Don't Care

1646 Words
Jose kembali datang ke club malam ini, karena shift nya sudah selesai. Jose segera menghampiri Palloma yang sedang duduk dan mengobrol dengan Carlos di area meja bar. "Hai..." Sapa Jose dan Palloma segera meninggalkan bangkunya lalu turun ke lantai dansa dan mulai menari. Carlos tersenyum melihat sikap Palloma yang masih saja menolak dokter tampan itu. "Mood nya sedang jelek, mungkin dia sedang datang bulan." Ucap Carlos memberi pengertian pada Jose. Jose hanya menghela napasnya dengan panjang. "Tak apa, biarkan saja. Aku juga senang melihatnya saat menari. Dia sangat sexy dan terlihat bebas jiwanya saat menari." Sahut Jose. "Kenapa kau tak mencoba wanita lainnya saja? Bukankah perawat di klinik juga wanita yang cantik dan masih muda?" Tanya Carlos. "Marta? Dia memang wanita yang baik, tapi dia sudah punya pasangan. Tidak baik merusak hubungan yang sudah terjalin sejak lama bahkan sebelum aku datang ke kota ini." Sahut Jose terus menatap Palloma yang menari. "Kau tak ingin mencoba jalang yang lainnya?" Tanya Carlos. "Tidak, aku sebenarnya tidak suka bermain dengan jalang, tapi Palloma beda. Sungguh! Aku melihat Palloma itu wanita yang beda, ditambah lagi kau mengatakan kalau dia sesungguhnya bukan jalang, hanya haus cinta." Sahut Jose. "Hei bung! Apa kau mulai jatuh cinta padanya?" Goda Carlos dengan senyuman penuh arti "Apa aku salah?" Jose bertanya pada Carlos. "Tidak, tidak salah, hanya aneh saja. Kau seorang dokter, wajahmu tampan, karaktermu baik, dan hartamu juga kelas atas, tapi kau justru jatuh cinta pada seorang Harlot. Hei bung! Ini Harlot bung! Harlot itu dimata warga kota ini justru lebih rendah dari jalang! Dia penyuka seks, haus akan harta dan cinta. Kau yakin ingin mencintai dia? Dia bisa meninggalkanmu kapanpun dia mendapatkan tawaran kesenangan baru dari pria lain." Sahut Carlos bingung dengan jalan pikiran Jose. "Kuharap dia akan puas dengan cinta dan perhatian juga harta yang aku miliki untuknya." Ucap Jose masih berharap Palloma bisa menerimanya. "Selamat berjuang bung!" Sahut Carlos. "Thank you." Ucap Jose tersenyum lebar. Jose dan Carlos sebenarnya menyadari bahwa Palloma selama menari telah beberapa kali melihat ke arah Jose dan Carlos, meskipun dia melihat dengan tatapan kesal. Malam ini pun Palloma telah beberapa kali menolak untuk disentuh pria di lantai dansa. Entah apa yang terjadi dengan diri Palloma, rasa kesal dan kecewa masih terus menguasai hatinya. Cemburu? Mungkinkah? Bukankah dia yang selalu menolak setiap ajakan ataupun sapaan Jose padanya? Seorang pria di lantai dansa sedari tadi terus mencoba untuk menyentuh tubuh Palloma, padahal Palloma sudah berkali-kali menyingkirkan tangannya dan menjauh dari pria itu, dirinya benar-benar sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Namun pria mabuk itu masih terus mendekati Palloma dan bahkan tangannya berusaha masuk ke dalam rok mini Palloma dari belakang. Palloma spontan langsung berbalik dan menampar keras pipi pria mabuk itu. PLAAAKKK!!! "b******k!! Beraninya kau menolakku bahkan menamparku! Dasar jalang tak tahu diri!" Marah pria itu sambil berusaha berdiri lalu balas menampar pipi Palloma. PLAAAKKK!!! Tamparan itu sungguh sangat keras dan membuat tubuh Palloma terhuyung hampir terjatuh, beruntung dua lengan kokoh menopang tubuhnya hingga dia tak jatuh ke lantai. "Hei Bung! Pria sejati tidak pernah memukul wanita! Dasar banci!" Omel Jose sambil memegang tubuh Palloma yang masih terhuyung. "Siapa kau?! Jangan pernah menghalangiku! Dia seorang jalang! Dia sangat pantas diperlakukan seperti itu!" Sahut pria tadi. Amarah Jose seketika langsung naik ke puncak kepalanya dan langsung menitipkan Palloma pada seorang wanita di dekatnya. Jose pun langsung maju untuk menghantam mulut pria itu dengan sangat kuat. BUGH!!! BRAAKKK!!! Tubuh pria itu seketika jatuh menabrak beberapa orang di sekitarnya dan sebuah speaker. Palloma terkejut tidak menyangka bahwa Jose akan bereaksi seperti itu hanya untuk membelanya. Palloma hanya diam membeku, dirinya masih sangat terkejut bahwa akan ada seorang pria yang akan membelanya saat dia dilecehkan oleh pria lain. Palloma masih berdiri diam hanya menatap kedua pria itu terus saling memukul dan bergulat di lantai dansa, tanpa menyadari bahwa kini posisi Jose lah yang kalah bahkan mungkin Jose bisa kehilangan nyawanya jika Carlos tidak segera memanggil security club' untuk memisahkan mereka. "Pall, sebaiknya kau ikut menemaniku untuk mengantarkan dia ke klinik." Ajak Carlos dan Palloma segera mengambil tasnya lalu mengejar langkah Carlos yang sudah keluar dari club terlebih dulu sambil memapah tubuh Jose yang lemah namun masih sadar. Palloma masih tetap diam selama perjalanan ke klinik. Dia berjalan di samping Jose, ikut membantu Carlos dalam memapah pria yang babak belur itu. "Tak adakah perawat atau dokter lainnya disini?" Tanya Carlos saat mendapati klinik itu sepi. "Carlos, kau tidak mendengarnya?" Tanya Palloma lalu membuat Carlos menyadari ada orang di dalam klinik itu. Ya, mereka mendengar sepasang manusia yang bersahutan saling mendesah nikmat. "Astaga! Benarkah ini klinik kesehatan?!" Rutuk Carlos kesal saat mendapati asal suara itu berasal dari dalam kamar klinik. "HELLOOOO!!!!! ADA ORANG DISINI?! TOLONGLAH! ADA YANG TERLUKA!!!" teriak Carlos memanggil siapapun mereka di dalam sana. Seorang pria muncul dengan tergesa-gesa sambil membenarkan celananya dan seragam dokternya. "Maaf, maaf, aku tak mendengar kalian datang. Astaga! Dokter Jose! Apa yang terjadi padamu?!" Ucap pria yang juga seorang dokter itu, terkejut melihat kondisi Jose lalu segera membantunya membawanya ke dalam kamar klinik. Palloma dan Carlos mendelik kaget saat melihat ada Abigail sedang tersenyum sambil memakai kembali pakaiannya. "Abigail??? Sedang apa kau disini?" Tanya Carlos. "Tentu saja aku sedang bekerja Carlos! Andai saja kalian tidak datang, aku pasti berhasil mendapatkan bayaran dan kenikmatan dari dokter Andrew!" Sahut Abigail merasa sangat kesal karena merasa kegiatannya diganggu oleh tiga orang yang baru datang itu. Andrew segera memeriksa kondisi Jose dan membersihkan luka-lukanya lalu mengobatinya. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Carlos cemas. "Tak ada luka yang serius, beberapa hari juga akan kembali membaik, sebaiknya malam ini dia tetap disini." Sahut Andrew sambil mencuci tangannya. "Tidak, aku akan istirahat di rumah saja. Aku tak mau mengganggumu dan wanitamu." Ucap Jose sambil menoleh pada Abigail yang masih berdiri menunggu di samping Palloma. "Ah, maafkan saya dokter Jose, saya tadi...." Sahut Andrew dengan menyesal dan tak berani melanjutkan penjelasannya. "Tak apa, tidak mudah berjaga seorang diri di klinik sepanjang malam. Biarkan dia menemanimu jika kau butuh teman." Ucap Jose berusaha tersenyum sambil menahan nyeri lukanya dan berusaha duduk untuk turun dari tempat tidur. "Apa kau selalu menemani para dokter yang berjaga malam disini?" Tanya Palloma pada Abigail, membuat ketiga pria itu menoleh menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. "Ya, kecuali si kepala klinik." Sahut Abigail dengan sewot menunjuk ke arah Jose dengan dagunya. "Dia???? Tapi bukankah kalian pagi tadi.........." Pertanyaan Palloma tidak berlanjut. "Kau pagi tadi datang kemari?" Tanya Jose dan Carlos bersamaan. Palloma menjadi gugup dan tak mampu menjawab kedua pria itu. Palloma kembali menoleh pada Abigail dan menanti penjelasan dari ucapan Abigail tadi. "Ya, tapi sepertinya dia tidak menyukai wanita. Aku sudah mencoba merayunya semalaman, tapi hingga pagi hampir tiba aku tetap saja tak berhasil membawanya untuk melakukan seks." Sahut Abigail, seketika membuat raut muka Palloma berubah penuh perasaan bersalah telah berpikir yang negatif tentang Jose dan Abigail. "Sudahlah, aku ingin segera tidur di rumahku. Kalian berdua kembalilah ke club, aku masih sanggup berjalan sendiri." Ucap Jose dan berjalan keluar dengan perlahan. "Aku akan mengantarmu." Sahut Palloma mendadak membuat terkejut Jose dan Carlos. Jose tersenyum menoleh padanya. "Tak apa, aku bisa berjalan sendiri, lagipula rumahku sangat dekat." Ucap Jose. "Hei Bung, biarkan dia mengantarkanmu. Kau pasti tak ingin tahu apa yang akan dia lakukan padamu jika kau menolak tawarannya." Sahut Carlos tersenyum lebar penuh arti pada Palloma. "Baiklah, daripada aku menjadi lebih buruk dari saat ini." Ucap Jose. Jose dan Palloma pun berjalan bersama Carlos meninggalkan klinik itu, tapi Carlos tetap berjalan lurus menuju ke club, sedangkan Jose dan Palloma menuju ke arah rumah Jose. Sebuah rumah yang besar dan mewah. Palloma menatapnya dengan takjub, meski rumah peninggalan orang tuanya juga besar dan megah, tapi auranya sungguh suram, berbeda dengan rumah Jose yang nampak hangat bahkan dari luar. "Sudah sampai. Kau mau masuk untuk minum teh?" Jose menawarkan Palloma untuk mampir sejenak. "Aku akan terima jika kau menawarkan kopi padaku." Sahut Palloma. Jose terkekeh. "Aku berjanji akan menyediakan kopi di kesempatan berikutnya. Jadi? Apa kau mau mampir sejenak? Aku punya s**u hangat jika kau tidak suka teh." Ucap Jose. "Kau sungguh pria pemaksa! Baiklah, s**u hangat juga aku suka, lagipula kau sudah menolongku, tak baik jika aku menolak tawaranmu." Sahut Palloma lalu keduanya tersenyum bersama. "Kau cantik." Puji Jose melihat senyuman Palloma pada akhirnya untuk dirinya. "Apa kau menawarkan s**u hangat untuk merayuku?" Sindir Palloma. "Tidak... Silahkan masuk, duduklah, aku akan menyiapkan s**u hangatnya." Sahut Jose lalu mereka masuk ke dalam rumah yang memiliki aura hangat di dalamnya. Beberapa saat kemudian Jose kembali ke ruang tamu dan mendapati Palloma sedang melihat-lihat foto-foto keluarga Jose yang ada disana. "Segelas s**u hangat untuk wanita yang memiliki senyuman tercantik." Ucap Jose memberikan segelas s**u pada Palloma. "Rayuanmu tidak akan bisa membuatku tidur telanjang di atas ranjangmu." Sahut Palloma sinis. "Kalau begitu, tidur dengan berpakaian juga tidak masalah bagiku." Ucap Jose sengaja menggoda Palloma, membuat wanita itu sungguh jengah dan memilih langsung menghabiskan s**u itu, lalu meraih tas nya lagi hendak pergi dari rumah Jose. "Terima kasih sudah membelaku, tapi lain kali tak perlu sampai bertarung seperti tadi, nyatanya kau tak bisa berkelahi, lain kali mungkin kau tidak akan selamat bertarung dengan pria yang lainnya." Ucap Palloma. "Aku tak peduli dengan nyawaku jika itu menyangkut tentang dirimu." Sahut Jose, Palloma terkejut untuk kesekian kalinya malam ini. "Kalau begitu aku juga tak akan peduli lagi apakah kau selamat atau mati di tangan para pria itu!" Ucap Palloma kesal lalu berjalan ke arah pintu. "Kenapa? Kenapa aku tak boleh membelamu dan menolongmu? Sebenci itukah kau padaku? Apa salahku sehingga kau membenciku dan menolakku terus seperti ini?" Tanya Jose menghentikan langkah Palloma. "Karena aku tidak butuh dibela, kau tentu tahu kalau aku bukan sekedar jalang, tapi aku seorang harlot. Pria manapun yang menawarkan kesenangan ataupun harta berlimpah, pasti akan aku layani." Sahut Palloma tanpa menoleh sedikitpun. "Aku juga menawarkan mu kesenangan dan harta berlimpah, tapi kau terus menolaknya. Kenapa?" Ucap Jose masih butuh penjelasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD