Private Area (1)

1038 Words
Narend melangkah perlahan menuju ruang bermain bangsal anak sesuai petunjuk yang dibacanya. Rumah Sakit kanker ini membuatnya merinding, terlebih saat menyadari ia akan melihat anak anak yang tengah melawannya. Riuh suara anak anak menyita perhatiannya, dan ia menemukan gadis itu disana. Celana jeans pudar dan kaos berwarna biru pucat, rambutnya diikat seadanya membentuk ekor kuda longgar. Sambil menggendong seorang bocah laki laki, ia berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya, dan membantu anak anak yang tengah sibuk dengan kain dihadapannya. “ Selamat siang …" Narend memalingkan pandangannya ,” Siang … dok.” ujarnya pada lelaki berkacamata dengan jas putih dan name tag di dadanya. “ Naya ?” Narend mengangguk ,” Ehm, kita pernah ketemu sebelumnya ?” “ Saya Radith, kita ketemu di toko Naya beberapa waktu yang lalu.” “ Narend.” “ Masuk ? Karena Naya pasti butuh beberapa menit untuk melepaskan diri.” Narend menatap jendela lebar itu “ Saya tunggu disini saja.” “ Baiklah, saya panggilkan Naya.” Radith tersenyum melihat sorot mata Narend ketika melihat kedalam ruangan, tidak semua orang mampu menata hatinya melihat anak anak yang sebagian besar sudah tidak berambut itu. “ Terima kasih.” “ Maaf lama nunggu, kak ?” Naya menghampiri Narend. “ Gak juga, sini.” diraihnya tas Naya sehingga gadis itu lebih mudah mengenakan kemeja putihnya sambil melangkah keluar. “ Kok gak masuk aja tadi ?” Naya meminta kembali tasnya sebelum masuk ke mobil. Narend menghela nafas sambil membuka pintu dan duduk di belakang kemudi ,” Gak kuat lihatnya.” “ Ouuuh … lembut juga hatimu Mr Kulkas.” Narend berdecak kesal sambil mengacak ujung kepala gadis disampingnya. “ Kita mau kemana ?” “ Ke kantor sebentar.” “ Hah ….. ngapain ?” “ Ada janji ama klien sebentar.” “ Kenapa tadi gak diselesaikan aja dulu ?” “ Sekalian mengenalkanmu pada orang orang dikantor.” tersenyum tipis melihat Naya menatapnya dengan pandangan bertanya ,” Biar gak ditanya tanya lagi kalau kapan kapan aku minta dianterin makan siang.” “ Isssh …. “ Narend tersenyum ,” Santai aja, penghuni kantorku gak banyak.” Naya mengguman sambil menatap jalanan yang cukup padat. “ Keberatan ?” tanya Narend. “ Gak.” “ Kenapa menghela nafas begitu ?” Naya kembali menghela nafas dan meraih botol air minum ,” Pagi tadi salah satu dari mereka pergi.” diteguknya air. “ Berat menerimanya, melihat kamu dekat dengan mereka.” “ Lebih berat lagi menata suasana hati teman temannya yang masih bertahan.” Narend meraih tangan Naya dan menggenggamnya lembut ,” Aku gak akan sanggup, kamu hebat.” Naya menggeleng ,” Mereka yang hebat.” diteguknya lagi air sampai habis ,” Sorry.” “ Bahuku nganggur.” Naya tersenyum ,” Dilarang mengganggu sopir.” “ Nanti sebelum pulang kita mampir beli es krim.” “ Mood booster.” senyum Naya melebar. “ Dasar bocah.” “ Ahjusi … aww, sakit tahu.” Naya cemberut sambil mengusap dahinya. Narend menghentikan mobil di parkiran ,” Ayo.” “ Keren.” Naya menatap gedung dengan desain asimetris yang menarik ,” Aku suka itu.” ditunjuknya sudut berdinding bata ekspose dan atap miring. “ Aku buatkan yang seperti itu dirumah nanti.” “ Hah ?” Narend tertawa kecil melihat Naya bingung ,” Ayo masuk, kamu boleh keliling dan bilang sudut mana saja yang kamu suka.” diraihnya tangan Naya. “ Kak … gak perlu digandeng juga kali, gak enak sama teman kantormu.” Narend berlagak tidak mendengar ,” Siang …" ujarnya saat dua orang dimeja terdepan menyapanya ,” Sudah datang Pak Handoko ?” “ Belum, sebentar lagi mungkin …" “ Nay … ini Mia dan Siska, ini Naya.” Naya mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya memerah menyadari kedua perempuan itu terang terangan menatap tangannya yang masih dalam genggaman Narend. “ Indra, Hamam … kenalin, ini Naya.” “ Oh …. keajaiban dunia nomor sembilan.” lelaki bertubuh kurus tinggi itu mengulurkan tangannya pada Naya ,” Aku indra.” “ Naya.” “ Apa maksudmu ? Sudah.” Narend menepuk tangan keduanya. “ Pelit amat sih, salaman doang.” gerutu Indra. Lelaki satunya melambaikan tangan dari balik meja ,” halo Naya, aku Hamam. Lebih baik begini aja, satpammu galak.” Indra kembali ke meja gambarnya ,” Boleh juga Rend, gak rugi bertapa sekian lama.” Narend mendengus dan membawa Naya ke ujung ruangan ,” Duduklah.” “ Apa maksudnya kejaiban dunia nomor sembilan ?” Naya duduk di sofa panjang, “ Narend menggandeng perempuan selain ibu dan adiknya itu keajaiban dunia.” Mia meletakkan sebotol minuman dingin diatas meja, tertawa geli melihat lelaki yang biasanya pasang tampang galak itu tengah duduk santai sambil menjulurkan lengan di belakang bahu Naya. “ Apa ketawa ?” sergah Narend. Indra mendekat dan memeluk bahu Mia ,” Belum boleh seperti ini, Rend ?” “ Apalagi seperti ini ?” seru Siska sambil memeluk Hamam yang duduk dari belakang dan menempelkan pipi mereka. “ Ehm …. “ Naya mengusap tengkuknya. “ Hahahha … pengantin baru show off.” Indra dan Mia tertawa. “ Buruan, Rend …. cuma kamu yang bujang lapuk.” seru Hamam. “ Ish, aku jauh dari kata lapuk.” Narend menatap pintu saat mendengar mobil berhenti ,” Kelihatannya Pak Handoko datang , Siska … ruang meeting sudah siap ?” Narend berdiri “ Gak apa apa ya aku meeting sebentar ?” Naya mengangguk santai, kembali bersandar di sofa. “ Gadis kecilmu ketiduran.” Ujar Siska pelan begitu Narend selesai mengantar kliennya. Narend tersenyum mendekati gadis yang meletakkan kepala di meja kerjanya “ Nay …. “ diusapnya lembut kepala gadis itu ,” kita pulang yuk.” Naya membuka mata ,” Sorry … ngantuk banget tadi.” “ Minum dulu, setelah ini kita pulang.” “ Es krim …" Narend tertawa geli ,” iya …. iya .. Ayo.” “ Pulang dulu, kak.” Naya melambaikan tangan singkat ketika Narend meraih bahunya mengajak keluar. Keempat penghuni ruangan itu bertukar pandang. “ Gadis kecil itu bikin gunung es mencair.” ujar Mia diiyakan oleh yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD