Lima; Relaksasi

4523 Words
Absen dulu siapa yg nungguin. *** Jika kalian bertanya-tanya, aku ini tipe mahasiswi kupu-kupu. Aku tidak ikut organisasi sama sekali dan memang tidak peduli dengan hal seperti itu. Meski begitu, untungnya aku kenal beberapa orang yang dulunya dekat saat OSMB. Jadi ya tidak kudet banget walau pergaulanku terkesan diam di tempat. Oleh karena itu, aku tidak berharap banyak dengan nilai UAS atau IP per semester. Masih 3 saja lumayan. Orang tuaku tidak menuntut aku harus cumlaude atau IPK sekian, lulus saja sudah bagus. Ya, efek Kak Kania yang telat lulus dan jatuhnya tidak niat kuliah, aku ini sudah jauh lebih bagus kok. IP semester ini tidak bagus-bagus amat, tetapi tidak buruk juga. Setidaknya lebih bagus dari semester sebelumnya dan aman untuk tidak mencari tambahan nilai. Jika yang lain sibuk mencari tugas tambahan pada dosen atau melakukan ini-itu untuk menambah nilai, jujur saja kali ini, aku ingin masa bodo. Terserah nilai apa adanya saja, toh aku tak yakin lulus nanti akan bekerja atau tidak, apalagi lanjut S2. Oh, kalau saat itu aku masih bersama Mas Delta. Mungkin sebagai rencana cadangan, aku bisa ikut komunitas atau apa saja agar aku tidak menghabiskan waktu di rumah. “Tenda lu gede amat, Ci. Lu mau nampung se-RT atau buat disumbangin ke penampungan? Ngabisin tempat ini mah.” Ya, sudah kubilang aku tidak tahu sama sekali tentang hal seperti itu. Semuanya Mas Delta yang urus—tanpa bertanya padaku. Kalau bertanya juga aku tak akan menjawab banyak. “Ya mana gue tau. Laki gue yang milihin semuanya.” “Cie.” Ingkan menabrak bahuku dan melirik jahil. “Tumben amat itu pangeran kegelapan bantuin lo.” “Jangan ngomongin dia deh ah. Males amat, kayak gak ada obrolan lain aja.” “Nah!” Lana berseru. “Kalau gitu, mending nanti lo pada bantuin gue. PDKT.” “Sama siapa lagi kali ini?” tanya David. “Kirana, anak FK.” “Si anjir peletnya kuat amat. Beli di dukun yang mana, Bro?” “Tuh, di deket Kali Ciliwung, tapinya udah kena gusur.” “Begitulah kelakuan almarhum selama hidupnya. Semoga semua dosanya diampuni dan korban PHP-nya mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik.” “Sumpah gue udah sabar banget punya temen kayak lo, Kan. Kalo kagak udah gue lempar ke Palung Mariana.” “Udah ah, ini jadi bahas beginian. Kita harus mastiin alat-alatnya ada semua, gak ada yang ketinggalan. ‘Kan berabe kalau baru inget di jalan.” Ya, besoklah acara kampingnya. Kami semua sudah mendaftar dan membayar sejumlah uang sebagai iuran tempat, makan, dan keperluan lain yang diurus oleh ketua pelaksana. Tidak mahal untuk urusan yang pastinya sangat ribet, terutama karena yang ikut ada banyak. Secara resmi, aku tidak berpamitan dengan Mas Delta. Dia tahu hari ini tanggalnya saja sudah cukup. Setidaknya Mas Delta tidak akan menggangguku dengan serangan telepon atau pura-pura cemas di depan orang tuaku. Seperti rencana sebelumnya, kami menginap di rumah David dan besok pergi dengan mobil itu juga. Sebenarnya ada bus bagi yang tidak memiliki kendaraan dan membayar biaya tambahan, tetapi David menawarkan diri bagi kami pergi dengan mobilnya. Ya, ditawari gratisan siapa sih yang tidak mau? Mana mobil David bagus-bagus dan mahal, dengan senang hati kami mengiyakan. Entah akan muat atau tidak, tetapi barang bawaan masing-masing yang dikumpulkan ini sudah seperti sumbangan korban banjir. Ingkan yang paling banyak membawa barang dengan satu tas besar dan dua tas jinjing, lebih ribet dari liburan ke luar negeri—padahal kita kamping hanya dua hari. Namun melihat barang-barang Ingkan yang katanya keperluan wajib bagi perempuan, membuatku berpikir dan melirik barang bawaanku yang hanya satu tas ransel dan tas pinggang untuk keperluan utama. Apakah ada yang aku tinggalkan atau Ingkan memang berniat mengosongkan isi lemarinya? “Skincare, baju, jaket, alat mandi, sendal, baju dalem, anduk—” “Buset! Lo mau kamping apa pindahan, nyet?” Lana mencibir Ingkan yang mengabsen barang-barangnya di tas, belum yang ada di jinjingannya. “Lah, emangnya lo bawa apaan? Ini basic kali, kalo gak bawa berabe. Emangnya lo mau minjemin gue kolor lo kalau gue lupa?” “Dih, ogah. Kolor gue itu premium, gak bakal gue pinjemin ke lo.” “Eh, gue juga masih mending gak pake daleman daripada harus minjem punya lo. Sarap.” Aku menggeleng-geleng, pusing sendiri mendengar perkelahian mereka yang selalu terjadi setiap kali bertemu. Ingkan yang notabenenya tidak mau kalah meladeni Lana si cowok yang banyak omong. Kalau tidak dihentikan, pertengkaran mereka mungkin akan sama lamanya dengan sidang isbat. “Lain kali gue gak mau gabung sama lo berdua lagi. Ketularan gila yang ada,” dengkus David. “Setuju. Mending gue kudet dibanding punya temen kayak lo berdua. Eh, Vid, lo mau bawa kompor?” tanyaku melirik kompor portabel di luar tas David. Dia mengangguk. “Jaga-jaga aja kalau api unggunnya gak bisa dipake atau kita kehabisan makanan. Lan, bagian lo yang bawa ya.” “Loh kok gue? Itu ‘kan kompor elu.” “Malu sama badan gede bawa kompor portabel doang kagak mau. Lagian siapa tau lo laper tengah malem pengen masak mi, pakenya juga kompor itu.” “Jalannya juga paling bentaran. Kita bisa gantian kalo lo keberatan.” “Sunscreen kudu bawa yang banyak. Jangan sampe pas balik kulit kita jadi merah-merah gosong ‘kan gak lucu.” Ingkan masih sibuk dengan peralatannya sendiri, tidak mendengarkan percakapan kami sebelumnya. “Eh, Vid, mobil lo gak kenapa-napa ‘kan? Oke ‘kan kalo dibawa jalan jauh?” “Oke. Gue udah periksain kemarin.” Asyik. Inilah enaknya berteman dengan seorang David. Sudah pintar, dia sangat memperhatikan sesuatu. Tipe boyfriend-able, paling tidak dalam mode kalem kayak begini. Ya, kalau sudah ketularan gila, dia tidak jauh beda dengan Lana. David melirik jam mahal di tangannya dan menyarankan, “Mending kita tidur sekarang supaya besok gak telat. Kita gak tau jalan kalo gak bareng rombongan.” “Kok tidur sih? Kita harus nonton dulu dong, apa kek seru-seru. Gak asik banget jam sepuluh udah tidur. Lagian kalo ditinggal juga ‘kan ada maps, ribet amat harus barengan segala,” protes Ingkan. Dari raut wajahnya, Lana juga sepertinya tidak setuju. Aku juga sih. Acara menginap itu tidak lengkap tanpa nonton dan begadang, bukan? “Terserah lo, gue mau tidur. Laptop ada di bawah kalo lo pada mau nonton.” David tidur di kasurnya, mematikan lampu tidur di meja sebelahnya. Kami memang sedang berada di kamar lelaki itu dan Lana akan menginap di sini, sementara aku dan Ingkan di kamar sebelah yang merupakan kamar tamu. Entah ada berapa banyak kamar kosong di rumah David, mungkin bisa mengadakan acara menginap dengan tamu 30 orang. Orang tuanya ada di bawah, tetapi tidak akan mengganggu kami. Lana pasti akan berpikir kalau mereka sedang melakukan sesuatu selayaknya suami istri dan tidak akan mungkin mengganggu. “Kalo sertifikat rumah di mana, Vid?” “Lo mau gue bantai?” “Ampun, suhu. Becanda doang gue mah.” Lana menyatukan telapak tangannya dan berlutut, seolah sedang meminta pengampunan pada sang gigolo. “Jadi, nonton apa nih?” celetuk Ingkan. Dia sudah bertanya, tetapi tidak ada dari kami yang akan turun ke bawah untuk mengambil laptop. “Horor kudu banget.” “Mampus, besok ada yang ikut gimana?” “Heh! Sembarangan lo ngomongnya. Kalo beneran gimana?” “Ya gue mah becanda, mbakun. Jangan baper yak.” Ya ampun, aku harus menjadi korban tunggal karena David sudah tidur. Dua orang seperti Ingkan dan Lana tidak boleh disatukan kapan pun, kecuali jika mereka memang diadu untuk lomba berdebat. “David bener, mending kita tidur aja. Lain kali aja kita nginep lagi.” “Ngokhey deh. Sana lo balik ke kamar lo. Awas, jangan macem-macem pas gue tidur.” Lana melemparkan handuk kecil milik Ingkan tepat ke wajah perempuan itu, mengusir kami dengan cara yang mengesalkan. “Eh, yang ada kita ngomong gitu ke lo. Awas aja!” *** Lana bilang kita akan berkemah di sebuah bukit yang dekat dengan pemukiman, tak jauh dari Jakarta. Tidak lewat tol, tetapi melalui jalan raya dan sesekali memotong dengan jalan tikus. Cukup lama sih, tetapi kami menikmati udara yang terasa lebih menyegarkan dengan banyaknya pepohonan di pinggir jalan. Walau kami memakai mobil David, kami tidak bisa berhenti seenaknya karena harus mengikuti rombongan. Kalau mau sih David bisa saja menggunakan maps di mobilnya, tetapi dengan banyak jalan tikus yang tentu tidak akan direkomendasikan maps, mengikuti rombongan jauh lebih aman dan terpercaya. Lana dan David gantian menyetir, tentu saja mereka tak akan membiarkan aku atau Ingkan menyetir walau sebenarnya kami tidak begitu buta dengan mobil. Namun, jalannya cukup sempit dan berkelok, sangat tidak ramah bagi kami yang jalan di lapangan saja kadang sering ngerem tiba-tiba. Setelah dua jam perjalanan dan menghabiskan hampir satu keresek besar persediaan, akhirnya kami tiba di tempat yang memiliki plang perkemahan. Melihat bagaimana mendakinya dari bawah ke atas, aku mendelik pada Lana yang menggaruk kepalanya. “Katanya deket!” “Perasaan si Rafael gak ada bilang kalau kita harus jalan jauh begini.” “Salah lo kali gak tanyain.” Ingkan ikut bersungut-sungut, mengeluarkan barang bawaan dari bagasi. Ya, membayangkan membawa semua ini ke atas saja, mungkinkah? Bawa diri sendiri saja sudah melelahkan, apalagi dengan barang bawaan sebanyak ini. Ck. Harusnya aku ikut dengan bus saja. Mereka pasti sadar diri dan hanya membawa sedikit barang agar muat ke bagasi bus, bukannya seperti kami yang membawa banyak hal karena naik mobil David yang akan menyisakan banyak ruang. “Yee! Ya kalau lo perlu tanya aja sendiri, gak usah nungguin gue.” “Dih, ngambek. Kayak cewek aja. Nyet, tungguin dong!” Dua Tom and Jerry itu duluan naik ke atas, di belakang rombongan dari bus. Dari belakang Ingkan tampak rusuh dengan barang bawaannya sendiri sementara Lana membawa satu tas lain yang menjadi keperluan kami berempat. Dan lihat sisa barang yang lupa untuk mereka bawa. Masih banyak. “Oy! Ini barang-barangnya bagi kek!” David berseru, tetapi mereka malah terus berjalan. Dari gelagatnya sih mereka berseteru lagi. “Ci, lo bisa bawa setengahnya ke atas?” Aku mengangguk mantap, walau sebenarnya ragu juga. “Ini doang mah kecil, Vid. Lo sendiri bawa kompor sama tenda, gak berat? Atau mau gue tarik si Alan buat balik lagi ke sini?” “Gak apa-apa, gue bisa kok. Ini doang, gak masalah.” Aku menenteng dua keresek lain dan beberapa barang yang ditambahkan ke tas sementara David dengan tas ransel tenda beserta keperluan pribadi dan kompor portabel. Memang dasar Lana laknat, dia melarikan diri dari tugasnya membawa kompor. Mungkin kami yang paling akhir karena tidak ada siapa pun di belakang, yang lain sudah setengah jalan. Bahkan Ingkan dan Lana sudah tidak kelihatan, entah tertutup yang lain atau memang sudah sampai puncak. “Ci, lo betah sama rumah tangga lo yang kayak gitu?” celetuk David dengan topik yang tidak kuduga sama sekali. “Yaa gimana ya bilangnya? Kalo soal sehari-harinya sih gue nyaman aja. Kita juga lebih sering masing-masing. Selama gue gak ganggu dia atau kakak gue ya gak ada masalah. Cuma yang bikin gak nyaman itu statusnya. Gue gak enak sembunyiin ini dari bonyok atau orang-orang yang taunya kita nikah baik-baik aja.” “Apa gak sebaiknya lo bilang? Sampai kapan lo mau tahan kayak gini?” Mudah untuk bicara atau menyarankan, tetapi ada saja alasan yang muncul pada saat aku ingin mengadu pada orang tuaku. Hubunganku dengan Kak Kania nantinya, perusahaan Papa, atau pemikiran konyol seperti apakah ada yang mau denganku jika aku menjadi janda. Hi, membayangkannya saja geli jika aku harus menyandang status itu. “Bukannya gue udah bilang setahun? Kalau selama itu dia masih kayak gini, gue bakal ngadu semuanya.” “Lo gila? Setahun itu masih lama, Ci. Ya kali lo gak gila duluan.” Aku meliriknya dengan kernyitan. David memang bisa sama-sama gila, tetapi dia tetap yang paling kalem di antara kami. “Tumben banget lo banyak omong gini, Vid. Biasanya irit banget, banyak ngomong kalo mulai gila. Lo gak ikut gila sama si Lana, ‘kan?” “Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo. Mau-mau aja disakitin kayak begitu.” Jangankan orang lain, aku saja kadang tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri. “Dibawa enjoy aja sih, gak usah dipikirin juga. Lagian selama gue gak ada rasa sama dia, gue bakal baik-baik aja.” “Jadi lo berniat punya perasaan sama dia?” “Ya enggaklah. Gila aja, kayak yang ada cowok lain.” David mengedikkan bahu sekalian membenarkan tali tas. “Siapa yang bisa nebak sih bakal jatuh cinta sama siapa? Ntar taunya lo udah suka aja.” Tiba-tiba David berhenti dan menurunkan kompor portabel, meraba kantong celananya. “Ci, kayaknya ada yang ketinggalan deh. Bisa gak lo diem di sini bentaran?” “Oke. Gue jagain.” Lelaki itu menurunkan juga tas ranselnya di samping kompor portabel, lalu berlari turun. Kami belum jauh mendaki, masih lebih lama ke atas sana dibanding turun. Bagus, di sini saja sinyalnya sudah susah. Padahal ‘kan di sini ada pemukiman, tetapi mendaki sedikit saja sinyal sudah sisa dua bar. Entah harus sedih atau senang, ponselku tak menerima satu pun pesan dari Mas Delta atau siapa pun yang menanyakan kabarku. Tidak ada pesan sama sekali. Apa mungkin karena jaringannya yang 3G? Ah, tetapi memangnya siapa juga yang mau mencariku. Tidak ada. “Lo gak apa-apa?” Aku mendongak, mendapati seorang lelaki menutupi sinar matahari dari wajahku. Cahaya yang melingkupinya membuatku tak bisa melihat siapa dia. Barulah saat dia duduk di sampingku, wajahnya terlihat jelas. Kulit sawo matang, tinggi, tubuh besar, dan suaranya berat. Bandana yang dipakai melingkari kepalanya menyita perhatianku. Ya ampun, aku selalu lemah pada lelaki yang memakai bandana seperti itu, sangat keren. Eh, sepertinya aku pernah sesekali melihat wajahnya lalu lalang di jalan utama kampus. Tipe wajahnya memang pasaran, tetapi dengan wajah yang cukup menarik itu pastilah menjadi perbincangan para mahasiswi. Aku sadar kalau aku memang ketinggalan berita dan tak banyak kenal dengan orang-orang penting di kampus. “Gak apa-apa kok. Gue lagi nungguin temen gue yang turun bentar ke mobilnya. Emm, lo lanjut aja gak apa-apa.” “Gue harus mastiin semuanya udah naik. Jangan sampe gue dapet masalah kalo ada yang ilang gak ketahuan.” Alisku terangkat sebelah saat melirik walkie talkie yang berbunyi. “Lo itu ....” “Kenalin, gue Rafael. Ketuplak acara ini.” Ah, Rafa. Ya, aku ingat dia pernah menjadi perbincangan karena menjadi salah satu mahasiswa yang pintar dan aktif di berbagai acara kampus. Aku cukup yakin dia bukan anggota BEM karena tak pernah hadir di antara jajaran mahasiswa yang sering wara-wiri memastikan keadaan kondusif di kampus. Entahlah, anggota BEM saja aku tidak kenal sama sekali kecuali yang sering datang ke fakultas. Pantas saja wajahnya terlihat tidak asing walau hanya sering lihat dari jauh. “Ohh, sorry, cuma Lana yang kenal sama lo. Gue sama temen gue nebeng ke dia.” “Jadi lo temennya Lana? Pantesan kayak gak asing. Mungkin gue pernah liat lo pas bareng sama dia.” Ck, ini orang bisa enggak sih duluan? Aku tidak mudah akrab dengan orang lain, apalagi kalau mereka sok asyik dan percaya diri tingkat dewa. Ya memang sih Rafa kayaknya bukan orang seperti itu, tetapi tetap saja ini pertama kali kami benar-benar berinteraksi. Mana David belum kelihatan sama sekali dari parkiran. Apa coba yang diambilnya sampai lama begini? “Eh, lo naik aja gak apa-apa. David sama gue pasti ke atas gak bakal nyasar kok.” “Kenapa sih lo ngebet banget pengen ngusir gue?” Bagus kalau merasa. “Gue gak enak aja kalau lo di sini gara-gara nemenin gue. Lo harusnya di puncak. Siapa yang tau ‘kan kalau ada yang ribut.” “Di atas ada banyak orang. Gak melulu gue yang ngurus.” Entah ke mana barang bawaannya, dia hanya membawa tas selempangan yang pastinya tidak muat banyak barang. “Btw, nama lo siapa?” “Kashi, tapi temen-temen lebih sering manggilnya Aci. Terserah lo juga sih manggilnya apa, apa asal monyet.” “Oke-oke, gue samain aja.” Lelaki itu terkekeh entah kenapa, mungkin karena aku membawa-bawa monyet. “Lo FSRD juga?” “Hm, komvis sama kayak Lana.” “Gue dari Fisika.” “Oh, jadi FMIPA yang ngadain? Sorry, gue kudet banget ya. Taunya ikut aja.” Hm, Fisika. Pelajaran yang sepertinya tak akan pernah bisa aku kuasai. Aku lemah di hitung-hitungan, tetapi tidak pernah bisa menghindarinya di mana pun. Asalnya kukira kalau mengambil desain tidak akan bertemu lagi dengan Matematika. Memang tidak sebanyak jurusan lain, tetapi ya tetap saja hitung-hitungan termasuk. Bisa dibayangkan betapa pintarnya lelaki itu berhitung sampai dipercaya menjadi ketuplak yang harus mengurus dan menganggarkan semua keperluan dari puluhan orang ini. Tidak mudah pastinya bagi orang sepertiku, tetapi bagi orang dengan jurusan hitung-hitungan itu sudah makanan sehari-hari. “Gak apa-apa kok, santai aja. Gue juga gak gitu kenal banyak orang kalo bukan gara-gara acara ini.” “Mustahil. Masa iya inceran ayam kampus gini gak gaul?” “Eh, gue bilangnya kenal banyak orang, bukan banyak orang kenal gue.” “Iya dehh, si paling terkenal. Ini David lama amat sih. Dia gak mungkin tiba-tiba digodain b*****g, ‘kan?” “Kecuali kalau dia bawa dari Jakarta.” “Bisa jadi. Tadi gue gak ngecek bagasinya dia sih.” “Receh banget sih kita.” Kami terkekeh bersama, menertawakan candaan garing. Oke, Rafa tidak sekaku yang kupikirkan seperti kebanyakan anak FMIPA yang hidupnya hanya belajar dan belajar dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. FMIPA terlalu melekat dengan sosok Albert Einstein yang tidak bisa diajak bercanda. Aku harus mengingat kalau kita ini ada di Jakarta. Koneksi lebih penting untuk masa depan dan sikap menyenangkan juga berpengaruh. Tidak heran kenapa orang sukses kepribadiannya menyenangkan dan mudah bergaul. “Jadi, lo yang udah nikah?” Uhuk! Tanpa minum, aku tersedak sendiri dan terbatuk-batuk. “Tau dari mana?!” “Lana keceplosan bilang kalau salah satu temennya udah nikah buat kepentingan izin, dia bilang suaminya gak bakal keberatan. Tadinya gue nebak doang kalau bukan lo ya temen lo yang lain.” Sialan, Lana! Ya ampun, bisa-bisanya dia membicarakan hal seperti ini dengan orang asing walau sebatas keceplosan. Bagaimana jadinya kalau dia salah ngomong ke perempuan penggosip yang bisa menyebarkan info sampai ke penjuru kampus? Ya, bukan apa-apa sih. Tidak masalah juga ‘kan, toh di kampusku tidak ada larangan menikah karena memang usia kami sudah legal. Walau jarang, ada yang sudah menikah sejak lama. Lelaki ini juga, santai sekali membicarakannya. Padahal dia bisa melupakannya dan pura-pura tidak mendengar apa pun. “Y-ya, gue udah nikah sih. Gue juga gak niat buat disembunyiin, cuma ya gak ada gunanya juga di-publish.” Rafa mengangguk pelan. “Gue ngerti. Punya privasi gak masalah kok, gue gak bakal bilang ke siapa-siapa juga.” “Thanks.” “Noprob.” Dia berdiri dan berkacak pinggang, melihat lurus ke bawah. “Itu temen lo bukan ya?” Aku ikut berdiri untuk melihat lebih jelas. Benar, dari pakaiannya sih dia memang David. Kelihatannya dia tidak membawa apa pun seperti tas atau sesuatu yang memang darurat jika sampai ketinggalan. “Itu orang satu lama amat deh turunnya. Padahal gak bawa apa-apa.” Ya ampun, David hanya membawa senter ternyata. Jangan bilang hanya itu yang ketinggalan. “Udah yang ketinggalannya?” “Udah.” Dia menyengir, lalu menoleh pada Rafa. “Lo Rafa, ‘kan?” “Hm. Lo pasti temennya Lana, tapi gue gak inget siapa nama lo.” “Gue David dari IP. Fakultas kita deketan jadi gue pernahlah denger tentang lo.” “Ohh, tau gitu harusnya lo aja yang daftar ke gue bareng sama si Lana.” “Jadi lo ketuplaknya? Gue gak tau sih. Eh, Ci, lo nunggu lama ya?” “Li ninggi limi yi. Ya lo pikir aja sendiri. Sana bawa barang-barang lo, yang lain udah nyampe dari tadi.” Baru sampai saja sudah dibuat sebal dengan Lana, David, dan siang hari yang sangat panas ini. Haduh, mungkin sunscreen yang kupakai tadi pagi sudah tidak mempan menahan sinar matahari agar tidak merusak kulit. Sepertinya begitu pulang Mas Delta tidak akan mengenaliku dengan kulit yang matang terpanggang. David menggendong kembali tas ranselnya setelah memasukkan senter, kemudian mendekap kompor portabel. “Kalo gitu, lo berdua duluan aja. Kayaknya gue masih harus di sini, siapa tau ada yang mau nyusul atau belum datang.” “Oke deh, pak ketu.” Aku dan David duluan menanjak sementara Rafa masih di tempat tadi. Kanan kiri jalan setapak ini adalah perkebunan. Entah perkebunan apa karena tidak terlihat buah atau hasilnya sama sekali, hanya pohon-pohon dan beberapa bagian kosong melompong. “Lo tadi ngobrol sama dia?” tanya David. “Emangnya kenapa?” “Ya aneh aja sih. Gue kira lo gak bakal nyambung sama orang baru.” “Kalo gak nyambung, gue gak bakal kenal sama kalian juga.” Aku ingat tentang Lana yang bisa-bisanya tidak sengaja memberi tahu Rafa, mendadak kesal. “Eh, mulut si alan emang kudu dijait sih. Ember banget.” “Ngapain dia?” “Dia keceplosan segala gue udah nikah.” “Wah, parah sih itu orang. Tonjok aja kagak cukup, Ci.” “Mau gue tendang tititnya sampe jadi burung beneran.” *** “Ampun, Ci! Namanya juga keceplosan.” Begitu sampai di puncak, aku langsung menarik barang bawaanku ke tenda yang sudah didirikan Ingkan dan Lana, kemudian menarik lelaki itu menjauh dari keramaian. Ingkan dan David mengekor di belakang, mungkin David akan memberi tahu Ingkan. Entahlah, kekesalanku sudah tertuju pada lelaki dengan banyak mantan itu. “Niminyi jigi kiciplisin. Bisa gak sih lo pilih-pilih dulu keceplosannya? Mana sama orang yang gak gue kenal lagi.” “Lo bilang ‘kan gak niat disembunyiin, terus kenapa kudu marah?” “Gue marahnya gara-gara lo ceroboh gini ya bisa keceplosan gitu. Kalau rahasia lain yang gak boleh orang lain tau gimana coba?” “Aci bener sih. Lo harus hati-hati lain kali,” kata David mendukungku. Untungnya, aku masih punya teman seperti dia yang tidak ketularan gila. Lana menekuk wajahnya saat mengatakan, “Iya iya, lain kali gue hati-hati. Kalau bisa gue tarik gue tarik deh.” “Sebagai hukumannya, nanti malem lo harus bikinin kita mi pake telor.” Ingkan menyeletuk, memberi saran. “Emangnya kita ada yang bawa telor?” “Warung banyak, beb. Tinggal turun ke bawah juga ada warung, ‘kan?” “Serem gila kalo malem-malem. Kalo gitu lo temenin gue ya, Ci.” “Kok gue?” “Lo di sini juga gak ada kerjaan. Ingkan jadi tim dapur umum, si David bangun tenda sekalian bantuin cari kayu bakar buat api unggun.” Lah, kapan? Perasaan di antara kami yang kenal dengan orang-orang di sini hanya Lana. Ya ampun, jangan bilang ini karena aku ngaret sampai ke atas. Ck, tahu begitu aku tinggal David saja tadi, sekalian tidak perlu bertemu dengan Rafa. “Yodah, Ci, lo turun aja. Gue nitip koyo aja deh sama kapas buat bersihin make-up. Kalo gak ada tisu basah juga gak papa.” “Lo, Vid?” “Gue beliin batu batre aja. Tuh bawa sekalian sama senternya buat cocokin.” Aku mendelik sebal. David turun untuk mengambil senter, tetapi tidak ada batu baterainya. Kenapa tidak sekalian saja tadi langsung beli? Sabar, gunung begini banyak setannya, terutama tiga yang terlihat di hadapan ini. “Yodah, kita turun dulu ya. Telepon aja kalo mau nitip lagi.” Sebelum pergi, aku dan Lana ke tenda dulu untuk mengambil uang dan senter David. Oh, aku tidak menduga kalau Lana yang membawa tendaku dan mendirikannya berdua dengan Ingkan—karena tenda David ‘kan ada di lelaki itu. Ya, setidaknya aku tidak bisa marah lama-lama. Parah. Di sini tidak ada sinyal sama sekali sampai muncul tanda silang. Area kamping itu cukup luas untuk kami semua yang mungkin jumlahnya sampai 30 orang. Dan menyebalkannya, aku tidak mengenal satu pun dari mereka. Kebanyakan yang terlihat adalah orang asing atau mereka yang hanya aku tahu sebatas nama. “Aci!” Seseorang menyerukan namaku saat hendak menuruni jalan bertanah itu. Rafa. “Eh, Lan, mau ke mana?” “Mau ke warung, beli yang gak ada.” “Oh, jangan lama-lama ya baliknya. Abis jam empat nanti, gak bisa sembarangan turun ke pemukiman warga.” “Oke, kita gak bakal lama kok. Lo mau nitip sesuatu?” “Gak ada. Balik aja buru-buru.” Rafa balik lagi ke kerumunan mahasiswa, entah sedang mendiskusikan apa. Mungkin tentang keamanan yang ada di sekitar perkemahan atau menyiapkan banyak hal. Di acara-acara seperti ini, tenaga lelaki jelas lebih dibutuhkan dan mereka yang berkuasa. Kami perempuan hanya bisa menurutinya. “Lo gak tertarik sama si Rafa, Ci?” Aku mengernyit mendengar celetukan Lana. Aneh sekali dengan dirinya yang biasa banyol. “Enggaklah. Napa emangnya?” “Yaa siapa tau tipe cowok lo kayak dia. Masih mending dia dong dibanding abang Delta lo.” “Gak usah banding-bandingin deh, beda bumi ke langit.” Perjalanan turun terasa jauh lebih singkat dari perjalanan naik. Terlebih hari yang beranjak sore, matahari tidak sepanas tadi walau masih cerah. Tidak biasanya kami hanya diam, tetapi entah apa yang terjadi sampai tidak ada percakapan begini. “Bentar, ada telepon.” Aku berhenti dan merogoh saku, bingung juga karena telepon bisa masuk. Ah, kami sudah setengah jalan. Di sini setidaknya ada cukup sinyal untuk menerima panggilan reguler. Kak Kania? Tumben sekali. “Halo, Kak?” [Kenapa gak angkat telepon saya?] Refleks bola mataku berotasi malas. Lana memperhatikan dengan alis terangkat. Seharusnya dia tahu siapa yang menelepon dengan responsku yang begitu. “Emang Mas kapan nelepon?” [Tadi, beberapa kali. Mau tidak membalas sama sekali.] “Masa sih?” Aku menjauhkan ponsel dari telinga dan mengecek riwayat panggilan. “Oh, emang ada, Mas. Tadi lagi di puncaknya makanya susah sinyal. Ini lagi turun buat beli telor.” Lana tersenyum menggoda sekaligus mengejek. Dia tidak bisa diam jika aku menelepon Mas Delta dengan nada dan pemilihan kata yang lebih sopan daripada bahasa sehari-hari. Cih, kalau bukan terpaksa mana mau sih. Aku hanya takut kualat kalau tidak sopan pada suami. [Alasan. Bilang saja kamu tidak mau mengangkatnya. Kamu mengangkat telepon ini karena ini nomor Kania.] “Apaan sih? Kekanakan banget.” [Saya perlu memastikan keadaan kamu. Apanya yang kekanakan?] “Mas. Bilang aja aku baik, gak usah perhatian beneran kayak begini.” [Kamu pikir saya—] “Kashi!” [Siap—] Aku langsung mematikan panggilan mendengar seorang lelaki memanggilku. Bukan siapa yang memanggil yang kupedulikan, tetapi karena Mas Delta mendengarnya. Jika dia sudah beropini tidak peduli semasuk akal apa alasanku, dia tak akan terpengaruh. Dia pasti mencurigaiku yang macam-macam kenapa ada suara lelaki yang memanggil namaku dan menjadikannya senjata nanti. Kenapa juga Rafa harus menyerukan namaku, bukan Lana? ‘Kan jadi berabe kalau pulang nanti. “Kenapa? Kok pada diem? Gue ngeganggu ya?” tanya si ketuplak. “Enggak kok, gak apa-apa. Ada apaan, Raf?” “Oh, gue inget ada yang harus dibeli. Kuy bareng.” Dengan entengnya Rafa jalan duluan, meninggalkan kami di belakang. Lana menarikku mendekat dan berbisik, “Lo kenapa matiin telepon laki lo, Ci? Dia ‘kan dah tau kalau lo udah married.” “Tapi ‘kan dia gak tau gimana hubungan gue sama Mas Delta. Dia pasti aneh kalau ngedenger gimana cara bicara gue.” Bagus, Kashi, kamu sudah menjadi pembohong andal. “Serah lo, deh. Gue gak mau ikut campur samsek.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD