"Aku akan menurutimu, tapi lepaskan aku dulu."
Athan menurut dan mendorong Zehra dengan kasar ke sofa. Wanita itu terduduk di sana, bermandikan keringat karena ketakutan. Untuk pertama kalinya, Zehra berhadapan dengan mafia sesungguhnya. Biasanya, ia hanya melihat di sebuah film layar lebar.
"Sekarang katakan, apa kau bersedia menikah denganku?!" tanya Athan tegas. "Jika kau menolak, maka nyawamu akan melayang malam ini!"
Zehra menatap Athan begitu dalam. Kedua mata yang menyiratkan kemarahan itu memang benar-benar menyeramkan. Pantas saja, banyak orang yang takut padanya. Harusnya, Zehra tidak meremehkan kekuatan dari Athan.
"Katakan!" Athan mulai menuntut.
"Hhh! Baiklah," jawab Zehra dengan helaan napas beratnya. Mau tidak mau, ia harus melakukan ini demi nyawanya yang sangat berharga. Mungkin hanya ini jalan satu-satunya bagi Zehra untuk melanjutkan karirnya. "Aku bersedia menikah denganmu. Tapi, kau harus menepati janjimu setelah kita resmi menikah."
Seketika tatapan amarah itu menghilang dari mata Athan. Pria itu tersenyum bangga, karena telah berhasil melumpuhkan satu wanita yang keras kepala seperti Zehra. Athan harus membuat pesta besar-besaran untuk merayakan kemenangannya ini. "Baiklah. Aku akan menepati janjiku. Besok pagi, kau harus bersiap, karena kita akan mencoba beberapa gaun dan tuxedo. Aku akan menjemputmu jam delapan pagi. Jangan sampai membuatku menunggu."
"Ya," jawab Zehra singkat.
Athan mengambil bucket bunga mawar yang dipegang oleh Michäel, lalu memberikannya pada Zehra. Dan tanpa diduga, pria itu langsung menyambar bibir Zehra dengan cepat. Zehra mematung seketika dengan kedua mata yang terbelalak, sedangkan sang pelaku hanya menyeringai lalu beranjak pergi begitu saja dari sana. Setelah beberapa detik kemudian, Zehra pun mulai tersadar dan langsung melemparkan bucket bunga itu ke sembarang arah hingga rusak.
"Dasar pria gila!" Zehra mengumpat kesal sambil beranjak ke kamar mandi untuk membasuh bibirnya yang sudah ternodai malam ini. Jika bukan karena nyawanya dalam ancaman, Zehra pasti akan tetap menolak pernikahan ini.
"Arrggghhh!" Zehra berteriak di kamar mandi. "Kenapa harus dia, Tuhan?! Aku tidak mau menikah dengan pria seperti dia! Dia itu kejam dan gila! Aku sudah hidup menderita. Tolong jangan ditambah lagi penderitaanku, Tuhan...."
Tubuh Zehra merosot di lantai kamar mandi yang basah. Kepalanya bersandar di pinggiran bath-up sambil menekuk kedua lututnya. Zehra menangis, meratapi nasibnya kali ini. Ia merasa bodoh karena harus mengorbankan harga diri demi nyawanya. Tapi, Zehra tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Jika saja orang tuanya masih hidup, mungkin deritanya akan sedikit berkurang. Sekarang, Zehra bingung harus berbuat apa lagi. Takdir begitu kejam baginya.
Sementara Athan, meminta Michäel untuk menyiapkan beberapa minuman beralkohol dan memanggil seluruh anggota Raid King ke mansionnya. Athan ingin merayakan keberhasilan ini bersama para anggotanya. Ditambah lagi dengan keberhasilan bisnis ilegalnya itu. Athan merasa bahwa takdir sangat berbaik hati padanya. Seketika, Athan merasa congkak dengan semua kesenangan yang diberikan Tuhan.
"Michäel, kau harus menyiapkan semuanya malam ini. Kita akan menghabiskan malam bersama anggota lainnya di mansionku. Tapi jangan lupa, tetap perketat penjagaan agar tawanan kita tidak ada yang kabur dari sini. Mengerti?"
Michäel mengangguk. "Mengerti, Monsieur."
"Bagus. Sekarang, pergilah dan pilihkan minuman alkohol berkualitas. Jangan sampai salah pilih. Dan jangan lupa, undang beberapa wanita untuk menemaniku malam ini," ujar Athan sambil melonggarkan dasinya.
"Baik, Monsieur."
Michäel beranjak pergi dengan perasaan yang masih merasa bersalah pada Zehra. Ia tidak bisa membantu wanita itu. Athan sangat berpengaruh di Perancis dan banyak yang takut pada kekejamannya. Michäel hanya bisa berharap, semoga Tuhan selalu melindungi wanita malang itu dari apapun, termasuk dari kekejaman Athan.
***
Pukul 03.40 dini hari, pesta yang diadakan Athan pun selesai. Seluruh anggota Raid King memutuskan untuk menginap di mansion Athan. Mansion ini terletak di Saint-Jean-Cap-Ferrat yang letaknya tidak jauh dari Kota Nice. Mansion berukuran luas ini memiliki 10 buah kamar dilengkapi dengan fasilitas mewah di dalamnya, kemudian fasilitas lain di luar mansion yaitu kolam renang berukuran olimpic, memiliki 1500 tanaman dengan jenis berbeda-beda dan 20 rumah kaca yang berisi vegetasi tropis langka. Setidaknya, ada 15 pekerja yang ditugaskan untuk mengurusi kebun seluas itu. Dan tak hanya kebun yang luas, Athan juga membuat sebuah kandang kuda yang setidaknya berisi 30 ekor kuda di dalamnya. Lokasinya mansion ini berada di tepi pantai, sehingga tamu yang datang bisa menikmati secara langsung keindahan pantai di mansion tersebut. Tak heran jika warga di kota tersebut merasa takjub akan kemegahan dari mansion itu. Kekayaan yang Athan miliki juga sangat berpengaruh sekali dalam segala hal, terutama dari segi mengancam nyawa seseorang. Uang akan selalu menjadi andalan bagi Athan Doxiadis Carras.
Namun, dibalik kemegahan yang terpampang nyata itu, ada sebuah mansion lain di belakang mansion utama. Mansion itu hanya berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Mansion ini hanya dikhususkan untuk menawan beberapa orang, baik itu anak kecil, remaja, dewasa, bahkan lansia sekalipun untuk kepentingan bisnis ilegal yang dibuat oleh Athan sendiri. Selain itu, ada ruang khusus seperti ruang bawah tanah di mansion berukuran sedang itu sebagai tempat penyimpanan obat-obatan terlarang yang sengaja diselundupkan dari luar negara. Obat-obatan itu nantinya akan dijual kembali oleh mereka agar mendapatkan keuntungan yang berlipat-ganda.
Beberapa pengurus kebun di sana sudah mengetahui hal tersebut, namun mereka hanya bisa diam seribu bahasa. Tidak berani untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan Athan, karena beberapa polisi di sini juga ikut menutupinya. Athan selalu menyetor sejumlah uang pada beberapa pihak polisi, sebagai uang tutup mulut. Sejujurnya, para pengurus kebun tidak tega dengan korban-korban yang ditawan di mansion tersebut. Setiap hari, mereka selalu mendengar jeritan dan tangisan dari korban yang disiksa oleh anggota Raid King. Itu sangat kejam. Belum lagi kabar meninggal dari tawanan tersebut yang didengar langsung oleh para pengurus kebun. Mereka hanya bisa menangis dan mendoakan nyawa dari korban-korban malang itu. Kekejaman Athan memang sudah sangat diakui di Perancis. Bahkan beberapa dari mereka merasa was-was saat keluar dari rumah, karena beberapa anggota Athan akan menculik mereka secara tiba-tiba. Sampai akhirnya, banyak dari warga tersebut memutuskan untuk tetap berada di rumah, meski sebenarnya mereka butuh keluar untuk membeli makanan.
Setelah pesta tersebut, Athan terlihat sempoyongan berjalan masuk ke kamar. Untungnya ada Michäel yang selalu sigap dalam membantu tuannya. Malam ini, Michäel tidak ikut minum, karena perasaannya masih cemas, memikirkan nasib seorang Zehra Ergen setelah menikah dengan Athan. Entah bagaimana kehidupannya nanti. Michäel juga tidak yakin tuannya itu akan mengizinkan Zehra berkarir atau tidak. Athan terkenal sangat payah dalam menepati sebuah janji. Bahkan perjanjian secara tertulis saja bisa dengan mudah Athan ingkari, apalagi yang tidak tertulis seperti ini. Sejak tadi, kepala Michäel terasa pusing memikirkan hal itu. Ia merasa sedih, karena Michäel memiliki sifat penyayang pada wanita, terkhususnya seorang ibu. Sama halnya dengan Chris, ayah dari Athan. Justru sifat Chris lebih mirip seperti sifatnya Michäel ketimbang anak kandungnya sendiri. Apa yang salah di sini?
Michäel merebahkan tubuh Athan di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya. Wanita-wanita malam yang sejak tadi menemani Athan pun segera diperintahkan pergi oleh Michäel. Beberapa dari wanita itu menolak, karena masih ingin bersama Athan. Ketampanan Athan memang tidak bisa mereka sia-siakan begitu saja. Namun sayang, Michäel justru mengusir mereka secara paksa, karena Athan harus bangun lebih awal untuk mencoba tuxedo pernikahan.
Setelah selesai mengurus wanita malam itu, Michäel bergegas menuju mansion kedua. Tujuannya untuk memberi makanan secara diam-diam untuk tawanan di sana, karena ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Semua anggota sudah mabuk dan tertidur di lantai bawah, sementara petinggi Raid King tidur di kamar tamu masing-masing. Hanya tersisa beberapa penjaga saja di mansion utama dan gerbang. Di mansion kedua masih ada satu penjaga, namun mudah bagi Michäel untuk mengatasinya.
"Ada apa, Monsieur?" tanya si penjaga mansion dua.
"Aku datang untuk mengecek tahanan. Monsieur Athan yang memerintahkanku untuk datang ke sini. Apa ada masalah dengan itu?" Michäel kembali bertanya dengan sarkas.
Penjaga itu langsung menggeleng dan membiarkan Michäel masuk ke dalam. Memang Michäel tidak membawa apapun saat masuk ke dalam, karena ia sudah lebih dulu menyembunyikan beberapa makanan di tempat rahasia yang tidak diketahui siapapun. Dan setelah berada di dalam, Michäel bergegas mengambil beberapa makanan di tempat rahasia tersebut, kemudian menemui beberapa tawanan lansia terlebih dulu. Para lansia itu merasa senang saat mendapat makanan dari Michäel dan mereka diminta untuk tetap diam agar tidak ketahuan oleh penjaga. Setelah selesai dengan para lansia, Michäel bergegas menuju kamar yang dikhususkan untuk menyandera anak-anak kecil. Ia juga memberikan beberapa makanan pada mereka. Dan yang terakhir, Michäel menuju kamar lain untuk para wanita dewasa serta remaja untuk melakukan hal yang sama.
Sebagai informasi, di mansion kedua ini hanya terdapat 6 buah kamar yang dikhususkan sebagai penjara. Untuk tawanan pria sendiri berada di sel ruang bawah tanah yang ukurannya tidak terlalu besar. Biasanya tawanan tersebut berasal dari pihak musuh yang kalah saat melawan Raid King. Mereka akan ditawan di sana selama beberapa bulan, kemudian akan dieksekusi. Dan di ruangan inilah banyak sekali tumpukan obat-obatan terlarang yang hendak dijual oleh Athan nantinya.
Michäel keluar dengan santai setelah berhasil memberi makan para tawanan yang ada di masing-masing kamar. Penjaga di depan tidak berani bertanya apapun, karena menyangkut perintah dari Athan. Sangat mudah bagi Michäel untuk mengelabui penjaga tersebut, kan? Michäel selalu melakukan hal ini jika ia memiliki kesempatan yang besar.
"Hhh! Andai saja aku bisa menyelamatkanmu, Zehra," gumam Michäel saat berdiri di tepi kolam renang. Ia melamun di sana karena tidak bisa tertidur. "Harusnya kau tidak berurusan dengannya. Aku juga minta maaf, karena telah mengambil informasi pribadimu tanpa izin."
Michäel menatap langit yang masih gelap. Ia berjalan menuju kursi santai yang berada di dekat kolam renang tersebut. Pria berparas rupawan itu duduk bersandar di kursi sambil menatap langit gelap. Hembusan angin malam yang dingin seakan tidak membuat tubuh Michäel menggigil. Mungkin karena ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak berapa lama, kedua mata Michäel sudah mulai tertutup secara perlahan. Ia tertidur di sana dengan dengkuran halus, tanpa selimut.
***
Tepat pukul 07.30 pagi, Michäel terbangun dari tidurnya karena sinar matahari yang langsung menerpa wajahnya. Michäel bergegas masuk ke dalam mansion utama untuk bersiap-siap, sebelum tuannya bangun. Biasanya, Athan akan terbangun pukul 08.00 pagi. Jadi, sebelum Athan bangun, Michäel harus sudah berada di depan kamar Athan. Michäel sendiri termasuk pria yang cekatan dalam segala hal. Itu sebabnya, Athan memilih Michäel sebagai tangan kanannya untuk memantau situasi apapun.
Selama kurang lebih 15 menit, Michäel sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Lantas ia bergegas menuju kamar Athan. Hanya berselang beberapa detik saja, Athan keluar dari kamar, tepat setelah Michäel tiba di sana.
"Kantung matamu hitam. Kau tidak tidur?" tanya Athan saat melihat Michäel pagi ini.
"Ah, saya hanya tidur sebentar, Monsieur," jawab Michäel.
Athan mengangguk. "Jika masih mengantuk, kau istirahat saja dulu. Lagipula, hari ini jadwalku tidak terlalu sibuk. Kau juga harus istirahat yang cukup. Tugasmu lebih berat dari yang lainnya."
"Tidak apa-apa, Monsieur. Saya masih bisa menahannya," ujar Michäel yang merasa tidak enak pada tuannya jika ia harus tidur saat bertugas. "Hari ini, saya harus menjemput Nona Zehra untuk mencoba gaun pernikahannya di sini."
"Astaga. Aku hampir lupa." Athan menggaruk keningnya yang tak gatal, "Aku saja yang menjemputnya. Kau tetap di sini bersama yang lain. Jika desaigner itu sudah datang, segera hubungi aku."
"Tapi akan sangat bahaya jika anda pergi tanpa pengawalan, Monsieur."
Athan terkekeh sejenak. "Tidak perlu risau. Aku akan baik-baik saja. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari sini. Tenang saja."
"Baiklah. Mari, saya antar sampai depan," ajak Michäel.
Athan mengangguk lalu berjalan lebih dulu di depan Michäel. Di lantai bawah sudah tidak ada penjaga yang tertidur di sana. Mereka sudah bangun dan kembali menjalankan tugasnya masing-masing. Sementara beberapa petinggi Raid King sudah ada yang pulang ke rumah dan sebagian lagi masih berada di dalam kamar tamu.
To be continue~