Bab.15 Kegelisahan Mengalir

1365 Words

Pagi buta di Batam terasa berat. Langit kelabu, aroma asin laut menyelinap dari kejauhan. Rumah aman Reymond masih terbungkus keheningan, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan. Namun di balik ketenangan itu, kegelisahan mengalir di setiap sudut ruangan. Aselia berdiri di dapur kecil, menyiapkan kopi tanpa benar-benar fokus. Matanya sayu, rambutnya masih kusut. Ia menatap pintu balkon yang setengah terbuka, tempat Elara semalam duduk lama, menatap langit seperti mencari jawaban yang tak kunjung datang. Adipati masuk, wajahnya tampak letih. “Dia masih tidur?” tanyanya pelan. “Entahlah. Aku tak mendengar suara apa pun dari kamarnya,” jawab Aselia sambil meletakkan sendok. Ada nada tegang di balik suaranya. Adipati mendekat, meraih cangkir, mencoba tersenyum. “Terima kasih.” Nam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD