Baby, let's meet!

1138 Words
Di ruang santai, empat orang gadis idola yang dikenal sebagai MEDISON sedang bersantai ria. Seperti biasa, Ristel duduk di karpet berbulu dengan toples camilan di pelukannya. Di sebelah Ristel, ada Jihan yang sedang memegang buku catatan, sepertinya sedang menghapal kosa kata bahasa Indonesia. Agaknya gadis cantik asal negeri ginseng ini sangat ingin menguasai bahasa Indonesia. Anastasha sedang duduk di karpet dengan punggung bersandar di sofa. Seperti biasa,  ada Sein yang duduk di sofa sambil membelai rambut Anastasha. “Woah, so hot!” seru Ristela saat melihat seorang pria yang berbalut jas hitam yang baru saja keluar dari mobil. Ceritanya mereka sedang menonton televisi, acara hot news. Grup rookie itu sedang bersantai akhir pekan ini,setelah satu bulan penuh mereka mempromosikan album pertama mereka. “Aigo ... ganteng bangat!” sahut Jihan menyetujui seruan Ristel. “Oh my gosh! He is from Indonesia?!” kaget Ristel saat melihat profil pria yang ada di layar kaca itu. Ristela mengetuk-ngetuk dagunya. “It seems like I've heard his name before.” (Sepertinya aku pernah mendengar namanya sebelumnya.) “But who?” tanya Ristel, pada diri sendiri mungkin. “Darryl Neal?” Jihan mengeja nama pria itu, pria di layar kaca yang mengambil perhatian mereka semua saat ini. Jantung Anastasha berdetak kencang, sedari tadi ia  tidak berani melihat ke layar televisi. Atau dia akan menangis. Kekasihnya sedang disiarkan di sana, diberitakan jika Neal Company pindah kepemilikan. Sein seketika sadar, ia melirik Anastasha. Gadis itu terlihat menunduk. Anastasha sering menceritakan pria itu, pria yang ada di televisi itu adalah pria yang selama ini Anastasha rindukan. Mungkin saja Ristel dan Jihan tidak menyadari, tapi Sein ingat betul jika nama kekasih Anastasha adalah Darryl Neal. Sein meluruhkan tubuhnya dan duduk di sebelah Anastasha. “Are you okey?” Anastasha mengangguk walau masih tertunduk. “Hm.” “Is that him?” tanya Sein. “Ne, Eonni.” Sein tersenyum keibuan, ia membelai rambut gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. “Why don’t you look at him? See, he is very handsome.” (Kenapa tidak melihat ke arahnya? Lihatlah, dia sangat tampan.) Anastasha menggelengkan kepalanya dan bergumam lirih, “I don't dare ....” (Aku tidak berani ....) “Don't be afraid! Look at your lover, there is no smile at all on his handsome face.” (Jangan takut! Lihat kekasihmu itu, tidak ada senyum di wajah tampannya.) Anastasha memberanikan diri mengangkat wajahnya. Benar kata Sein, tak ada senyum sama sekali di wajah sempurna itu. Lengkungan tercipta di bibir ranum Anastasha. “He is very stingy to smile!” (Dia pelit sekali untuk sekedar tersenyum!) “Aha! Akuh engat! Dia boyfriend Anastasha, right?!” heboh Jihan dengan logat anehnya. Mendengar itu, Ristela langsung balik badan menghadap Anastasha. Matanya terbelalak. “Anjir, buat gue aja, ya?!” “Eonni!!” Teriakan menggelegar Anastasha membuat seisi dorm ikut bergetar. Ngeri! “Kenapa, sih, terwiak-terwiak?” tanya Ristela datang dengan mulut penuh. “Lihat!” instruksi Anastasha menunjuk televisi. Mata Ristela membola, singel terbaru mereka menjadi top chart di berbagai awards. Dengan judul, Crocodile Tears. “Don't show your crocodile's tears to me ...” Sein muncul dan menyanyikan bagian reff lagu. Akhirnya empat idola itu menarikan dance lagu terbaru mereka. Lengkap dengan Jihan yang juga baru muncul dengan cream cake yang memenuhi wajahnya. Girlband MEDISON kini menaklukkasia, bahkan sudah mulai menggerayangi Eropa. Ini sudah setahun lebih mereka aktif di dunia selebriti, dan agensi rupanya berbaik hati akan memberikan mereka hari libur selama sebulan. Mereka sudah bekerja keras selama setahun lebih belakangan ini. Bertos ria, empat idola itu memang bangga dengan hasil yang didapat, tapi itu tidak membuat mereka berpuas diri. Masih perlu memperbaiki diri, untuk lebih baik lagi kedepannya. “Eonni, where are you going on vacation?” tanya Jihan pada Sein, mereka kembali melanjutkan membuat kue. (Kak, mau liburan ke mana?) “I’m planning a vacation to Dubai, what do you think?” (Aku berencana liburan di Dubai, bagaimana menurutmu?) “Oh, sungguh? Really daebak!” Jihan sudah terkontaminasi virus bahasa, dia seringkali memakai semua bahasa yang dia ketahui di saat yang bersamaan. “And you, Where do you want to go?” tanya Sein balik. “I just want to spend some time on Jeju island, and go on a blind date there.” Jihan tertawa sendiri dengan apa yang dikatakannya. (Aku hanya ingin menghabiskan waktu di pulau Jeju, dan pergi kencan buta di sana.) Sein menggelengkan kepala mendengar jawaban Jihan, ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Ristela yang berbaring di sofa dengan kaki di silangkan. Ristela sedang bermain game di gadgetnya. “Where do you want to spend your time Ristela?” Ristela mengalihkan pandangannya ke Sein dan menjawab, “I will return to Jakarta, then go on vacation with my family in Bali.  Cool, right?” (Aku akan pulang ke Jakarta, lalu berlibur bersama keluarga di Bali. Keren, bukan?) “Wah, you are a good girl!” puji Sein. “Yes, that’s me!” Ristela menyombongkan diri. Kini ia menatap Anastasha yang melakukan cardio di sudut ruangan, Sein sedang membuat kue tapi perhatiannya tertuju pada ketiga adiknya yang ia temui di kota besar ini. “You will meet him, right?” tanya Sein pada Anastasha. Anastasha tersenyum dan mengangguk kepalanya. “I promised to meet him again, how can I deny it?” (Aku sudah berjanji untuk menemuinya kembali, bagaimana bisa aku mengingkarinya?) *** Menikmati air mancur yang menari-nari, gemerlap cahaya lampu dan juga musik yang mengalun dengan merdunya. Anastasha menikmati itu semua malam ini, suasana hatinya sedang baik sekarang. Semua penantiannya akan terbayar, dan itu membuat Anastasha sangat tidak sabar. Gadis itu menatap layar ponselnya, gambar pria tampan terpampang di sana. Ia tersenyum melihat  Darryl yang juga tersenyum sangat manis di sana, foto yang ia pindahkan dari laptopnya. “Darryl, apa kabar sayang?” “Hari ini semuanya baik-baik aja, kan?” “Anastasha kangen banget sama Darryl,” ujarnya menyentuh layar ponsel. Anastasha berusaha mempertahankan senyumnya, walaupun ia tidak yakin senyumnya akan bertahan lama. Air matanya sudah tertampung, sebentar lagi runtuh pertahanannya. Anastasha bingung, harus menjelaskan apa nantinya. Jelas sekali, Darryl akan marah padanya nanti. Dan yang lebih parahnya, mungkin kekasihnya itu tidak akan menerima kehadirannya lagi. Mengingat itu, Anastasha tersenyum naas. “I love you more than my chocolate ice cream.” Anastasha tersenyum, sepintas kenangannya saat bersama Darryl terbayang-bayang. Sepertinya ia pernah mengatakan itu dulu. Dering ponsel Anastasha berbunyi, panggilan telepon masuk dari manager Song. “Halo?” Anastasha mengangkat teleponnya. “Halo!” “What's wrong?” “I already know the whereabouts of him,” ungkap manager Song di seberang sana. (Saya sudah mengetahui keberadaannya.) Anastasha tersenyum hingga gigi rapinya terlihat, perasaan wanita itu menjadi sangat senang. “Okay, please pick me up at the Banpo bridge now!” (Oke, tolong jemput saya di jembatan Banpo sekarang!) “Yeah, Miss!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD