Bab 6

1847 Words
Zehra baru saja selesai merapikan rambutnya yang sengaja diurai. Ia memoles sedikit make-up di wajah sembabnya agar tersamarkan. Semalaman ia terus menangis, memikirkan takdirnya yang teramat pilu. Kehilangan seorang kekasih, mungkin Zehra masih bisa bertahan. Tapi, kehilangan kedua orang tua itu cobaan yang teramat berat baginya. Siapapun akan merasakan hal itu, kecuali anak yang durhaka. Zehra merupakan anak yang selalu berbakti pada orang tuanya, terutama sang ibu. Setiap kali mengalami masalah karena diolok teman sekolahnya, Zehra pasti akan mengadu pada ibunya, kemudian sang ibu akan menenangkannya dengan suara yang lemah lembut. Zehra merindukan itu. Saat ini, Zehra sangat membutuhkan pelukan hangat dari ibunya. Tapi, keinginan itu tidak dapat terwujud. Tuhan lebih menyayangi ibunya. Wanita cantik itu menghela napas pelan, berusaha menahan tangis agar make-upnya tidak luntur. Bisa mati terbunuh jika ia sampai membuat ketua mafia gila itu menunggu. Zehra mengambil sepasang anting mutiara di dalam kotak perhiasannya, lalu memasangkannya di telinga. Selanjutnya, Zehra mengambil sebuah kalung liontin berbentuk love pemberian ibunya. Di dalam liontin itu terdapat foto kedua orang tuanya. Setiap kali beraktifitas, Zehra tak pernah sedikitpun melupakan kalung kesayangannya. Setelah selesai, Zehra pun bergegas keluar kamar dan tak lama terdengar suara bel dari pintu apartemennya. Zehra langsung membukanya. Seketika ia ingin mual melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang. Melihat wajah Athan, Zehra merasa jijik. Pria itu sama sekali tidak menarik di matanya, sekalipun banyak wanita yang memujinya sebagai pria tertampan di Perancis. Zehra heran, bagaimana bisa wanita-wanita itu tertarik pada mafia kejam seperti Athan? Zehra bergidik geli saat membayangkan wanita-wanita tersebut tidur bersama Athan. "Wow!" Zehra sedikit tersentak saat Athan bersuara. Seketika ia mendengus. "Ayo, berangkat," ajaknya tanpa basa-basi. Ia sedang malas meladeni Athan. "Hei, santai saja," cegah Athan saat Zehra hendak keluar. Athan sengaja menghalangi jalan Zehra agar dirinya bisa lebih dekat dengan wanita itu. Sejujurnya, Athan sangat tertarik dengan bentuk tubuh Zehra yang begitu ideal di matanya. Tidak terlalu kurus, dan tidak terlalu gemuk. Semuanya sangat sesuai dengan kriteria Athan. Paras Zehra juga sangat menawan. Inilah yang membuat Athan begitu gencar ingin memiliki wanita tersebut. "Kita bersenang-senang dulu di sini, Sayang. Jangan terburu-buru." "Athan, aku sedang tidak bersemangat untuk meladenimu. Lebih baik kita selesaikan urusan itu sekarang, karena aku masih punya urusan lain. Kau paham?" ujar Zehra. Athan tidak menjawab, namun ia menerobos masuk lalu mengunci pintu apartemen secara tiba-tiba, sampai membuat Zehra terkejut dan mundur selangkah ke belakang. Kini posisi Athan berada dekat sekali dengan Zehra. Bahkan pria itu sengaja maju ke depan untuk membuat Zehra terpojok ke dinding. Setelah berhasil dengan triknya, tangan kanan Athan menyanggah di dinding, kemudian wajahnya semakin mendekati wajah cantik Zehra. Zehra sendiri mencoba untuk terus ke belakang, meskipun tubuhnya sudah sangat menyentuh dinding. Dan disaat Athan ingin mencium bibirnya, kedua tangan Zehra langsung menahan d**a bidang yang sedikit terbuka karena tidak terkancing itu. Athan sempat berhenti sambil melirik ke arah tangan Zehra, lalu menyeringai. "A-Athan, hen-ti-kan. A-ku ti-dak suka," cegah Zehra dengan kegugupannya. Baru kali ini ada pria yang kurang ajar padanya. "Kenapa? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" tanya Athan. Nada suara Athan sangat menyeramkan bagi Zehra. Terdengar seperti memaksa. Padahal Zehra tidak menginginkan pernikahan ini seutuhnya. "Ta-pi, kau harus tetap men-jaga batasanmu, Athan." "Kau sangat cantik, Zehra," bisik Athan sambil membelai wajah Zehra dengan tangan kirinya. "Aku tidak bisa menyia-nyiakan kecantikan ini begitu saja. Kau harus segera menjadi milikku detik ini juga." Mata Zehra terbelalak. "A-pa maksudmu?" "Kau pasti tahu maksudku, Sayang," jawab Athan dengan tatapan anehnya. Seketika Zehra menggeleng dan berusaha mendorong Athan sekuat tenaga. Zehra berharap, Tuhan melindunginya hari ini. Ia sangat takut pria itu melakukan hal aneh-aneh dengannya. Apalagi mereka hanya berdua, pintu terkunci dari dalam. Jika Zehra berteriak, sudah pasti tidak ada yang mendengar atau bahkan tidak mau tahu dengan situasinya saat ini. Jadi, sebisa mungkin Zehra harus melindungi dirinya sendiri dan hanya berharap pada Tuhan. "Athan, berhenti bersikap seperti ini!" tegas Zehra. Sayangnya, Athan mengabaikan ucapan tegas Zehra. Pria itu malah semakin menyudutkan Zehra, sampai pada akhirnya, Athan mendorong Zehra secara paksa untuk masuk ke dalam kamar bersamanya. Di dalam kamar, Zehra terkejut dan berusaha menghalangi Athan untuk mengunci pintu kamarnya. Zehra benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. "Athan, tolong jangan bertindak aneh-aneh!" Athan menyeringai. "Kenapa? Santai saja. Ini tidak akan sakit. Percaya padaku." Athan mendorong Zehra ke tempat tidur sampai tidur terlentang, namun wanita itu kembali duduk dengan cepat sambil menutupi area tubuhnya dengan selimut. Kedua matanya semakin terbelalak saat Athan mulai membuka kemejanya dan menampilkan d**a bidang itu dengan sempurna. Zehra langsung menutup kedua matanya, karena ini sangat gila. "Pakai kemejamu!" pinta Zehra tegas. "Tidak akan," jawab Athan santai. "Kau harus menuruti apa yang aku inginkan, Zehra. Kau itu calon istriku. Jadi, kau wajib menurutiku." Zehra menatap tajam Athan. "Masih calon istri, Athan! Jadi, kau tidak berhak memaksaku!" "Tentu saja aku berhak. Masa depanmu ada digenggamanku sekarang. Mau tidak mau, kau harus menuruti apa yang kuperintahkan. Selama ini, belum ada satupun orang yang menentang keinginanku. Biasanya, aku akan langsung membunuh jika ada yang memberontak. Tapi untukmu, aku masih bisa mentolerirnya." Zehra menggelengkan kepalanya pelan, pertanda ia menolak untuk menuruti keinginan gila dari Athan. Tidak mungkin ia melepas kesuciannya begitu saja hanya karena permintaan pria itu. Bagaimana perasaan orang tuanya saat melihat dari surga? Mereka pasti akan sedih dan kecewa pada Zehra. Ia tidak mau membuat orang tuanya kecewa, meski mereka sudah meninggal dunia. "Maafkan aku, Athan. Tapi, aku tidak bisa melakukan ini. Kita belum menikah dan kau belum berhak atasku. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku." Athan mendecih kesal. "Baiklah. Pernikahan kita akan dilangsungkan hari ini juga. Setelah itu, kau tidak akan bisa menolak permintaanku." Athan mengambil kemejanya di lantai, lalu memakainya dengan cepat. Setelah selesai, ia menarik paksa Zehra untuk keluar dari apartemen menuju mansionnya. Di sepanjang perjalanan, Athan menghubungi Michäel untuk menyiapkan segalanya di mansion, mulai dari gaun sampai pendeta, karena ia ingin segera menikah. Sementara Zehra hanya bisa diam sambil mendengarkan Athan berbicara dengan Michäel di telepon. Hati Zehra mulai ikut gelisah, karena sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai seorang istri dari ketua mafia terkejam di Perancis. Zehra tidak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan seorang mafia. Membayangkannya saja sudah menyeramkan dan sebentar lagi bayangan menyeramkan itu akan menjadi kenyataan. Mendadak Zehra tersentak saat mobil itu sudah berhenti secara tiba-tiba di depan mansion megah dengan taman yang luas dan penjagaan yang ketat. Zehra masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Jadi benar apa yang dikatakan orang-orang kalau Athan itu sangat kaya dan punya segalanya. Pantas saja wanita-wanita di luar sana bekerja keras mendekati Athan. "Ayo, keluar!" Athan menarik paksa Zehra untuk keluar dari mobil. Pria itu tetap mencengkeram pergelangan tangan Zehra sampai menimbulkan bekas merah di sana. Athan menariknya seperti sedang menarik sebuah hewan peliharaan, sangat kasar dan tidak ada belas-kasih sedikitpun. Zehra sampai meringis kesakitan karena pergelangan tangannya dicengkeram terlalu kuat. Bahkan tumitnya juga sakit karena harus mengikuti ritme kaki Athan yang sangat lebar. "Athan, pelan-pelan," pinta Zehra lirih. "Diam!" bentak Athan. Zehra pun terdiam dan kini ia berada di dalam kamar mewah yang begitu luas dengan segala fasilitas mewah di dalamnya. Di sana sudah ada penata busana dan penata rias yang bersiap untuk mengubah fashionnya. Athan mendorong Zehra sampai terduduk di atas tempat tidurnya. "Diam di sini dan biarkan mereka melakukan tugas dariku!" Zehra hanya terdiam dan melihat kepergian Athan sambil menutup pintu dengan keras. Dua orang wanita di sana juga terkejut melihat sikap kasar Athan. Bahkan salah satu dari mereka meminta Zehra untuk bersabar menghadapi Athan. Zehra hanya mengangguk sambil tersenyum. Zehra pun mulai dirias oleh penata rias, setelah mengenakan gaun pengantinnya. Ukurannya sangat sesuai di tubuh Zehra. Bagian d**a dan punggung dibiarkan terekspos dengan rambut yang disanggul ke atas agar tidak menutupi tubuh indah Zehra. Riasan di wajah Zehra juga tidak terlalu tebal dan semua kelihatan seperti natural. Wajah Zehra juga memang sudah cantik, jadi perias itu tidak perlu terlalu lelah merias wanita tersebut. Setelah semuanya selesai, mereka menemani Zehra ke bawah untuk menemui Athan yang ternyata sudah rapi dengan tuxedo putihnya. Di mata Zehra, saat Athan berdiri tegap dan menampilkan senyuman, disaat itulah ketampanan Athan terlihat. "Monsieur, Nona Zehra sudah siap," ucap Michäel. Athan menatap Zehra dan ia tertegun sejenak. Ia memang mengakui kecantikan Zehra sejak pertama kali bertemu. Kecantikan yang natural, itulah yang disukai Athan. Ia berjalan gagah menghampiri Zehra, lalu menggenggam tangannya menuju pendeta yang sudah siap menikahkan mereka berdua. Athan tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Zehra. Seolah tidak ingin menyia-nyiakan keindahan itu begitu saja. Sementara Zehra merasa gugup, karena ini pertama untuknya. Tapi Zehra juga sedih karena tidak ada orang tua yang mendampinginya. Apalagi pernikahan seperti ini sama sekali tidak ia inginkan. Athan pun berdiri berhadapan dengan Zehra di depan pendeta. Pendeta memulai ritual sebelum pernikahan. Selanjutnya, Athan dan Zehra saling mengucap janji untuk sehidup semati dan menua bersama selamanya, dipimpin oleh pendeta tersebut. Setelah pengucapan janji selesai, pendeta meminta Athan untuk mencium Zehra dan ini momen yang paling disukai oleh Athan, sedangkan Zehra tidak. Wanita itu tampak tertekan, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Athan yang sudah resmi menjadi suaminya. "Selamat, kalian sudah resmi menjadi sepasang suami-istri," ucap pendeta. Tepuk tangan meriah pun terdengar di seisi mansion. Saksi di pernikahan itu adalah seluruh anggota Raid King, tanpa terkecuali. Athan sengaja tidak memberi tahu keluarganya di Pyrgos karena menurutnya, mereka tidak penting. "Ayo, silahkan nikmati hidangan yang tersedia!" seru Athan bahagia karena keinginannya sudah terpenuhi sekarang. Athan langsung menggendong Zehra dan membawanya ke lantai dua untuk melakukan ritual lain setelah resmi menikah. Sementara anggota Raid King lain hanya berseru melihat tuan mereka yang begitu semangat hari ini. Michäel hanya bisa diam sambil tetap memohon pada Tuhan untuk melindungi Zehra dari sikap kasar Athan. *** Pukul 12.00 siang, Athan baru keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit berantakan. Ia tersenyum sumringah saat turun ke bawah untuk bergabung bersama anggota lainnya. Lalu, apa yang terjadi pada Zehra? Ya. Wanita itu masih berada di kamar, di atas tempat tidur, duduk bersandar sambil menangis tersedu-sedu. Kedua tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas bahu. Rambutnya yang semula rapi, kini sudah sangat berantakan dan terlihat kusut. Wajahnya yang semula mulus, kini sudah tampak luka memar di bagian pipi dan sudut bibirnya sedikit berdarah. Kedua pergelangan tangannya juga sangat merah, bahkan lebih ke arah biru. Sudah bisa dipastikan, Athan melakukan kekerasan pada Zehra. Zehra tidak menyangka dirinya akan mengalami kekerasan seperti ini. Padahal ia berharap, Athan bisa bersikap lebih baik padanya setelah menikah. Tapi pada kenyataannya, tidak sama sekali. Zehra masih terus menangis sambil mencoba mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang ada di atas nakas. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar. Zehra mencoba mencari nomor Michèle di sana, namun semua kontak ponselnya sudah kosong dan yang melakukan semua itu adalah Athan. Itu artinya, Athan tidak ingin Zehra berhubungan kembali dengan teman-temannya, termasuk Emir dan Michèle. Zehra melemparkan ponselnya sembarangan, lalu meremas rambutnya karena frustrasi. Zehra sudah terjebak di dalam permainan Athan. Betapa bodohnya ia menerima perjanjian dengan pria licik itu. "Aku benci padamu, Athan! Aku benci!" teriak Zehra. Untungnya, kamar itu kedap suara. Jadi, teriakan sekencang apapun tidak akan terdengar sampai keluar. Jika teriakan itu sampai didengar Athan, tamatlah riwayat Zehra Ergen. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD