“Aduh, kepalaku sakit.”
Alana yang mendengar hal itu pun membuka mata secara perlahan. Tubuhnya terasa remuk, membuatnya enggan berpindah tempat. Dia bahkan hanya berbaring, menatap langit kamar dengan sorot mata nanar. Dia masih cukup mengantuk. Hingga terasa pergerakan di sebelahnya, membuat Alana menglihkan pandangan.
“Astaga, Noah!”
Alana benar-benar terkejut dengan kehadiran Noah di sebelahnya. Dia pun langsung bangkit dan duduk. Menyadari tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya, Alana langsung menutupi tubuh dengan selimut. Kejadian semalam juga terlintas dalam benaknya, membuat Alan semakin takut. Dia bahkan menjauhkan tubuh, tidak mau dekat-dekat dengan Noah.
‘Astaga, kenapa semalam aku bisa pasrah. Sekarang aku harus bagaimana?’ batin Alana dengan gundah. Dia hanya melakukan pernikahan kontrak dengan Noah, tidak berencana untuk memiliki keturunan apalagi melepas keperawanan.
Sedangkan Noah yang ditanya hanya diam. Dia memegangi kepala yang terasa sakit. Hingga perlahan, dia duduk dan menatap Alana lekat. Dia masah teringat dengan apa yang terjadi semalam, dimana dia menghabiskan malam dengan wanita di hadapannya.
“Ini pasti ulahmukan, Alan?” tuduh Noah dengan raut wajah kesal.
“Apa maksudmu?” Alan mengerutkan kening dalam, merasa bingung dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan pria itu.
“Kamu pasti sengaja memberiku obat perangsang supaya aku menyentuhmu. Setelah itu, kamu hamil dan memanfaatkan kehamilanmu itu supaya aku selamanya menjadi suamimu,” jelas Noah. Terlihat sekali ekspresi kesal di wajah pria itu.
Mendengar asumsi Noah yang begitu konyol, Alana tertawa kecil. Dia benar-benar tidak menyadari sejaak dulu kalau Noah adalah pria yang bodoh. Padahal dulu Noah terkenal dengan kepandaiannya, tetapi sekarang rasanya sudah berubah.
“Kamu benar-benar pintar, Alana,” celetuk Noah kembali.
“Aku memang pintar, Noah. Itu sebabnya aku tidak mungkin melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan. Kamu pikir aku wanita bodoh yang mau mengikat pria yang tidak mencintaiku? Tidak, Noah. Aku juga tidak mungkin melepaskan keperawanan untuk pria kurang ajar seperti kamu,” ucap Alana. Ekspresinya tampak datar, tetapi ucapannya cukup menohok.
Pria kurang ajar? Noah benar-benar terkejut dengan sebutan yang diberikan Alana. Padahal dulu wanita itu sangatlah lemah lembut. Hingga Noah tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
“Ternyata sepuluh tahun tidak bertemu, kamu terlihat berbeda, Alana. Kamu tidak seperti Alana yang aku kenal dulu,” ucap Noah.
“Semua orang bisa berubah, Noah, termasuk aku. Itu karena aku bukan kamu. Aku berjalan maju, tidak sepertimu, menunggu wanita yang entah kapan kembali,” sahut Alana. Kali ini bibirnya mengulas senyum, tetapi senyum itu tampak seperti mengejek.
“Kam—“
“Kamu tidak perlu takut, Noah. Meski malam ini aku kehilangan keperawanan, aku tidak akan meminta pertanggunjawabanmu. Kalau aku hamil, kamu juga tidak perlu menjadi ayahnya karena aku akan menggurkannya,” sela Alana dengan tenang. Meski begitu, kedua tangannya meremas spresi kuat.
Namun, hal itu luput dari pandangan Noah. Pria itu tidak melihat ekspresi Alana dengan jelas. Fokusnya kali ini hanya berpusat dengan ucapan Alana yang cukup menyakiti hatinya.
Sebegitu tidak inginnya kamu memiliki anak dariku? Tapi Noah tidak pernah meluapkan pertanyaan tersebut. Dia memilih untuk diam, bangkit dan berkata, “Bagus kalau begitu.” Setelah mengatakannya, dia langsung menuju ke arah kamar mandi dan menutup pintu kasar.
Sedangkan Alana yang masih di ranjang langsung menarik napas dalam dan membuang secara perlahan. Dia bergumam, “Kamu harus kuat, Alana. Demi keluarga.”
***
“Astaga, pengantin baru ini. Sepertinya semalam sangat menyenangkan ya sampai kalian bangun kesiangan begini,” goda Kamila dengan senyum lebar.
Namun, Noah dan Alana yang baru saja datang hanya diam. Keduanya hanya menunjukkan ekspresi datar. Alana masih kesal dengan tuduhan Noah. Sedangkan pria itu malas menanggapi godaan sang mama.
“Alana, apa semalam kamu tidur dengan nyenyak?” tanya Kamila sembari meraih jemari Alana. Di mengelus lembut jemari lentik sang menantu.
Alana yang enggan mengulas senyum, terpaksa tersenyum. Hal itu karena dia yang menghormati mertuanya. Dengan lembut dia berkata, “Bisa, Ma.”
“Syukurlah kalau memang bisa. Mama pikir semalam kalian gak bisa tidur karena sibuk membuatkan cucu untuk kami,” celetuk Kamila.
Seketika, Noah dan Alana yang baru meneguk minuman langsung tersentak kaget. Alana bahkan sampai mengeluarkan kembali minumannya. Beruntung, Noah yang berada di dekatnya sigap mengambil tisu dan memberikannya.
“Maaf, Alana. Mama gak bermaksud membuat kamu terkejut,” ucap Kamila dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Makanya, Ma. Kalau sedang makan, jangan asal bicara,” sahut Noah. Sejak tadi dia kesal karena sang mama yang terus menggoda.
Kamila yang mendengar protesan itu hanya diam, mengakui kesalahannya. Dia memang terlalu bersemangat untuk menggoda putra semata wayangnya tersebut. Suasana di ruang makan itu pun menjadi canggung. Kamila tidak berani membuka suara karena bentakan kecil dari Noah. Sedangkan Alana sendiri merasa tidak enak hati. Pasalnya karena dia, Noah dan mamanya bertengkar
“Sudah, sudah. Lebih baik kita makan. Keburu makanannya dingin,” ucap Malex menimpali. Dia mencoba mencairkan suasana.
“Ah, iya. Ayo sarapan,” sahut Kamila. Dia mengambilkan makanan untuk sang suami. Setelah selesai, dia memberikan ke arah Alana.
Alana mengerti maksud mertuanya, tetapi dia ragu untuk melakukan. Dia takut kalau Noah akan menolaknya. Tapi, karena desakan sang mertua yang tidak ada henti, dia memilih mengambil mangkuk berisi nasi dan siap meletakkan di piring Noah.
“Aku harus pergi. Kalian sarapan sendiri saja,” ucap Noah. Dia pun bangkit dan melangkah pergi. Dia tidak butuh izin Alana sama sekali.
Alana yang melihat hal itu hanya membuang napas lirih. Dia tidak tahu dengan perasaan yang tiba-tiba terasa sakit. Padahal dia sudah mengusir jauh-jauh perasaannya sebelum mengajukan pernikahan kontrak. Hinga dia membuang napas kasar dan menatap kedua mertuanya.
“Maaf ya, Alana. Mungkin dia memang sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu sendirikan kalau dia itu pimpinan perusahaan. Jadi, wajar kalau sibuk,” kata Kamila menenangkan.
“Iya. Aku mengerti, Ma,” sahut Alana. Dia mengulas senyum palsu, tidak mau menunjukkan perasaan yang sebenarnya.
Suasana ruang makan di hotel itu pun terasa tenang. Ketiganya menghabiskan sarapan tanpa pembicaraan. Hingga Alaan mengalihkan pandangan, mendapati ponsel Noah tertinggal. Dengan cepat, dia mengambilnya.
‘Dia pasti lupa,’ batin Alana.
“Ma, aku antar ponsel Noah dulu. Mungkin dia belum jauh,” ucap Alana.
“Iya. Hati-hati.”
Alana langsung bangkit dan melangkah lebar, keluar dari ruang makan. Dia pun menyusuri lorong menuju ke arah pintu keluar. Sesekali, Alana melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan. Berarti mash lima menit kepergian Noah.
“Seharusnya dia belum keluar,” ucap Alana.
Namun, saat dia sampai di luar hotel, Alana menghentikan langkah. Raut wajahnya menjadi kaku ketika melihat sosok di depnnya. Tenggorokannya juga mulai mengering, membuat Alana menelan saliva pelan. Kedua tangannya mulai mengepal dengan mulut tertutup rapat. Dia menahan tangis saat melihat Noah berpelukan dengan wanita yang dia kenal.
“Ternyata sibuk yang dia maksud itu begini? Aku kira dia sibuk bekerja, tetapi sibuknya hanya alasan. Dia hanya tidak mau mengecewakan Jovita saja,” gumam Alana dengan senyum miris.