[2] Hari Pernikahan

1245 Words
“Jadi, kapan kalian akan melakukan resepsi?” Saat ini Noah dan Alana sedang mengikuti pertemuan keluarga dari kedua mempelai. Kedua belah pihak bahkan begitu bersemangat ingin mengadakan pesta. Hanya saja, Alana yang duduk di sebelah Noah tidak bersemangat. Dia sudah mengatakan tidak akan mengadakan resepsi, membuatnya menatap ke arah Noah. Dia berharap pria itu akan berubah pikiran dan tidak menyembunyikan pernikahan mereka nantinya. “Alana, Noah. Kenapa kalian diam?” tanya Kamila—mama Noah. “Kami tidak akan melakukan resepsi pernikahan, Ma,” jawab Noah dengan tenang. “Apa?” Kedua keluarga langsung tersentak kaget. Tidak hanya orang tua Noah, tetapi juga orang tua Alana. Keduanya menatap ke arah Noah dan Alana secara bergantian. Alana sendiri yang awalnya masih menaruh harapan mulai merasa patah hati. Dia mulai sadar dengan posisinya di hati Noah. ‘Ternyata memang sepenting itu Jovita baginya,’ batin Alana. “Alana, Noah, katakan dengan kami. Kenapa kalian tidak mau membuat resepsi pernikahan?” Kali ini Amara yang bertanya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran putri semata wayangnya itu. “Iya. Kami bahkan tidak akan menghalangi kalian. Sebesar apapun pesta yang kalian inginkan, kami pasti akan mewujudkannya,” ucap Kamila dengan wajah cemas. “Mama, Tante. Bukan pesta pernikahan besar yang kami inginkan, tetapi Kami ingin ketenangan,” sahut Alana. Dia mulai mencari alasan supaya kedua belah pihak menyetujui keinginannya. “Apa maksudmu menginginkan ketenangan?” tanya Amara dengan raut wajah bingung. “Kami hanya ingin mengadakan resepsi sederhana yang dihadiri keluarga saja. Kami merasa kalau hal itu jauh lebih mendekatkan kita semua,” jawab Alana. Dia menyikut Noah, meminta bantuan pria itu. “Tap—” “Ma, sudahlah. Aku dan Alana sudah memutuskan untuk tidak mengadakan resepsi. Waktu itu Mama menyuruhku menikah, kan? Sekarang aku sudah mau menikah. Jadi, Mama jangan ikut campur lagi. Mengenai resepsi atau tidak, aku harap kalian semua menghormati keputusan ini,” sela Noah dengan tegas. Dia bahkan tidak merasa tidak enak hati. Alana yang mendengar hal itu pun langsung menelan saliva pelan. Dia tidak menyangka kalau Noah akan seterus terang itu. Tanpa basa-basi dan langsung menolak dengan tegas. Ditambah wajahnya yang tidak merubah ekspresi sama sekali, tetap terlihat tenang dan datar. “Iya, Ma. Kita hormati saja keputusan mereka. Kalau nanti mereka sudah siap untuk mengadakan resepsi, mereka pasti akan memberitahu kita,” ucap Malex—papa Noah. Kamila dan Amara hanya bisa membuang nafas lirih dan menganggukkan kepala. Keduanya dengan kompak berkata, “Baiklah. Kami ikuti kemauan kalian.” “Tapi mama mau, kamu tetap mencarikan gaun pengantin untuk Alana, Noah,” kata Kamila. “Aku pasti akan mencarikannya. Mama tenang saja,” sahut Noah. *** “Alana, kamu benar-benar yakin akan menikahinya?” Gloria yang masih tidak percaya dengan keputusan sahabatnya pun berulang kali menanyakan hal yang sama. Dia menatap ke arah Alana yang saat ini sedang mengenakan make up. Alana berhenti sejenak dan menatap ke arah sahabatnya berada. Dengan tenang dia menjawab, “Hari ini adalah hari pernikahanku, Gloria. Jadi, mana mungkin aku tidak yakin dengan keputusanku.” “Aku hanya berpikir kalau kamu bisa menggagalkannya, Alana. Aku takut kalau Noah akan mempermainkanmu,” ucap Gloria dengan raut wajah masam. Tidak terlihat sama sekali semangat di wajahnya. Alana mengerti dengan kecemasan sahabatnya itu. Dia pun menepuk pundak Gloria dan berkata, “Kamu tenang saja. Aku pasti bisa menghadapinya.” Gloria hendak mengatakan sesuatu, tetapi niatnya terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Keduanya pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah sang pelaku. Di sana sudah ada mama Alana yang menunggu. “Pihak dari pengantin pria sudah datang. Jadi, ayo keluar,” ucap Amara dengan tenang. Alana pun menganggukkan kepala. Dibantu Gloria, dia mulai melangkah keluar. Wajahnya tampak cantik dengan riasan make up tipis. Gaun yang dikenakan juga begitu indah, membentuk lekuk tubuhnya yang ramping. Sedangkan di tempat lain, Noah sedang berdiri dan menunggu kedatangan Alana. Dia ditemani kedua sahabatnya. Hingga Vincent yang sejak tadi diam pun mulai mendekat. “Noah, kalau kamu ragu, pikirkan sekali lagi sebelum pernikahan ini berlangsung. Sebentar lagi Jovita akan kembali. Kalau dia tahu kamu menikah, bisa-bisa dia menjauh darimu,” bisik Vincent. Mendengar itu, Noah langsung menyikut sahabatnya. Vincent benar-benar membuat masalah baginya. Dia pun memberikan isyarat supaya sahabatnya itu diam, tetapi hal itu tidak luput dari tatapan sang mama. Kamila yang sejak tadi memperhatikan langsung memasabg raut wajah serius. “Kalau kamu sampai menyakiti Alana, kamu akan tahu akibatnya, Noah,” ucap Kamila mengancam. Noah pun hanya diam. Manik matanya melirik ke arah Vincent berada, merasa kesal karena pria itu yang lagi-lagi membawa masalah baginya. Beruntung karena Noah tidak menceritakan mengenai perjanjiannya dengan Alana. Kalau sampai Noah tahu, semua pasti akan sia-sia. Hingga pengantin wanita memasuki gedung pesta, membuat Noah mengalihkan pandangan. “Cantik, kan?” tegur Kamila saat melihat putranya hanya diam dan memperhatikan Alana. Noah hanya diam, tetapi dalam hati dia memuji kecantikan Alana. Bibirnya pun tanpa sadar mengulas senyum lebar. Dia pun langsung bangkit dan mengambil alih genggaman tangan Alana. “Kamu cantik hari ini,” puji Noah. Alana yang mendengar pun langsung membeku. ‘Benarkah dia memujiku?’ *** “Kalian tidak bisa pergi. Mama dan Papa sudah menyiapkan kamar untuk kalian berbulan madu,” ucap Amara dengan tegas. Noah dan Alana yang bersiap untuk pulang pun terpaksa harus berhenti ketika kedua orang tua mereka menghalangi jalan. Mereka juga cukup terkejut dengan ucapan sang mama. Pasalnya, Noah dan Alana sudah berjanji akan menikah kontrak dan tidak berhubungan apapun. Kalau mereka sampai tidur di hotel, itu artinya mereka akan berada di satu ranjang. Alana pun menatap ke arah Noah, seakan meminta penjelasan dari pria itu. Noah sendiri hanya menaikkan kedua tangan dan menggelengkan kepala, tidak tahu harus melakukan apa. “Sudah, kalian jangan kode-kode pakai mata. Mama dan Papa sudah menyiapkan semua. Lebih baik sekarang kalian masuk dan istirahat,” kata Kamila dengan tegas. “Tapi, Ma. Kami itu mau pulang. Noah punya rumah sendiri dan Noah akan membawa Alana ke sana,” sahut Noah. “Kamu bisa membawanya besok, Noah. Sekarang sudah malam dan lebih baik kalian tidur di hotel saja,” kata Kamila tidak kehabisan akal. “Tap—” “Ikuti saja apa kata mamamu, Noah. Papa sudah benar-benar mengatur dan mau istirahat. Jadi, Jangan membuat Papa terjebak di sini,” sela Malex dengan raut wajah kesal. Sebenarnya Noah masih ingin melayangkan protes, tetapi terpaksa menghentikannya. Hal itu karena sang Papa sudah menatapnya, memberikan isyarat supaya dia diam. Mau tidak mau, Noah pun mulai memasuki kamar hotel yang disewa kedua orang tuanya bersama dengan Alana. Setelah pintu ditutup, Noah langsung berdecak kecil. “Ini pasti ulah darimu, Alana,” ucap Noah langsung menuduh. “Apa-apaan. Aku aja gak mau dekat-dekat sama kamu. Jadi, jangan terlalu percaya diri,” sungut Alana dengan raut wajah kesal. Dia tidak terima karena Noah yang menuduhnya. Noah pun memutar bola mata pelan. Dia benar-benar kesal karena pada akhirnya dia terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Alana. Dia pun melangkahkan kaki, menuang air dan meneguk hingga tandas. “Noah, karena kamu pria, kamu harus tidur di sofa. Biar aku yang tidur di ranjang,” kata Alana dengan tenang. Namun, tidak ada jawaban. Noah yang baru selesai meneguk minuman pun langsung terdiam. Sebelah tangannya memegang ujung meja. Sebelahnya lagi mengendurkan dasi. “Alana,” panggil Noah dan mendapat gumaman dari wanita itu. “Tubuhku rasanya panas,” imbuh Noah dengan suara yang terdengar berat. “Apa?” Alana langsung menatap Noah, mendapati pria itu sudah melepas pakaiannya. ‘Astaga, dia kenapa? Apa minumannya diberi obat perangsang?’ batin Alana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD