Bab 4

1718 Words
Zehra terus melajukan mobilnya, mengelilingi Kota Nice, Perancis untuk mencari pekerjaan. Zehra sudah tidak berharap untuk menjadi model kembali. Saat ini yang ia pikirkan hanyalah mendapatkan kerja untuk melanjutkan kehidupannya. Meskipun hatinya merasa tidak ikhlas dengan apa yang dilakukan oleh Athan. Tapi, Zehra bisa apa? Jika ia melawan, tidak akan ada yang membelanya. Apalagi Perancis bukanlah kota kelahirannya. Ia hanya pendatang di sini dan Zehra tidak bisa berbuat banyak. Menghubungi Emir untuk sekarang ini pun percuma saja, karena pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Zehra bingung harus mencari pekerjaan dimana. Kemudian, ia memutuskan berhenti di depan salah satu toko roti. Zehra keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam toko tersebut. Awalnya, Zehra hanya berniat untuk membeli roti di sana, namun tanpa sengaja ia melihat papan pengumuman di depan. Toko roti tersebut sedang membutuhkan satu pekerja wanita untuk berjaga di sana. Zehra dengan penuh keyakinan pun menanyakan perihal lowongan tersebut. Salah satu penjaga toko di sana memanggil pemilik toko roti untuk menemui Zehra. "Maaf, ada apa?" tanya si pemilik toko. "Saya lihat di depan, toko ini membutuhkan penjaga toko. Bisa saya melamar pekerjaan di sini?" tanya Zehra dengan sopan. Sang pemilik toko tersebut mengernyit. "Anda model iklan yang sering muncul di sampul majalah, kan? Anda Zehra Ergen?" "Iya," jawab Zehra. "Ah, maaf. Saya tidak bisa menerima anda." Pernyataan si pemilik itupun membuat hati Zehra merasa sakit. Ia menyentuh dadanya yang berdebar kencang karena kesal. "Tapi, kenapa?" "Maaf, Nona. Jika saya menerima anda bekerja di sini, nyawa saya akan menjadi taruhannya. Saya tidak ingin mati konyol hanya karena anda. Sekali lagi, saya minta maaf. Sebaiknya, anda segera pergi dari sini." Bagai disambar petir, seketika tubuh Zehra lemas, tak berdaya. Zehra berbalik badan meninggalkan toko roti tersebut. Ia memikirkan ucapan terakhir dari sang pemilik toko. Nyawanya akan menjadi taruhan jika menerima Zehra untuk bekerja di tokonya. Seketika, Zehra teringat dengan sosok Athan Doxiadis Carras. Zehra pun mulai berprasangka buruk pada pria gila itu. Bagaimana bisa pengaruhnya teramat besar di Perancis ini? Sekejam apa dia sampai penduduk di sini sangat takut padanya? Zehra menyandarkan kepalanya di kursi mobil sambil memejamkan matanya. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Haruskah ia menjatuhkan harga dirinya untuk menikah dengan Athan? Haruskah ia melakukan itu agar karirnya tidak hancur? Tapi, apakah benar pria itu akan membiarkannya kembali berkarir setelah menikah? Bisa saja itu hanya taktiknya untuk menjebak Zehra. Airmata Zehra sudah turun ke pipinya. Seketika hatinya berkata menyesal, karena telah membuat masalah dengan pria itu. Zehra tidak tahu jika masalahnya akan menjadi serumit ini dan berdampak besar pada karirnya. Harusnya ia menghindar saja saat itu, tidak perlu menggubrisnya. Tapi penyesalan itu tidak ada gunanya lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi dan ia harus melewatinya dengan sabar. "Ayah, Ibu, aku merindukan kalian," gumam Zehra di sela tangisnya. "Kenapa hidupku seperti ini? Disaat aku sudah berhasil bangkit, ada saja orang lain yang menghancurkannya. Apa dia tidak punya hati nurani sama sekali? Kenapa harus aku yang dihancurkan? Kenapa tidak wanita lain saja?" Zehra berusaha menghentikan tangisannya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemennya sendiri. Mungkin saat ini, ia butuh istirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau, karena ulah Athan. Entah apa yang akan terjadi besok. Zehra berharap, besok Tuhan berpihak padanya. Sementara di mansion Athan, Michäel masuk ke ruangan tuannya itu. Dilihatnya sang ketua mafia sedang duduk bersantai di teras balkon sambil menikmati secangkir kopi hangat. Michäel menghampiri Athan, kemudian menunduk hormat. "Monsieur, saya sudah melakukan apa yang anda minta. Semua perusahaan dan pengusaha kecil sudah saya berikan peringatan, sesuai dengan apa yang anda katakan. Mereka berjanji tidak akan menerima Zehra sebagai karyawan di usaha mereka." "Itu berita yang sangat bagus." Athan menyeringai, kemudian meminum sedikit kopi hangatnya sambil tetap menikmati udara sejuk di daerah tempatnya tinggal. "Zehra, Zehra. Kita akan lihat, seberapa kuat kau mempertahankan egomu itu. Kupastikan, kau akan segera datang menemuiku, lalu bersimpuh di kakiku sambil memohon. Aku tidak sabar menunggunya." Michäel menghela napas berat. Ia sudah tahu tujuan tuannya, namun Michäel tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, kaki tangan Athan ini masih memiliki hati nurani yang kuat, terutama pada wanita yatim-piatu seperti Zehra. Rasanya tidak tega jika harus membuatnya menderita seperti itu. Michäel akan terus merasa berdosa jika hal ini terus berlanjut. "Maaf, Monsieur." Athan menoleh ke arah Michäel. "Ada apa?" "Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Akhirnya Michäel mengajukan pendapatnya itu, "Maksud saya, dia anak yatim-piatu dan sebatang kara di sini. Dia juga bukan asli dari Perancis, melainkan dari Turki. Keluarga dari orang tuanya tidak peduli padanya. Saya merasa, ini akan sangat menyakitkan baginya, Monsieur." "Apa kau menyukainya?!" Michäel langsung menggeleng. "Tidak, Monsieur. Saya hanya kasihan padanya." "Jika kau merasa kasihan padanya, maka berikan nyawamu padaku sebagai gantinya. Apa kau siap? Jika kau siap, aku akan segera menembakkan peluruku untuk menghiasi kepalamu itu," ujar Athan sarkas. "Maafkan saya, Monsieur. Saya tidak akan berkomentar lagi." "Bagus." Athan langsung menyimpan kembali pistol yang sempat dikeluarkannya tadi. "Bagaimana dengan penjualan hari ini? Apa ada peningkatan dari bulan kemarin?" tanyanya kemudian. Michäel mengangguk. "Peningkatan terus terlihat bulan ini, Monsieur. Beberapa anggota lainnya juga sudah mendapatkan banyak mangsa baru untuk eksekusi malam ini. Mereka tinggal menunggu perintah dari anda." "Baiklah. Lakukan sesuai prosedur yang sudah kubuat. Jangan ada kesalahan dan jangan sampai mangsaku kabar dari sini. Jika tidak, semua rencana kita akan gagal dan pasti mereka akan melaporkan ini ke polisi. Kau paham, kan?" "Saya paham, Monsieur," jawab Michäel. "Kalau begitu, saya permisi, Monsieur." "Tunggu!" cegah Athan tiba-tiba. Michäel pun mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana. Ia menatap Athan dan menunggu tuannya itu berbicara. Entah kenapa, firasat Michäel mendadak buruk kali ini. Mungkin ia merasakan sesuatu kalau Athan sedang merencanakan sesuatu yang mungkin akan membuatnya tercengang. Rasanya Michäel ingin segera keluar dari ruangan tersebut, enggan mendengar rencana tuannya itu. "Temani aku malam ini ke apartemen Zehra." Sudah Michäel duga. Pria itu akan menemui Zehra di apartemen. Michäel berharap, Athan tidak melakukan apapun pada wanita malang itu. Ia hanya merasa kasihan jika seorang wanita yang hidupnya hanya sebatang-kara harus menerima perlakuan buruk dari Athan. "Sebelum melihat eksekusi, kau harus belikan bucket bunga. Aku tidak mungkin membawa tangan kosong untuk menemuinya malam ini. Pasti dia akan tersentuh dan bersedia menikah denganku," lanjut Athan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Michäel mengangguk. "Baik, Monsieur." Kali ini, Athan benar-benar membiarkan Michäel pergi dari hadapannya. Senyuman menyeramkan itu kembali muncul di sudut bibirnya. Athan ingin sekali bertemu dengan Zehra malam ini, karena ia ingin melihat wajah memelas wanita itu saat memohon padanya. Ia sangat yakin, wanita itu sudah luluh namun masih terlalu malu untuk menemuinya. Jadi lebih baik, Athan yang menghampirinya agar rasa penasaran itu segera terjawab. *** Malam pun tiba dan Zehra baru selesai memasak mie instan di dapur. Hari ini, ia merasa seluruh tubuhnya terasa penat dan hatinya masih terasa sakit akibat pemecatan yang diterimanya. Belum lagi, sponsor meminta uang ganti rugi padanya dan nilainya juga tidak sedikit. Zehra harus menguras tabungannya untuk mengembalikan separuh dari royalti yang sudah dibayarkan. Kini, wanita itu kembali hidup sederhana dan makan seadanya. Aset yang ia miliki saat ini hanyalah apartemen saja. Mobil yang Zehra pakai tadi sudah dijual demi menutupi pengembalian royalti tersebut. Zehra belum mengatakan hal ini pada Emir. Jika Emir tahu, mungkin pria itu akan mendatangi Athan dan menantangnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya. "Hhh!" Zehra menghela napas berat sambil berjalan menuju ruang tamu. Ia meletakkan semangkuk mie serta minuman kaleng di atas meja. Zehra duduk di sofa kemudian menikmati makan malamnya hari ini. Zehra terus memikirkan bagaimana caranya ia mendapatkan pekerjaan di Kota Nice ini. Semua orang di sini takut pada Athan. "Apa yang harus kulakukan?" gumamnya. Baru saja Zehra memakan mienya di suapan ketiga, tiba-tiba saja bel di depan pintu apartemennya berbunyi. Zehra menghentikan acara makan malamnya dan bergegas menuju ke pintu tersebut. Saat pintu terbuka, kedua mata Zehra terbelalak setelah melihat siapa yang berkunjung ke apartemennya. Zehra melangkah perlahan ke belakang dengan ekspresi terkejutnya. "Ma-Mau apa kalian kesini?" tanya Zehra masih dengan rasa terkejutnya. "Aku sudah ti-tidak ada urusan apapun dengan kalian." Athan menyeringai lalu melangkah maju ke depan. "Tenanglah. Aku kesini hanya untuk melihat kondisimu. Apa kau baik-baik saja? Kudengar, kau baru saja dipecat dari Lemaire Entertainment. Bukannya kau bilang, kau adalah model terkenal di sana? Tapi, kenapa mereka memecatmu?" Seketika ekspresi Zehra berubah menjadi marah. Kedua tangannya mengepal di samping kanan dan kiri. Dadanya terlihat naik turun karena rasa amarahnya yang akan meledak malam ini. "Apa ini tujuanmu datang ke apartemenku, hah? Apa kau puas dengan semua yang kau lakukan padaku? Oh, aku tahu sekarang, kau ingin melihatku memohon padamu, kan? Tapi, maaf, aku tidak akan pernah melakukannya." "Wah, wah, wah!" Athan masuk begitu saja ke apartemen sambil bertepuk tangan. Dengan tidak sopannya, ia duduk di sofa sebelum diberi izin oleh Zehra. "Sudah jatuh miskin, tapi masih bersikap angkuh. Aku tahu, kau juga butuh uang untuk keperluanmu. Jadi, jangan segan memintanya padaku. Aku akan memberikan apapun padamu, tapi kau harus menikah denganku. Setelah menikah, kau tetap bisa berkarir sebagai model, karena aku sudah menanam saham di perusahaan itu. Bagaimana, hm?" Zehra melipat kedua tangannya di bawah d**a. "Keputusanku tidak akan berubah. Lagipula, aku tidak semudah itu percaya pada janjimu. Lebih baik, kau cari wanita lain di luar sana yang mau menikah denganmu. Aku tetap pada keputusanku." "Dasar keras kepala!" bentak Athan. Zehra terkejut mendengar suara lantang Athan. Michäel yang ada di sana pun turut terkejut dan mulai sedikit resah. Athan bukanlah orang yang mudah bersabar dalam segala hal. Jika pria keturunan Yunani-Italia itu sudah tidak suka, maka hal buruk pun akan segera terjadi detik itu juga. Michäel terus memperhatikan Athan yang sudah bersiap dengan pistolnya. Dan dalam waktu singkat, leher Zehra sudah berada dalam kungkungan lengan kiri Athan. Sementara tangan kanannya mengarahkan pistol yang mematikan itu tepat di kepala Zehra. Seketika tubuh wanita tersebut gemetar ketakutan. "Monsieur, kendalikan emosi anda," Michäel berusaha mengingatkan. "Tidak baik membuat kericuhan di sini." "Persetan dengan mereka! Aku sudah muak dengan wanita keras kepala ini! Aku sudah berupaya berbuat baik padanya, tapi apa yang dia lakukan padaku?! Dia menolakku!" Ekspresi Athan sudah berubah menyeramkan dalam sekejap, layaknya seorang psikopat. "Apa susahnya menikah denganku, hah?! Toh, kau juga masih bisa berkarir sebagai model! Kenapa kau menolak?!" "To-Tolong hentikan ini," pinta Zehra dengan suara gemetar. "Aku akan menjauhkan senjata ini, jika kau menuruti permintaanku!" Zehra memejamkan matanya sejenak, kemudian mengangguk. Bagaimana pun, ia harus menyelamatkan nyawanya. Zehra tidak ingin mati sia-sia malam ini. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD