Aselia menahan napas, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dadanya. Nama itu Gina menghantam kepalanya bagai palu berat. Ia tidak pernah tahu Georgia memiliki saudara kembar. Mata Gina menajam, penuh amarah yang ditahan. “Kau tidak menyangka, kan? Semua orang sibuk membicarakan Georgia si gadis rusak, si pengkhianat. Tapi tidak ada yang tahu aku. Dan sekarang, aku akan memastikan kau merasakan apa artinya kehilangan.” Aselia mencoba menjaga tenang. “Kalau benar kau punya anak buah dan bisa melukai Adipati kapan saja, mengapa repot mengundangku ke sini?” Gina tersenyum miring. “Karena aku ingin melihat matamu saat kau sadar betapa rapuhnya dunia yang kau bangun. Aku ingin kau memilih dia atau kau.” Keheningan menegangkan membungkus udara berdebu di gedung tua i

