“Seriusly? Lo?”
Tanpa memperhatikan lamat-lamat, aku tahu orang yang bilang itu pasti lagi mendelik tak suka. Ya, bukan cuma dia sih, aku juga agak dongkol dengan pembagian kelompok ini. Enggak ada seru-serunya sama sekali.
Bukannya aku sengaja mengenali, hanya saja satu orang yang suaranya sangat menyebalkan di telingaku cuma dia. Suara yang cempreng, selalu bernada tinggi, dan aksen inggrisnya yang dibuat bak kekinian—terlalu lebai. Tidak ada orang lain yang tak kusukai sama seperti rasa muakku padanya.
Bayangkan. Dari lima orang yang lain, aku cuma kenal satu orang dan itu pun enggak akrab sama sekali. Bahkan bisa dibilang, kami ini rival kecil. Makin menyebalkan mengingat Ingkan dan David satu kelompok, sementara Lana mah sudah pasti enggak keberatan sama sekali. Kesempatan besar buat ngerdus.
“Kenapa harus lo, sih? Kayak gak ada orang lain aja.”
“Kalau gue bisa minta pindah, gue juga gak mau sih sama lo. Gak usah geer lo merasa tersiksa sendiri.”
Bisa-bisanya selama dua hari ini aku enggak sadar sama sekali kalau dia ikut. Dina, adiknya Bang Dion. Ya, aku bisa menebak pertanyaan yang pastinya akan muncul saat tahu kami iparan, tetapi enggak ada akrab-akrabnya. Jangankan ada yang nyangka kami iparan, mungkin banyak yang mengira kalau kita itu punya dendam kesumat.
“Dasar stres.”
Sebelum Bang Dion nikah dengan Kak Kania, aku enggak pernah tahu ada orang yang namanya Dina dari Ilmu Komunikasi, FISIP. Pertemuan pertama kami saat hari pernikahan—yang mana keluarga Bang Dion sempat kurang suka dengan keluargaku. Walau sekarang hubungan kedua keluarga sudah jauh lebih baik, enggak berlaku buat aku dan Dina.
Jangankan berharap hari-hari setelahnya kami akan akrab, Dina sudah menunjukkan ketidaksukaannya padaku di hari pertama kami bertemu.
Harapanku punya saudari baru yang akrab pupus sudah begitu tahu Dina orangnya seperti apa. Enggak ada ramah-ramahnya denganku, tapi lengket banget sama Kak Kania. Ambil sana, ikhlas dengan sepenuh hati aku akan memberikannya.
Aku mengambil satu langkah menjauh darinya, sayangnya tidak bisa jauh-jauh. Di sisiku ada kelompok sebelah dan sudah mepet. Sialnya, kenapa coba aku harus mengambil posisi paling belakang dan berakhir di sampingnya?
“Lain kali punya kakak tuh dijaga, bukan dibikin nangis. Orang lagi hamil bukannya disenengin malah dibikin stres. Soal baso sama kripik aja langsung kabur. Lo mau jabang bayinya kenapa-napa? Tega amat sama kakak sendiri.”
Aku cuma bisa hela napas super panjang dan super dalam. “Kalo gitu, kenapa gak lo dateng tiap hari aja dan jadi mbaknya kakak gue? Nyokap gue suka tinggalin dia aja gak rempong kayak lo. Bokap gue juga udah tau kalau gue sama dia sering ribut, gak pernah tegur gue kayak lo.”
Keempat orang lainnya di kelompok kami cuma diam, apalagi si ketua membagi fokusnya pada peta yang diberikan panitia. Mungkin beberapa orang di kelompok lain juga mendengar adu bacot kami, tapi apa aku peduli? Jangan harap. Aku enggak akan kalah adu bacot kalau sama ini makhluk.
Beberapa minggu terakhir aku baru tahu kalau Kak Kania sering curhat ke adik iparnya ini. Yang mungkin enggak disangka, Dina ini selalu menyampaikan balik semua keluhan Kak Kania padaku dengan ucapan pedasnya. Entah apa dia pernah lapor juga ke Bang Dion, tapi Bang Dion enggak pernah negur.
Apa yang diharapkan dari pembangkang Kashi? Ya, aku tegur balik Kak Kania buat ngomong dipilih-pilih dulu. Aku enggak melarangnya curhat, masa bodo, asal jangan ke orang yang aku kenal kayak si Dina ini. Kami di semester yang sama dan aku males banget kalau nantinya ada gosip enggak jelas, apalagi kalau tahu kami ini iparan yang lebih sering enggak akur.
Geez, enggak banget harus ribut masalah ginian—walau kenyataannya sekarang kita lagi ribut.
“Pantes. Keluarga toksik kayak lo akhirnya Kak Kania cari kesenangan di luar rumah.”
“Iya, contohnya HS sampe kebablasan sama abang lo ya?”
“Cih, gue denger juga lo nikah sama bekas kakak lo. Jangan-jangan lo yang nikung duluan lagi? Makanya kakak lo lebih milih abang gue dibanding tunangannya. Enggak heran sih kalau gitu, gue juga ogah punya adik kayak lo.”
“Gue jug—”
“Guys! Plis fokus, jurit malamnya bentar lagi mulai.” Lelaki yang ditunjuk sebagai ketua itu memotong ucapanku—yang sebenarnya aku syukuri. Setiap kali berdebat dengan medusa yang satu ini, aku memang susah mengontrol diri.
“Kalian harus tau kalau nanti kita bakal jalan di pinggir bukit yang cukup kecil aksesnya. Gue harap kalian semua hati-hati, jangan terlalu mikirin kemenangan. Keselamatan yang lebih utama,” kata si ketua.
“Jalannya seberapa jauh?”
“Enggak jauh sih, cuma keliling sekitar sini, tapi kita bakal ngelewatin rute yang sama buat dateng ke pos-pos berurutan. Jadi ya tetep aja bakal lama, sih, mungkin selesai jam dua atau tiga karena kita terakhiran.”
Di tengah-tengah diskusi anggota yang lain dengan si ketua, aku sempat-sempatnya bertukar pandang dengan Rafa. Tentu saja lelaki itu tidak memiliki kelompok makanya berdiri di tengah-tengah. Sialan, bisa-bisanya dia senyum sampai kelihatan lesungnya begitu.
Aku harus akui kalau menjadi Ingkan susah juga. Dia bisa mengerlingkan mata ke lelaki mana pun, tapi aku sudah grogi hanya karena dilempar senyum. Kira-kira ini benar-benar grogi karena Rafa atau aku merasa tabu karena sudah menikah, ya?
“Ehm!” Aku berdeham, berusaha melupakan apa yang terjadi barusan. “Jadi, berapa bendera yang harus dikumpulin?”
“Semuanya ada tujuh per posko, tapi ada bendera lain juga yang disebar secara sembunyi-sembunyi. Kita kurang bisa berharap sama posko karena kalau mau menang, kita juga harus nemu bendera yang disebar. Kalau kita dapet tujuh, sama aja kalah karena tujuh itu udah pasti paling sedikit.”
“Gue sih bodo amat karena hadiahnya enggak dikasih tau apaan. Ntar udah susah-susah ngumpulin, eh ternyata hadiahnya enggak worth it.”
“Dih, yang nanya lo juga enggak ada.”
“Hellow, gue bisa ngomong tanpa ada yang tanya, kali.”
“Udah, cukup. Gue gak tau ya ada masalah apa di antara kalian, tapi kita harus fokus. Ini tengah malem dan di tempat yang enggak familiar, bisa bahaya banget. Gue mohon kali ini, malem ini aja, kalian akur dulu. Toh abis jurit malam ini kita enggak akan berurusan lagi. Oke?”
Di tengah remang-remangnya malam, aku dan Dina saling mendelik. Entah ada berapa pasang mata yang melihat kami, aku hanya berharap teman-temanku enggak tahu. Ya, aku belum memberi tahu soal Dina ini pada mereka. Aneh juga sih, enggak biasanya aku melupakan curhat penting pada mereka.
Bisa ngamuk Ingkan kalau ketinggalan kabar seeksklusif ini, apalagi melewatkan musuh empuk seperti Dina. Aku memang enggak suka sama Dina, tapi aku juga enggak mau dia sampai di-bully Ingkan hanya karena aku.
“Semuanya udah dapet kelompok sama peta, kan?” Suara Rafa kembali terdengar di pengeras suara. “Kalau begitu, gue minta semuanya tertib. Jalannya cukup kecil nanti dan di sisinya jalannya menjorok, gue enggak mau terjadi hal-hal yang gak diinginkan. Lomba ini cuma buat seru-seruan, jangan terlalu dianggap serius.”
“Kelompok yang paling depan, silakan jalan duluan mengikuti Kak Dika.”
“Guys, pegangan tangan sama orang di samping kalian ya. Supaya kita enggak kepisah.”
Aku mendelik ke kanan, yang ada malah beringsut menjauh. “Gue pengen tuker pasangan aja. Gue enggak mau pegangan sama dia.”
Sama Dina? Bagus, hari terakhir kamping ini malah menjadi momen yang sangat menyebalkan. Dengan adanya perempuan satu itu, semua sisi jelekku pasti akan keluar. Heran, aku bisa sangat dekat dengan kakaknya, tapi sulit buat dekat sama dia.
Mungkin kapan-kapan aku juga harus mengadu tentang Dina ke Bang Dion karena kalau ke Kak Kania sama aja bohong.
“Lah, lo pikir gue mau? Mending gue enggak punya pasangan dibanding sama lo.”
“Jalannya sempit kalau dipake tuker pasangan. Yang ada aja sekarang, lagian kita ada di belakang. Enggak usah buru-buru nantinya.
“Ya, ya, santai aja.”
Selama kami jalan menuju pos pertama, tidak sedikit pun aku mau berdekatan, apalagi berpegangan dengan adik baru kakakku itu. Ciri wajahnya juga khas sekali seperti orang yang sangat pandai membuat orang lain kesal, tipe seseorang yang selalu kuhindari.
Sungguh ironi. Jurit malam pertamaku malah ditemani setan sungguhan.
***
“Jangan pegang-pegang gue.”
“Ya namanya juga kepepet. Emangnya lo mau tuker tempat sama gue?”
“Dih, ogah.”
“Ya makanya jangan banyak bacot deh. Udah tau samping gue langsung turunan gini. Lo mau gue celaka?”
Dina tidak membalasku lagi, membuang mukanya ke arah lain. Beneran deh, aku juga terpaksa banget harus pegangan sama dia karena sebelah kanan langsung menjorok ke turunan tanah yang di bawahnya kebun warga. Pasti sakitlah kalau sampai jatuh, belum lagi harus merusak kebun.
Empat orang di depanku juga kayaknya udah bosen dengar keributan aku sama Dina, si ketua juga enggak menegur lagi. Posisi kami sedang menunggu kelompok berikutnya selesai di pos empat, masih setengah jalan sampai menyelesaikan jurit malam. Ugh, kayaknya Ingkan, David, sama Lana udah sampai pos terakhir, atau malah udah beres jurit malamnya.
Tiga kali lipat menyebalkan.
“Lama amat sih,” gerutu entah siapa dari depan. “Gue tidur juga nih di sini.”
“Tau. Kayaknya mereka lagi bersemedi.”
Tengah malam, tengah hutan, di sebelah musuh. Perpaduan yang sangat pas untuk mengutuk kenapa aku ada di sini. Hari-hari kemarin padahal sudah kunobatkan sebagai hari liburan yang paling sempurna, tapi malah dikacaukan oleh hari terakhir. Padahal entah kapan lagi aku bisa mendapatkan hari liburan yang sangat damai tanpa gangguan dari Mas Del—
“Mas Delta?”
Refleks aku meraba-raba kantong celanaku, menarik keluar ponsel yang hampir seharian ini tidak kupakai. Baterainya masih banyak, bahkan aku lupa kapan terakhir kali mengisi daya. Ya, seperti yang seharusnya, tidak ada apa pun karena sejak terakhir kali Mas Delta menelepon, aku menghidupkan mode pesawat. Tidak ada SMS atau telepon.
Hm. Bagaimana ya keadaannya tanpa aku selama beberapa hari ini? Apa dia masih marah dengan persoalan yang terakhir kali?
“Pak ketu, eh, siapa nama lo tadi?”
“Leon.”
“Leon, kita bakal turun enggak nanti?”
Lelaki itu menunduk, membuka gulungan peta yang tidak lepas dari genggamannya bak itu adalah peta harta karun. Padahal dia sudah melihatnya sejak tadi, tapi tidak hafal juga. Senternya diarahkan ke kertas tersebut.
“Ya, nanti kita bakal turun sedikit sih, tapi paling sampe seperempat jalan. Kenapa emangnya?”
“Kira-kira di sana ada sinyalnya enggak ya?”
“Gue kurang tau sih, ntar lo cek aja. Ada apa emangnya? Ada keadaan darurat?”
Aku membasahi bibirku. “Enggak ada, cuma tanya.”
Tanpa bisa diatur, kini aku mulai menunggu saat kami turun dari perbukitan. Bukan berharap banyak bahwa Mas Delta akan mengirimkan pesan-pesan yang penuh dengan perhatian, paling tidak hanya ingin tahu apa dia memang tidak sepeduli itu padaku? Apa memang dia tak ada waktu untuk merasa marah dengan perseteruan terakhir kami?
Untuk pertama kalinya, aku malah berharap akan dimarahi dan berujung ribut. Lebih baik seperti itu karena dengan Mas Delta, aku enggak akan kelepasan seperti pada Dina.
“Diem lo sekarang,” sinis Dina.
Aku mendengkus, “Gue ngomong salah, diem juga salah. Mau lo emang ngajak ribut, ya?”
“Kali aja lo kemasukan setan, ‘kan enggak lucu kalo tiba-tiba lo dorong gue ke bawah sana.”
“Serah lo, deh. Gue enggak mau ngatur hak lo buat ngomong kek buat diem kek. Yang jelas gue udah males ribut. Kalo mau ribut, sana sama penunggu pohon aja.”
“Lo kalo ngomong jangan sompral, ya. Sembarangan banget.”
“Kelompok selanjutnya!”
Bagian kami maju dari tengah jalan setapak, menghadap beberapa panitia yang sudah memasang wajah sangar. Ya, sebelas dua belas sama panitia yang sedang melantik anggota organisasi untuk menguji niat. Tapi terkesan berlebihan, kita ‘kan cuma seru-seruan, bukan anggota organisasi dan orang-orang ini hanya panitia acara, bukan senior organisasi.
Kami berdiri berjajar di depan mereka, menunggu tiga orang panitia itu mempersiapkan posko.
“Ketuanya yang mana?”
“Saya.” Leon maju selangkah.
“Udah dapet berapa bendera?”
“Tiga.”
“Tiga? Jadi kalian enggak nemu bendera selain yang dikasih dari posko?”
“Enggak ada. Udah abis sama kelompok lain kali,” celetuk seseorang di antara kelompokku.
Salah satu panitia itu terkekeh mengejek. “Kalian jadi mahasiswa enggak ada semangat sama sekali, ya? Pasrah aja gitu, usahanya enggak ada sama sekali. Kualitas mahasiswa kayak kalian lembek banget, nanti sekali bentak di kerjaan bakal langsung down.”
“g****k banget sih yang kayak gitu juga gak ngerti. Kalian ini gak sadar kalau ini itu kayak persaingan di dunia kerja nanti? Yang kayak gini aja harus dikasih tau. Kalian tuh harus tau ada yang namanya hukum rimba. Yang superior bakal bertahan.”
“Kalau kalian kayak gini terus, kalian bakal jadi orang gagal nanti ke depannya.”
Aku mendengkus pelan di belakang. Kalau Ingkan satu kelompok denganku, dia pasti akan membalas ucapan panitia itu sama pedasnya, bahkan mungkin lebih sadis. Tahu sendiri perempuan yang satu itu memang kesenangannya adu bacot, akan melayani dengan senang hati siapa pun yang mau berdebat dengannya.
Sayangnya, yang ada di kelompokku hanya Dina. Dia emang nyablak, tapi enggak seliar Ingkan kalau dalam hal memberontak. Dia cuma berani padaku.
“Nanti di depan kita cari lagi. Lagian kalau emang benderanya enggak ada gimana dong? Lima kelompok di depan kita juga pasti punya mata buat ngeliat kalau ada bendera dan langsung diambil,” balasku.
Panitia yang tadi nyolot pada Leon menggeser badannya hingga berada tepat di depanku. “Oh, lo jagoannya di sini? Terus kenapa lo enggak ada usaha sama sekali buat ngumpulin bendera yang lainnya?”
“Udah dibilang bendaranya enggak ada ya mau gimana? Gue enggak gila ya buat fokus nyari bendera di saat pinggir gue langsung turunan curam. Lagian lo itu cuma panitia acara, perlu lo nyolot kayak gini? Biar apa, hah?”
Dina menyikut. “Heh, lo apaan si? Jangan cari ribut, sat,” bisiknya.
Untuk sejenak, aku dan panitia itu sama-sama bungkam. Woah! Jangankan orang lain, aku saja enggak menyangka pada diriku sendiri, sumpah! Dorongan untuk membalasnya timbul begitu saja karena gerah sekali mendengarnya. Kata-kata itu juga meluncur bebas tanpa ada waktu untuk direncanakan.
Apa jangan-jangan aku udah ahli debat karena terbiasa sama Ingkan dan Kak Kania? Ah, tapi kalau dari mereka berdua, aku masih banyak kalahnya. Aku tetap yakin kalau Ingkan bisa membungkam panitia ini dengan sekali slap.
Salah satu panitia lelaki menarik panitia yang sedang berhadapan denganku. “Udah, Ken, jangan serius amat. Inget kata Rafa, ini buat seru-seruan doang. Ketua, sini maju lo.”
Aku dan panitia tadi masih saling lirik tajam, belum melepaskan satu sama lain semudah itu. Aku harus ingat wajahnya untuk nanti ditanyakan pada Ingkan, siapa tau dia kenal. Ya, hanya sekadar ingin tahu panitia itu senior atau satu angkatan.
Kalau senior, mungkin aku akan menurunkan egoku sedikit dan minta maaf nanti. Jaga nama baik dan koneksi.
Harus kuakui perseteruan kecil antara aku dan panitia tadi menghasilkan suasana yang agak canggung. Apalagi kayaknya panitia juga sama dongkolnya denganku—atau dengan kelompok kami sekalian.
“Oke, jadi untuk posko kali ini, kita main game seru-seruan aja. Kalian tau ‘kan ini apa?” Panitia itu mengacungkan sebuah biskuit coklat yang cukup terkenal. “Gue gak mau tau gimana caranya, biskuit ini harus kebagian buat kalian semua.”
Ya, ya, terserahlah. Sudah biasa sekali. Pelantikan di ekstrakulikuler dulu jauh lebih tidak manusiawi jadi ya ini bukan hal baru. Wajar sih dalam taraf yang sangat biasa, toh memang niatnya ‘kan murni main-main, bukan pelantikan sesungguhnya.
“Mulai dari lo.”
Leon menerima sekeping biskuit itu, menyenterinya beberapa saat sebelum menggigit bagian kiri, sangat sedikit. Mungkin malah dia tidak makan sama sekali, hanya mengambil kepingan coklatnya.
Dari Leon, terus digigit oleh orang yang di sampingnya, terus hingga akhirnya sampai ke Dina. Jujur saja, aku udah ogah-ogahan menyelesaikan jurit malam ini. Mulanya sesuai ekspektasi, ternyata ujung-ujungnya tidak lebih dari momen uji kesabaran.
Sisa biskuit yang sampai padaku hanya sebagian kecil, sangat kecil hingga sekali kunyah saja akan hilang. “Udah gue ‘kan yang terakhir?” Aku langsung melahap habis biskuit tersebut, enggak menyembunyikan wajah sebal.
“Loh, harusnya ‘kan gak gitu. Lo jangan—“
Panitia yang tadi ribut denganku enggak jadi melanjutkan apa yang mau dikatakannya karena panitia lelaki yang tadi memberi perintah menggeleng pelan. “Ya udah, kalau gitu kalian lanjut, ambil benderanya. Jangan lupa cari bendera lain di tengah jalan.”
Begitu doang? Membosankan sekali.
Masa bodo dengan formasi sebelumnya, aku mendahului semua orang dan berjalan paling depan. Aku mengikuti jalan setapak dan panah-panah merah yang dipasang di beberapa pohon besar, malas menunggu yang lainnya atau si ketua. Yang benar saja, ini sudah hampir jam setengah empat dan masih ada beberapa posko yang belum.
Ingatkan aku. Lain kali, sebaiknya berpikir dua kali jika mau ikut jurit malam.
Aku merasakan tarikan dari belakang, tidak, mungkin tepatnya sentakan karena tubuhku sengaja dihempas. Oh, ya, siapa lagi kalau bukan Dina yang berani ngajak ribut.
“Lo apa-apaan sih tadi? Pake segala ngajak ribut sama senior. Mau sok jagoan lo?”
Raut wajahku masih kaku, enggan menampakkan emosi. Entah Dina bisa melihatnya atau tidak, tapi aku menyorotnya dengan tatapan paling dingin dan datar. Oh, ternyata panitia tadi senior. Hm, aku jadi tidak yakin harus minta maaf padanya atau tidak.
Anggota kelompok yang lain hanya memperhatikan kami di belakang Dina. Aku bisa melihatnya langsung karena aku memang menghadap pada mereka—dan juga Dina. Dari ekspresi mereka, bisa ditebak kalau mereka tidak mau ikut campur.
“Menurut gue dia udah keterlaluan jadi panitianya. Denger, dia cuma panitia acara, bukan panitia ospek atau organisasi. Marah-marah kayak gitu enggak diperluin.”
“Harus gitu lo sampe segitunya? Mau caper sama senior-senior tadi, sama Rafa juga?”
Aku enggak mengerti sebenarnya kenapa Dina marah, rasanya berlebihan marah hanya karena aku melawan panitia tadi. Malahan aku ‘kan bisa dibilang membela kelompok. Apa hanya aku saja yang menganggap perkataan panitia tadi keterlaluan?
Lagian, emangnya Rafa ada di sana tadi?
“Caper apaan sih? Buat apaan gue caper, hah?”
“Ya buat nyari cowok baru lah. Laki lo ‘kan belum move on dari kakak lo.”
Aku bungkam, sepenuhnya terkatup. Perkataannya seolah menamparku lebih dari semua ucapan sinis yang sudah dia katakan.
Kenyataan bahwa kami tidak dekat sama sekali, bahkan cerita tentang rumah tanggaku hanya Ingkan, David, dan Lana saja yang tahu. Lebih dari aneh, aku merasa ngeri. Dina saja yang merupakan orang asing bisa mengetahuinya, bagaimana bisa Kak Kania terus menepis semua perhatian Mas Delta sebagai kekasih yang gagal move on?
“Diem ‘kan lo?”
Tak ada satu pun kata yang aku ucapkan, hanya tatapan mataku yang berbicara. Bingung harus berkata apa karena Dina benar. Mas Delta—suamiku—masih menjadi milik kakakku.
“Woy! Kalian enggak mau maju?”
Aku berbalik, terus melangkah hingga nyaris berlari diiringi sorot senter. Masa bodo sama sisa jurit malam atau hadiahnya, enggak peduli. Aku sempat dengar ada yang memanggil, tapi aku enggak berhenti. Ke mana saja, aku ingin sendiri dulu.
Dasar lemah, Kashi. Kamu belum terbiasa juga sama fakta kalau rumah tangga kamu itu toxic.
“Sialan, b*****t, setan lo semua. Gue emang gak berharga buat siapa pun.”
Masih ada sedikit rasa syukur bahwa aku enggak kesasar. Berjalan tanpa arah, kenyataannya aku berhasil kembali ke area perkemahan. Boro-boro ingat jalan pulang, aku hanya ingin melampiaskan perasaanku yang campur aduk dengan menyiksa kakiku.
Aku terus melangkah, melewati area perkemahan dan tendaku sendiri. Beberapa lelaki, kayaknya panitia, berjaga di jalan menuju ke bawah. Mereka duduk di kanan dan kiri jalan samping kebun, salah satunya menegur. “Eh, lo mau ke mana? Lo enggak boleh ke bawah.”
“Gue enggak ke bawah.”
Meski begitu, aku tetap berjalan lurus—menuruni jalan. Entahlah, aku juga enggak tahu sebenarnya aku mau ke mana. Kejadian tadi sangat mengguncang.
Ah, sebenarnya bukan kejadian tadi atau karena ucapan Dina. Aku hancur oleh pikiranku sendiri.
“Oy, dibilang jangan—”
“Gak apa-apa, gue bakal ikutin dia.”
Mengetahui ada yang ikut di belakangku, aku enggak tertarik buat sekadar menoleh dan cari tahu siapa dia. Suaranya agak familiar, tapi aku enggak bakat membedakan suara lelaki. Ya, sekali lagi, masa bodo.
Pipiku rasanya memerah karena udara yang sangat dingin ini menusuk langsung ke dalam jaketku. Langit masih gelap, belum terlihat matahari sama sekali. Adzan subuh juga belum ada yang berkumandang.
Di tengah jalan menurun, aku duduk di sebuah batu cukup besar samping jalan yang diterangi banyak obor. Udara dingin meluncur bebas terhirup, kelewat segar. Sayangnya seberapa pun dingin udara saat ini, kepalaku malah panas karena emosi.
“Apa aku emang senaif itu? Berharap dia ngeliat aku sama kayak dia ngeliat kakak?”
Kutarik keluar ponselku yang menunjukkan adanya beberapa bar sinyal saat mode pesawatnya dimatikan. Akses internet tidak kumatikan sejak awal, makanya beberapa notifikasi langsung masuk walau butuh beberapa saat mengingat sinyal yang tidak begitu bagus. Satu per satu, ruang pesan yang kutatap lamat-lamat tidak juga menunjukkan adanya perubahan.
Mas Delta tidak berusaha menghubungiku sama sekali.
Aku tersenyum kecil. “Menyedihkan. Jangan ngarep kayak gini deh, nyet.”