Udara pagi itu dingin, kabut tipis menyelimuti halaman depan rumah. Burung-burung belum sepenuhnya riuh, seakan alam pun ikut menahan napas untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Di ruang kerjanya, Aselia berdiri di depan papan besar yang kini dipenuhi dengan catatan, foto, dan garis-garis merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lain. Reymond duduk di kursi, meneliti sebuah berkas, sementara Adipati mondar-mandir, wajahnya penuh ketegangan. “Kita tahu Elara terakhir terlihat di Singapura, tiga bulan lalu,” ujar Reymond, menekankan jarinya pada foto pelabuhan. “Dari sana, ia bisa saja dipindahkan ke mana saja Malaysia, Thailand, bahkan kembali ke Indonesia.” Aselia menyilangkan tangan di d**a. “Tapi tidak mungkin Gina akan membiarkan dia terlalu jauh. Kalau memang tujuannya meman

