Naya meletakkan kepalanya diatas buku tebal yang terbuka. Dikuceknya mata yang terasa pedas dan memejamkannya sejenak.
“ Istirahatlah … sudah berapa lama kamu disini ?”
Naya membuka mata dan menemukan Narend sudah menarik kursi disampingnya ,” Kak …. “ ucapnya pelan, tanpa sadar memutar kepala melihat sekeliling.
Narend tersenyum ,” Ada apa ?”
“ Aku gak mau masuk forum lagi.” ujarnya sambil cemberut.
Narend meraih buku di meja, menahan tangannya mengusap pipi yang menggembung saat pemiliknya cemberut ,” Masih banyak lagi tugas akhirmu ?”
“ Sebenarnya sudah hampir selesai, Sudah tinggal kesimpulan.” Naya menegakkan punggungnya ,” Tapi Prof Arini meminta menyiapkan lebih banyak bahan untuk menambah referensi.”
“ Sudah sore … ayo pulang.”
Naya tersenyum kikuk ,” Kakak duluan.”
“ Bareng aja.”
“ Nggaaaaak …. jangan macam macam.” Naya membereskan barang barangnya dan menumpuk buku di troly ketika ponselnya berdering ,” Aku duluan kalau gitu.”
Narend tersenyum geli melihat gadis itu setengah berlari meninggalkannya.
Naya membuka pintu belakang mobil Andre ,” Sudah, ayo …"
Keempat kepala didalamnya menatapnya bingung.
“ Kamu kenapa ? Kayak dikejar debt kolektor aja.”
“ Berisik … jalan.” ujar Naya panik ketika sudut matanya menangkap sosok Narend keluar dari gedung perpustakaan umum.
Andre menjalankan mobilnya.
Naya menghembuskan nafas lega dan menyandarkan tubuhnya.
“ Ada apa ?”
“ Kak Narend ….”
“ Mana ?” Riska memutar kepalanya, sempat menangkap sosok lelaki itu tengah memasuki mobilnya di tempat parkir ,” Balik yooook …. awww” teriaknya ketika Rio mendorong kepalanya dari bangku depan ,” Apaan sih ? Cemburu ?” semburnya.
Naya tertawa.
“ Gak usah lebay deh …. Jangan terlalu norak gitu. Gak malu kalau nanti Naya udah resmi jadian ama Pak Narend ?”
Buuk …. kali ini Naya yang menggebuk bahu Rio dari balik kursi dan cemberut ketika semua menertawakannya.
“ Nay … gak bosen apa jadi obat nyamuk ?” tanya Winda.
“ Keganggu ? Keberatan ? Ya udah, aku turun di depan, gak jadi ikut.”
“ Ish …. gak usah nyolot gitu juga kaleee.”
Riska memeluk Naya ,” Sensi amat sih, lagi datang bulan ?”
Naya diam.
“ Diapain kamu tadi sama Pak Narend ?”
Naya menggeleng ,” feelingku gak enak ….” tanpa sadar meraih ponsel dan membuka forum kampus ,” Entah aku yang parno atau memang aku merasa tadi ada beberapa mata mengikuti kami.” mendesah putus asa lalu mengulurkan ponselnya ,” Aku benar …..”
Riska mengambilnya, mengamati bersama Winda. Ada foto yang menunjukkan Narend berdiri sambil tersenyum tipis menatap Naya yang tengah meletakkan kepala di atas meja dan satu lagi mereka duduk berhadapan.
Riska mengambil ponselnya sendiri dan membuka group lalu terbahak bahak ,” Mereka masih menahan diri di forum kampus. Lihatlah …. disini kebersamaan kalian bisa jadi satu album. Dan wajah panikmu terekam jelas.”
Mereka melihat lebih banyak lagi foto disana, dari berbagai sisi. Bahkan sampai ketika Naya beranjak keluar dan beberapa saat kemudian Narend menyusul keluar. Senyum geli Narend pun tertangkap kamera dengan komentar panjang dibawahnya.
Naya menutup wajahnya ,” Untung aku sudah gak terlalu sering ke kampus.”
“ Santai aja kali, namanya juga kita hidup di jaman ini … gak bakat ngetop deh.”
Naya mendengus ,” Aku gak suka.”
Winda dan Riska bertukar pandang, bisa mengerti gadis itu terganggu. Selama ini dia berusaha keras hanya untuk mempertahankan beasiswanya, sama sekali tidak berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi perhatian banyak orang. Fokusnya hanya pada pelajaran dan pekerjaannya yang tidak menuntut bertemu banyak orang.