Langkah Anastasha terhenti, ia berbalik sekali lagi, walaupun ia tau Darryl tidak akan muncul. Protokol sudah memanggil penumpang pesawat tujuan Incheon Korea, dan hatinya sangat berat untuk sekedar melangkahkan kaki.
Nama DARRYL, memenuhi otaknya. Wajah kekasihnya itu, sungguh mengganggu pikiran Anastasha. Gerak-gerik Anastasha, sedikit pun tidak lepas dari pantauan Ardian.
Pria yang sering dipanggil kakak oleh Anastasha itu, merangkul adiknya dan berbalik menuju pesawat.
“Everything's gonna be just fine, trust me.” ungkap Ardian menenangkan Anastasha.
Anastasha mencoba tersenyum memandang kakaknya, “Kak, kalau boleh. Anastasha cuma mau di sini aja, nemenin Darryl.” Mata Anastasha memanas saat menyebut nama kekasihnya.
Jika saja saat itu ia tidak menggebu-gebu untuk menjadi idola Korea, pastilah semua tidak akan begini. Anastasha sadar, ini semua bermula darinya.
“Ayo bertemu Darryl, kalau Tasya sudah gapai mimpi nantinya. Lima tahun gak terlalu lama Dek, Tasya pasti kuat nahannya.”
Anastasha menganggukkan kepalanya, dalam hati ia bertanya. Apa Darryl bisa menahan rindu selama itu?
***
Liquid bening kembali membasahi pipi Anastasha, ia menatap nanar layar handphonenya. Terpasang wajah Darryl di wallpaper ponsel gadis itu. Darryl-nya sedang tersenyum imut memamerkan gigi ratanya, dengan mata yang sedikit menyipit. Senyum yang diperlihatkan Darryl, hanya pada Anastasha
Sejak pulangnya ia dari makam, ponselnya ia matikan. Anastasha takut Darryl akan menghubunginya dan menanyakan di mana ia berada. Anastasha tahu persis, Darryl sangat handal membuatnya tidak bisa berkutik.
Ia menekan aplikasi chatting dan memasuki room chat-nya dengan Darryl. Anastasha mengklik tombol voice note.
“Sayang, Tasya tinggal bentar, ya. Tasya sayang Darryl, selalu ...”
Anastasha tak bisa lagi membendung air matanya. Ia berjongkok, menyembunyikan wajahnya di kedua tangan yang bertumpu pada lutut.
“Maaf Darryl, maafin Tasya ... hiks.”
Ini sudah hukum alam. Penyesalan, memang selalu datang terlambat.
Seorang pria berbalut jas, membangunkan Anastasha. Kini, ia sudah tiba di Incheon.
“Come on, Miss.”
Anastasha mengangguk dan berdiri, mengikuti pria itu. Sedang kedua orang tua dan kakaknya sudah berjalan lebih dulu di depan sana.
Tanpa Anastasha sadari, ponselnya terjatuh. Yang sepertinya akan membuat Darryl kelimpungan.
***
Suara gemericik air terdengar jelas di pendengaran Anastasha, di luar memang sedang hujan.
Anastasha mengintip dari jendela hotel, Seoul diguyur hujan pagi ini. Di sini, di tempat ia berada, Anastasha hanya ingin tahu. Sedang apa Darryl di sana?
Apakah negara asalnya juga sedang hujan? Jika iya, tidakkah Darryl kedinginan di sana?
“Selamat pagi, Darryl.”
Sesak, itu yang Anastasha rasakan saat ini.
“Darryl lagi apa?”
Lagi-lagi, Anastasha tidak bisa menahan tangisnya. Ia selalu lemah, jika sudah tentang Darryl.
Anastasha menatap megahnya gedung-gedung Seoul, masih terlihat indah meski pagi hari. Tetap terlihat cantik walau diguyur hujan. Seperti Darryl, masih terlihat menawan, meski sedang menangis.
“Darryl, sekarang sedang hujan di sini. Di sana hujan juga, kah?”
“Darryl tidak kedinginan, kan ...?” lirih Anastasha.
Anastasha sedang kepikiran sekarang. Apa kekasihnya baik-baik saja?
Kenapa tidak menghubungi Darryl? Karena Anastasha tidak mau jika nanti Darryl menyusulnya. Lagi pula, Anastasha tidak tahu ke mana ponselnya menghilang.
“Darryl, maafin Tasya ya.”
“Maaf sudah ninggalin Darryl ....”
“Tasya sayang Darryl ....”
***
Di sini Anastasha sekarang, di gedung MAS Entertainment. Ia lolos audisi, dan secara otomatis ia sudah menjadi trainee.
Persyaratan sudah Anastasha penuhi, termasuk menutup semua akun sosmed. Agensi tahu jika ia memiliki pacar di Indonesia, lalu pihak agensi meminta Anastasha untuk menyembunyikan fakta itu. Karena salah satu persyaratan yang lain, adalah tidak berpacaran selama 5 tahun. Debut atau tidak, itulah ketentuannya.
Tentang sekolah, Anastasha pindah ke salah satu sekolah terkenal di Korea. Tapi sepertinya ia akan aktif di luar kelas, jadi Anastasha akan homeschooling saja.
Keringat membasahi Anastasha, ia baru saja latihan. Di ruangan berdinding putih itu, hanya di isi beberapa trainee.
“Exucuse me, may I sit here?”
Anastasha menoleh pada sumber suara dan berkata, “Yes, of course.”
“Are you Korean?”
“No, I'm Indonesian.”
Gadis berambut pirang itu sedikit kaget. “Surely?”
“Muka lo kayak orang Korea, sih” lanjut gadis itu.
Anastasha terbelalak, ia menutup bibirnya dengan kedua tangan. “Indonesia?”
“Yes!” gadis pirang itu mengulurkan tangannya, “Kenalin, nama gue Ristela. Panggil aja Ristel.”
Anastasha menjabat tangan gadis itu, “Anastasha, panggil Tasya juga bisa.”
“Hari pertama?”
“Iya. Ini baru lolos audisi, sih.”
Ristela mengangguk kepala dan kembali membuka suara, “Gue udah delapan bulan, gila badan udah remuk semua tapi belum debut-debut.” Ristela sedikit bercerita lalu tertawa setelahnya.
Anastasha ikut tertawa. “Sabar nanti juga debut, masa cewek cantik kayak gini dianggurin? Rugi banget!”
“Bener juga lo!” Ristela menganggukkan kepala.
“By the way, masih sekolah?”
“Gue sekolah di SOPI. Lo?”
“Salim Art,” jawab Anastasha.
“Oke, mulai sekarang kita teman. Tidak ada bantahan!”
Sepertinya kenalan barunya ini tipe orang yang tegas dan tak ingin dibantah.
“Deal!”
***
Setiap harinya, Anastasha selalu latihan dance agar bisa menggapai mimpinya. Menjadi idola korea, memanglah impian yang Anastasha idam-idamkan sejak lama.
Nasi sudah jadi bubur, percuma saja Anastasha menyesali semuanya. Yang harus ia lakukan sekarang, hanya lah kerja keras demi meraih mimpinya itu. Dan bertemu Darryl secepatnya.
Anastasha melewati segerombolan trainee yang terlihat sedang berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Anastasha tahu jika ia sedang digunjing.
Sekali lagi, Anastasha dipuji habis-habisan oleh Mr. Andreas, selaku pendiri MAS Entertainment. Dan membuat sekian trainee merasa tak terima.
Kemampuan dance Anastasha meningkat pesat, tak ayal membuat semua yang melihat berdecak kagum. Dan suara indahnya, dapat memukau para pendengar.
Anastasha memasuki toilet, ia membasuh wajahnya yang terlihat sedikit kusut karena asyik latihan sejak tadi.
Empat tahun berlalu, tapi Anastasha tak kunjung debut. Agensi memang sangat ketat dalam memilih trainee untuk didebutkan, dan mereka bilang Anastasha masih kurang matang dan harus latihan lebih keras lagi.
Kebayang bagaimana susahnya menjadi idola korea?
Anastasha menatap wajahnya di pantulan cermin, lalu menyelipkan helaian rambutnya di daun telinga. Anastasha akui, dia memang memiliki paras menawan. Tapi ia tidak pernah sok kecantikan, karena yang Anastasha tahu, tak ada ciptaan Tuhan yang abadi di dunia. Termasuk kecantikan.
“I think you will debut soon,” ujar seorang gadis berambut sebahu yang juga sedang membasuh wajah.
Anastasha tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. “Thanks!”
Saat akan keluar, Anastasha di hadang dua trainee perempuan di pintu toilet.
“Do you bribe? Obviously we are better than you!” Gadis berponi langsung melabrak Anastasha.
(Kau menyogok? Jelas kita berdua lebih baik darimu!)
Sedang Anastasha menaikkan sebelah alisnya, dua orang di hadapannya suka sekali mencari masalah. Di antara banyaknya yang merasa tersaingi olehnya, hanya dua orang itu yang dengan berani melabraknya.
“Are you kidding? Judging from the c***k in the straw alone, you are like an ash girl!” sentak Anastasha membuat dua gadis itu kesal.
(Kalian bercanda? Dilihat dari celah sedotan saja, kalian tidak lebih seperti upik abu!)
“Hey, Beast! Don’t make us angry!” Gadis yang berkulit sawo matang mengangkat suara.
(Heh buruk rupa! Kau jangan membuat kami marah!)
Anastasha menutup mulutnya seolah kaget. “Oops! Beast? You are calling yourself?”
“Uh, it’s no use serving you guys, Mr. Andreas is waiting for this golden girl.”
(Ah, tidak ada waktu untuk meladeni kalian, Pak Andreas menunggu anak emasnya ini.)
Anastasha mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan melewati dua gadis yang iri hati di depannya. Ia sudah sangat muak akan kepercayaan diri dua trainee tak tahu malu itu.