Enam; Satu Hari

4511 Words
Baca ulang ya, ada yang diubah. *** Jadi begini rasanya tidur di alam. Tahu begini, harusnya aku lebih banyak ikut acara luar ruangan, minimal bisa mengadakan sendiri. Suasana malam dan siang jelas berbeda, apalagi disuguhi langit seperti ini. Sekarang sudah larut, jam sepuluh atau jam sebelas. Entahlah, aku tidak mengenakan jam tangan atau membawa ponsel. Tidak ada sinyal begini rasanya tidak berguna. Bahkan baterainya masih di angka 90% karena jarang aku gunakan. Nyaris semua tenda sudah tertutup sih, kecuali tenda khusus lelaki di belakang yang sedang berjaga. Mereka berisik, mungkin main permainan kartu atau sekadar nyanyi-nyanyi dengan gitar. Cukup jauh jadi aku tidak terganggu menikmati langit seolah milikku sendiri dengan lampu-lampu di bawah sana. “Gak bisa tidur?” Aku terperanjat, lumayan kaget karena tiba-tiba ada yang ngomong. Dikira semuanya sudah pada tidur di sini. “Oh, tadi abis makan mi sih jadinya susah buat tidur, masih kenyang.” “Gak takut di sini sendirian? Banyak nyamuk juga.” Lelaki itu, Rafa, berdiri di sampingku dan memainkan senternya. Cahayanya kedap-kedip ke langit. “Ngapain harus takut? Hantu doang mah, masih lebih serem manusia beneran kali. Lagian gak bisa setiap hari gue ngeliat bintang kayak gini.” “Boleh gue gabung? Yang lainnya juga ada di belakang sih lagi pada jaga. Cuma di sana langitnya ketutup pohon.” Sebenarnya malas. Rafa sudah tahu aku menikah dan dia pasti akan menyinggungnya sesekali. Menyebalkan sekali, lihat saja bagaimana ayahnya dan ibunya yang juga menikah. Sama saja. “Gabung aja sih, gue gak berhak ngelarang juga.” Aku bergeser sedikit, menyisakan ruang di atas batang pohon yang kududuki. Tidak terjamin bersih sih, setidaknya kering dan tidak bertanah. Dari sekian banyak orang, kenapa harus Rafa yang duduk di sampingku? Oke, bukannya mengharapkan orang lain, hanya saja ada puluhan orang di sini. Aneh saja kalau kami harus bertemu lebih dari sekali padahal sebelumnya tidak saling kenal sama sekali. Lagian dibanding nongkrong begini, aku pikir Rafa akan tidur lebih awal karena seharian sangat sibuk mengurus banyak hal. Lelaki itu kelihatannya tidak beristirahat sama sekali. Dan lagi, besok dia juga pasti sama sibuknya, apalagi mempersiapkan malam terakhir yang katanya selalu paling seru. Rafa meniup kedua telapak tangannya dan menggosok-gosok, kemudian ditempelkan ke pipi. “Jadi, gimana rasanya nikah?” Ck, andai saja dia bisa melihat bagaimana aku memutar bola mata. “Gimana apanya?” “Maksudnya ya pasti ada bedanya dong sama pacaran biasa. Pasti ‘kan ada bedanya pas lo masih sendiri sama udah punya suami.” “Kalo udah nikah, gue gak tidur sendiri lagi. Gitu maksudnya?” “Lupain aja.” Dia berdeham. “Suami lo itu—” “Sorry banget nih ya, tapi bisa gak kita gak usah bahas rumah tangga gue? Gue di sini pengen healing, ngelupain semuanya yang ada di Jakarta sebentar aja. Percuma kalau di sini gue juga harus bahas-bahas dia.” “Lo ... lagi gak akur?” Aku meliriknya tajam, entah bagaimana dia mengartikannya. Yang jelas Rafa mengangguk-angguk pelan dan berkata, “Terserah lo mau jawab atau enggak, tapi lo bisa cerita ke gue kalau butuh orang buat ngeluh.” “Cih, tentang suami gue? Tenang, gue punya tiga temen yang siap ikut julidin suami gue kalau gue lagi kesel sama dia.” “Kayaknya pertemanan kalian asik ya? Gue jadi pengen gabung.” “Sorry, kita gak buka pendaftaran. Dua orang gila aja udah cukup.” Rafa terkekeh. Sialan, kekehan lelaki dengan suara berat begitu sangat menarik. “Kalo gitu, bisa dong gue jadi temen lo?” Aku berdeham keras, mengenyahkan semua pikiran tentang orang di sebelahku itu. Kashi, ingat kamu sudah jadi istri orang lain. “Sejak kapan lo, maksudnya kita jadi deket begini?” “Sejak lo nungguin temen lo? Emangnya harus banget inget kapan mulainya? Kita bisa deket kapan aja.” “Serah lo deh. Keknya emang dasar semua cowok itu kerdus, gampang banget ngomongnya.” “Suami lo gitu juga dong?” Aku meliriknya lagi dengan tatapan yang sama. “Bercanda.” Sepertinya lelaki pintar memang payah dalam memulai atau merespons percakapan. Satu topik berulang-ulang akan membosankan, tidak seru lagi. Aku sudah mengatakan jangan mengungkit suamiku dan dia melakukannya lagi. Oke, tampang menarik tidak menjadi jaminan sikapnya juga. Berarti apa yang dibilang teman-teman kelasku di setiap sesi hanyalah bualan dan dilebih-lebihkan. Kupikir seorang Rafael akan sekeren Bright, minimal tampangnya mendekati. Ya memang sih masih tampan, cuma ekspektasiku kejauhan. Momen romantis begini rasanya sayang dilalui dengan orang asing, tetapi aku tak akan berharap aku melihatnya bersama Mas Delta. Hello, jika berkemah, dia pasti melibatkan Kak Kania. Males banget. “Udah kepikiran mau magang di mana?” Ya ampun, horor sekali. “Ngapain dipikirin sekarang? Masih lama lagi.” “Seenggaknya udah ada gambaran dong mau di mana. Di Jakarta aja atau luar kota.” Hm, luar kota terdengar menyenangkan. Beberapa bulan tanpa Mas Delta atau kakakku, hanya aku dan tugas-tugas. Tempat baru, pengalaman baru, kenalan baru. Kalau dipikir-pikir, tidak buruk juga menantikan magang. Ya, terlepas dari segala keribetannya. “Gue sih pengennya di luar kota, tapi gak tau deh. Gak pernah jauh dari rumah soalnya.” “Lo ‘kan udah sama suami lo.” “Ya tapi kan tetep aja bonyok, keluarga gue ada di kota yang sama. Gampang kalau ada apa-apa. Lagian gue juga gak punya banyak sodara di luar Jakarta. Paling gue nebeng sama Lana aja kali ya kalo ke luar kota?” “Kalo gitu kenapa gak di Jakarta aja? Magang doang ‘kan. KKN baru bisa jauh.” Aku berdecak pelan. Lah, dia yang pertama bawa-bawa luar kota dan membangkitkan imajinasiku. “Kalo bisa nawar sih gue juga pengen di Jakarta aja. Kayak gak ada masyarakat yang harus dibantu aja.” “Di Jakarta sih sama-sama aja kulturnya. Di daerah lain ‘kan kita bisa belajar budaya yang gak kita tahu.” “Emang ya ngomong sama orang yang gak sefrekuensi itu susah, apalagi orang pinter kayak lo.” “Gue gak gitu pinter kok. Kalo gue disuruh ngerjain kuis dari matkul lo ya gue gak bakal paham.” “Tapi lo harus sadar itung-itungan itu matkul yang paling banyak dihindari mahasiswa.” “Well, kalo gitu gak banyak yang sefrekuensi sama gue.” Benar juga, aku jarang sekali melihatnya bersama seseorang yang itu-itu saja seperti sahabat. Jika ada yang menemaninya, rata-rata orangnya beda-beda. Kayaknya aku pernah melihatnya bersama wajah-wajah penting seperti orang-orang yang terkenal cerdas di angkatanku atau pentolan BEM. Ck. Orang ganteng ‘kan memang tak jarang sering sendirian. Mungkin lelaki lain insecure atau ada gebetannya yang malah suka sama Rafa. “Kenapa lo mau-maunya ngurus acara kayak ginian, bukannya belajar aja? Emangnya yang kayak ginian dapet nilai plus?” “Gue gak cari tau sih, tapi udah sepengetahuan kaprodi sama dekan juga buat laporan doang. Jaga-jaga aja, takutnya ada kejadian apa gitu.” Aku meringis. “Kayaknya lo gampang deket sama orang penting ya? Sama semua dosen aja gue malu buat negur kalo ketemu di luar kelas.” “Bukan gue yang pengen kenal duluan sih. Kadang capek juga kalo dosen atau kaprodi apa-apa manggil gue. Emang sih jadi nilai tambah, tapi gue gak segila itu nyari nilai.” “Apalagi kalo lo ikut organisasi kayak HIMA atau BEM. Padahal lo cocok sih. Kalo yang gak tau pasti ngira lo ikut dua-duanya.” “Gak tertarik, organisasi kayak gitu gak cocok buat gue. Nanti yang ada gue kepaksa aja gitu, gak enjoy sama sekali.” Aku mengangguk-angguk, membenarkan. Syukurlah, mendengar orang pintar seperti dia punya pikiran begitu membuatku merasa aman tidak ikut organisasi penting. Lagian SMP sama SMA juga sudah puas dengan ekstrakulikuler, hanya lebih serius di sini saja mungkin. Terdengar suara ritsleting terbuka. Aku tidak mau menoleh untuk melihat tenda mana, malas juga sih. Apalagi dengan posisinya aku bersama Rafa, jangan sampai menimbulkan sesuatu. ‘Kan enggak lucu kalau nanti pacarnya ngamuk mengira aku ingin merebut Rafa atau semacamnya. “Ci, lo masih di sini?” Mendengar suara serak itu, aku menoleh. Wajah bantal Lana tampak masih mengantuk dan menguap besar, bahkan rambutnya yang biasa ditata dengan gel rambut berantakan seperti singa. “Eh elo, Raf. Dari tadi nemenin Aci?” “Sekalian ngiter buat bagian jaga, bosen juga kalau di belakang mulu. Kebetulan aja liat Aci belum tidur. Lo sendiri kebangun apa gimana?” “Hm. Si David nyiksa gue tidurnya, kagak bisa diem.” Lana duduk di karpet depan tenda, melamun. Disebutnya sih sedang mengumpulkan nyawa. Sedangkan Rafa malah berdiri dan menepuk-nepuk celananya, menyalakan senter dan mengarahkannya ke jalanan di bawah. Lampu-lampu obor di antara perkebunan itu menambah cantik suasana malam. “Banyak-banyakin tidur. Besok bagian lo yang jaga, ditambah kita bakal ada jurit malam,” katanya pada Lana. “Kok gue gak tau bakal ada acara kayak gituan?” protesku karena sekali lagi, Lana tidak memberi tahu jadwal kasar tentang menginap hari ini. Aku membalikkan badan dengan tetap duduk di tempat. “Kenapa? Lo takut?” “Ngapain harus takut? Lebih serem lo tau gak sih?” Lana melihat arlojinya, mengerjap-ngerjap beberapa kali dan mendekatkannya ke mata. “Ci, lo tidur gih, udah jam sebelas. Masa di gunung kayak gini lo mau begadang juga sih?” “Hm. Ya udah, Raf, gue masuk dulu ya. Lan, kalo lo mau make kompor, jangan lupa pastiin kompornya udah mati.” “Iyaa. Ntar kalo gue pengen ngopi baru gue pake. Dah lo sana tidur.” *** Begitu aku kembali dari toilet yang letaknya di bawah, area perkemahan sudah berisik dengan suara dari sound system. Lagu-lagu yang lagi naik daun sampai dangdut diputar cukup lama, mungkin sekalian cek suara. Ingkan belum bangun saat aku kembali, tadi aku pergi dengan tiga orang lain yang nebeng di tendaku. Kalau tidak salah mereka anak ilkom. Lapangan luas yang semalam dipakai acara seru-seruan kini diisi dengan orang-orang yang berbaris. Ada yang sudah ganti baju dengan baju yang cocok untuk olahraga, ada juga yang pakai baju tidur semalam. Aku tipe kedua karena baju tidurku bukan piama, tidak kelihatan. Sejak kemarin, aku menghindar dari kemungkinan mendapat pesan atau telepon dari Mas Delta dengan mengaktifkan mode pesawat. Ya, meski kemungkinannya sangat kecil kalau Mas Delta peduli. Aku dan Ingkan lebih dulu keluar dari tenda sementara David dan Lana belum kelihatan. Kami tidak bergabung dengan barisan, berkumpul saja di belakang dengan beberapa mahasiswi yang lain. Lagu sudah diputar, tetapi belum ada instruktur di depan sana. “Senam pagi? Kayak anak SD aja dih. Mana lagunya beginian, gak cocok banget. Bisa request aja gak sih? Atau gue yang jadi instrukturnya kagak ngapa dah daripada begini.” Seseorang menoyor Ingkan dari belakang. “Ya elah, nenek lampir. Tibang senam doang berisik amat. Kalo lo kagak mau senam ke belakang aja sana, gue lagi mau PDKT nih,” dengkus Lana tiba-tiba sudah ada di belakang kami. David juga ada di sini ternyata. “Aelah, s***p. Yang dipikirin doi mulu, dasar kerdus.” “Dah lah ye, gue mau beraksi dulu.” Lana yang pasalnya tinggi merangsek di antara barisan sambil menoleh, mencari gebetannya. Entah mau apa dia, mungkin menjalankan jurus buaya daratnya yang lain. Orang-orang di depanku mulai mengikuti gerakan. Ya, jujur saja aku cukup pendek sampai tidak kelihatan ke depan sana. Aku harus menaiki batu cukup besar untuk bisa melihat ke depan sana. Instrukturnya seorang perempuan cantik, mungkin salah satu anggota organisasi tari. Ada Rafa juga ikut senam di depan sana. “Terus kita gimana nih?” gerutu Ingkan. “Apanya yang gimana? Ya ikut senamlah. Kapan lagi kita bisa gerak pagi kayak gini?” David mengikuti gerakan orang di depan meski kurang bersemangat dan bertenaga. Seolah memegang prinsip yang penting gerak. “Aduhh, gue belum skincare pagi. Males banget deh. Kita cabut aja yuk, Ci, toh ini gak bakal masuk nilai juga.” “Cabut ke mana?” “Nyari cogan.” “Heh, lo lupa kalo si Aci udah punya laki?” Ingkan mengibaskan tangannya. “Ah elah, laki apaan model begituan? Itu mah namanya laki gak punya harga diri. Mau-maunya dijajah sama masa lalu sih, mana udah punya tanggungan juga. Lonya juga, Ci, coba dong lo goda dia kek. Buat dia klepek-klepek terus ngelupain kakak lo. Lagian lo tuh cantik tau, usaha sedikit aja siapa tau ada hasilnya.” “Gak minat. Thanks.” Untuk menghindari ajakan Ingkan yang katanya mencari cogan, aku ikut-ikut David menggerakkan badan sedikit bersemangat. Paling tidak agar terkesan aku cukup serius mengikutinya, enggan diajak-ajak dalam pencarian cinta sejati seorang Ingkan. “Yee lo mah kagak ngerti konsep bales dendam. Lo harus bikin dia jatuh cinta sama lo dulu, nanti pas udah sayang-sayangnya ditinggal. Beuhh! Itu baru top markotop.” Aku mendengkus keras, tidak lagi senam. “Oke, taro aja gue pengen bikin dia jatuh cinta, terus gimana caranya? Dia aja ngeliatin gue kayak mau ngajak ribut tau gak sih.” “Makanya itu. Pertama, lo harus pecahin pelan-pelan batunya. Lo harus buat dia berpaling dulu dari kakak lo. Lo harus buat dia inget dan sadar kalau lo itu istri dia, orang yang berhak sama semua perhatian dia.” Ingkan sialan. Bisa-bisanya dia membuatku tertarik. “Terus?” “Kedua, lo mulai nunjukin kalau lo perhatian ke dia. Lo harus buktiin kalau lo serius menjalankan tugas lo sebagai istri. Ntar dia juga bakal malu sendiri sebagai suami.” David bahkan ikut-ikutan berhenti dan bergabung dalam lingkaran gibah kami, mendengarkan dengan kening mengerut. Untung saja musik di sini terlampau kencang sampai kemungkinan besar tidak akan ada yang bisa dengar kecuali kami bertiga. “Terus?” “Ketiga, boom! Ini bagian pentingnya. Lo harus tancap gas.” “Maksudnya?” “Lo harus bertingkah kayak cewek penggoda. Lo harus agresif, lo harus bisa bikin dia berpikir kalo dia udah nyia-nyiain lo selama ini dan lo itu lebih baik dari kakak lo. Buat dia sampe berpikir, 'Anjir, gue udah nyia-nyiain adiknya demi kakaknya yang b******k. Ternyata gue bodoh banget'.” Aku mundur selangkah, geleng-geleng. “Gila lo,” umpatku. “Terus?” “Ini nih part yang paling seru. Abis tuh, lo tinggalin.” “Cerai maksudnya?” “Ya itu sih terserah lo. Minimal lo cuek lagi sama dia, lebih bagus kalo lo punya gebetan buat manasin. Kalo mau cerai juga bisa sih, selama lo gak keberatan sama title janda.” “Dih, gebetan. Cowok mana yang mau sama gue?” Ingkan menarik bahuku menghadapnya, kemudian memperhatikan wajahku dengan seksama. “Kashi, lo itu cantik kalo mau dandan atau ngebuka hati. Kalo menurut lo anak kampus gak ada yang ganteng, tenang, gue punya stok kampus lain atau cogan-cogan yang gue kenal.” Ya ampun, bisa-bisanya aku mendengarkan saran absurdnya tadi. Sudah jelas seorang Ingkan itu memang tidak waras, sama saja menjerumuskan ke arah yang memalukan diri sendiri. “Lo gak bakal percaya nasihat dodolnya dia, ‘kan?” tanya David. “Enak aja dodol, lo gak ngerti karena sebagai cowok, lo pasti ada di pihaknya si Mas Delta. Denger ya, masalah balas dendam itu cewek ahlinya. Jadi, jangan cari gara-gara samsek kalo lo gak mau nyesel.” Ingkan memeletkan lidahnya mengejek David. “Gimana, Ci, ide gue bagus, ‘kan?” “Gimana ya? Sebenernya sih menarik, cuma gue males. Jadi cewek penggoda, cewek agresif? Mending gue kayak gini-gini ajalah, tenang-tenang. Soal Mas Delta, bodo amat juga udah cukup.” “Masokis lo, nyakitin diri sendiri.” Harap bersabar kalau temenan sama Ingkan. Mulutnya setajam silet dan sejulid lambe turah. Jangan-jangan dia juga salah satu adminnya lagi. Ingkan menepukku keras dan berkali-kali, sebelah tangannya menunjuk. “Eh, itu cogan siapa, Ci?” Aku mengikuti arah pandangnya ke seorang lelaki yang berkeliling. “Dia ‘kan si ketuplak.” “Rafa? Kok gue baru ngeh kalo dia ganteng banget? Kayaknya dulu gak seganteng ini deh.” Ingkan tersenyum lebar dengan tatapan tertuju pada Rafa, kemudian menoleh. “Wait. Kok lo bisa tau dia Rafa?” “Lo nih pikun. Kemarin ‘kan kita ngomongin si Rafa.” “O iya bener. Yang si Lana itu yak. Lo gak mau embat, Ci? Kalo kagak, buat gue aja ya.” “Ambil gih. Itu juga kalo dia mau.” “Sialan lu. Dah ah, gue mau caper dulu. Siapa tau dikedipin.” “Kan, katanya belum skincare-an!” “Ntar aja!” Ingkan sudah berbaur di antara mahasiswi yang serius senam, sedangkan dia di sini cuma buat modus. Ya ‘kan sebelas dua belas sama Lana. Yang satu kerdus yang satu centil. Emm cocok deh, saling melengkapi. Tapinya kalau mereka sudah mengobrol hanya ada perdebatan di dalamnya. “Keknya gue lebih sering sama lo ya di sini,” kataku. “Hm. Itu dua orang sefrekuensi, yang satu kabur yang satunya pasti ikut.” “Jadi, menurut lo gimana idenya Ingkan?” David mengedikkan bahu. “Bagus aja sih, tapi emangnya lo mau ngelakuinnya?” “Liat ntar deh. Kalo gue udah muak banget, mungkin aja gue bakal minta dia bikinin list-nya. Balas dendam bukan ide buruk juga.” “Lakuin aja apa yang bikin lo seneng.” Aku menoleh padanya aneh, meletakkan telapak tangan di dahinya. Agak panas sih, cuma kayaknya efek dari senam pagi saja. “Lo gak kemasukan jin penunggu, ‘kan? Kok selama di sini gilanya gak kumat?” “Tau. Mungkin setannya ikut main sama setan yang lain, makanya gak ada waktu buat gangguin gue.” “Hust! Ngomong jangan sembarangan ah.” “Serius amat dah hidup lo. Lagian ini tuh bukan gunung, bukit doang. Waspada boleh, parno jangan.” Aku hanya mengangguk mengiyakan, malas debat. Padahal seingatku David yang lebih banyak bawel dan mengatakan pantrangan selama berada di gunung begini—atau dataran tinggi. Ada di atas sedikit, beuh, pantrangannya udah mirip dengan daftar mantannya Ingkan, sangat banyak. Dari sini, aku bisa melihat Lana senam di sebelah perempuan. Rambutnya dicat blonde dan sedikit lebih pendek dariku karena hanya sebatas d**a Lana. Ya, seperti yang bisa ditebak, cewek incaran Lana memang cantik. Oh, jadi itu yang namanya Kirana. “Betewe, lo gak mau kayak si Lana?” “Kagak. Lo gak mau kayak si Ingkan?” “Kagak juga. Males banget gue.” “Perasaan gue aja atau si Rafa emang liatin lo beberapa kali?” Refleks aku juga menoleh pada Rafa di mana tatapan kami bertemu. Hanya sebentar sebelum Rafa menoleh, ada Ingkan di sampingnya. “Mungkin dia penasaran sama rumah tangga gue yang di umur segini udah nikah. Siapa tau juga dia nyangka gue MBA. Semalem juga pengen tanya-tanya, tapi gue gak jawab. Awas aja kalo dia anggep gue cewek bispak, gue tendang masa depannya.” “Ngeri amat, bunda.” *** Malam ini, area perkemahan lebih ramai karena tak sabar dengan persiapan jurit malam dan api unggun—dilihat dari tumpukan kayu di tengah lapangan tadi. Ada lebih banyak lampu dipasang dan tanda-tanda, mungkin untuk nanti keperluan jurit malam. Awas saja kalau ada costplay jadi hantu segala. Tak terkecuali kami berempat, sama-sama heboh dengan yang lain. Um, tidak kami semua sih yang heboh. Tepatnya, terutama Ingkan. Dia mengeluarkan semua barang-barangnya sampai tendaku yang besar jadi sempit. Tiga orang dari ilkom sudah keluar duluan sehingga David dan Lana bergabung. “Gue pengen pake bunny hat ah, biar kalo nyasar lo pada bisa dengan mudah nemuin gue,” ujarnya mengenakan topi bergambar kelinci dan menekan ujung bagian panjang yang menjuntai di samping kepalanya sehingga lampu dalam topi tersebut menyala dan telinganya berdiri. Bukan Lana namanya kalau tidak cari ribut. “Pertama, gue doain lo nyasar beneran. Kedua, gak ada kerjaan amat dah kita nyariin lo. Mana udah niat begini nyasarnya.” “Yee, ‘kan anything can be happen. Gak ada salahnya dong gue jaga-jaga.” “Serah lu, maimunah. Yang jelas gue ogah banget buat nyariin lu.” Sebenarnya kami di sini hanya tinggal menunggu Ingkan bersiap. Dia kebingungan memilih warna jaketnya yang bagian luar atau dalam, bawa cadangan baterai senter atau tidak, atau sekadar memilih topi seperti ini. Rempong sekali. Padahal acara jurit malamnya masih nanti tengah malam. Sekarang acaranya seru-seruan di depan api unggun. Kayu-kayu sudah ditumpuk di depan sana. “Emangnya kita mau jurit malam ke mana?” “Si Rafa bilang sih rutenya di sekitar sini aja, paling masuk hutan dikit.” “Alah lu. Dikit-dikit, taunya ntar sepanjang jalan kenangan. Lo itu gak bisa dipegang omongannya karena terlalu banyak PHP.” “Kan, lo gak baper sama gue, ‘kan?” Lana tersenyum mengejek pada Ingkan. “Najis!” “Pengumuman, pengumuman! Harap untuk semuanya, berkumpul dulu ya. Kita akan mengadakan acara api unggun sebelum nanti jurit malam. Sekali lagi, pengumuman, pengumuman! Harap untuk semuanya, berkumpul dulu ya. Kita akan mengadakan acara api unggun sebelum nanti jurit malam. Terima kasih.” “Barang-barang yang mau dibawa jurit malam siapin dari sekarang biar nanti gak ribet,” kata David. “Ashiap, abwang. Eh, Ci, lo ada bawa lotion nyamuk lagi gak? Punya gue abis nih.” “Gila. Jangan-jangan lo pakenya kayak pake body lotion lagi, sampe abis sebotol gitu.” “Kan gak lucu kalo ntar balik gue merah-merah kena nyamuk. Di sini nyamuk aja sadar mana yang glowing mana yang kagak.” “Wah, Ci, berarti dia ngejek lo jelek.” “Gue bersyukur jadi jelek, yang penting gak gila kayak kalian.” Aku merogoh saku jaket dan melemparkan botol lotion kecil pada Ingkan. “Jangan sampe abis ya, nyet.” Bisa dibilang untuk sementara, tendaku menjadi basecamp kami di hari terakhir ini. Dari tadi siang, ketiga mahasiswi ilkom enggan kembali karena ada Lana dan David, terutama Lana yang jiwa buayanya selalu bergelora. Ya, agak sedih juga sih ini jadi hari terakhir kami ada di sini. Besok pulang dan berbosan ria. Yang lainnya sudah asyik berkumpul di depan api unggun dengan duduk di atas karpet masing-masing atau beralaskan tanah saja. Untungnya Ingkan bawa karpet walau kekecilan untuk kami berempat. Oh, mungkin saja Lana akan kembali bersama gebetannya sehingga berkurang sedikit. “Penuh amat yak yang ikut. Keknya pas senam tadi gak sebanyak ini,” gumamku. “Soalnya banyak yang gak ikut, kayak si alan yang sibuk ngerdus,” timpal David. Ingkan masih sibuk mengoleskan lotion nyamuk. Haduh, ya iyalah gampang habis orang pakainya banyak begitu. Di depan sana seseorang sedang bernyanyi sambil memetik gitar. Aku tidak tahu lagunya apa atau bagaimana, tetapi mahasiswi yang tahu ikut menyanyikan lagu melow tersebut. Perempuan itu cukup mengejutkan dengan wajahnya yang tidak bisa ditebak bisa main gitar. Kelihatan sangat feminin dan bikin tidak berkedip para lelaki. “Itu siapa yang nyanyi?” “Kayaknya anak FISIP, cuma gue gak tau siapa.” “Dia cantik, Vid, lo gak mau coba deketin?” “Gak. Gak ada yang waras di fakultas gue.” “Njir, segitunya sama fakultas sendiri. Masa sih gak ada yang mendingan satu aja? Lo kali terlalu pemilih. Kayaknya gue pernah deh liat ada ciwi-ciwi bening.” “Ya haruslah. Gue sebagai cowok yang milih. Gue gak mau kalo ujung-ujungnya putus, makanya gue harus milih yang tepat. Karena kalo orangnya udah tepat, gue bakal ngelakuin apa pun buat pertahanin dia.” “Gue gak tau kalo lo udah ambil kursus ngerdus sama Lana.” Panjang umur. Yang dibicarakan menyerobot karpet dan memaksa untuk muat sehingga kami berdempet-dempetan. “Wey, napa lo duduk di sini? Gak sama gebetan lo?” tanya David. “Udah bukan gebetan lagi,” gerutu Lana dengan wajahnya yang ditekuk. “Lah, cepet amat.” “Katanya muka gue kayak mantannya. Dia gak tahan lagi.” “Pft! Welcome back to our group, boy.” “Nenek lampir satu mana?” Lah iya. Sejak kapan Ingkan tidak ada di sini? Ck, dia kabur dengan lotion nyamuk milikku. Jangan bilang isinya sudah habis lagi. Fix, aku harus menjauhkan semua lotion nyamuk dari Ingkan kalau lagi ada di alam terbuka begini. Enggak aman sama sekali. Datang-datang Ingkan menoyor kepala Lana hingga lelaki itu terhuyung menekan David dan aku. “Siapa yang lo maksud nenek lampir, nyet?” “Lo lah, siapa lagi?” “Itu mulut pengen gue cabein dah.” “Tes! Tes!” Seketika semuanya menjadi senyap saat suara Rafa mengambil alih acara lewat mikrofonnya. Ingkan memaksa duduk di sebelah Lana sehingga lelaki itu mengalah dan duduk di karpet bagian belakang. Keribetan itu enggak aku pikirkan karena yang di depan sana malah bikin mata terpaku. Ya ampun, kenapa aku mudah sekali terkesima sih di sini? Lagi-lagi Rafa memakai bandana, ditambah dengan jaket hitam dan celana training. Sebelah tangannya memegang kertas yang sepertinya jadwal acara dan sebelah kirinya memegang mikrofon. Gelang dan arloji hitamnya saja bikin salah fokus. Dia emang enggak seputih Mas Delta atau setinggi dia, tapi tetap saja dia jauh lebih baik dengan perlakuannya pada orang lain. Mas Delta ‘kan cuma peduli sama Kak Kania, sama yang lainnya diperlakukan kayak benalu. Termasuk aku. Coba aja Rafa .... Kashi! Fokus! Aku menepuk pipiku keras, mengenyahkan semua yang kupikirkan tadi. Bisa-bisanya .... “Oke, udah kumpul semua ya?” “Udah!” jawab kami semua serentak. “Malam ini malem terakhir kita di sini. Kita seru-seruan dulu di depan api unggun sebelum nanti tengah malem kita jurit malam.” “Hah? Julid madam? Lambe turah dong,” bisik Ingkan. “Anjir, bisa-bisanya lo.” “Untuk ngisi acara malam ini, gimana kalau kita main games aja? Sebelumnya, kita udah siapin game, cuma kita pengen denger masukan dari kalian, malem ini kita main game apa?” Orang-orang ramai menyebutkan saran masing-masing sampai tidak terdengar satu saran yang jelas. Mereka mengatakan sama-sama keras dan bersamaan sehingga semuanya bersatu. Rafa dan para panitia di depan sana sampai kelihatannya bingung. “Main ToD seru kali ya. Cuma banyakan gini malah ribut nantinya,” kata David. “Gimana sebelum main game, siapa tau ada yang mau nyumbang suara lagi?” Rafa mengacungkan tangannya, menyuruh yang mau menyumbangkan lagu untuk ikut mengacungkan tangan. “Si Rafa keren juga ya,” gumamku tanpa sadar. Ya, aku benar-benar tidak sadar sampai begitu menoleh, ketiga temanku melirikku horor. Ingkan sampai mencengkeram pipiku. “Ci, ini lo, ‘kan? Ini bukan hantu penunggu pohon yang gue ambil kayunya, ‘kan?” “Apaan sih lo semua?” dengkusku menepis tangan Ingkan lalu menyembunyikan wajah di antara lutut. Lebih dari itu, aku juga malu setengah mati. Bisa-bisanya aku keceplosan begitu. Ma, pengen pulang langsung. “Aneh banget lo muji cowok gitu. Gue kira lo udah kebal sama pesona cowok berkat penolakan Mas Delta tercinta,” ejek Lana. Aku menegakkan kepala dengan raut wajah dipaksa sedatar mungkin. “Serah lo dah. Heboh amat muji dikit doang. Maksudnya gue mana berani ngomong di depan banyak orang kayak gitu, mana dia kayaknya pede banget.” “Makanya ikut organisasi, bun.” “Halah, kayak yang lo ikut aja.” “Gue ‘kan saranin doang. Serah lo nantinya gimana.” Ternyata ada seseorang lagi yang ingin menyumbang lagu. Seorang lelaki dari fakultas yang sama denganku menyanyikan sebuah lagu yang katanya dinyanyikan oleh Sandy dan berjudul ‘Siap Sakit Hati.’ Sialan, kenapa isi lagunya pas sekali dengan kondisi aku dan Mas Delta? Tentang aku yang membebaskan Mas Delta dekat dengan mantan tunangannya yang merupakan kakakku sendiri. Tentang aku yang sudah malas peduli dan terlanjur sakit hati. Tentang aku yang siap sakit hati dengan kondisi rumah tangga kami yang hanya menyakitiku ini. Apa Ingkan benar, sudah saatnya memikirkan diriku sendiri dan membuka hati pada orang lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD