“Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Alana?” tanya Gloria dengan tatapan menyelidik. Keningnya berkerut dalam, mengamati sang sahabat yang tampak aneh.
Namun, Alana hanya diam. Bibirnya masih tertutup rapat dengan jemari sibuk di keyboard. Hari ini, dia memilih sibuk dengan pekerjaan. Tujuannya hanya satu, melupakan apa yang terjadi pagi ini.
“Apa kamu mulai menyesali keputusanmu untuk menikah dengan Noah?” tanya Gloria kembali. Kali ini bibirnya tersenyum lebar, semakin menunggu penjelasan sahabatnya.
Sayangnya Alana hanya berdecak kecil. Dengan malas dia menjawab, “Jangan bahas itu lagi Gloria.”
“Aku tidak membahasnya. Aku hanya bertanya dan meenebak saja,” kilah Gloria dengan enteng. Dia pun menyandarkan tubuh dengan punggung sofa dan menyantap hidangan yang sudah Alana siapkan.
Mendengar itu, Alana membuang napas kasar. Padahal sejak pagi dia sudah mati-matian menahan perasaannya, mencoba melupakan semua. Meski sempat berhasil, tetapi itu hanya bertahan sejenak. Kenyatananya, sekarang Alana kembali ingat dan mulai merasa kesal.
Alana memlih menghentikan pekerjaan dan melangkah ke arah sofa. Dia duduk di sebelah Gloria, menyantap kue ringan yang disiapkan. Dia menyandarkan tubuh di sofa dan diam.
“Dia sudah kembali. Tadi pagi aku melihatnya dengan Noah,” ucap Alana tanpa menatap ke arah sahabatnya.
Gloria yang mendengar pun langsung menghentikan kunyahan. Dia menegakkan tubuh dan menatap ke arah Alana. Dengan ekspresi kaku dia bertanya, “Maksudmu Jovita?”
Alana hanya bergumam pelan dan menganggukkan kepala. Dia enggan menanggapi lebih jauh. Pasalnya, ini keputusan yang sudah dia ambil. Jadi, mau tidak mau, Alana harus menjalaninya.
‘Hanya dua tahun dan setelah itu aku akan pergi meninggalkannya,’ batin Alana.
Namun, hal berbeda terjadi dengan Gloria. Wanita itu tampak kesal karena mengetahui fakta tersebut. Hingga dia meletakkan toples di meja, membuat Alana tersentak kaget.
“Dasar kurang ajar. Noah ini benar-benar pria gak ada otak. Dulu dia menyuruhmu datang ke taman hanya untuk melihat dia bermesraan dengan Jovita. Sekarang, dia melakukannya lagi. Padahal baru kemarin menikah, tetapi sudah membuat masalah. Sebenarnya apa sih maunya dia?” Gloria benar-benar geram.
Melihat emosi di wajah sahabatnya, Alana langsung menegakkan tubuh. Dia meraih pundak Gloria dan mengelus pelan sembari berkata, “Tenang, Gloria. Jangan terpancing emosi.”
“Kamu juga. Padahal aku sudah memperingatkan, tetapi tetap saja ngotot.” Kali ini, Alana yang menjadi sasaran.
Alana pun membuang napas kasar. Dengan pasrah dia berkata, “Aku juga terpaksa. Semua yang aku lakukan supaya perusahaan keluargaku tidak bangkrut, Gloria.”
“Astaga, maaf. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku Cuma kebawa emosi,” ucap Gloria dengan cepat. Dia benar-benar tidak bermaksud untuk memarahi sahabatnya tersebut.
Alana hanya menganggukkan kepala. Dia cukup mengerti dengan sifat sahabatnya. Meski mulutnya terasa pedas, tetapi Gloria sangat menyayangi sahabatnya. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Alana langsun menatap ke sumber suara.
Noah. Melihat nama sang suami tertera di layar, Alana pun langusng mengangkat panggilan.
“Halo.”
“Oke.”
Hanya dua jawaban singkat dan Alana langsung mematikan panggilan. Gloria yang melihat langsung menatap lekat, penuh selidik. Tidak biasanya Alan berbicara dengan klien begitu cuek.
“Noah,” ucap Alana, cukup tahu dengan rasa penasaran sang sahabat yang begitu besar.
“Kenapa dia menelfonmu?” tanya Gloria. Wajahnya tidak terlalu antusias seperti sebelumnya.
“Dia mau menjemput dan membantuku membawa barang. Soalnya hari ini aku pindah ke ruamhnya,” jawab Alana.
Gloria langsung berdecak kecil. Dia mulai bergumam, memaki Noah dengan sebutan tidak jelas. Alana yang mendengar pun hanya tertawa kecil, merasa gemas setiap kali Gloria mengomel.
***
“Kenapa lama sekali?”
Alana yang baru saja memasuki mobil Noah langsung terdiam. Manik matanya menatap lekat, merasa kesal dengan protes pria itu. Padahal dia hanya terlambat beberapa menit saja, tetapi Noah seakan sudah menunggu cukup lama.
“Kita kemana?” tanya Noah kembali.
“Bukannya aku sudah mengatakan di telfon. Aku mau kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang,” jawab Alana dengan sinis. Mengingat jika pagi tadi Noah bertemu dengan Jovita benar-benar membuatnya kesal.
‘Padahal semalam meniduriku, tetapi pagi bertemu dengan cinta pertamanya. Dasar pria b******n,’ batin Alana.
Sedangkan Noah yang tidak mengerti apa pun hanya diam. Dia menganggap jika sikap dingin wanta itu karena Alana yang tidak menyukainya. Sepanjang perjalanan pun, tidak ada percakapan sama sekali. Alana sibuk dengan pikirannya. Hal yang sama juga dilakukan Noah. Meski sesekali dia masih memperhatikan sang istri.
Beberapa menit setelah perjalanan, mobil Noah berhenti. Alana pun tidak meminta izin apa pun. Dia segera membuka pintu dan keluar. Kakinya melangkah lebar. Alana benar-benar melupakan keberadaan Noah, terbukti dari dia yang tidak mengajak masuk.
“Alana. Kenapa Noah gak diajak masuk?” tanya Amara ketika melihat Alana.
Namun, Alana tidak menjawab apa pun. Dia memilih terus melangkahkan kaki. Sedangkan Amara yang melihat hanya bisa membuang napas lirih. Putrinya memang begitu. Kalau sedang marah, tidak pernah bersikap baik.
“Maafin Alana ya, Noah. Dia memang begitu. Gampang ngambek dan keras kepala. Tante harap kamu bisa tahan sama sifatnya,” ucap Amara, merasa tidak enak hati.
Noah yang mendengar hal itu hanya tersenyum canggung dan menganggukkan kepala. Dia menatap ke dalam, merasa tidak tenang. Kemarin, Alana masih mau berbicara dengannya. Meski tidak banyak, tetapi masih ada interaksi antara mereka.
‘Tapi kenapa hari ini aku merasa sifatnya begitu dingin,’ batin Noah.
“Masuk dulu. Mama sudah siapkan makanan untuk kalian,” ucap Amara. Dia mulai membimbing Noah, menuju ke arah ruang makan.
“Mama yang msak semua ini?” Noah cukup tercengang saat melihat banyak hidangan di meja makan.
Amara pun menganggukkan kepala dan tersenyum lebar. Dia menuangkan makanan di piring Noah dan juga sang suami yang baru saja datang. Noah yang tidak pernah makan bersama keluarganya di waktu makan siang pun mulai merasa seedikit aneh. Hingga Alana sudah selesai megemasi pakaian mulai bergabung.
“Bagaimana hubungan kalian setelah menikah?” Theo—papa Alana yang sejak tadi diam pun mulai membuka suara.
Noah yang ditanya pun berhenti menyendok makanan. Sebelum menjawab, dia menatap ke arah Alana. Hingga tidak ada respon apa pun dari wanita itu, membuat Noah kembali menatap ke arah sang mertua dan menjawab, “Baik, Pa.”
“Papa tahu seperti apa kepribadian Alana, Noah. Dia itu keras kepala, suka bertindak seenaknya dan gampang marah. Dia juga terlalu mandiri, tetapi juga ceroboh,” ucap Theo.
“Pa.” Alana langsung memangil dengan suara penuh penekanan, merasa tidak terima dengan ucapan papanya.
Bukannya takut, Theo malah tertawa kecil. Setiap kali dia menjelaskan sikapnya, Alana selalu tidak terima. Hingga dia kembali menatap Noah dan berkata, “Meski begitu, dia juga wanita yang lemah. Dia suka disayang dan manja. Jadi, papa harap kamu bisa memakluminya. Papa juga minta tolong, jaga dia dan perlakukanlah dengan baik. Kalau kamu sudah tidak menyukainya, kamu bisa menyerahkan dengan kami. Jangan selingkuhi dia.”
“Papa ini ngomong apa? Aku gak butuh dijaga siapapun, Pa,” kata Alana.
Namun, Noah malah menyahut, “Iya, Pa. Aku akan menjaganya.”