Bab.8 JALAN PULANG

1006 Words
Langit malam menurunkan gerimis tipis yang membasahi atap gedung tua di pinggiran kota. Di dalamnya, suasana mencekam menyelimuti ruangan kosong yang hanya diterangi cahaya lampu neon yang berkedip tak stabil. Aselia terbaring tak sadarkan diri di kursi kayu tua, tangan dan kakinya diikat dengan tali tambang. Darah kering masih menodai pelipisnya, bekas pukulan keras yang membuatnya pingsan saat Georgia menculiknya dari rumah sakit. Georgia mondar-mandir di ruangan itu seperti orang kesurupan. Rambutnya acak-acakan, eyeliner-nya luntur, dan mata bengkak karena kurang tidur. Ia memeluk boneka tua yang entah dari mana ia temukan. “Dia selalu bilang kamu lebih baik dariku, Aselia... tapi dia lupa... aku yang dulu selalu ada,” gumamnya pelan. Tiba-tiba, suara ponsel tua di saku jaketnya berbunyi. “Nomor tak dikenal,” bisiknya. Ia angkat. “Georgia,” suara Adipati terdengar tegas, tapi dengan nada menahan panik. “Dengar aku. Aku datang sendiri. Tidak ada polisi. Tapi tolong... tolong jangan sakiti Aselia.” Georgia terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Akhirnya kamu memohon juga.” “Aku mohon, Georgia. Apapun yang terjadi di masa lalu, ini bukan jalannya. Kau masih bisa menebus semuanya.” “Menebus?” Georgia menatap Aselia yang mulai siuman. “Kau pikir aku butuh penebusan, Mas? Yang kubutuhkan... hanya sedikit keadilan. Keadilan atas hidup yang kalian rampas dariku.” Adipati menutup matanya, menahan emosi. “Aku datang ke tempatmu. Sendiri. Beri aku alamatnya.” Setelah beberapa detik hening, Georgia menjawab pelan, “Gudang tua dekat pelabuhan selatan. Tapi ingat... satu langkah curang, dia mati.” Telepon terputus. Beberapa Saat Kemudian Aselia perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, tapi ia bisa melihat sosok Georgia duduk di seberang, menatapnya dengan senyum getir. “Kenapa... kau lakukan ini?” bisik Aselia, suaranya lemah. Georgia menatapnya lama. “Karena aku mencintainya... dan dia memilih kamu. Dan aku sangat sakit hati, bahkan saat kau dikabarkan tewas pun, Mas Adi masih tetap menyayangimu." Aselia menahan sakit di pergelangan tangannya, mencoba menggerakkan tubuhnya. “Aku juga tak pernah minta dicintai, Georgia. Cinta... tak bisa dipaksa.” Georgia menggeleng, matanya basah. “Tapi kamu punya semuanya. Keluarga, cinta, bahkan hidup yang kedua... sedangkan aku? Aku hanya bayangan. Aku cuma tokoh figuran dalam kisah bahagia kalian. Aku rela memberikan mahkotaku untuk Mas Adi, namun nyatanya aku hanya buat pelarian dia tidak mencintaiku , dia tidak menginginkanku, semua hanya untuk membuatmu cemburu dan bodohnya aku mencintai Mas Adi." Tangis pecah dari bibir Georgia, namun tangannya tetap menggenggam erat pisau lipat yang ia sembunyikan sejak awal. “Georgia, dengar aku...” suara Aselia mulai stabil. “Kalau kamu benar-benar pernah mencintai Mas Adipati... jangan sakiti dia dengan cara ini. Dia akan hancur kalau aku mati. Dan kamu tahu itu.” Georgia terdiam. Tangan gemetar. Untuk sesaat, matanya berkabut oleh keraguan. Namun suara pintu berderit membuatnya kembali siaga. Adipati masuk dengan tangan terangkat, menunjukkan bahwa ia datang tanpa senjata. Jaketnya basah karena hujan, namun matanya tetap fokus pada sosok yang paling ia cintai Aselia. “Lepaskan dia, Georgia. Aku mohon.” Georgia bangkit, mengarahkan pisau ke leher Aselia. “Jangan dekati aku!” Adipati berhenti di tengah ruangan. “Aku di sini. Kau bisa marah padaku, kau bisa balas aku, tapi lepaskan dia.” “Kenapa? Supaya kalian bisa hidup bahagia dan aku terus jadi pecundang?” “Tidak,” ucap Adipati pelan. “Karena ini bukan kamu. Aku tahu kamu, Georgia. Kamu bukan pembunuh.” Air mata mengalir di wajah Georgia. Tangannya mulai gemetar hebat. “Aku sudah terlalu jauh, Mas. Aku bahkan nyaris membunuhnya waktu itu.” “Dan dia masih hidup. Masih punya harapan. Sama seperti kamu.” Georgia menatap Aselia, lalu Adipati, lalu ke pisau di tangannya. Dan akhirnya... ia menjatuhkan pisau itu. Suara pisau menghantam lantai bergema di seluruh ruangan. Adipati segera bergerak cepat, memeluk Aselia dan memotong tali yang mengikat tubuhnya. Aselia menangis dalam pelukannya. Georgia terduduk di lantai, menutup wajahnya. Tak lama kemudian, suara sirene polisi terdengar di kejauhan. Reymond muncul dari balik pintu belakang bersama dua petugas. Adipati menatap Georgia untuk terakhir kalinya. “Aku tidak akan bohong pada polisi. Tapi aku akan bilang yang sebenarnya. Bahwa kamu memilih menyerah. Itu artinya masih ada harapan untukmu.” Georgia tidak menjawab. Tapi air matanya yang jatuh adalah jawaban. Tiga Bulan Kemudian Angin musim semi berhembus lembut di halaman belakang rumah sakit tempat Aselia kini menjadi relawan untuk membantu pasien trauma. Ia duduk di bangku taman, tangannya memegang buku catatan. Luka di tubuhnya sudah sembuh, meskipun beberapa bekas masih terlihat samar. Namun luka di hati—itu yang justru membuatnya lebih kuat. Lidia datang menghampirinya dengan dua gelas jus. “Kamu nggak pernah cerita, kenapa kamu tetap mau bantu orang-orang di sini setelah semua yang kamu alami?” tanya Lidia. Aselia tersenyum. “Karena aku tahu rasanya berada di tempat gelap dan berpikir tak ada jalan keluar. Kalau aku bisa jadi lentera kecil untuk orang lain... kenapa tidak?” Lidia mengangguk, matanya haru. Di kejauhan, Adipati melambai, membawa keranjang kecil berisi makanan. “Piknik kecil hari ini?” serunya. Aselia tertawa. “Selalu.” Saat mereka duduk bersama di atas rumput, Adipati mengeluarkan sebuah surat dari saku jasnya. “Dari Georgia,” ucapnya pelan. Aselia menatap amplop itu, lalu membukanya dengan hati-hati. Tulisan tangan Georgia memenuhi halaman: "Aselia, aku tidak akan minta maaf karena kata 'maaf' tidak cukup. Tapi aku ingin kamu tahu... kamu selamat bukan hanya karena keberuntungan. Tapi karena kamu kuat .Dan mungkin itu yang selalu aku iri dari kamu.Terima kasih telah membuatku sadar... bahwa membenci tidak pernah menyembuhkan.Maafkan aku jika kau bisa Georgia." Aselia memejamkan mata. Udara sore menyelimuti mereka dengan kehangatan. “Hidup kita memang tidak bisa diulang,” katanya pelan. “Tapi kita bisa memilih ke mana arah kita setelahnya.Tetapi hatiku masih sakit, aku mencoba ikhlas dan melupakan." Adipati mengangguk, meraih tangan istrinya. “Dan aku memilih ke arahmu. Selalu.” Aselia tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu tak dibayangi luka. Hanya cahaya dan cinta yang tetap bertahan meski badai telah berlalu. "Aselia, apa kau masih mau menerimaku, setelah apa yang sudah aku lakukan padamu?" "Hmm beri aku waktu Mas." "Baiklah".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD