Max masih diam memikirkan kesepakatan yang diberikan oleh Athan. Tidak mungkin seorang Max tega membiarkan Zehra dijadikan sebagai istri dari seorang mafia terkejam di Perancis. Max memikirkan masa depan wanita itu jika menikah dengan Athan, apalagi Zehra anak yatim-piatu yang tidak pantas mendapat perlakuan kasar dari pria itu. Max tahu bagaimana watak Athan. Beberapa gosip yang beredar mengenai Athan yang suka mempermainkan wanita, Max menjadi ragu pada pria itu. Tidak mungkin Athan membebaskan Zehra begitu saja dalam dunia modelling. Tapi disatu sisi, Max juga harus memikirkan perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah. Jika Max tidak menuruti keinginan Athan, maka tamatlah kelangsungan perusahaannya. Sudah pasti perusahaannya akan diserang habis-habisan sampai tidak tersisa. Max benar-benar bimbang. Pilihan yang diberikan juga sangat sulit baginya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada masa depan yang dikorbankan. Entah itu masa depan Zehra, atau masa depan perusahaannya sendiri.
Sementara Athan, masih setia menunggu jawaban dari Max dengan santai sambil meminum winenya. Tatapannya terlihat begitu intens menatap Max. Bahkan sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian kecil. Sepertinya, Athan sangat menyukai situasi ini. Membuat orang bingung saat bernegosiasi sangat memuaskan hati Athan. Definisi bahagia di atas penderitaan orang lain. Begitulah sifat asli Athan yang sebenarnya. Sungguh buruk dan berbeda jauh dari sifat kedua orang tuanya yang terkenal baik, meski Chris tergolong ketua mafia yang terkenal. Tapi setidaknya, Chris masih memiliki hati nurani saat memperlakukan orang lain, terutama makhluk yang berjenis kelamin wanita.
Athan berdeham sambil meletakkan gelasnya di meja. Max pun tersentak saat mendengar dehaman dari ketua mafia kejam itu. Mereka saling menatap satu sama lain. Athan dengan tatapan santai, namun mengintimidasi. Max dengan tatapan ketakutan disertai keringat dingin di keningnya.
"Bagaimana, Max? Sudah bisa memutuskan?" tanya Athan santai, tanpa dosa.
Max menelan ludahnya dengan susah payah. "Apakah... saya bisa minta waktu sampai besok? Sa-Saya belum bisa memutuskan sekarang."
"Baiklah." Athan sedikit mencondongkan wajahnya ke depan meja agar Max bisa melihatnya lebih dekat dengan tatapan mengintimidasi itu. "Tapi, jangan terkejut saat kau datang ke kantor besok pagi. Kau tahu kan, aku tidak suka membuang waktu dalam bernegosiasi. Aku sudah memberimu waktu beberapa menit tadi. Harusnya, kau sudah bisa memutuskan, mana yang akan menguntungkanmu dan mana yang tidak. Itu mudah, kan?" lanjutnya disertai ancaman.
"Ja-Jadi saya tidak punya kesempatan sampai besok?"
Athan membenarkan kembali posisi duduknya sambil menggeleng. "Dalam kamusku, tidak ada kesempatan untuk besok hari. Jika aku sudah memberi negosiasi hari ini, kau juga harus menjawabnya hari ini juga."
Kepala Max semakin pusing memikirkan hal ini. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang, jika ingin hidup dengan tenang dan selamat, jangan coba-coba mencari masalah dengan ketua mafia terkejam seperti Athan. Lebih baik menghindari daripada harus menanggung derita sepanjang hidup, karena terus diteror oleh kelompok Raid King. Max menjadi kesal. Pasalnya, semua kejadian ini terjadi karena kesalahan Zehra. Memang Max suka sikap to the point Zehra dalam membela diri. Tapi ia tidak berpikir untuk ke depannya saat mencari masalah dengan Athan. Selagi itu pria lain, Max tidak mempermasalahkannya. Tapi ini Athan, ketua mafia dari Raid King dan paling kejam di Perancis. Semua orang takut berurusan dengannya dan sekarang, Max harus menanggung semua resiko yang ditimbulkan dari kesalahan Zehra.
"Kenapa kau bingung menentukannya? Bukankah wanita itu penyebab kau mengalami kesulitan seperti ini? Harusnya, kau korbankan saja dia dan selamatkan perusahaanmu. Jika aku jadi kau, mungkin aku akan mengorbankannya," ujar Athan.
Max menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan sambil memejamkan mata. Mungkin memang ia harus merelakan Zehra untuk Athan, karena ini masalah antara Zehra dan Athan. Max tidak bisa ikut campur terlalu dalam. Lagipula, Max juga harus memikirkan nasib karyawan lain yang masih membutuhkan pekerjaan di perusahaannya.
"Baiklah. Saya akan merelakan Zehra." Akhirnya Max memutuskan pilihannya, "Tapi, saya mohon, jangan sakiti Zehra. Dia anak yatim-piatu dan tidak punya keluarga sedikitpun di sini, kecuali sahabat baiknya, Emir," pintanya.
Athan mengangguk. "Oke. Tapi, aku hanya berjanji untuk satu persen saja. Sembilan puluh sembilan persen lainnya, aku tidak bisa menjamin. Semua tergantung dari sikapnya padaku. Jika dia bersikap baik, maka akan kupertimbangkan lagi untuk menyakitinya. Tapi jika dia masih bersikap kasar, maka aku tidak akan segan memukulnya. Atau bahkan mungkin sampai membunuhnya."
Max sudah menduga hal ini. Athan bukanlah orang yang mudah untuk diajak bernegosiasi. Mendengar kata terakhir dari Athan saja sudah membuat Max merinding dan tidak sanggup untuk membayangkannya. Max tidak tahu, keputusannya ini benar atau tidak. Yang jelas, Max harus menentukannya.
"Baiklah. Saya tidak bisa menentang ucapan anda, Monsieur," ucap Max pasrah. "Apa saya sudah boleh kembali ke kantor sekarang?"
"Silahkan. Anak buahku akan mengantarkanmu."
Max hanya menurut dan mengikuti langkah Athan yang juga hendak keluar dari ruangan tersebut. Athan memerintahkan Michäel untuk kembali mengantarkan Max ke kantornya. Michäel mengangguk lalu mengajak Max turun ke bawah dan bergegas ke halaman depan. Mobil sudah tersedia di sana dan siap mengantarkan Max. Sementara Athan tampak senang dengan hasil negosiasinya hari ini. Rencananya untuk membalas dendam terhadap wanita itu, akhirnya terkabulkan. Tidak ada yang bisa menghalanginya kali ini dan Zehra tidak mampu berkutik setelah ini.
***
Setibanya di kantor, Max langsung mencari keberadaan Zehra dan ternyata wanita itu sedang melakukan sesi pemotretan untuk brand terkenal. Max masuk ke ruangan tersebut, lalu meminta seluruh kru untuk berhenti melakukan pemotretan pada Zehra. Max meminta Zehra untuk masuk ke ruangannya lebih dulu, sementara Max harus berbicara dengan kru dari brand tersebut. Ia segera membatalkan kontrak dengan brand tersebut dan berjanji akan menggantikannya dengan model yang lain. Tapi kru dari brand itu tidak setuju dan tetap ingin memakai Zehra sebagai model mereka, karena kecantikan Zehra yang begitu menawan. Max menjadi bingung dan meminta kru tersebut untuk menunggu sejenak.
Max bergegas masuk ke ruangannya dan berbicara pada Zehra. "Zehra, ada hal penting yang ingin kukatakan padamu."
"Hal penting apa?" tanya Zehra.
"Mulai detik ini dan seterusnya, kau akan berhenti jadi model di sini," ujar Max dengan tegas.
Zehra terkejut dan menggebrak meja. "Apa maksudmu?! Aku sudah bertahun-tahun di sini, tapi kau malah memecatku begitu saja! Apa salahku?!"
"Hhh!" Helaan napas kasar terdengar dari Max. Hal ini sudah dipikirkan oleh Max sebelumnya. Pasti Zehra tidak akan terima dengan keputusan yang terkesan mendadak ini. "Maafkan aku, Zehra. Tapi aku harus melakukan ini, kecuali kau mau menikah dengan Athan. Ketua mafia terkejam yang telah kau permalukan di depan umum. Jika kau menikah dengannya, maka karirmu sebagai model akan tetap berjalan seperti biasanya. Tapi jika tidak, kau harus merelakan karirmu begitu saja."
"Tapi, ke-kenapa mendadak seperti ini? Apa yang sudah kau lakukan padaku, hah? Kau mempertaruhkan masa depanku untuk pria gila seperti dia? Apa kau sudah tidak punya akal sehat, Max?" tanya Zehra dengan ucapan sarkas. Hatinya seakan tidak terima dengan semua ini. Tidak mungkin ia menggadaikan masa depannya hanya untuk pria seperti Athan. Tidak mungkin. "Aku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku. Aku meniti karir ini dengan susah payah, dan kau dengan mudahnya mengorbankan masa depanku begitu saja. Apa kau tidak berpikir sebelum memutuskannya, hah? Atau jangan-jangan, kau sama sekali tidak memikirkanku dan lebih mementingkan perusahaanmu saja?"
Max menggeleng pelan. "Aku sudah berusaha semampuku, Zehra. Aku sudah meminta kesempatan untuk memutuskannya besok. Tapi, itu tidak mudah. Athan sangat sulit diajak bernegosiasi. Jika dia sudah memberikan pilihan, maka jawabannya harus ditetapkan hari itu juga. Kau tidak tahu bagaimana ketakutanku tadi. Jika kau ada di posisiku, mungkin kau tidak akan bisa menentukannya."
"Apa pilihan yang diberikan olehnya?"
"Memecatmu dari sini, lalu dia akan membeli separuh saham perusahaan ini. Jika aku menolak, maka taruhannya adalah, perusahaanku akan habis dibakar," jawab Max jujur. "Itu pilihan yang sulit bagiku. Aku memutuskan untuk memecatmu, karena aku juga memikirkan nasib karyawan lain. Jika aku memilih mempertahankanmu, karirmu juga akan lenyap bersama kantorku yang terbakar habis. Dan karyawanku semuanya akan menjadi pengangguran, sementara mereka juga butuh uang untuk biaya hidup. Memang ini masalahmu dengan Athan, tapi juga berdampak pada perusahaan ini. Harusnya kau bisa berpikir dua kali sebelum mempermalukan Athan saat itu."
Zehra menunduk lesu. Dugaannya sejak tadi ternyata benar. Max pasti diberikan pilihan yang sulit dan itu semua karena ulahnya. Tapi, menyesal juga tidak ada gunanya. Semuanya sudah terlambat dan tidak ada pilihan lain, selain menerima pemecatan ini. "Jadi, tidak ada harapan lain lagi untukku, Max?"
"Aku minta maaf, Zehra. Aku sudah berusaha semampuku," ucap Max menyesal.
"Baiklah. Aku terima pemecatan ini." Akhirnya Zehra mengalah dan memutuskan untuk pergi dari perusahaan itu. "Tapi, aku tidak sudi menikah dengannya. Lebih baik aku mencari pekerjaan lain daripada harus memohon padanya. Manusia seperti itu tidak pantas untuk hidup."
"Terserah kau saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Zehra berdiri dari kursi yang didudukinya, lalu berjalan keluar dari ruangan Max dengan perasaan marah dan sedih sekaligus. Dipecat secara tidak hormat tanpa pesangon apapun, itu sangat menyakitkan bagi Zehra. Padahal, Zehra sudah berharap akan menjadi model yang semakin terkenal setelah ini. Namun sayang, harapannya sia-sia hanya karena Athan Doxiadis Carras.
Di sepanjang koridor, Zehra terus melamun. Memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini. Ia harus kembali berjuang dari nol untuk mencapai kesuksesan yang diinginkan sebelumnya. Mungkin dirinya harus mendaftarkan diri ke perusahaan entertainment lainnya untuk melanjutkan mimpinya itu. Tapi, ia juga butuh seseorang untuk menemaninya.
"Zehra!"
Zehra yang terpanggil pun menoleh ke belakang. Dilihatnya sahabat baiknya itu tengah berlari mendekatinya dengan napas tersengal. "Kau mau kemana? Kenapa membawa barang-barangmu?"
"Aku dipecat, Michèle," jawab Zehra dengan suara paraunya.
Michèle Rodier merupakan teman baik Zehra selama bekerja di perusahaan Max. Michèle selalu perhatian pada Zehra dan selalu menjadi teman cerita yang baik. Selain itu, Michèle adalah orang kedua setelah Emir yang selalu mendukung karirnya agar semakin cemerlang. Mungkin setelah mendengar berita buruk ini, Michèle akan langsung menghampiri Max dan memarahinya.
"Hah?! Bagaimana bisa kau dipecat?!"
Zehra menunduk lesu. "Semua ini karena ketua mafia gila itu."
"Ketua mafia gila?" Michèle mengernyit bingung. Mencoba mengingat seseorang yang dimaksud oleh Zehra. "Apa maksudmu ketua dari Raid King?" terkanya kemudian.
Zehra mengangguk. "Dia yang mendesak Max untuk memecatku agar aku memohon padanya. Jika aku bersedia menikah dengan Athan, maka karirku akan selamat. Tapi jika tidak, karirku yang menjadi taruhannya."
"Astaga. Pria seperti itu tidak pantas hidup," Michèle mengumpat kesal. "Lalu, kau akan melamar kerja dimana setelah ini? Apa kau akan menerima syarat gila dari pria itu?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak ingin menggadaikan harga diriku hanya untuk pria seperti itu," jawab Zehra tegas.
Michèle langsung mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Zehra. "Pilihan yang bagus. Aku akan selalu mendukungmu dan membantumu mencari pekerjaan baru. Kau tidak perlu khawatir."
"Terima kasih, Michèle. Kau memang teman terbaikku." Zehra memeluk Michèle sejenak, lalu melepaskannya, "Aku pergi dulu. Kau jaga diri baik-baik di sini ya."
"Pasti. Kau juga ya."
Zehra mengangguk lalu melambaikan tangan pada Michèle. Ia berjalan keluar meninggalkan perusahaan yang sudah membesarkan namanya itu. Karirnya hancur begitu saja. Padahal perjuangannya untuk sampai dititik ini tidaklah mudah. Mengingat, dirinya hanya seorang anak yatim-piatu yang diabaikan oleh keluarga mendiang orang tuanya.
To be continue~