Sarapan Untukmu

1061 Words
Naya meletakkan ponsel diatas meja makan dan kembali sibuk dengan laptopnya. “ Siapa, Nay? “ Winda meletakkan secangkir kopi s**u dihadapannya. “ Kakek kirim makanan. “ “ Lagi? “ ditatapnya Naya dengan pandangan tertarik, “ Dan harus berbagi dengan Pak Narend lagi? “ Riska dengan antusias duduk disamping Naya, sambil tetap membersihkan wajahnya, “ Baru minggu lalu Pak Narend membagi kirimannya denganmu. Atau… ini caranya biar kalian sering ketemu? “ Naya berdecak kesal saat konsentrasi nya terganggu, “ Teori konspirasi apa lagi? “ Riska tergelak, “ Gak sampai level teori.. Apalagi teori konspirasi… ini sih trik standard mak comblang. “ Naya mendengus kesal, “ Berisik ah. “ ditutupnya laptop dan meraih kopi s**u. “ aaaah kamu paling jago bikinnya Win… . Pantas saja Andre mencintaimu. “ “ Sialan. “ Winda menimpuknya dengan kulit jeruk, “ Kamu gak ada rasa apa atau apa gitu? “ “ Apa? “ sahut Naya malas, sambil menyeruput kopinya perlahan. “ Hubunganmu dengan oppa… “ “ Aku sudah cerita semuanya, apalagi? “ “ Kamu gak curiga atau waspada gitu? “ “ Kenapa kali ini kamu lebih cerewet dari Riska sih, Win?” “ Kesel aja… kamu itu b**o atau gak peka sih ? Gak perlu punya imaginasi liar seperti Riska atau sok romantis untuk melihat ini. “ Naya meletakkan cangkirnya, bergantian menatap sahabatnya dengan pandangan malas. “ Pak Narend kelihatannya gak keberatan. Dia biasanya dingin cenderung sadis kalau ada perempuan mendekatinya dan melewati batas. “ ujar Riska. “ Seperti Bu Marinka … semua bisa melihatnya. “ sambung Winda. “ Kalau aku jadi Kak Narend juga akan terganggu dengan tingkah Bu Marinka. Gigih dan tak tahu malu gak ada bedanya. “ guman Naya mempermainkan cangkir. “ Setahun terakhir aku dan temen teman NL melihatnya berinteraksi dengan berbagai jenis perempuan, baik itu sesama dosen, karyawan maupun mahasiswa… . “ Riska memajukan tubuhnya, “ Aku tidak pernah melihatnya begitu santai seperti saat bersamamu. Bahasa tubuhnya selalu berjarak. Bahkan dengan istri Pak Bimo yang menurut kabar masih ada hubungan keluarga dengannya. Tidak sekalipun kami melihat ada perempuan berdua dengannya di mobil dan… . Duduk di depan. “ Naya melongo, “ Seperti itukah? “ Riska mengangguk, “ Setidaknya selama setahun lebih ini di kampus gak pernah. Itu sebabnya forum heboh ketika foto kalian mau makan siang itu menyebar. “ “ Dan membuatku dilirik banyak orang sambil bisik bisik, benar benar menyebalkan. “ Naya meneguk kopi susunya sampai tandas, “ Padahal, sikapnya padaku sangat sangat normal… . “ “ Normal dari hongkong ? “ seru Riska dan Winda bersamaan. Naya mendengus, “ Sikapnya adalah sikap normal keluarga besar Raharsya. Hangat, jahil dan terkadang menyebalkan. Jadi… jangan berpikir macam macam, dia seperti itu karena merasa mengenalku sejak aku masih TK dan sering digendongnya kalau menangis karena dijahili adik adiknya.” Dibawanya cangkir ke dapur, “ sudah ah… aku tidur dulu. “ “ Kamu gak ke kampus? “ seru Riska. “ Nanti siang ada jadwal bimbingan. Sekarang aku tidur dulu, ngantuk belum tidur semalaman. “ Winda bertukar pandang dengan Riska, “ Segitunya ngerjain tugas akhir sampai begadang.” “ Mau apa sih cepet cepet lulus? Kerjaan juga sudah ada… jangan jangan mau nikah. “ ujar Riska sambil tertawa dan membereskan sarapannya, “ Ayo, Mia sebentar lagi harus ngantar pesanan, gak ada orang di toko. “ Keduanya beberes dan meninggalkan kontrakan menuju lantai dasar tempat toko kecil mereka berada. Riska menyibukkan diri mengatur bunga bunga segar yang baru datang sementara Winda mengambil tempat di balik meja tinggi untuk memeriksa administrasi toko. Tidak terasa sudah hampir dua tahun dan toko kecil mereka mulai ramai. Kegiatan yang awalnya mereka kerjakan di kontrakan dengan mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan pemesanan melalui telepon, sampai akhirnya bisa menyewa toko kecil dilantai dasar bangunan apartemen. “ Selamat datang.” Riska mengangkat kepalanya saat bel berdering lembut tanda pintu depan terbuka. “ Pagi… “ “ Ya mbak… . “ Riska mendekati perempuan muda dengan seragam café diseberang jalan itu. “ Ada namanya kak Naya?” “ Naya nya masih diatas. Ada apa? “ Diserahkannya kantong kertas, “ Ada yang mengirimkan sarapan 4 pax.” “ Siapa? “ “ Ehm… . “ dia mencari salinan nota di saku apronnya , “ yang pesan atas nama Narendra. “ ujarnya lalu menatap keluar, “ Itu mobilnya. “ Riska bertatapan dengan Winda saat mengenali mobil putih Narend yang melaju meninggalkan tempat parkir, “ Baiklah, terima kasih. “ “ Permisi… “ Riska meletakkan kantong diatas meja, “ Gilaaaaa… Pak Narend ngirim sarapan dari cafe depan dan Naya bilang gak ada apa apa? “ “ bimbingan ama Prof Arini membuat radar dan rasanya rusak deh. “ gerutu Winda ,” Aku antarkan sarapannya ke atas sebentar.” ujarnya mengambil satu kotak makan dan segelas kopi,” Nay …. gak jadi tidur ?” tanyanya meliha Naya duduk sofa. “ Apa itu, sarapan ?” “ Hemmm Kak Narendmu kirim sarapan dari café seberang.” Naya mengguman ngantuk, meraih kotak yang disodorkan Winda dan membukanya ,” Tadi dia telepon, memintaku kedepan. Aku bilang ngantuk, belum tidur belum mandi malas keluar ... Tapi lapar.” “ Ooooow so sweet …. dia ngirim 4 pax, yang lain dibawah.” “ Makan aja, aku bilang ditoko ada 3 orang lagi.” Naya menghabiskan sarapannya dalam hitungan menit dan kembali memejamkan mata. Winda geleng kepala ,” Kapan kamu memperkenalkan kami padanya ?” Naya mengguman tidak jelas dan membiarkan Winda kembali ke bawah. “ Naya tidur ?” sambut Riska sambil mennggigit sandwichnya. “ Tadi bangun, ternyata ditelepon sama kak Narend nya. Diminta sarapan ke depan. Dasar Naya, dengan santainya bilang ngantuk, malas keluar tapi lapar … alhasil dikirim sekalian buat kita. Habis makan tidur lagi dia.” Riska geleng kepala ,” Segitu jelasnya … masih bilang biasa aja.” Winda membuka kotaknya ,” Bisa jadi buat Naya biasa, aku kenapa jadi lebih konsen sama Pak Narend ya ? Kalau menurut Naya keluarga besarnya hangat, kok bisa Pak Narend sedingin itu selama ini ?” Wajah Riska berbinar dengan keingintahuan ,” Pinter banget sih loe …..” Winda tersenyum malas ,” Sementara Naya benar benar nyantai banget.” “ Menurutku … keluarga mereka lebih memilih mendorong Pak Narend, dan membiarkan Naya mengikutinya. Winda mengguman dan mengangguk dengan mulut penuh. “ Apa yang terjadi dengan Pak Narend sampai sedingin itu ?” Winda menyudahi makannya dan kembali ke balik meja, meninggalkan Riska melanjutkan pekerjaannya dengan setengah melamun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD