebenarnya dia tidak mau aku ajak kesini?’ tanya Noah dalam hati.
“Ini kamar kita berdua,” ucap Noah ketika sampai. Dia pun membuka pintu, menghadirkan ruangan dengan bau maskulin.
Alana pun mengambil koper yang sejak tadi dibawa Noah dan berkata, “Kalau begitu, aku yang akan tinggal di kamar ini. Kamu, silahkan tinggal di kamar lain.”
“Apa maksudmu?” Noah menatap tidak suka. Dia tidak berencana tidur di kamar terpisah dengan istrinya.
Alana yang sejak tadi memang kesal pun langsung membuang napas kasar. Dengan wajah masam dia menjelaskan, “Kamu lupa? Kita itu menikah kontrak. Aku akan pergi setelah kontrak selesai. Kamu juga bisa bersama dengan Jovita. Tapi kalau kita tinggal di kamar yang sama, aku tidak yakin kamu bisa bersama dengannya. Ingat, Noah. Kamu harus menjaga perasaan wanita yang kamu cintai.”
Apa? Noah benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Alana katakan. Dia tertawa kecil dan menggelengkan kepala, tidak menyangka dengan pikiran Alana yang begitu jauh. Padahal dia tidak pernah menyinggung mengenai Jovita, tetapi entah kenapa Alana selalu menyangkut-pautkan semua hal dengan wanita itu.
Namun, saat Noah akan bertanya, Alana sudah lebih dulu pergi. Wanita itu bahkan tidak memperdulikan keberadaan Noah yang masih menunggu. Melihat hal itu, Noah lagi-lagi hanya bisa bersabar.
Sedangkan di dalam kamar, Alana yang baru saja masuk langsung menyandarkan tubuh dengan pintu. Dia menutup mata rapat, menarik napas dalam dan membuang secara perlahan. Dia melakukan hal yang sama berulang kali, mencoba menghilangkan perasaan aneh yang muncul dalam hatinya.
“Ingat, Alana. Kamu tidak boleh mencintainya. Kamu harus menghilangkan perasaan ini. Dia sudah memiliki wanita yang dicintai dan itu bukan kamu,” gumam Alana, mengingatkan diri sendiri.
***
“Kenapa wajahmu cemberut begitu, Noah? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Owen ketika melihat Noah hanya diam.
Namun, Noah yang ditanya masih tidak menjawab. Dia hanya bungkam, memperhatikan minuman di tangan. Pikirannya masih tertuju dengan sifat Alana yang menurutnya berubah. Dulu, Alana adalah gadis yang ceria dan baik. Wanita itu juga selalu bersikap lembut dengannya. Tapi sekarang, Noah merasa Alana selalu kesal setiap melihatnya.
‘Apa dia membenciku?’ tanya Noah dengan diri sendiri.
“Noah.” Owen yang tidak sabar melihat sahabatnya hanya diam langsung menyikut kasar. Hal itu membuat lamunan Noah buyar seketika.
“Kamu melamun?” tanya Owen memastikan.
Noah hanya berdecak kecil dan membuang napas kasar. Sahabatnya tidak pernah mengerti kondisinya dan selalu mengganggu. Selain itu, Owen juga tidak pernah memberikan solusi apa pun.
“Kamu memikirkan Jovita?” tanya Owen dengan tawa kecil. Rasanya lucu karena Noah yang biasanya serius, hari ini melamun.
“Kenapa kamu selalu menyebut Jovita? Apa menurutmu aku menyukainya?” Noah balik bertanya. Lama-lama kesal juga karena dirinya selalu dihubungkan dengan Jovita.
“Bukannya memang iya?” Kali ini, Owen malah tampak bingung, “dulu, waktu duduk di bangku SMA, kami melihatmu menyatakan perasaan di taman dekat sekolah. Jadi, bukannya kalian waktu itu sudah jadian, tapi karena Jovita harus ke luar negeri, makanya kalian menjalin hubungan LDR dulu.”
“Apa?” Noah melebarkan kedua mata, merasa terkejut dengan ucapan sahabatnya. Selama ini dia tidak pernah mengetahui kenyataan yang satu ini.
“Kenapa kamu terkejut? Apa kami salah?” tanya Owen dengan penasaran.
“Kalian memang salah. Waktu itu aku tidak menyatakan perasaan dengannya, tapi ada orang lain yang aku sukai,” jawab Noah.
Mengingat kembali jika kejadian itu bertepatan dengan mengungkap perasaan, Noah pun terdiam. Kedua matanya melebar dan kembali bertanya, “Apa semua orang tahu? Terus, siapa saja yang ada di sana? Apakah ada Alana?”
“Kalau siapa yang tahu, jelas semuanya. Satu sekolah tahu mengenai hubunganmu dan Jovita. Tapi kalau Alana ada atau tidak, aku tidak tahu,” jawab Owen.
‘Jadi, apa ini yang membuat Alana tidak mau denganku? Dia mengira aku sudah berhubungan dengan Jovita?’ batin Noah.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” kata Noah dengan cepat. Tadi, karena kesal, dia keluar rumah dan datang ke bar milik sahabatnya.
Noah pun segera melangkah lebar dan siap keluar dari ruang kerja sahabatnya, tetapi niatnya terhenti ketika pintu ruangan itu sudah lebih dulu terbuka. Noah mengerutkan kening dalam saat melihat siapa di hadapannya.
“Jovita,” gumam Noah, tidak percaya dengan kehadiran wanita itu. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka membicarakan dan sekarang sudah datang.
“Dia ke sini karena aku yang mengundang. Tadi Jovita menanyakan dimana rumahmu, tetapi karena kamu di sini, aku suruh saja dia ke sini,” jelas Owen tanpa ditanya lebih dulu. Dia pun bangkit dan mendekat ke arah keduanya. Owen berhenti dan menepuk pundak Noah sembari melanjutkan ucapannya, “kalian berbincang saja. Aku akan keluar.”
“Terima kasih.”
Owen hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia melangkah pergi, meninggalkan Jovita dan Noah. Wajah ceria langsung terlihat dari ekspresi Jovita, tetapi hal berbeda ditunjukkan Noah.
“Mau apa kamu mencariku, Jovita?” tanya Noah dengan raut wajah masam.
Bukanya menjawab, Jovita yang ditanya malah mendekap tubuh Noah. Dengan tenang dia berkata, “Aku mau minta maaf untuk kejadian tadi pagi, Noah. Aku terlalu senang bertemu denganmu lagi dan tidak sadar memelukmu di tempat umum.”
Noah pun langsung mendorong tubuh Jovita dan berkata dengan tegas, “Tidak masalah, hanya saja jangan lakukan hal seperti itu lagi.”
“Iya, aku mengerti,” sahut Jovita dengan senyum lebar.