Bab.5 Bayangan Dibalik Kabut

1088 Words
Sudah dua minggu berlalu sejak kecelakaan maut yang menimpa Aselia. Meski polisi menyatakan besar kemungkinan ia sudah tewas, Adipati tetap menolak untuk mempercayai kenyataan itu. Di kediaman mewahnya yang kini terasa kosong dan dingin, ia termenung di balkon kamar, menatap langit senja yang mulai memudar. Di tangannya, sebuah scarf milik Aselia yang basah karena hujan malam itu, masih ia genggam erat. Georgia masuk tanpa mengetuk, membawa secangkir teh. “Sayang, kamu harus makan. Udah dua hari kamu cuma minum air putih.” Adipati tidak menjawab. Matanya kosong, seperti sedang berbicara dengan bayangan masa lalu. “Kenapa kamu jadi seperti ini, Mas Adi? Harusnya kamu bahagia, semua sudah selesai. Sekarang cuma ada kita berdua aja kan.” Adipati menoleh pelan, tatapannya tajam. “Selesai? Kamu pikir ini selesai? Aselia mungkin sudah mati karena mobil yang kamu paksa dia bawa. Kamu pikir aku nggak tahu?” Georgia tersentak, tangannya gemetar. Cangkir teh hampir jatuh dari nampannya. “Apa maksudmu? Jangan asal nuduh deh Mas, Itu mobilku, iya tapi aku nggak tahu apa-apa soal remnya!” “Kamu pikir aku bodoh?” Suara Adipati meninggi. "Mobil itu baru diservis seminggu sebelumnya. Dan anehnya, CCTV di garasi rusak pas malam itu. Kamu tahu siapa yang terakhir keluar masuk garasi? Kamu, Georgia.” Georgia melangkah mundur, tak percaya Adipati mulai mencurigainya. “Aku cuma mau kamu bahagia sama aku. Aselia cuma bikin kamu tersiksa, kenapa kamu masih mikirin dia?” “Karena dia istri sahku, Georgia!” bentak Adipati. “Dan kamu bukan siapa-siapa kalau bukan karena aku, kau hanya sekedar pelarianku, tetapi aku sampai kapan pun tidak pernah menyayangimu apalagi mencintaimu, Georgia." Georgia menangis, tapi Adipati tak bergeming. Amarahnya terlalu dalam, bercampur dengan penyesalan dan kehilangan. Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan retak. Adipati kembali sibuk mencari dan menyewa penyelam tambahan, detektif swasta, bahkan paranormal. Semua jalan ia tempuh demi satu hal: menemukan Aselia, hidup atau mati. Di tempat lain, jauh dari keramaian kota Seorang wanita muda terbaring di ranjang rumah kayu sederhana yang terletak di pinggiran hutan. Wajahnya pucat, tubuhnya masih lemah. Seorang kakek tua duduk di sampingnya, mengganti kompres dingin di dahinya. "Namamu siapa, Nak?" tanya kakek itu dengan lembut. Wanita itu membuka matanya perlahan, berusaha mengingat. Tapi tak ada yang muncul di pikirannya. Hanya kilatan suara-suara, seperti gema dalam lorong kosong. "Aku nggak tahu." bisiknya pelan. “Sudah berapa lama kamu di sini nak, jangan - jangan kamu orang hilang yang dicari. Kamu tunggu di sini ya, kakek cari bantuan, kamu jangan kemana - mana dulu. Kepalamu luka parah. Mungkin itu sebabnya kamu hilang ingatan.” Wanita itu menatap langit-langit rumah. Samar-samar, wajah seseorang muncul di benaknya. Wajah seorang pria... menangis... berteriak namanya. "Aselia..." bisiknya lirih. Sementara itu, Reymond dan Lidia datang ke pemakaman umum tempat tugu peringatan Aselia didirikan. Meski belum ditemukan jasadnya, sebuah nisan didirikan untuk mengenangnya. “Aku masih nggak percaya dia benar-benar pergi,” ucap Lidia, menatap batu nisan itu dengan mata berkaca. Reymond mengangguk pelan. “Aku masih berharap, mungkin aja dia selamat. Mungkin dia diselamatkan seseorang.” Lidia menoleh. “Kamu percaya keajaiban?” “Aku percaya karma,” jawab Reymond serius. “Dan aku percaya orang sebaik Aselia, nggak akan dikasih akhir sekejam ini.” Tiba-tiba, Reymond menerima panggilan dari salah satu kontak detektif pribadi yang ia sewa diam-diam tanpa sepengetahuan Adipati. “Pak Reymond, kami menemukan sesuatu di hutan sebelah barat lembah tempat mobil ditemukan. Ada bekas tenda, sisa api unggun, dan syal dengan inisial ‘A’. Kami yakin ini milik korban.” Reymond langsung menatap Lidia. “Kita harus ke sana sekarang.” Beberapa jam kemudian Di tempat tersembunyi, Adipati duduk di ruangan gelap, menatap puluhan foto Aselia yang ia tempel di dinding ruang kerjanya. Di antaranya, terdapat selembar foto Georgia, dirobek setengah. Ia menyalakan rekaman suara dari ponsel lamanya. Suara tawa Aselia. Lembut. Bahagia. Kontras dengan suasana hatinya yang kacau. “Maafkan aku, Sel.” bisiknya. “Kalau aku bisa mengulang semuanya aku bakal milih kamu. Dari awal.” Seseorang mengetuk pintu. "Pak Adipati, ada tamu. Namanya Reymond, katanya penting." Adipati langsung bangkit. Setengah jam kemudian, Reymond dan Lidia duduk di ruang tamu rumah Adipati, memperlihatkan foto syal yang ditemukan detektif. “Lihat ini. Syal ini dari kamu kan yang kasih ke Aselia dulu?” Adipati meraih foto itu. Tangannya bergetar. “Iya betul ini yang aku kasih dia. Tapi ini ada di mana?” “Kamu harus ikut kami, Mas Adi. Ada harapan dia masih hidup. Ada seseorang saksi yang menemukan wanita dengan ciri - ciri seperti Aselia dan melaporkan ke tim SAR dan detektif yang masih di tempat kejadian." Adipati berdiri dengan cepat. "Ayo sekarang." Mereka bertiga pun pergi ke lokasi yang disebutkan detektif. Perjalanan memakan waktu lima jam, masuk ke wilayah pegunungan dan lembah. Malam mulai turun saat mereka tiba di tempat itu. Detektif menunjuk ke arah pohon besar. “Di sana, Pak. Kami juga menemukan jejak kaki kecil mengarah ke dalam hutan, mungkin belum sampai dua hari.” Adipati menatap sekeliling, jantungnya berdebar. Hujan mulai turun ringan, seperti malam ketika semuanya terjadi. Dan tiba-tiba Terdengar suara ranting patah. Dari balik semak-semak, muncullah sosok wanita dengan pakaian usang. Rambutnya panjang, wajahnya penuh luka yang mulai sembuh. Mata mereka bertemu. “Aselia?” suara Adipati nyaris tak terdengar. Wanita itu terdiam lama. Lalu berkata lirih “Aku ini siapa ...namaku siapa?” Adipati bergegas mencari suara itu dan akhirnya menemukan Aselia. "Sayang ini aku, Adipati, suamimu, kamu bertahan ya sayang, maafkan aku udah buat kamu kayak gini, maafin aku sayang." ucap Adipati yang begitu syok melihat keadaan Aselia yang bagian kepalanya dan wajahnya berdarah, napasnya pun masih terengah-engah "Aku siapa...Aku di mana?" Adipati berteriak, meminta bantuan dan memanggil tim SAR dan detektif di tempat ditemukannya Aselia, Lidia dan Reymond pun membantu Adipati bangkit sembari membawa Aselia yang masih dalam keadaan bingung , bak seperti keajaiban, mobil yang dia naiki sudah hancur terbakar , namun Aselia masih selamat, diselamatkan oleh keajaiban Tuhan. Setelah menemukan Aselia, Adipati langsung membawa Aselia menuju rumah sakit terbaik , di dalam mobil ambulance, Aselia dengan wajah bekas darah, dia seperti tidak lagi mengenali dirinya. Karena efek benturan keras di kepalanya , semua identitas Aselia hangus terbakar , namun untung saja pihak detektif berhasil menemukan jejak syal milik Aselia. Tangis haru bahagia, terlihat di wajah Reymond dan Lidia, mereka bahagia akhirnya Tuhan masih menyelamatkan Aselia dari kecelakaan maut itu, Adipati terus meminta ambulance untuk mempercepat laju kendaraannya. "Pak tolong bisa cepat nggak sich, ini keadaan istri saya udah gawat, jangan lelet bawa kendaraanya." "Sabar Mas Adipati, ini medannya agak susah." saut Lidia saat itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD