Delapan; Bestie

4233 Words
“Beb! Lo bener tadi ribut-ribut?!” Pertanyaan dengan nada melengking itu langsung menyambut begitu aku masuk ke tenda. Bukan hanya pertanyaan, tanganku juga ditarik untuk duduk. Tendaku sudah dihuni oleh tiga makhluk rempong. “Gue denger lo ribut-ribut pas jurit malam tadi sama panitia terus sama cewek. Bilang ke gue, siapa orangnya? Mereka ngapain sampe bikin lo mau ribut?” Aku menatap mereka satu per satu dan semuanya menunjukkan rasa ingin tahu, terutama Ingkan. Entah ke mana perginya orang-orang yang satu tenda denganku, khawatirnya merasa terusir karena David dan Lana terus datang ke sini. Apalagi ini masih dini hari, agak gimana juga ya. “Lan, Vid, kalian jangan sering-sering ke sini. Cewek-cewek yang nebeng jadinya segan buat masuk.” Ingkan mengernyit kemudian mengacak rambutnya yang lepek. “Jawab pertanyaan gue, Aci. Lo beneran ribut tadi?” “Iya, jawab dulu, anjir. Gue penasaran nih, gak biasanya lo ribut sama orang lain.” Aku menanggalkan jaket berikut semua isi yang ada di dalamnya. “Gak ada apa-apa, cuma cekcok biasa.” “Ya cekcok apaan si? Kata temen gue lo bukan ribut biasa loh, tapi adu bacot.” Menyebalkan. Aku mulai mengutuk Ingkan yang punya banyak teman dari berbagai prodi sehingga banyak sekali informannya. “Udahlah, gak penting. Gue cuma kebawa emosi aja semalem.” Tepukan berulang terasa di pundakku disertai elusan singkat. “Kita gak bakal maksa lo, tapi lo jangan segan buat cerita ya kalau emang ada yang pengen lo ceritain. Enggak usah dipendem sendiri.” Cara David bicara mengingatkanku pada Bang Dion yang dulu sering kumintai pendapat atau saran. Kenyataannya aku memang lebih dekat dengan Bang Dion ketimbang Mas Delta yang dulu masih menjadi kekasih Kak Kania. Walau b******k sebagai lelaki, Bang Dion adalah figur kakak yang tidak kudapat dari Kak Kania. Makanya saat Kak Kania ketahuan hamil dan akhirnya mengaku kalau Bang Dion ayah anaknya, aku tidak begitu marah pada Bang Dion. Di satu sisi aku tahu bagaimana bebasnya Kak Kania, di sisi lain aku juga senang kalau Bang Dion menjadi kakak iparku. Ya, tentu saja sebelum ada Mas Delta yang ujug-ujug datang melamarku dan mengacaukan segalanya. Aku mendesah berat. “Tadi gue ribut sama adik iparnya kakak gue.” “What? Adik ipar? Siapa yang lo maksud?” “Namanya Dina dari ilkom, dia adiknya suami kakak gue. Gue juga baru tau semalem kalau dia ikut dan parahnya, gue sama dia sekelompok pas jurit malem.” “Terus? Kalau kalian iparan, kenapa malah jadi ribut?” “Karena kita sejak awal ketemu udah gak akur,” decakku sebal. “Dia sering cari ribut tiap kali ketemu sama gue. Kakak gue sering curhat ke dia soal gue dan dia balikin semua aduan kakak gue ke gue.” “Anjing!” Lana mengumpat. “Kok lo gak pernah cerita sih?” “Namanya juga lupa, lagian gak penting-penting amat.” Ingkan geleng-geleng. “Tunjuk ke gue yang mana orangnya, biar gue labrak sekarang juga. Enak aja, emangnya dia pikir dia siapa? Gue enggak bakal diem aja kalo dia gangguin lo. Enggak jelas banget, anjir. Kalo emang niatnya cari musuh, dengan senang hati gue ladenin.” “Gak usah. Ntar dia ngadu yang macem-macem lagi ke kakak gue, terus kakak gue ngadu ke Mas Delta, akhirnya gue juga yang kena. Gue males ribut sama itu orang, gak ada masalah aja sering bikin sakit kepala.” “Tapi lo gak bisa diem aja, Ci. Gue setuju sama Ingkan buat ngelabrak dia.” “Ngaco lo, Lan. Ini urusan gue sama dia, gak ada urusannya sama kalian.” “Sori, Ci, tapi kali ini gue dukung Ingkan sama Lana. Dia butuh dibilangin biar gak nyebelin kayak gitu, tapi ya gak dilabrak juga sih.” Aku menatap David tidak percaya. Sumpah ya, bisa-bisanya dia ikutan gila di saat aku butuh dukungan. “Enggak ada, ya. Awas aja, gue bakal musuhin kalian kalau beneran labrak dia.” “Ya elah, dasar masokis.” “Gue udah gak mau cari ribut. Mana semalem gue kelepasan ribut juga sama panitia di posko empat. Kayaknya nanti gue bakal minta maaf deh.” Kutarik bantal yang ada di belakang Lana, membaringkan tubuh dengan posisi menelungkup. Malam tadi rasanya banyak sekali yang terjadi, padahal hanya berlangsung selama beberapa jam. Seemosinya aku pada Kak Kania atau Mas Delta, aku enggak pernah dikuasai amarah seperti tadi malam. Dina itu masih menjadi orang asing yang sulit kuterima untuk ikut campur dalam masalahku. Seseorang mengelus rambutku berulang, bukan elusan ngajak ribut yang sengaja mengacak rambut. Benar-benar lembut. “Kayaknya lo gak bakal jauh dari masalah sampe lo pisah sama laki lo.” “Oh, ngomong-ngomong soal Mas Delta,” aku beranjak duduk, “Dina bisa nebak kalau dia belum move on.” Ingkan memutar bola matanya. “Hello, ya iyalah! Kita-kita aja yang sekali liat langsung tau, kali.” “Terus menurut lo semua, kenapa kakak gue enggak ngeh juga?” Mereka enggak langsung menjawab pertanyaanku, termasuk Ingkan yang tadinya banyak omong. Aku enggak tahu kira-kira apa yang mereka pikirkan, apa sama dengan dugaanku atau enggak. Yang jelas, pertanyaan ini bukan hanya membuatku bingung, tapi siapa pun yang mendengarnya. Memang pada dasarnya kakakku saja yang bebal saat dikasih tahu. “Atau jangan-jangan, kakak lo juga gagal move on jadinya nikmatin perhatian laki lo?” “Wah, gue setuju sama lo, Vid. Masuk akal juga. Kakaknya si Aci ‘kan enggak mungkin move on secepet itu walau udah bunting sama cowok lain. Gimanapun juga, mereka udah pacaran lama ‘kan, udah tunangan lagi.” Aku menggeleng pelan, enggak setuju dengan ucapan David yang malah disetujui Lana. Rasanya terdengar mustahil—atau hanya aku yang berharap begitu faktanya. Oke, aku tahu kakakku dan Mas Delta memang sama-sama bucin dulu, tapi gagal move on itu bukan kakakku sama sekali, bahkan aku yakin dia enggak sedih-sedih amat pas Mas Delta menolak mengakui anak di kandungannya sehabis nangis kejer dua kali. Maksudku, ayolah, seorang Kania Larasati itu lahir dengan ego yang sangat tinggi. Gagal move on enggak mungkin ada di kamusnya. Lagian kalau memang begitu, bukankah dia harusnya tahu kalau Mas Delta enggak bakal bisa nolak kakakku? Ya, mungkin berlaku sebelum Mas Delta melamarku dulu. Eh, aku juga ingin tahu, apa kakakku itu pernah merasakan secuil rasa menyesal sudah berkhianat saat Mas Delta datang melamar? Pasalnya bukan hanya aku, seisi rumah juga dibuat syok sama tingkah mengejutkan Mas Delta yang datang melamarku tanpa PDKT secara langsung. “Ah, masa sih kakak gue begitu? Kan, menurut lo gimana? ‘Kan kalian pernah tuh ketemu pas di mal mereka lagi bareng-bareng.” “Yaa, kalau menurut gue bisa aja sih, Ci. Gue gak tau kakak lo tipe yang akrab banget sama cowok atau gimana, tapi dia gak keliatan canggung sama mantan tunangan plus adik iparnya sendiri. Bahkan kalau suami lo itu temennya, bener-bener gak masuk akal sih. Enggak ada ya mantan senyaman itu, apalagi kasusnya kakak lo yang hampir nikah.” Mataku rasanya panas saat memejam karena lupa untuk berkedip saking seriusnya mendengarkan tiga makhluk ini. Ditambah sekelumit benang kusut yang masih menjadi tanda tanya, membutuhkan waktu lama untuk mengurainya. “Gak taulah. Pusing banget urusan dunia.” Aku mendesah berat, mengambil dua bantal dan menumpuknya untuk menjadi penyangga kepala, menelungkupkan kepalaku di sana. Tenda yang sudah diisi banyak orang memaksaku untuk menekuk kaki, meringkuk seperti bayi. Lumayan, sekalian menghangatkan badan. Waktunya akan singkat, tetapi aku perlu menghilang sementara dari dunia yang rumit ini. Malas sekali harus mendapatkan tatapan prihatin dari teman-temanku. Hanya akan menyadarkan untuk ke sekian kalinya kalau aku ini bodoh, sangat bodoh hingga mau-maunya terjebak dalam kisah lama suami dan kakakku sendiri. Semoga saja mereka mau segera menyelesaikannya tanpa melibatkan orang lain lagi. *** “Anjir, silau banget. Sejak kapan bumi lebih deket sama matahari?” Enggak ada lagi suhu dingin atau langit gelap, yang ada semuanya serba terang dan panas. Kepalaku cukup pusing karena tertidur hanya empat jam, sementara biasanya tidur enam sampai delapan jam. Entah dengan yang lainnya, tapi mengherankan bagaimana mereka bisa keliatan tetap bugar dan sanggup berkumpul di tengah-tengah perkemahan. Ingkan sekalipun, dia sudah segar pas aku baru bangun. David dan Lana sudah enggak ada di tendaku, gantinya mahasiswi dari ilkom leluasa ada di dalam. Aku enggak paham Ingkan lagi ngobrol apa sama mereka, kedengarannya tentang lelaki. Yah, kalau itu mah aku enggak bisa nimbrung. “Bangun, ege, udah siang gini.” Ingkan menyabet handuk kecilnya ke pinggangku, beberapa kali hingga basahnya handuk membuat pakaianku dingin. “Basah anjir baju gue.” “Abisnya lu kebo amat sih tidurnya. Yang lain udah pada sarapan kali.” Aku mengangguk masa bodo, masih mengumpulkan nyawa juga. Dibilang siang banget sih enggak juga, soalnya pas aku cek jam di ponsel, sekarang baru jam delapan kurang. Mungkin karena letak perbukitan ini agak lebih tinggi makanya matahari bersinar lebih terang sepagi ini. “Sarapan apaan?” “Tadi sih pada beli bubur di bawah, tapi kalau lo mau masak bikin aja. Bawa makanan instan ‘kan lo?” “Eh, kita keluar dulu, ya.” “Oh, oke-oke.” Pintu tenda ditarik lebih lebar ke atas karena tiga orang mahasiswi ilkom tadi keluar. Ah, aku selalu lupa nama mereka siapa, padahal sempat saling kenalan. Di luar memang sudah ramai dengan banyak orang sih, tapinya enggak ada acara khusus kayak senam pagi kemarin-kemarin. Lebih ke santai dan kegiatan bebas. Ingkan beringsut mendekat, ikut melongok ke luar tenda. “Mana orang yang ribut sama lo semalem?” “Oh iya.” Aku lebih serius mencari di antara orang-orang yang berlalu lalang, berusaha mencari senior semalam. Aku sudah memantapkan niat untuk minta maaf karena sadar semalam aku yang lebih banyak mengacau. Hanya karena aku sedang berada dalam suasana hati yang buruk, bukan berarti aku bisa dimaklum mencari masalah. Bukannya senior yang kudapatkan, malah tatapan sinis Dina yang kutemukan. Perempuan itu sedang duduk di depan tenda dengan mangkuk di tangannya. Kami bertatapan selama beberapa saat sampai Dina yang lebih dulu mengalihkan dan melanjutkan makannya. Hm, apa aku juga harus minta maaf sama dia? Ya enggaklah, males amat. “Yang mana, Ci?” “Bentar, gue juga belum nemu.” Walau semalam itu cukup gelap, aku yakin masih mengingat dan langsung kenal kalau melihat orangnya. Memang enggak ada ciri khusus, tapi kayaknya dia itu tipe mahasiswi yang aktif bersosialisasi dan punya banyak kenalan. Ya, mirip-mirip Ingkan gitu. Lokasi tenda kami agak berada di belakang, tapi masih menghadap ke lapangan yang dipakai untuk api unggun. Selisih beberapa tenda dari tendanya Lana sama David. Oh, tumben itu dua makhluk belum tampak juga batang hidungnya. Mataku menyipit saat mendapati seseorang yang mirip dengan senior semalam. Sayangnya, jarak tenda yang jauh ditambah sinar matahari sangat menyulitkan melihatnya lebih jelas, tapi entah kenapa aku cukup yakin. “Kan, kayaknya yang itu deh.” “Yang mana?” “Tuh, yang pake kupluk terus jaketnya kuning.” Tiba-tiba Ingkan menepuk pundakku kuat sekali sampai aku tersentak ke depan. “Oh, itu mah si Ayu! Pantes aja lo nyari ribut sama dia, emang dia mah nyebelin abis. Banyak juga yang enggak suka sama dia, sok senior padahal kan cuma beda dua tingkat ya.” “Nafsu amat ya lo dorong gue.” “Ehehe, sorry, bestie.” “Dia fakultas apaan?” “Kayaknya sih FMIPA, tapi gak tau juga gue. Dia sering main ke fakultas mana aja sih, jadinya gak keliatan dia fakultas mana.” “Lah, emangnya lo gak pernah liat dia pake PDH?” “Orang kayak dia boro-boro keinget pake PDH, Ci. Paling pake buat jadi bahan sombong doang. Seringnya pake almet.” Aku terkekeh kecil. “Lo kedengeran gak suka sama dia, tapi hafal banget tentang dia, ya?” “Lo harus inget kalau gue udah gak suka sama orang, gue bakal cari tau sebanyak mungkin tentang dia.” “Tapi fakultasnya lo lupa?” “Ya, ‘kan gak penting sih buat gue. Mau cari ribut mah gak usah mandang fakultas atau prodi.” “Btw kalau dia kating, kenapa ikutan? Bukannya acara beginian per tingkatan ya?” “Enggak juga, siapa aja bebas kok, apalagi kan fakultasnya sama. Gue juga pernah mau ikut kamping ginian pas semester satu sama fakultas lo, cuma lo pada enggak mau ikut. Sebagai bestie yang setia, gue ‘kan hangout bareng lo pada.” Aku mengangguk kecil, masih memperhatikan senior yang belum sadar ada yang memelototinya. Dia sibuk berbincang dengan teman-temannya yang sangat asing di mataku, enggak ada yang familiar. Hm, FMIPA ya? Itu artinya, dia satu fakultas dengan Rafa. Sejauh ini, mungkin hanya dia dari fakultas FMIPA yang kukenal. Sudah minder duluan sih karena FMIPA tuh kesannya kayak FK, isinya pinter-pinter semua. Ternyata setelah melihat senior semalam, kayaknya FMIPA isinya enggak melulu yang gila belajar. Yang sengklek sefrekuensi sama Ingkan juga ada—banyak mungkin. Kuambil cardigan entah punya siapa, memakainya hanya untuk menyamarkan kalau aku masih pakai baju tidur. “Temenin gue minta maaf ya ke dia.” “What?! Lo gila ya?!” “Semalem emang gue aja yang lagi emosi gara-gara sekelompok sama adiknya Bang Dion itu.” “Ya tapi kalau menurut lo dia udah kelewatan, gak salah lo juga. Gue sama dia pernah ribut makanya semalem dia enggak terlalu barbar pas di kelompok gue, jadinya gue gak ada alesan juga buat ngajak ribut.” “Gue ‘kan bukan lo yang kerjaannya nyari ribut. Semalem bener-bener enggak sengaja dan gue gak mau kepikiran nantinya.” Ingkan memutar bola matanya. “Serah lo deh, gue cuma anter karena terpaksa, ya.” Kami keluar dari tenda, mengenakan sandal seadanya dan menghampiri kelompok senior tersebut. Mereka sudah rapi sekali, bahkan dengan dandanan tipis walau kelihatannya belum ada yang mandi. Ya aku mengerti sih, bukannya jorok atau malas, tapi panitia mengatur jam mandi dibagi beberapa kelompok mengingat jarak kamar mandi yang cukup jauh dan jumlahnya juga enggak banyak. Entah hanya perasaanku saja atau suasana di sekitar setahap lebih senyap. Bak beberapa di antara mereka tahu apa yang akan terjadi dan sengaja menantikannya. Senior yang namanya Ayu itu lebih dulu melihatku dibanding teman-temannya, bereaksi hendak marah. Hanya beberapa detik sebelum ekspresinya lebih tenang walau kelihatan masih jengkel. “Mau ngapain lo ke sini?” Barulah teman-temannya yang lain menaruh atensi padaku dan Ingkan. “Siapa dia?” “Yang semalem.” “Oh, elo.” Jujur saja, aku takut dengan tatapan mereka yang seolah menyudutkanku. Sudah sangat jelas bahwa mereka menunjukkan permusuhan tak terucapkan melalui lirikannya—bukan, delikannya. Aku enggak biasa sama sekali mendapatkan hal begini, enggak kayak Ingkan yang mungkin menjadi kegemarannya untuk cari ribut. Ah, sudah tahu aku ini tipe orang yang pemalu dan gampang kepikiran, bisa-bisanya semalam lepas kendali begitu? “Tajem amat ngeliatnya. Chill, dia gak mau ngajak ribut,” ujar Ingkan. Salah satu temannya melangkah maju, menantang Ingkan. “Terus ngapain lo ikut kalau gak mau ikut bikin onar?” Aku maju di antara mereka, menengahi. Bukan bermaksud menjadi sok jagoan atau apa, tapi aku sadar diri akulah yang menyeret Ingkan dalam posisi ini dan kita memang bukannya mau cari ribut. Malah aku ingin berdamai. “Ingkan bener. Gue gak mau cari ribut, kok,” kataku lalu menatap senior yang semalam ribut denganku, “malah gue mau minta maaf buat yang semalem.” Aku enggak pinter menilai ekspresi seseorang, tapi aku bisa bilang kalau senior itu tercekat. Tatapannya enggak percaya, saling lirik sama teman-temannya. Enggak menyangka mungkin kalau aku bukannya mau ngajak ribut lagi, malah minta maaf. “Gue bener-bener minta maaf soal yang semalem. Bukannya gue sengaja ngajak ribut, semalem gue emang lagi gampang banget kepancing emosinya. Tapi gue marah karena omongan lo emang udah kelewatan, K-Kak.” Entah berapa banyak yang memperhatikan kami, wajahku bersemu merah karena merasa malu. Sejak dulu, aku enggak begitu suka jadi pusat perhatian. Aish, seharusnya aku cari waktu yang agak sepi aja padahal. “Oh.” Kak Ayu kelihatan lebih kalem dibanding sebelumnya. “Y-ya, gue juga minta maaf deh. Semalem mungkin gue emang udah kelewatan.” “Udah ya, Kak, gitu aja. Gue balik dulu.” Tanganku menggapai-gapai lengan Ingkan, tanpa ba-bi-bu langsung menariknya untuk pergi. Begitu berbalik, benar saja, beberapa pasang mata memang menaruh atensi pada kami, termasuk Dina. Menyebalkan bagaimana aku mudah sekali menemukannya. Oh, ada Rafa juga enggak begitu jauh di depanku. Bagus sekali, Kashi, kamu sudah terkenal sekarang. Sayangnya, lewat jalur cari ribut sama kating. Hancur sudah reputasiku ke depannya. “Ayo buruan.” Sambil menunduk, aku menarik Ingkan secepat mungkin. Lebih cepat lebih baik, lebih banyak ‘muka’ yang bisa diselamatkan. Sekali lagi, aku harus mengaku kalau jadi Ingkan itu—yang sering mendapat perhatian banyak orang—enggak mudah sama sekali. Jalan ke tenda terasa lebih jauh dibanding sebelumnya, padahal aku sudah berjalan secepat mungkin. Jangan tanya sepanas apa wajahku, aku juga enggak mau tahu kenyataannya semerah apa. Malu banget, gila. “Uhuy!” Lana memiting leherku, refleks aku melepaskan genggaman pada Ingkan dan beralih memukuli tangannya agar melepaskan pitingannya. “Sakit, b*****t!” “Apaan tuh, tadi? Gue kira lo udah ketularan barbarnya Ingkan sampe gak kepikiran buat minta maaf.” Pitingan lengan Lana baru lepas saat aku menendang kakinya. Oh, rupanya David juga bergabung dengan kami. Niatku untuk kembali masuk ke tenda batal, malah memutuskan untuk duduk di luar setelah mematung beberapa detik. “Gaklah, gue gak segila itu.” “Sarapan, Ci?” David menyodorkan bungkusan roti yang isinya tinggal setengah. “Kalo mau yang baru, gue masih ada di tas.” “Gak usah. Ntar gue cari sarapan sendiri aja. Belum laper juga.” Kami berempat duduk di sisi bukit, depan kami agak menjorok turun karena langsung mengarah pada kebun warga. Aku harus memanfaatkan waktu sebanyak mungkin dan menikmati pemandangan yang ada di sini. Walau di ibukota juga ada beberapa pemandangan kayak begini, atmosfernya tetap saja berbeda. Di sini, semuanya seolah bebas dan sangat sejuk. Hampir mustahil mendapatkannya di perkotaan. Ingkan mendesah berat. “Kok gue males buat balik ya?” “Sama. Adem banget sih di sini, bikin nyaman. Dingin-dingin gimana gitu.” “Laki lo tuh dingin.” Aku mendelik pada Lana. “Ah elah, anjim. Enggak usah bawa-bawa makhluk satu itu deh.” “Lah, kenapa? Malah lo harus beradaptasi lagi ya, ‘kan? Ntar ketemu lagi.” Lana tertawa kecil—menertawakanku. “Mungkin dunia gue jauh lebih baik kalau gue kenal dia sebagai Bang Delta kayak dulu, bukannya Mas Delta kayak sekarang. Harusnya gue juga jangan naif, nganggep dia beneran ada rasa sama gue dan move on secepet itu dari kakak gue.” Seseorang menepuk bahuku. “Gak bakal ada habisnya kalo ngomongin sesuatu yang dimulai dengan ‘kalau’. Gak baik juga nyeselin apa yang udah terjadi,” kata David. Aku enggan menanggapi karena sudah hafal dengan kata-kata yang kuulang-ulang sendiri sejak lama. Yang kuinginkan saat ini adalah menghirup udara segar sebanyak mungkin dan mengingat bagaimana rasa sejuknya untuk kuingat nanti saat harus kembali ke realitas. Hari-hari tenangku akan segera berakhir. *** “Oke. Jadi, untuk acara terakhir sambil tunggu transportasi kumpul semua di bawah, kita umumin juara semalem ya.” Sekitar jam sebelas, para panitia meminta kami semua untuk kumpul-kumpul sebentar di halaman. Berhubung jadwalnya memang kami pulang agak siangan, masih ada beberapa tenda yang belum dibereskan. Tendaku juga, baru saja selesai mengemas bagian dalamnya. Aku dan yang lainnya duduk di ambang tenda, malas duduk lebih dekat karena langsung kena sinar matahari. Masih lumayan di dalam sini, ada yang menghalangi sebelum sinar tersebut masuk langsung. Seperti biasa, Lana dan David nebeng di sini karena tenda mereka sudah selesai dibenahi. Sementara para panitia sibuk di dekat pengeras suara, mahasiswa lainnya juga sibuk masing-masing. Termasuk Ingkan yang bertepuk tangan heboh. “Gue yakin kelompok gue menang sih, soalnya semalem kayaknya gue ngumpulin tiga belas gitu.” Lana mendengkus. “Panteslah, lo berdua ‘kan kelompoknya awalan. Lo pada yang abisin benderanya.” “Kalah mah kalah aja, dih, gak usah julid gitu,” ejek David. Aku mengedikkan bahu. “Gue gak tau kelompok gue ngumpulin berapa, gue kabur abis ribut sama senior itu. Parahnya setelah gue inget-inget, gue ribut gara-gara bendera sih.” “Lo kabur ke mana, jir? Kalau lo ribut di pos empat, harusnya gue belum balik ke sini dan lo balik pas kita bertiga udah ngumpul.” Aku membuang muka ke luar, tanpa sengaja mengarah pada seseorang yang menemaniku semalam. Ya, enggak menemani juga sih, tapi aku yakin kalau orang yang semalem mengekor itu dia. Lelaki yang sering sekali kudapati sedang memakai bandana, kali ini berwarna biru tua. Aku memang enggak menoleh walau sadar ada yang mengawasiku di belakang, tapi mengingat Dina saja ngeh kalau Rafa ada di sana, entah kenapa membuatku geer kalau Rafa memang mengikutiku. Ya, semoga saja memang dia sih. Jauh lebih baik kalau itu memang dia dibanding orang lain yang enggak aku kenal sama sekali. “Lo sama aja kayak si David, dia juga ngilang tengah jalan. Ke mana lo? Jangan-jangan nyari semak-semak ya sama cewek?” Dari nada suaranya, Ingkan menggoda David yang aku tebak lengkap dengan seringai khas dia. “Jurit malemnya gak asik. Mending turu.” “Turu aja lo. Gimana mau cumlaude kalau kerjaannya turu.” “Wosh, lo mending bawa kaca dulu. Titisan Einstein nih, Bos, gak perlu diraguin lagi. Dia mah mau turu lama-lama otaknya masih encer, lah elu? Turu terus yang ada makin goblok.” Perdebatan Ingkan, Lana, dan David masuk telinga kiri, keluar telinga kanan karena aku enggak benar-benar menaruh atensi. Mataku sulit diajak kompromi dan betah banget mantengin bandana pemikat itu. Sumpah, lelaki yang pakai headband itu kadar kerennya tambah berkali-kali lipat. Cih, baru kali ini aku sadar kalau aku semurahan itu kalau sudah menyangkut bandana yang dipakai lelaki. Untungnya tren bandana sudah lewat sehingga aku enggak kelimpungan kepincut sana-sini. “Oke.” Suara berat Rafa kembali terdengar dari pengeras suara, menghadap ke tengah-tengah perkemahan. “Kita udah dapet kelompok mana pemenangnya yang ngumpulin jumlah bendera terbanyak. Tapi jangan kecewa yang gak menang karena kita tetep ada bingkisan kecil buat semuanya.” “Kira-kira hadiahnya apaan ya buat yang gak menang?” tanya Lana. “Cemilan buat di jalan paling,” timpalku. “Jadi, pemenangnya itu kelompok .... Dua!” “Whoooo! Menang gais!” Ingkan tepuk tangan paling heboh, jauh lebih heboh dibanding lihat cogan. “Vid, gue yang ambil ya. Sekalian mau caper sama si Rafa.” David terkekeh geli. “Ambil sana. Jangan kecewa ya kalau hadiahnya gak sesuai.” Ingkan mengibaskan rambut panjangnya, sengaja menampar wajah David. Penuh percaya diri dan seolah menguarkan semua auranya, Ingkan menghampiri Rafa dengan langkah kaki yang dibuat gemulai dan feminin. Padahal biasanya mana ada dia jalan begitu. “Dia kira lagi catwalk kali ya,” dengkus David. “Kayak gak tau temen lo aja.” Di depan sana, Ingkan tampaknya sungguh-sungguh ingin menarik perhatian Rafa. Mulai dari mengajaknya bicara secara pribadi, memepet, hingga menerima hadiah yang diserahkan langsung oleh Rafa. Ingkan biasanya akan sangat peduli apa isi hadiah yang dimenangkannya, tapi kali ini malah fokus pada sang ketuplak. Oke, Rafa memang keren. Tapi lebih keren lagi mengenai fakta bahwa Ingkan juga baru pertama kali melihatnya. Langka di mana biasanya Ingkan hafal cogan dari berbagai prodi, tapi bisa melewatkan Rafa. Perempuan itu kembali dengan senyum lebar terpatri dan pipinya yang agak memerah. David sampai merebut hadiahnya karena Ingkan tak kunjung membukanya. “Ya elah. Agenda harian? Yang gini mah gue ada setumpuk di rumah.” David melemparkan tas karton berukuran cukup besar tersebut hingga terjatuh, dua jurnal di dalamnya meluncur keluar dari tas karton. “Jatah lo buat gue aja ya,” pinta Lana. “Jangan, buat si Aci aja. Lagian buat apa lo ambil? Emangnya lo sering bikin planning gitu?” “Buat bahan pedekate biar kayak smart gitu, tapi bener deh, buat lo aja, Ci. Lo harus banyak warasnya, jadi mending bikin plan kayak gini.” “Enggak ah.” Aku mendorong buku yang disodorkan Lana. “Buat lo aja sana ambil.” Buku daily planner yang diberikan panitia jumlahnya ada enam, sejumlah dengan anggota kelompok jurit malam. Masing-masing bukunya memiliki warna sampul berbeda, tapi sepertinya memiliki model dan tebal yang sama. Enggak beda-beda banget sama agenda harian yang sering aku lihat, ada rencana harian, rencana mingguan, sampai big plan sebagai tujuan tahunan. Aku enggak bakal sabar dan rajin mengisinya dinilai dari yang sudah-sudah, paling hanya bertahan sampai lembar ke sepuluh. Selebihnya, aku sudah muak menulis apa yang akan kulakukan dan akhirnya enggak sesuai sama sekali. Saat melirik ke samping, aku terkekeh geli. “Woy! Lo gak peduli ini hadiahnya yang gini doang? Ayo mencak-mencak kayak biasa.” Ingkan betulan salah tingkah dan senyam-senyum sendiri, belum menyentuh hadiahnya sama sekali. Jangankan menyentuh, dia masih melamun dan bersemu bak baru pertama kali ditembak lelaki idamannya. Jarang sekali aku bisa mendapati Ingkan gagal menguasai diri. Aku mengguncang tubuhnya. “Lo beneran suka sama dia?” “Gak tau deh.” Ingkan tersenyum malu-malu, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. “Mencurigakan ini anak.” Lana geleng-geleng. “Jangan-jangan lo disantet lagi?” “Dih, ngapain nyantet cewek kegatelan kayak dia? Kedipin sekali juga jadi cacingan gini kan,” ujarku. “Ahh, lo mah! Tapi kayaknya gue emang pengen serius sih sama dia.” “Hajar kalo gitu.” “Permisi, ada yang namanya Kashi?” Sontak aku menoleh ke luar tenda, tersentak kaget saat namaku dipanggil oleh Rafa melalui pengeras suara. Aku yakin nama Kashi di sini hanya aku karena namanya memang kurang pasaran. Sorot mata Rafa dari depan sana juga langsung tertuju padaku. “Ada yang nungguin lo di bawah. Katanya namanya Delta.” What?! Demi apa sih Mas Delta ke sini?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD