Pagi itu, mentari menyelinap masuk ke sela-sela tirai kamar rumah sakit, menerangi wajah Aselia yang tengah tertidur. Namun tidur itu tidak damai. Kelopak matanya bergetar, napasnya memburu ia bermimpi lagi.
Kilatan cahaya. Suara rem mobil. Dentuman keras. Lalu teriakan wanita. “GEORGIA! JANGAN!”
Aselia terbangun mendadak, tubuhnya basah oleh keringat. Dadanya naik turun, dan matanya langsung mencari sosok Adipati yang biasanya duduk di sofa kecil di sudut ruangan.
Namun pagi ini, ruangan kosong. Hanya ada suara detak jam dan aroma khas rumah sakit.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Lidia masuk, membawa sekeranjang buah dan senyum lelah di wajahnya. Namun senyumnya memudar saat melihat ekspresi Aselia.
“Kamu mimpi lagi?” tanya Lidia sambil meletakkan keranjang di meja.
Aselia mengangguk pelan. “Aku lihat dia lagi. Perempuan itu. Aku... aku yakin dia yang menyebabkan kecelakaan itu.”
Lidia menarik napas dalam. Ia ragu, tapi ia tahu waktunya hampir tiba. Aselia tidak bisa terus dibungkam oleh amnesianya. Ia butuh kebenaran, meski menyakitkan.
“Aselia,” ucap Lidia pelan, duduk di tepi ranjang. “Kamu masih belum ingat siapa dia?”
Aselia menatap Lidia dalam-dalam. “Namanya Georgia, kan?”
Lidia terdiam, matanya berkaca.
“Aku tahu dia dekat dengan Adipati... dulu. Tapi kenapa wajahnya muncul dalam mimpi itu?” Aselia mulai gemetar. “Kenapa aku dengar suaraku sendiri berteriak memintanya berhenti?”
Lidia meraih tangan Aselia. “Karena kamu hampir mengingat semuanya.”
Seketika pintu kembali terbuka. Adipati masuk, membawa dua cangkir kopi. Wajahnya cerah, namun berubah cemas saat melihat suasana di dalam.
“Ada apa?” tanyanya, mendekat.
Aselia menatapnya dengan mata yang tak biasa bukan kosong seperti sebelumnya, melainkan penuh tanya dan beban.
“Mas... aku mulai ingat. Tentang malam itu.”
Adipati meletakkan kopi di meja, duduk di sisi lain ranjang.
“Georgia...” lanjut Aselia. “Dia ada di dekat mobil. Aku sempat menegurnya. Tapi setelah itu... rem mobilku blong.”
Adipati memejamkan mata. Ia tahu saat itu akan datang, tapi tidak pernah siap.
“Mas... dia yang melukai aku, kan?”
“Lia,” ucap Adipati pelan, “Waktu itu kamu memang mencurigainya. Tapi belum ada bukti. Sampai Reymond dan detektifnya dapat rekaman CCTV dari garasi. Ada seseorang yang masuk ke rumah kita malam sebelum kecelakaan. Dan Georgia punya akses.”
Air mata mengalir di pipi Aselia. Ia merasa campur aduk takut, marah, dan hampa.
“Tapi kenapa?” bisiknya. “Kenapa dia mau aku mati?”
Adipati menggenggam tangannya erat. “Karena dia nggak bisa terima aku memilih kamu. Dia pikir dengan menyingkirkan kamu, semuanya akan selesai.”
“Dan kamu masih lindungi dia?” tanya Aselia, nada suaranya berubah tajam.
“Tidak,” jawab Adipati tegas. “Kami sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan semuanya ke polisi. Tapi kamu harus aman dulu. Kita harus pastikan kamu kuat, secara fisik dan mental.”
Aselia mengangguk perlahan. “Aku siap, Mas.”
Sementara Itu...
Georgia berdiri di depan cermin, wajahnya pucat. Ia tak tidur semalam, hanya menunggu pesan dari Ivan. Tapi sejak semalam, pria itu tak membalas lagi. Bahkan ponselnya tak aktif.
“Jangan bilang dia kabur,” gumam Georgia.
Ia menyalakan televisi, berharap ada berita lain yang bisa mengalihkan pikirannya. Tapi justru yang muncul adalah berita mengejutkan:
"Pihak kepolisian telah mengkonfirmasi bukti baru dalam kasus kecelakaan Aselia Linggar. Rekaman CCTV menunjukkan dugaan sabotase kendaraan yang mengarah pada mantan asisten pribadi Adipati Rahardian, Georgia Senjaya...”
Cangkir kopi di tangan Georgia jatuh dan pecah di lantai.
“Tidak... tidak, ini nggak mungkin.
Dengan panik, ia meraih ponsel, mencoba menghubungi seseorang. Tapi lagi-lagi, semua kontak penting sudah memblokirnya.
Ia kini benar-benar sendirian.
Beberapa Hari Kemudian
Aselia duduk di kursi taman, kali ini tanpa kursi roda. Fisioterapi yang dijalaninya membuahkan hasil. Tubuhnya mulai pulih, dan ingatannya kini kembali sedikit demi sedikit.
Adipati duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya erat.
“Polisi sudah keluarkan surat penangkapan,” ujar Adipati pelan. “Georgia sekarang buron. Tapi jangan khawatir, Reymond dan polisi menjaga rumah kita. Dia nggak akan bisa menyentuhmu lagi.”
Aselia mengangguk. “Aneh ya. Dulu aku pikir, kehilangan ingatan itu seperti kehilangan hidup. Tapi sekarang aku sadar... itu juga memberi kita kesempatan untuk mulai dari awal.”
Adipati tersenyum, matanya hangat. “Kita bisa mulai lagi, Lia. Dari mana pun kamu mau.”
Aselia menoleh padanya, matanya berbinar. “Dari tempat ini. Taman ini. Dengan kamu.”
Mereka saling menatap, lalu berpelukan dalam diam. Seakan mengunci luka masa lalu, dan membukakan pintu untuk masa depan yang lebih bersih.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Malam Itu
Reymond mendapat pesan tak dikenal.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikannya dariku? Kau semua akan kena. Termasuk Lidia."
Wajah Reymond menegang. Ia segera menelepon Lidia, namun tidak dijawab. Ia lalu menghubungi Adipati.
“Mas, Georgia belum menyerah. Dia tahu kita yang sembunyikan Aselia.”
Adipati yang baru saja menyelesaikan meetingnya dia segera berdiri dari kursinya. Dan perasaan dia sudah mulai tidak karuan. Aselia masih di dalam ruang perawatan di rumah sakit.
“Pastikan Lidia aman. Aku akan segera ke rumah sakit. Kita harus jaga Aselia ketat.”
Namun saat Adipati membuka pintu kamar rumah sakit... lorong itu gelap.
Lampu di beberapa bagian padam.
Dan dari kejauhan... suara langkah kaki cepat terdengar mendekat.
Benar saja itu Georgia, dia sudah berhasil berpura - pura menjadi suster dan menculik Aselia dari rumah sakit. Bahkan semua dokter jaga, perawat diberikan obat tidur.
Tangan Adipati mengepal, mendekat dan menekan leher Georgia."Kau bawa kemana Aselia, jawab? Kalau sampai saja ada seinci kulit Aselia terluka , maka aku pastikan hidupmu tidak akan tenang Georgia".
Georgia begitu bahagia melihat Adipati marah dan begitu takut kehilangan Aselia. "Hmm kamu itu sudah membuat aku marah Mas Adi, kamu masih sayang kan sama aku, terus kenapa kamu masih milih wanita setengah mayat itu, dia masih selamat, ya betul dia masih selamat, tetapi akan aku buat dia tewas untuk kedua kalinya."
"Heii tenang dulu, jangan mengancamku, Georgia, apa maumu, kau mau uang hah, katakan berapapun, tetapi lepaskan Aselia, aku rela kehilangan seluruh hartaku, asalkan kau kembalikan Aselia padaku!"
"Tidak semudah itu Mas Adi, semua akan berlanjut, eitts jangan maju selangkah aja, karena Aselia di tanganku , jika kamu masih coba melawan dan mencoba diam - diam lapor polisi maka selamat menemukan jasad Aselia untuk kedua kalinya."