Perkataan papanya Fatih semalam masih mengiang. Dan kulitku masih bisa mengingat jelas, seberapa hangat badan pria itu selama aku memeluknya. Kepalaku nggak berhenti berdenyut. Ini menggelikan. Baru berapa minggu lalu aku berkeras ingin berpisah dari pria itu, dan sekarang aku memutar kemudiku ke arah berlawanan. "Hanya satu kesempatan. Jika tidak bisa bagaimana?" Jika tidak bisa bagaimana? Bagaimana aku menata kembali retakan hatiku? Aku membenci pria itu sebanyak aku mencintainya. Aku membenci pria itu sebanyak penolakan yang aku terima darinya namun, apa itu cukup menjadi alasanku tetap bertahan di sisinya. Tetap berharap, aku yang nanti bisa menjadi pendamping hatinya. Bukan sekadar nama di atas dokumen pernikahan. Aku ingin menguasai keseluruhan dirinya. Aku sama seperti perempua

