Bab 1

2078 Words
Athan Doxiadis Carras merupakan seorang pria berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai Godfather dari salah satu organisasi mafia yang dibangunnya sejak delapan tahun lalu saat usianya baru menginjak 22 tahun. Athan membangun organisasinya sendiri bukan di Santorini, melainkan di Perancis. Berkat kegigihannya selama delapan tahun itu, akhirnya ia berhasil membeli sebuah mansion yang terletak di Sean-Jean-Cap-Ferrat yang berdekatan dengan Kota Nice di Perancis. Raid King adalah nama organisasi yang dibuat oleh Athan. Raid King sendiri berdagang di bidang narkotika, p*******n, penjualan organ dalam serta penjualan anak dibawah umur. Organisasi ini juga terkenal sangat kejam, setelah sebelumnya Chris melumpuhkan kelompok mafia ternama di Perancis. Tak sedikit yang mengenal seorang Athan Doxiadis Carras ini. Hampir setiap masyarakat di sana mengenal perangai Athan yang sangat arogan dan bengis. Orang-orang yang berani berurusan dengannya akan musnah dan tak ada jejak maupun kabar. Sehingga ramai orang yang memperbincangkan organisasi yang dipimpin oleh Athan ini. Keinginan Athan untuk membangun organisasi ini justru ditentang keras oleh ayahnya yaitu Chrysanthos Carras atau yang lebih dikenal sebagai Chris. Chris menginginkan Athan meneruskan organisasi turun-temurun dari kakeknya yang bernama Orestes Ioanidis Carras, yang telah wafat beberapa tahun silam. Athan sendiri tidak ingin meneruskan organisasi Mávro Chéri karena terlalu lemah dan terlalu tua untuk usianya yang saat itu masih muda. Menurutnya, organisasi itu hanya diperuntukkan bagi orang tua saja. Keinginan yang bertentangan itu pun membuat Athan dan Chris bertengkar hingga Athan memilih untuk tinggal di Perancis sendirian tanpa adanya teman atau saudara yang ikut bersamanya. Di Perancis itulah kehidupan glamournya dimulai. Sepanjang waktu, Athan selalu menghabiskan waktu dengan beberapa jalang untuk memuaskan hasrat biologisnya dan merasa bahwa dirinya sangatlah tampan dan mempesona sehingga banyak wanita yang tergila-gila padanya. Terkecuali wanita yang ia temui saat di hotel tadi. Athan tampak duduk di kursi kebesarannya sambil memegang segelas wine. Dia menengguk sedikit demi sedikit wine tersebut sambil melamunkan sesuatu. Sementara wanita yang bergelayut manja di pundaknya tampak terabaikan sebab pikiran Athan yang melayang entah kemana. Wanita itu merasa kesal dan menepuk lengan pria tersebut. “Kenapa kau mengabaikanku?” tanya wanita itu kesal. “Diamlah,” balas Athan kasar. “Jika kau merasa kuabaikan, sebaiknya kau pulang. Biar Fernand yang mengantarmu.” “Aku tidak mau.” “Kalau begitu, kau diam saja di sini. Jangan banyak protes,” ucap Athan. Wanita itu mendengus dan memilih untuk berbaring di atas ranjang milik Athan. Hingga tak lama suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Athan pun mempersilahkan orang tersebut masuk lalu tersenyum saat melihat siapa yang datang. Pria berusia 30 tahun itu berdiri kemudian berhadapan dengan Michaël Magnan, orang kepercayaannya. “Bagaimana? Apa kau sudah menemukan informasi tentangnya?” tanya Athan tak sabaran. Michaël mengangguk sambil menyerahkan sebuah map cokelat kepada Athan. “Didalam sana terdapat beberapa informasi tentang wanita itu, Monsieur. Informasi yang saya dapatkan sangat lengkap dan akurat. Jadi, saya rasa Anda akan merasa puas.” “Bagus, Michaël. Kau memang mata-mata terbaikku,” puji Athan sambil membuka map tersebut lalu membacanya. Dia tersenyum menyeringai sambil menganggukan kepala secara berkala. Athan bahkan mengabaikan panggilan wanita yang kini masih berada di atas ranjangnya dengan hanya mengenakan celana dalam dan bra berwarna hitam. Sementara Michaël hanya menggeleng melihat tingkah wanita tersebut. “Monsieur,” panggil Michaël. Athan menatap Michaël. “Ada apa?” “Maaf jika saya lancang. Monsieur meminta data itu untuk apa? Apa karena kejadian tadi?” tanya Michaël dengan hati-hati karena takut tuannya itu akan marah padanya. “Kau akan tahu setelah aku melakukannya nanti. Tunggu besok,” jawab Athan dengan seringai yang begitu jelas sehingga membuat Michaël sedikit merasa khawatir. Mengingat status wanita itu. Michaël memilih untuk tidak berkomentar karena tuannya itu tidak pernah suka dengan yang namanya perdebatan. Daripada dirinya harus menerima kemarahan Athan, lebih baik dia diam selagi hal yang dilakukan tuannya tidak melebihi batas kewajaran. “Baiklah, kalau begitu saya permisi, Monsieur. Sepertinya wanita Anda sudah menunggu sejak tadi,” ucap Michaël diikuti kepala Athan yang menoleh ke belakang untuk melihat wanita tersebut. “Ya, baiklah. Kau boleh pergi sekarang.” Michaël pun mengangguk dan beranjak pergi dari kamar Athan. Sementara Athan meletakkan map cokelat itu di atas nakas lalu membuka piyama tidurnya hingga menampilkan tubuh yang begitu atletis di sana. Athan pun naik ke atas ranjang dan mulai menerkam wanita itu dengan ganas. Malam ini akan menjadi malam yang panjang baginya sebelum fajar menyingsing untuk melanjutkan misi rahasianya. *** Seorang wanita tampak tergesa-gesa berjalan di sebuah lobi perusahaan dengan heels hitam yang dijinjing dengan tangan kanannya. Dia juga terlihat sangat panik sambil sesekali berlari kecil dan menyibakkan rambut curly sepinggangnya ke belakang. Dandanan yang terlihat natural membuatnya sangat mempesona sehingga banyak tatapan pria yang tertuju padanya di sepanjang lobi. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan mengabaikan ponsel yang terus berdering di dalam tas jinjingnya. Sesekali dia mengumpat kesal hingga membuat salah seorang teman menyapanya dan menanyakan keadaannya. “Kau baik-baik saja, Zehra?” “Apanya yang baik-baik saja? Aku terlambat pemotretan dan Max memakiku di telepon. Aku harus segera menemuinya agar sesi pemotretan tidak dibatalkan,” jawab wanita itu kesal. “Ya baiklah. Cepat temui dia.” Wanita itu hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Hingga akhirnya ia tiba di depan pintu salah satu ruangan bertuliskan 'ruang pemotretan'. Sebelum masuk ke dalam, wanita tersebut menarik napas dalam lalu membuangnya secara perlahan, berusaha menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kemarahan bosnya yang bernama Max Lemaire. “Pagi, Bos,” sapa wanita itu dengan cengiran kudanya. “Untuk apa kau datang? Pemotretan untukmu sudah dibatalkan oleh sponsor,” ujar Max kesal. “Astaga! Aku mohon padamu untuk tidak membatalkan pemotretan begitu saja. Kau kan tahu aku sangat lelah kemarin.” Zehra Ergen merupakan seorang yatim -piatu yang berusia 26 tahun. Dia berprofesi sebagai model ternama di Perancis. Akan tetapi dia bukanlah warga asli Perancis karena kedua orang tuanya merupakan keturunan asli Turki. Kedua orang tuanya meninggal saat ia berusia 18 tahun dan saat itu adalah saat-saat terburuk bagi Zehra. Ditinggalkan kedua orang tuanya dan dijauhi oleh saudara dari kedua orang tuanya dikarenakan kehidupan ekonomi mereka yang hanya pas-pasan saat itu. Zehra harus menghidupi kebutuhannya sendiri semenjak kedua orang tuanya meninggal di Turki. Dan untungnya, Zehra bertemu dengan seseorang yang saat itu tak sengaja bertemu dengannya di salah satu kafe tempat Zehra bekerja paruh waktu karena saat itu Zehra masih kuliah. Pertemuannya dengan seseorang itulah membuatnya berhasil mencapai keinginannya untuk menjadi model terkenal dan dihargai semua orang. Lemaire Entertainment adalah tempat Zehra mengais rezeki selama berhijrah ke Perancis. Ia tinggal di Kota Nice dan jarak ke Lemaire Entertainment tidaklah jauh dari tempat tinggalnya. “Max, kumohon,” pinta Zehra lagi dengan mata berbinar. “Hah,” desah Max. Dia menatap asistennya kemudian memberi isyarat untuk segera mempersiapkan Zehra. Kali ini Max memberinya kesempatan karena dia tidak suka dengan ekspresi berbinar seperti itu. Zehra pun dibawa oleh asisten Max ke dalam ruang make up dan kostum. Sementara Max kembali melanjutkan sesi pemotretan untuk modelnya yang lain. Namun salah satu resepsionis di kantornya mendadak masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Max. “Ada seorang pria yang mencari Zehra, Bos.” Dahi Max mengernyit. “Maksudmu, Emir?” “Bukan, tapi Godfather dari Raid King yang mencarinya,” ujar sang resepsionis dengan wajah ketakutan. “Saat ini dia sedang menunggu Zehra di lobi. Aku takut dia akan membunuhku jika Zehra tidak keluar untuk menemuinya, Bos.” “Astaga! Memangnya dia ada masalah apa dengan Godfather itu?” gumam Max heran. “Aku juga tidak tahu, Bos. Lebih baik Bos segera menyuruh Zehra untuk menemui pria itu jika perusahaan ini ingin selamat dari kemarahannya.” Max mengangguk setuju lalu berteriak memanggil nama wanita yang dimaksud. “Zehra! Zehra, cepat keluar! Ada yang ingin bertemu denganmu!” Zehra pun muncul tergesa-gesa dengan balutan dress tanpa lengan yang panjangnya sedikit di atas lutut dan berwarna merah muda. Dia pun menatap Max dengan kening mengkerut sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a. “Bos, kau kan tahu aku sedang ganti pakaian. Kenapa kau memanggilku?” tanya Zehra kesal. Max mendecak tak kalah kesalnya. Dia menarik Zehra sedikit menjauh dari kru-kru lainnya lalu berbicara pelan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. “Apa kau punya masalah dengan Godfather dari Raid King?” tanyanya kemudian. “Non (Tidak). Memangnya kenapa?” “Kau yakin?” tanya Max lagi dan mengabaikan pertanyaan Zehra. “Ya. Ada apa ini?” Max mendesah kasar. “Jika kau tidak memiliki masalah dengannya, kenapa dia datang ke sini dan mencarimu, hah? Apa kau bisa jelaskan itu?” “Apa? Dia datang ke sini?” “Ya.” Zehra menepuk keningnya sambil merapalkan kalimat tak jelas sehingga membuat Max semakin pusing mendengarnya. “Ini pasti karena kemarin,” ujar Zehra. “Hm? Kemarin? Memangnya kenapa dengan kemarin?” tanya Max bingung. Zehra menyengir kuda sambil menggeleng kecil. “Tidak apa-apa, Bos. Kemarin aku lupa membeli stok makanan.” “Hah, kau ini! Sudah cepat temui dia jika kau tidak ada masalah apa-apa dengannya,” perintah Max pusing. Zehra tertawa kecil lalu bergegas pergi menuju lobi untuk menemui pria yang dimaksudkan oleh Max tadi. Di sepanjang lorong menuju lobi, Zehra tak berhenti mengumpat kesal kepada pria itu karena telah datang di saat yang tidak tepat. Ini proyek besar dan ada saja pihak-pihak lain yang mengganggu pekerjaannya. Langkah kakinya kini terhenti tepat di depan sofa yang diduduki oleh Athan. Dengan tatapan tidak suka ia melipat kedua tangannya di bawah d**a dan mulai menanyakan maksud kedatangan Athan ke tempat kerjanya hingga membuat karyawan lain ketakutan. “Apa tujuanmu datang ke sini? Dan darimana kau tahu tempat kerjaku?” tanya Zehra to the point. “Hei tenanglah. Bisakah kita mengobrol sambil duduk? Atau kau ingin duduk di atas pangkuanku, Sayang? Silahkan. Aku mengizinkanmu,” ujar Athan sambil menepuk kedua pahanya dengan senyuman menggoda. “Hei!” Jari telunjuk Zehra mengarah ke wajah Athan. “Jaga sopan santunmu, Athan Doxiadis Carras. Aku bukanlah wanita hina seperti yang kau katakan tadi.” “Sayang, santai saja. Aku hanya bercanda,” ujar Athan tanpa merasa bersalah sedikitpun. “Aku datang ke sini mempunyai tujuan khusus.” Zehra mengernyit. “Apa tujuanmu?” “Begini,” Athan bangkit berdiri kemudian berjalan mendekati Zehra. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana sementara senyum seringainya masih terlihat jelas di sudut bibirnya, “... aku ingin kau bekerja untukku dan aku akan membayarmu sesuai dengan permintaanmu. Nanti kau sebutkan saja nominalnya.” “Pekerjaan apa yang akan kau berikan padaku?” “Mudah saja. Kau hanya melayaniku setiap hari di mansion dan kau bisa menikmati segala fasilitas mewah yang kuberikan nantinya. Bagaimana? Apa kau tertarik?” tawar Athan. Zehra menyeringai dan berdecih. “Kau tawarkan saja pekerjaan itu pada jalang di luar sana. Pekerjaanku saat ini jauh lebih baik daripada pekerjaan yang kau tawarkan.” “Sialan! Sombong sekali wanita ini,” ucap Athan kesal. “Kau tidak perlu munafik, Zehra Ergen. Aku tahu, berapa gajimu di sini. Jadi, jangan merasa bahwa ini adalah pekerjaan terbaik untukmu. Kau itu hanya anak yatim-piatu.” Zehra yang merasa tidak suka dengan perkataan Athan pun langsung menampar pipi kirinya. Kedua mata indahnya menatap nyalang sementara raut wajahnya berubah memerah. “Kau pikir, anak yatim-piatu sepertiku mau bekerja melayanimu?! Aku masih punya harga diri dan aku tidak akan pernah mau bekerja dengan orang yang arogan dan sombong sepertimu. Pergi kau!” Athan memegang pipi kirinya dengan tatapan yang begitu menyeramkan ke arah Zehra. Dia menunjuk wanita itu tanpa berkata lalu pergi meninggalkan Lemaire Entertainment diikuti Michaël di belakangnya. Sementara Zehra mendapat tepukan tangan dari beberapa karyawan di sana karena Zehra berani melawan pria yang selama ini terkenal arogan dan bengis itu. Mereka juga tidak suka dengan kehadiran Athan di sana. Zehra mencoba menormalkan kembali emosinya lalu bergegas masuk kembali ke ruang pemotretan karena ia tidak ingin kehilangan tawaran dari sponsor. Sembari berjalan dia mengumpat pelan, “Aku bersumpah tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi! Dasar pria berengsek!” *** Athan membanting pintu kamarnya dengan keras setelah dirinya tiba di mansion. Dia kesal akan perkataan Zehra tadi. Baru kali ini ada seorang wanita yang menolak tawarannya. Bahkan Zehra berani menamparnya di depan Michaël dan karyawan Lemaire Entertainment. Dia menghempaskan semua barang yang ada di kamarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Bahkan dirinya juga mengabaikan ucapan Michaël yang saat ini masuk ke kamarnya. “Sial! Kenapa tidak langsung kubunuh saja dia?! Dia sudah mempermalukanku di depan semua orang! Aku tidak terima!” teriak Athan geram. “Kau lihat saja nanti pembalasanku, Zehra Ergen!” To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD