Bab 10

1795 Words
Setelah satu jam berada di kamar mandi, Zehra pun ditolong oleh Michaël dan juga Damien yang kebetulan masih berada di mansion, sementara Athan dan lainnya pergi keluar. Damien menghubungi dokter pribadi untuk memeriksa kondisi Zehra saat ini. Michaël menyelimuti tubuh dingin Zehra dengan selimut, setelah dua orang pelayan wanita membantu Zehra untuk berganti pakaian. Pakaian sebelumnya sudah sangat basah. Saat ini, Zehra tidak sadarkan diri, karena terlalu lama berada di kamar mandi. Bibirnya sudah sedikit membiru karena kedinginan. Michaël tidak habis pikir dengan sikap Athan yang begitu kejam pada Zehra. Padahal wanita itu juga tidak berbuat macam-macam. Lain hal jika Zehra memang wanita nakal yang tidak patuh pada perintah Athan. Damien pun turut kesal, apalagi setelah melihat luka lebam yang ada di wajah cantik Zehra. Damien menghampiri Michaël yang masih berdiri di samping tempat tidur Zehra. "Aku tidak tega melihat kondisinya, Michaël. Ini terlalu kejam. Jika dia wanita nakal, mungkin aku tidak akan sesedih ini. Tapi dia ini seorang wanita baik-baik dan yatim-piatu. Tidak sepantas diperlakukan seperti itu. Bahkan p*****r sekalipun juga tidak pantas mendapatkan perlakuan kejam ini. Apa Monsieur tidak memiliki hati nurani sedikitpun? Bagaimana jika kondisi ini terjadi pada keluarganya sendiri? Aku tidak habis pikir dengan sikapnya." "Kekesalan kita sama, Damien. Tapi mengumpat juga tidak ada gunanya saat ini. Kita tidak punya pilihan lain selain diam. Jika ada pilihan lain, kita harus menukar nyawa anggota keluarga atau bahkan nyawa kita sendiri. Walaupun aku kasihan padanya, tapi aku tidak ingin menukar nyawa keluargaku untuk melindunginya," ujar Michaël. "Kau mungkin akan mempertimbangkan ucapanku ini nantinya. Mengalahkan kejahatan Monsieur tidak semudah yang diperkirakan." "Hhh! Tapi kau lihat sendiri bagaimana kondisi Madame saat ini. Wajahnya yang cantik harus mendapat banyak luka dari Monsieur." Michaël mengangguk setuju. "Bukan hanya luka di wajah, tapi luka di hati juga. Aku tahu, rasa sakit di wajahnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Sejujurnya, aku ingin menghubungi teman-temannya untuk membantunya terbebas dari Monsieur. Tapi aku berpikir kembali, jika Monsieur tahu soal ini, dia pasti tidak akan mengampuni teman-teman Madame." Damien mengangguk setuju. Dan tak berapa lama, seorang dokter masuk ke kamar Zehra. Dokter pribadi Athan itu datang tepat waktu dan langsung memeriksa kondisi Zehra. Michaël dan Damien berharap, semoga psikis Zehra tidak terganggu setelah ini. Mereka inginkan yang terbaik untuk Zehra, meskipun mereka tidak bisa berbuat banyak. Bahkan membantu mengeluarkan Zehra dari kamar mandi saja, sudah merupakan satu kesalahan fatal bagi Michaël dan Damien, karena Athan selalu rutin mengecek CCTV di kamarnya. Jika ketahuan, Athan pasti akan marah besar. Tapi, Michaël dan Damien seakan sudah siap dengan resikonya. Karena menurut mereka, jika Zehra tidak segera mendapat pertolongan, kemungkinan Zehra akan tetap hidup sangat tipis. Mereka berdua tidak ingin hal itu terjadi. Beberapa saat kemudian, dokter selesai memeriksa Zehra. Dokter memberikan selembar kertas berisi resep obat yang harus ditebus oleh Michaël dan Damien. Setelah itu, dokter tersebut pamit pulang diantar oleh Damien, karena Damien yang akan menebus obatnya, sedangkan Michaël menetap di kamar Zehra untuk menjaganya. Di tempat lain, Athan tampak berpesta pora bersama anggota yang tersisa di salah satu klub malam ternama di Perancis. Athan mem-booking seluruh klub untuknya dan anggota Raid King. Tak hanya itu, Athan juga meminta wanita-wanita nakal untuk menemaninya selama di klub. Athan memesan begitu banyak minuman dan tak lupa dengan obat-obatan terlarangnya. Athan menikmati pesta itu, tanpa beban sedikitpun. Ia bahkan tidak memikirkan kondisi istrinya saat ini di mansion. Pantaskah pria seperti Athan mendapatkan cinta dari Zehra? Rasanya sangat tidak pantas, mengingat perlakuannya yang begitu kasar dan tidak berperi-kemanusiaan sama sekali. "Monsieur, bagaimana dengan istri anda?" tanya Alexandre, sedikit berteriak agar Athan mendengar suaranya. "Aku tidak peduli," jawab Athan sambil mencium salah satu wanita pesanannya. Alexandre mengangguk paham dan terdiam. Tapi beberapa saat kemudian, ia kembali berbicara pada Athan. "Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, Monsieur? Bukankah anda menguncinya di kamar mandi?" "Ck! Aku tidak peduli. Kalau dia mati, itu lebih bagus. Aku akan menertawakan mayatnya detik ini juga jika dia memang benar-benar mati. Bukankah sudah kukatakan, dia hanya kuanggap p*****r khusus di mansionku? Jadi, aku tidak terlalu peduli pada kondisinya," ujar Athan dengan ucapan yang tidak disaring sedikitpun. Alexandre kembali terdiam. Ia tidak ingin membuat Athan marah karena ucapannya. Alexandre juga takut dihabisi oleh Athan. Tapi tiba-tiba saja, kesenangan mereka terganggu dengan kehadiran Alphons Silva di klub malam tersebut. Alphons memaksa masuk klub dan menembaki penjaga klub secara brutal. Pria berusia 40 tahun itu datang bersama beberapa anggotanya untuk menghabisi Athan. Alexandre yang melihat kehadiran Alphons pun langsung maju paling depan untuk melindungi tuannya, sementara anggota lain melawan anggota Alphons. Seketika, suasana di klub menjadi ricuh karena p*********n secara mendadak itu. Benar apa yang dikatakan Chris, Alphons bukanlah pria yang mudah menyerah begitu saja. Athan terlalu menganggap remeh musuhnya, sehingga persiapan untuk hal genting seperti ini pun tidak diperkirakan oleh Athan. Alhasil, beberapa anggota Athan pun kewalahan menghadapi mafia dari Portugis itu. "Minggir kau!" teriak Alphons pada Alexandre. "Jangan halangi aku untuk mendekati Athan!" Alexandre justru menyeringai. "Langkahi dulu mayatku, baru kau bisa mendekati Monsieur." "Ah, kau menantangku ya? Baiklah. Aku terima tantanganmu." Alphons melemparkan senjatanya dan beradu pukulan dengan Alexandre. Lalu, bagaimana dengan Athan? Pria itu justru duduk dengan santai di sofa sambil melihat perkelahian yang terjadi di depannya. Athan sama sekali tidak berusaha melarikan diri, atau berlindung di tempat aman. Itu bukanlah ciri khasnya. Athan termasuk orang yang paling suka dengan hal ekstrim seperti ini. Biasanya ketua mafia akan berusaha melarikan diri saat musuh tiba-tiba datang menyerang. Tapi Athan berbeda dari lainnya. Itu sebabnya, banyak kelompok mafia yang geram dengan sikapnya itu. Di mata mereka, Athan sedang mengolok-olok mereka dan menganggap mereka sebagai kelompok mafia yang lemah. Maka dari itu, Alphons sangat bersemangat untuk menghabisi Athan dengan cepat. Selain karena persaingan bisnis, Alphons juga tidak menyukai sikap tengil Athan. Alexandre kini tersungkur ke lantai, karena kekuatan Alphons yang begitu kuat. Alphons merupakan ketua mafia yang memiliki sabuk hitam. Jadi, tak heran jika Don sekuat Alexandre pun mampu dikalahkan olehnya dalam waktu singkat. Alphons mengambil senjatanya, namun tidak berniat menghabisi Alexandre. Ia justru menghampiri Athan sambil menodongkan pistolnya tepat di depan wajah Athan. Athan hanya tersenyum menyeringai tanpa ada rasa takut sedikitpun. Athan memang sangat berbeda jauh dari Chris. Sikapnya yang tidak pernah takut pada apapun itu memiliki nilai tersendiri. "Kenapa kau hanya diam saja? Ayo, lawan aku!" tantang Alphons. Athan mendecih sambil memalingkan wajahnya sejenak, kemudian kembali menatap Alphons dengan tajam. "Kenapa harus melawan? Aku tidak sudi melawan musuh yang bisanya bermain curang sepertimu. Kau sengaja melakukan p*********n secara tiba-tiba agar kemenanganmu diakui di sini. Kau pikir, dengan cara itu, bisa membuatku menyerah padamu dan mengakui kekalahan? Huh! Itu tidak akan pernah terjadi." "Huh! Sombong sekali kau. Kau pikir, kau hebat, hah? Kau bahkan tidak lebih dari sampah masyarakat. Kau tahu, semua orang di Perancis ini sangat membencimu. Mereka takut dan tunduk padamu agar nyawa mereka selamat. Fakta itu yang harus kau terima saat ini," ujar Alphons yang masih tetap menodongkan pistolnya. Athan dengan mudahnya menyingkirkan pistol berjenis revolver itu dengan tangan kirinya. Tatapannya bahkan semakin tajam dan menyeramkan. Alphons saja sampai terkejut dengan hal tersebut. Selama ini, ia tidak pernah bertemu dengan mafia seperti Athan yang berani menyingkirkan pistolnya seperti itu. "Selagi aku masih berbaik hati, sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku berubah pikiran. Mudah saja bagiku untuk menghabisimu sekarang. Tapi, aku sedang tidak ingin berkelahi saat ini. Bawa pergi anggotamu dari klub ini, karena aku masih harus melanjutkat pestaku yang rusak sebab kehadiranmu," ucap Athan sarkas. Alphons menyeringai. "Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Tapi aku akan kembali lagi untuk menghabisimu besok. Bersenang-senanglah malam ini sebelum kau mati. Karena besok, kupastikan kau akan tewas di tanganku." "Buktikan saja. Aku tunggu besok di mansion." Alphons yang kesal mendengar jawaban enteng Athan pun lantas keluar dari klub bersama anggotanya. Setelah semuanya keluar, para pelayan di klub membereskan tempat tersebut, sementara Athan melanjutkan pestanya, kecuali Alexandre yang dibawa pulang oleh salah satu anggota lainnya. Sisanya masih menetap di klub. Akan tetapi, baru saja Athan ingin meminum minumannya, tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dari luar klub. Ledakan itu cukup keras sehingga memaksa Athan dan yang lainnya untuk keluar dari klub bersama-sama. Ternyata, Alphons sengaja meledakkan mobil yang dinaiki oleh rombongan Raid King. Untungnya, mobil tersebut terparkir sedikit jauh dari klub. Seketika, Athan naik pitam sambil mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam dan dadanya terlihat naik turun karena marah. Padahal ia sudah memberi kesempatan pada Alphons untuk tetap hidup. Tapi Alphons justru memanfaatkan hal tersebut untuk memancing kemarahan Athan. Athan menatap Konselornya yaitu Serge Lavigne. "Kita pulang sekarang juga untuk mempersiapkan peperangan besok. Aku harus bisa melenyapkannya dan membawa kepalanya ke mansionku. Akan kubuat kepalanya sebagai pajangan di dinding mansion agar aku bisa terus melihat wajah bodohnya itu." "Baik, Monsieur." Serge memesan taksi karena mereka tidak memiliki kendaraan lain untuk pulang. Kendaraan lain sudah dibawa oleh Alexandre. Serge memesan satu taksi khusus untuk tuannya. Mungkin malam ini mereka akan begadang untuk menyiapkan peperangan melawan musuh besok. Setibanya di mansion, Athan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Athan terkejut saat melihat Zehra sudah ada di tempat tidur. Ia bergegas mengecek CCTV kamarnya untuk melihat siapa yang telah membantu wanita itu bebas dari hukumannya. Dan setelah tahu siapa yang berani membebaskan Zehra, Athan kembali keluar dari kamar. Pria itu langsung menemui Michaël dan Damien. "Michaël! Damien! Kemari kalian!" teriak Athan sampai membuat anggota Raid King lainnya ikut terkejut. Michaël dan Damien bergegas menghampiri Athan dengan wajah yang pucat. Mereka sudah tahu, tuannya pasti akan menghukum mereka karena membebaskan Zehra dari hukuman. Bahkan mereka tidak berani menatap Athan sedikitpun, apalagi untuk berbicara. "Kenapa kalian membebaskan wanita itu dari hukumannya, hah?! Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak membantunya sedikitpun! Kenapa kalian melanggar itu?! Kalian sudah berani menentangku ya?!" Michaël menggeleng sambil tetap menunduk. "Maafkan kami, Monsieur. Tadi Madame tidak sadarkan diri. Jadi saya dan Damien membawanya keluar dari kamar mandi." "Aku tidak peduli dengan alasan kalian! Dia itu sedang dihukum dan biarkan saja jika dia mati! Itu bukan urusan kalian! Kalian sudah bosan hidup, hah?!" Athan tak berhenti meneriaki Michaël dan Damien. Menurutnya, mereka berdua sudah sangat lancang membebaskan Zehra. Athan benar-benar tidak suka hal itu. "Pelayan saja bisa kuhabisi karena berani menentangku untuk melindungi wanita itu! Mudah bagiku untuk melenyapkan kalian juga!" "Maaf, Monsieur. Tolong, beri kami kesempatan," pinta Damien. "Sudahlah, Monsieur. Jangan diperpanjang. Lagipula, mereka juga sudah mengakui kesalahan mereka. Masih ada hal yang lebih penting untuk dibahas. Kita harus merencanakan p*********n terhadap Alphons Silva dan seluruh anggotanya. Mereka sudah mempermainkan kita saat di klub tadi," sahut Serge yang bermaksud untuk melindungi Michaël dan Damien dari hukuman mati Athan. Athan meredam emosinya lalu mengangguk. "Baiklah. Ayo, semua ke ruang rahasia kita. Kalian berdua juga ikut." Michaël dan Damien mengangguk lalu mengikuti langkah Athan menuju ruangan rahasia mereka untuk merencanakan sebuah strategi p*********n. Kali ini, Michaël dan Damien masih bisa bernapas lega karena mereka tidak jadi dihukum oleh Athan. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD