Setelah selesai membeli makanan, Reymond berniat mengisi bahan bakar mobilnya karena sudah sisa satu garis, dia segera memasuki SPBU yang terdekat. Saat mobilnya masuk, tidak sengaja, mata Lidia melihat sebuah kejadian yang membuatnya sulit berkata - kata. Lidia melihat Adipati di SPBU tetapi sedang bersama wanita super sexy.
"Mas...Mas, tengok deh arah jam tiga."
"Apaan si Lid, ngagetin aja kamu mah."
"Itu lihat dulu, itu bukannya si Adipati, suaminya Aselia kan."
"Ya itu dia, terus kenapa sich, biarin ajalah."
"Mas lihat deh di sampingnya ada cewek sexy lho, lah itu bukannya si Georgia, dih ngapain sama si Adipati?'
Reymond membuka pintu mobilnya, dan berniat mau nemuin Adipati. Tetapi tangan Lidia menahannya.
"Eh... Mas ngapain kamu?"
"Mau samperin si Adipati lah."
"Hadehh jangan dulu deh, jangan cari masalah, ini tempat umum, inget jangan cari masalah, nanti kita tanya aja sama Aselia, Mas diem bisa nggak, udah biarin aja."
"Hufftt greget aku, pengen rasanya kasih bogem mentah ke dia."
"Sabar inget lawan kamu nggak sebanding, dia itu Miliarder nomor dua lho Mas, jangan emosi dulu, pikiran nasib perusahaan kita, udah kita pulang aja, nanti setelah lemburan selesai, kita bahas sama Aselia."
"Okay.. ya ya."
Sepulangnya dari SPBU akhirnya Lidia dan Reymond kembali ke kantor dan membagikan beberapa makanan dan minuman untuk beberapa karyawan yang lembur. Dua jam berlalu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, setelah laporan keuangan selesai, dan sudah tidak ada mines, Aselia berpamitan dengan Reymond dan Lidia.
"Pak, Bu, saya udah boleh pulang kan ya, udah bener kan laporan akhir bulannya."
"Hmm ya udah bener koq, tetapi tunggu dulu, ada yang mau saya tanyain, kamu duduk dulu ya." jawab Reymond dengan tatapan serius, namun Lidia hanya tersenyum.
"Ya Pak ada apa ya?"
"Kamu jawab jujur ya, jangan bohong."
"Maksudnya bagaimana, apa ini masalah kerjaan saya ya?"
"Bukan, ini masalah pribadi kamu, apa beneran kamu bahagia sama Adipati?"
"Saya bahagia, memangnya kenapa Pak, koq Bapak nanyanya begitu?"
"Aselia, kalau kamu bicaranya sama anak TK, mungkin mereka percaya, tetapi saya tahu persis, mata kamu itu udah menggambarkan kalau kamu itu nggak baik - baik aja, tadi saat saya di SPBU, saya lihat suami kamu, Adipati lagi berduaan satu mobil, sama Georgia, apa kamu sebenarnya udah tahu, apa nggak tahu sama sekali, kalau Adipati itu selingkuh di belakang kamu?'
"Saya udah tahu semuanya Pak."
"Lho maksudnya bagaimana?"
"Ya intinya saya udah ikhlas, jika Georgia itu kebahagiaannya Mas Adipati, mungkin ini balasan yang harus saya terima, jujur dulu saya pernah nyakitin hati Mas Adipati, saat dia belum jadi apa - apa."
"Ya tetapi ini toxic lho, kamu udah tahu, tetapi kamu kayak diem aja, nggak berontak, nggak marah gitu, kamu segitunya ikhlasnya, ada apa Aselia?"
"Saya sayang banget sama Mas Adipati, selama dia tidak menyakiti fisik dia, saya nggak masalah."
"Aselia, ini nggak sehat, kamu yakin mau bertahan dengan rumah tangga yang gila kayak gitu hah, saya ini peduli sama kamu, karena kamu udah lama jadi bagian Visio Entertaiment, ini jelas - jelas udah nyakitin kamu Aselia."
"Saya ikhlas, saya percaya suatu saat Mas Adipati akan kembali baik, Pak, ya udah kalau gitu saya pamit pulang dulu, saya naik motor soalnya, jadi nggak mau terlalu lama di sini, besok kan harus masuk kerja lagi."
"Gini deh, motor kamu tinggal, saya yang anterin kamu pulang ya?"
"Jangan Pak, saya nggak mau cari masalah sama Mas Adipati, biar gimana pun, saya harus jaga batasan."
"Hmm memangnya dia peduli, kamu mau pulang sama siapa, ini aja kamu pulang selarut ini, ada nggak dia telepon kamu, nggak kan?"
"Biarin aja Pak, toh saya bukan wanita manja juga, nggak perlu ngandelin suami, saya masih sehat, masih bisa pulang sendiri. Ya udah saya pulang dulu ya Pak."
"Ya udah hati - hati, kalau udah sampe rumah berkabar ke saya atau ke Lidia ya."
"Baik Pak, mari Bu Lidia, saya pamit dulu."
"Ya Aselia, hati - hati ya, nggak usah ngebut - ngebut."
"Baik Bu, permisi."
Reymond lalu, berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Lidia yang saat itu duduk di sofa.
"Lid, kamu denger kan, gila ya, Aselia tahu lho penghianatan suaminya, tetapi kayak biasa - biasa aja, sumpah itu Aselia kena sihir apa sampe segitunya."
"Mungkin bener apa yang Aselia bilang, kalau ini Adipati bales dendem, karena dulu dia pernah nyakitin Adipati, ya kita nggak tahu ya, kisah sebenarnya ada cerita apa gitu lho. Udah Mas sabar dulu, biar gimana pun dia masih istrinya orang, kecuali si Adipati udah ringan tangan, baru bisa kita bertindak."
"Ya ampun, sumpah Aselia hatinya terbuat dari apa ya, segitu sabarnya lho dia, baru nikah satu hari udah disakitin terang - terangan, dan itu tinggal di mana Georgianya ya?"
"Mana aku tahu lah Mas, mungkin beda tempat kali, biasanya kan kalau wanita simpanan, disimpen di tempat yang nggak keliatan."
"Sumpah, gila ya si Adipati, istrinya lho itu pulang larut malem, nggak ditanya, nggak dijemput supir keq, malah dibiarin naik motor sendiri, lelaki macam apa seperti itu. Aselia itu cantik, pinter, baik, malah milih model kayak Georgia."
"Hmm sabar Mas, kamu tenang kenapa si."
"Gimana mau tenang, aku nggak suka lihat lelaki modelan begitu tahu nggak, dia nggak sadar apa ya lahir dari seorang perempuan."
"Ya mungkin Georgia di mata Adipati montok, sexy."
"Heleh dia kan cuman model majalah dewasa aja, nggak ada nilai plusnya. Cantikan Aselia kemana - mana, cantik, proposional, pinter, badannya juga bagusan Aselia."
"Ya udah, pulang yuk, ngantuk, tar besok dilanjut lagi aja, besok kita ada meeting lho jam sembilan pagi sama PT Mandalawangi."
"Oh ya, ya udah kita pulang sekarang."
Reymond dan Lidia pun pulang, sementara itu tiba - tiba hujan turun dengan derasnya, Aselia yang sudah setengah perjalanan, harus menepi dulu, untuk memakai jas hujan, setelah memakai jas hujannya, Aselia kembali jalan, dan terus melawan derasnya hujan yang terus membasahi wajahnya. Sesampainya di rumah, mobil Adipati juga baru saja memasuki rumah. Ditengah lelahnya fisik dan tubuhnya sedikit basah kuyup karena derasnya hujan malam ini, dia melihat Adipati memberikan payung pada Georgia dan memeluknya erat. Aselia lagi - lagi hanya mencoba kuat, dia tahu, Georgialah kebahagiaan suaminya. Aselia lalu melipat jas hujannya dan masuk ke dalam rumah, untuk mengeringkan tubuhnya dan membersihkan tubuhnya dari air hujan.
Satu hari telah berlalu, Aselia pagi itu diminta untuk menaiki mobilnya Georgia, karena saat itu dia memang sudah terlambat, dan motornya sedang rusak, tanpa berpikir panjang, Aselia membawa mobil itu, dan setelah berjalan sudah lumayan jauh, saat Aselia menikung sebuah belokan, dan tiba - tiba remnya tidak berfungsi, Aselia pun terjatuh di sebuah jurang yang sangat dalam, mobilnya berguling ke dalam jurang. Satu minggu berlalu, namun jasad Aselia tak juga ditemukan, hanya bangkai mobilnya saja, sementara itu Georgia sangat senang, karena sudah berhasil melenyapkan Aselia. Sepulangnya Adipati dari projectnya, dia baru menyadari kalau Aselia tidak ada di rumah, salah satu asisten rumah tangganya memberitahu, kalau Nyonya Aselia, kecelakaan dan jasadnya belum ditemukan selama tujuh hari, polisi sudah menyatakan ada kemungkinan Aselia sudah tewas, penyesalan terlihat di wajah Adipati, yang belum bisa percaya kalau Aselia benar - benar sudah meninggal, dia sangat menyesal, menangis, dan tidak lagi menghiraukan Georgia, dia terus mencari keberadaan Aselia.