Kekesalan seorang Athan masih terlihat jelas di wajahnya. Ekspresinya sungguh mengerikan, sampai membuat Michaël diam seribu bahasa, tidak berani bertanya tentang apapun. Michaël sudah tahu jelas bagaimana karakter bosnya itu. Jika ia salah berbicara sedikit saja, tamatlah riwayatnya. Michaël juga sangat menyayangkan ucapan Zehra kemarin. Harusnya wanita itu tidak berbicara kasar pada bosnya, karena akan merugikan diri Zehra sendiri nantinya. Pria berusia 38 tahun itu sudah memahami apa yang akan terjadi pada Zehra. Athan bukanlah tipe pria yang mudah menyerah jika sedang menginginkan sesuatu.
Sejak kemarin, Athan memang tidak banyak berbicara. Bahkan saat sedang rapat dengan petinggi mafia lainnya pun, Athan tidak memfokuskan diri. Hati dan pikirannya masih tertuju pada sosok Zehra yang telah mempermalukannya di Lemaire Entertainment kemarin. Wanita itu benar-benar sudah memancing amarahnya dalam sekejap.
"Michaël," Athan bersuara dan langsung dibalas oleh Michaël.
"Ya, Monsieur?"
"Bawa Max kehadapanku," Athan memerintahkan Michaël dengan tatapan yang masih tertuju ke arah jendela ruangan khususnya. "Bawa dia secara baik-baik. Tapi jika dia memberontak, bawa dia secara paksa. Suntikkan bius agar dia tetap diam," lanjutnya.
Michaël mengangguk. "Akan saya laksanakan, Monsieur."
Michaël pun pamit, meninggalkan Athan sendirian di ruangannya. Sejujurnya, Michaël enggan menumbalkan seseorang yang tidak ada kaitannya dengan masalah Athan dan Zehra. Meskipun ia merupakan orang kepercayaan seorang bos mafia. Michaël masih memiliki akal pikiran yang logis. Akan tetapi, ia juga tidak bisa membantah apa yang diperintahkan oleh Athan. Jika dirinya membantah sedikit saja, bisa jadi nyawa keluarganya akan terancam. Athan tidak pernah segan membunuh orang yang mencari masalah dengannya. Itu sebabnya, Michaël tidak bisa berbuat apapun selain menurutinya.
Setelah beberapa menit kemudian, Michaël beserta dua orang anggota lainnya sudah tiba di depan gedung Lemaire Entertainment. Sebelumnya, Michaël sudah menyiapkan beberapa alat bius, sesuai dengan yang diperintahkan Athan. Michaël pun masuk ke dalam gedung tersebut dan semua staf yang ada di sana hanya diam membisu. Mereka sudah tahu kalau Michaël adalah kaki tangan bos mafia. Mereka tidak berani melarang Michaël sedikitpun.
"Bisa kita bicara sebentar, Max?"
Suara Michaël membuat Max yang tengah disibukkan dengan foto-foto modelnya di ruangan pun mendongak untuk menatap Michaël. Max terkejut dan langsung berdiri dari kursinya. "A-da apa?"
"Tidak perlu takut. Santai saja," ujar Michaël sambil duduk di kursi lainnya.
Max pun menurut dan kembali duduk di kursinya tadi. Ia mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan karena kehadiran Michaël beserta dua orang lainnya. "Ada yang bisa saya bantu, Monsieur?" tanyanya kemudian.
"Saya ingin mengajak anda untuk bertemu dengan bos saya, Athan Doxiadis Carras. Anda pasti sudah familiar dengan nama itu, kan?" Michaël berusaha berbicara sesantai mungkin agar Max tidak terlalu ketakutan.
"Ya. Saya sangat mengenalnya. Tapi, ada keperluan apa beliau ingin bertemu dengan saya, Monsieur?"
Michaël tersenyum tipis. "Hanya untuk berbincang ringan saja. Barangkali, beliau ingin mengajak anda untuk berbisnis dengannya. Soal keuntungan, beliau sangat bisa dipercaya."
"Ah, begitu."
"Bagaimana? Anda bersedia ikut dengan kami?" tanya Michaël memastikan.
"Baiklah. Saya akan ikut anda."
Setelah Max menyetujuinya, mereka semua bergegas keluar dari gedung tersebut menuju kediaman Athan. Sementara di tempat lain, Zehra baru saja datang dan melihat Max masuk ke sebuah limosin berwarna hitam, bersama tiga pria yang tak asing di pandangannya. Zehra pun mendekati salah satu resepsionis untuk menanyakan perihal kepergian Max.
"Bos pergi dengan siapa?" tanya Zehra.
"Apa kau tidak mengenali tiga pria yang pergi bersama bos tadi?"
Resepsionis itu justru balik bertanya pada Zehra dan dijawab dengan gelengan kepala saja oleh Zehra. Resepsionis bernama Vancy itu pun menepuk kening Zehra, karena tidak mengingat sosok Michaël, padahal baru kemarin Zehra bertemu dengannya.
Zehra mengelus keningnya. "Kenapa kau menepuk dahiku?!"
"Kau tidak ingat, bos mafia itu datang bersama orang kepercayaannya kemarin?"
Zehra mencoba mengingatnya kembali. Dan beberapa detik setelahnya, ia baru menyadari hal tersebut. Tapi, untuk apa mereka membawa Max pergi? Apa ini ada kaitannya dengan Athan? Pikir Zehra.
"Kau sudah ingat?"
"Ya, aku ingat," jawab Zehra. "Tapi, kenapa bos ikut mereka?"
"Mungkin ingin membahas tentangmu."
Zehra melongo tak percaya. "Apa hubungannya denganku?"
"Kau kan sudah mempermalukan bos mafia itu kemarin. Aku yakin, bos mafia itu pasti ingin menuntut balas atas perlakuanmu," jawab Vancy sedikit kesal.
Mendengar jawaban Vancy, Zehra lantas mendadak takut. Ia takut, Max akan dijadikan pelampiasan kemarahan Athan. Zehra merutuki kesalahannya sendiri yang telah membuat Max terlibat dalam masalah ini. Haruskah ia menemui Athan dan meminta maaf? Ah, tidak. Itu akan merendahkan harga diri Zehra sendiri. Ia tidak ingin dimanfaatkan oleh bos mafia jahat seperti Athan itu. Lebih baik, Zehra menunggu kepulangan Max dan langsung bertanya pada bosnya itu. Barangkali, ini tidak ada kaitannya dengan masalah kemarin. Zehra mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada masalah apapun.
Zehra pun meninggalkan Vancy begitu saja menuju ruang ganti. Hari ini, ia mendapat jadwal pemotretan dari sebuah brand terkenal. Setelah berganti pakaian, Zehra memutuskan untuk menghubungi Emir, sahabatnya dari Turki. Sejak kemarin, ia tidak sempat berbicara atau menemui Emir karena kesibukannya. Jika sudah sampai di rumah dan kelelahan, Zehra akan langsung tertidur di kamar dan tidak sempat untuk membersihkan diri. Itulah kebiasaan Zehra selama menjadi seorang model.
"Kemana saja kau, Zehra? Aku menunggumu sejak semalam."
Zehra terkekeh kecil mendengar omelan Emir. "Maaf ya. Aku kelelahan dan langsung tidur semalam. Kau kan tahu, aku sedang disibukkan dengan beberapa kegiatan."
"Ya, baiklah. Tapi, kau harus tetap menjaga kesehatan."
"Itu sudah pasti," ujar Zehra. "Sebenarnya, aku ingin bercerita tentang sesuatu padamu."
"Tentang apa?"
Zehra menghela napasnya sejenak. "Kemarin, Athan menemuiku."
"Athan? Maksudmu Athan Doxiadis Carras?"
"Ya. Kau benar."
"Kenapa dia menemuimu? Apa kau membuat masalah dengannya?"
Pertanyaan Emir lantas membuat Zehra terdiam. Emir benar. Tanpa disadari, Zehra telah membuat masalah dengan Athan. Harusnya kemarin, ia menolaknya secara halus saja dan tidak perlu menamparnya. Zehra pun mendadak ketakutan. Ia menggigiti kuku ibu jarinya dengan perasaan yang tidak baik. Zehra langsung teringat dengan ucapan Vancy tadi. Mungkin wanita itu benar. Orang kepercayaan Athan membawa Max untuk membahas masalahnya yang menampar Athan. Oh, tidak! Zehra benar-benar dalam masalah besar.
"Zehra. Zehra."
Zehra tersentak mendengar namanya dipanggil Emir dari telepon. "Ya. Maaf, aku melamun. Aku tutup dulu ya. Pemotretan akan dimulai."
"Ah, baiklah. Sampai nanti."
***
Di tempat lain, Max tampak duduk gelisah di salah satu sofa yang berada di ruangan luas milik Athan. Perasaan Max sangat tidak enak saat berada di rumah Athan. Hawanya menyeramkan dan tidak ada aura positif sedikitpun. Pikiran Max pun mengarah pada status Athan sebagai bos mafia terkejam di Perancis. Athan sudah pasti pernah membunuh orang lain di rumah besar ini. Aura negatif itu berasal dari arwah orang-orang yang telah dibunuh di sana. Astaga! Memikirkannya saja sudah membuat Max merinding, apalagi sampai ia melihat kejadiannya secara langsung. Sudah pasti ia akan pingsan dan enggan untuk bangun kembali.
Max terlonjak kaget saat mendengar suara decitan pintu dibuka. Ia menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Athan sudah berdiri di sana. Max langsung berdiri dari tempat duduknya sambil menunduk hormat pada pria tersebut. Athan tersenyum sambil berjalan mendekati Max.
"Duduklah, Max," Athan berbicara santai pada Max sambil duduk di sofa single yang ada di arah kanan Max. "Maaf, aku sudah mengganggu waktumu hari ini."
"Ah, tidak, Monsieur. Saya sama sekali tidak terganggu," sangkal Max.
"Baiklah. Silahkan nikmati minumannya."
Athan mengambil sebotol anggur lalu menuangkannya di dalam gelas kosong. Gelas tersebut pun diberikan Athan pada Max. Max menerimanya dengan baik, kemudian meminumnya sedikit saja. Ia tahu, anggur itu sangat mahal dan Athan sanggup membelinya.
"Terima kasih, Monsieur," ucap Max.
Athan mengangguk. "Baiklah. Langsung saja kukatakan maksudku memanggilmu ke sini. Aku ingin, kau memecat wanita bernama Zehra Ergen itu dari perusahaanmu."
"Hah? Tapi, kenapa?"
"Aku hanya ingin membuatnya menderita, lalu memohon padaku," ujar Athan dengan senyum seringainya. "Kau pasti tahu apa yang sudah dia lakukan padaku kemarin. Dia sudah mempermalukanku di depan semua orang. Masih untung aku tidak menarik pelatukku untuk membunuhnya."
Max sudah menduga hal tersebut. Dalam hatinya, ia kesal pada Zehra yang sudah bermain-main dengan seorang bos mafia terkejam. Max tidak bisa membantu Zehra jika sudah seperti ini. Athan tidak bisa dibantah. "Tapi, Monsieur, saya tidak tega memecatnya. Dia anak yatim-piatu dan tidak punya keluarga di sini."
"Kau tenang saja. Setelah dipecat, kupastikan dia akan menemuiku dan memohon untuk kunikahi." Athan menyodorkan sebuah map berwarna merah kepada Max, "Silahkan dibaca terlebih dulu. Jika kau setuju, langsung tandatangani."
Max menerima map tersebut lalu membukanya. Ia membaca seluruh isi dari perjanjian itu. Max sedikit terkejut saat mendapat tawaran seperti itu. Dalam perjanjian itu, disebutkan bahwa Athan akan membeli sebagian saham Lemaire Entertainment dan Max harus mengikuti perintah Athan jika dirinya menyetujui perjanjian tersebut. Max tidak menyangka, dampaknya akan seburuk ini.
Max menatap Athan. "Monsieur, saya tidak menjual perusahaan itu."
"Ah, jadi kau tidak setuju?"
"Bukan begitu. Saya memang tidak ingin mengorbankan perusahaan saya hanya karena urusan anda dengan salah satu model saya. Ini tidak adil untuk saya," Max mencoba menjelaskan. "Tolong, jangan libatkan perusahaan yang sudah saya bangun dengan susah payah."
Athan menyeringai dengan tatapan tajamnya. "Baiklah. Kalau begitu, siap-siap perusahaanmu aku bakar sampai habis dan kau akan jadi pengemis di jalanan. Bagaimana?"
Apa yang dipikirkan Michaël memang benar. Athan tidak akan menyerah sampai dirinya bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Max harus bisa memikirkan masalah ini dengan baik. Menolak perjanjian itu dan menjadi miskin? Atau menerima perjanjian itu dengan mengorbankan sebagian sahamnya dibeli oleh Athan?
To be continue~