Bab 9

1720 Words
Tengah malam, sekitar pukul 03.00 dini hari, Zehra terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya, berusaha menatap sekitar. Ia langsung terduduk saat menyadari dirinya tidak berada di kamar mandi. Karena sebelum tertidur, Zehra ingat betul dirinya masih berada di dalam kamar mandi, sesuai dengan perintah Athan. Lalu, siapa yang memindahkannya? Pikir Zehra. Zehra bergegas turun dari tempat tidur, ingin melihat keadaan di luar. Ia masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi. Perlahan, Zehra membuka pintu kamarnya dan mengintip dari balik pintu yang sudah terbuka sedikit. Kedua matanya tidak menemukan hal yang mencurigakan, karena kondisi rumah dalam keadaan normal. Para pelayan sudah membersihkan pecahan-pecahan vas bunga serta menghilangkan noda darah di lantai saat Zehra tertidur. Zehra mengernyit heran. "Tapi tidak ada apa-apa. Kenapa tadi bunyi alarm seperti itu? Apa memang terjadi sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena kamar ini kedap suara?" Zehra melangkahkan kaki kanannya lebih dulu untuk keluar dari kamar. Saat ia baru saja menutup pintu kamar dan berbalik, dirinya dikejutkan oleh kehadiran Athan yang sudah menatapnya begitu dalam. Langsung Zehra memundurkan langkahnya ke belakang dan bersandar di pintu. Seketika tubuhnya menegang ketika tatapan Athan berubah menjadi begitu tajam. Zehra bahkan kesusahan menelan ludahnya sendiri karena ketakutan yang ia rasakan saat ini. Sungguh, tatapan tajam Athan memang sangat mematikan dan mampu membuat semua orang terdiam ketakutan. "A-Athan." "Kau mau kemana jam segini?" tanya Athan dengan suara datarnya. "A-Aku terbangun karena tenggorokanku kering. Aku ingin mi-minum," jawab Zehra terbata-bata. "A-Aku juga ingin tahu apa yang terjadi tadi." Athan melipat kedua tangannya di bawah d**a, masih tetap menatap tajam Zehra. Seolah ia tidak percaya dengan ucapan istrinya sendiri. "Apa kau ingin kabur dari sini?" "Ti-Tidak, Athan. Sungguh, aku tidak ingin melakukan itu. Aku bicara jujur." "Kau pikir aku bodoh?" Athan menempelkan telapak tangan kanannya dengan keras di pintu. Seketika Zehra pun terkejut dengan hal tersebut. "Kalau kau ingin minum, di atas nakas sudah ada segelas air yang disiapkan pelayanku. Kau jangan coba-coba membohongiku," ujarnya sarkas. Zehra sudah mulai keringat dingin. Ia takut Athan akan kembali memukulnya. Tapi sungguh, Zehra memang tidak berniat untuk kabur dari mansion itu. Zehra hanya penasaran dengan apa yang terjadi. Hanya itu. Tapi sepertinya, tidak mudah meyakinkan Athan. "Athan, aku bicara jujur. Tidak mungkin aku kabur sementara aku sudah menikah denganmu. Bagaimanapun juga, kau suamiku dan aku harus selalu ada di sini bersamamu. Percaya padaku." "Tidak mudah bagiku untuk percaya pada orang sepertimu," ucap Athan. "Hhh! Jadi, aku harus apa agar kau bisa percaya padaku?" Athan membuka pintu kamar dan memaksa Zehra untuk masuk ke dalam. Di dalam, Athan langsung mengunci pintu, kemudian menatap Zehra. "Layani aku sekarang juga. Tidak ada penolakan, karena aku tidak suka penolakan." Zehra hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak tahu hal apa yang akan terjadi setelah dirinya melayani suaminya. Zehra tidak menyangka jika napsu Athan begitu besar. Pantas saja banyak yang bilang Athan suka bergonta-ganti pasangan setiap harinya. Mendadak Zehra pun memikirkan sebuah penyakit yang pasti akan menular padanya nanti. Semoga saja, Tuhan menjauhkannya dari hal tersebut. *** Sekitar pukul 08.00 pagi, Zehra baru bisa membuka matanya yang begitu sembab. Sejak pukul 03.00 dini hari sampai pukul 06.00 pagi, Athan terus saja meminta berhubungan intim. Padahal Zehra sudah sangat lelah. Saat Zehra menolak, Athan tidak segan untuk memukulnya. Alhasil, sudut bibir kanan dan pipinya pun kembali terluka. Luka yang sebelumnya juga masih terasa sakit dan kini ditambah lagi oleh Athan. Sekujur tubuhnya juga penuh tanda merah dan lebam. Athan sangat kasar dalam bermain, begitulah yang dipikirkan Zehra. Tubuh Zehra benar-benar terasa berat, seperti ditimpa berton-ton batu kerikil. Terasa sakit dan sulit untuk digerakkan. Kedua lututnya juga sangat lemas. Bahkan Zehra tidak sanggup untuk mengambil pakaiannya yang ada di bawah lantai. Zehra mencoba bangkit dari tidurnya sambil terus meringis kesakitan. Athan benar-benar tidak memberi jeda sedikitpun padanya. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa tubuh Zehra akan lumpuh karenanya. "Menikahinya adalah keburukan yang kulakukan. Tapi, aku bisa apa?" gumamnya. Dibalik kesengsaraan Zehra, ada Athan yang sedang bergembira di lantai bawah. Pria itu tampak senang hari ini, karena beberapa barang selundupannya berhasil dikirim dan ia mendapatkan uang yang begitu banyak. Athan bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya sendiri. Bagi Athan, itu tidak terlalu penting. Bagaimana bisa Zehra hidup dengan pria seperti itu selamanya? Bahkan baru sehari menikah saja, perlakuan Athan sudah sangat buruk pada Zehra. Mungkinkah orang seperti Athan bisa berubah? Karena nanti Athan pasti akan memiliki keturunan. Tidak bisa dibayangkan jika Athan masih bersikap sama setelah Zehra melahirkan keturunannya nanti. Bagaimana nasib keturunannya jika mengetahui ayahnya adalah seorang mafia kejam yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun? "Monsieur, dimana Madame Zehra?" tanya Michaël saat berada di ruang tengah bersama Athan dan anggota Raid King lainnya. "Ada di kamar," jawab Athan seadanya. "Kenapa?" Michaël menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Monsieur. Saya hanya heran, karena sejak tadi Madame tidak keluar kamar. Bahkan saat saya memanggilnya untuk sarapan, beliau tidak menjawab." "Kenapa kau begitu khawatir? Biarkan saja dia. Aku juga tidak peduli padanya," ujar Athan sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. "Dia itu hanya kuanggap sebagai p*****r di sini. Jadi, jangan mencemaskan dia. Aku bisa saja membuangnya, karena aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi untuk sementara ini, aku akan membiarkannya di sini sampai aku mendapat penggantinya." Michaël yang mendengar hal itupun sedikit terkejut. Tapi keterkejutan Michaël bertambah setelah menyadari kehadiran Zehra di salah satu anak tangga. Dilihatnya wanita itu sudah menangis dengan luka di wajah dan lengannya. Michaël yakin, Zehra baru saja mendapat penyiksaan lagi dari Athan. Seketika airmata Michaël menggenang di pelupuk mata. Betapa bodoh dirinya yang tak bisa membantu wanita malang itu sedikitpun. Michaël menatap Zehra yang berusaha turun dari tangga secara perlahan sambil berpegangan pada salah satu sisi tangga tersebut. "Jadi, kau hanya memanfaatkanku?" Athan yang mendengar suara Zehra pun dengan santainya menoleh ke samping kanan. Athan menyeringai sambil berdiri dan mendekati wanita tersebut. "Iya. Kenapa? Kau tidak suka?" "Wanita mana yang suka diperlakukan seperti itu, hah? Coba katakan padaku. Dimana wanita yang rela dimanfaatkan oleh suaminya? Wanita mana?!" teriak Zehra marah. "Kau pikir, aku p*****r? Kau pikir, aku w************n? Justru kau pria murahan!" Athan langsung menampar pipi kiri Zehra yang sudah lebam. Pria itu tidak suka dengan orang yang berani meneriakinya di depan orang banyak. Apalagi sekarang, semua anggota Raid King sedang berkumpul di sana. Di antara semua anggota Raid King, hanya Michaël dan Damien yang merasa iba pada Zehra. Sedangkan yang lainnya justru tertawa saat Athan mengolok-olok Zehra di depan mereka. Michaël ingin sekali membungkam mulut anggota lainnya, namun ia tidak punya kuasa apapun. Begitu pula dengan Damien yang sifatnya sama dengan Michaël. "Michaël," bisik Damien. Michaël pun menoleh ke arah Damien. "Ada apa?" "Bisa kita bicara di luar sebentar?" tanya Damien. Michaël mengangguk lalu keluar begitu saja bersama Damien. Sementara Athan tidak peduli dengan kepergian kedua anggotanya itu. Yang ia pedulikan saat ini adalah mempermalukan Zehra di depan anggotanya. Sesampainya di taman depan, Michaël duduk bersama Damien di kursi taman. Keduanya terdiam sejenak untuk beberapa saat, kemudian Damien mulai membuka pembicaraan. "Aku kasihan pada Madame Zehra. Apa kau sepemikiran denganku?" "Ya," jawab Michaël. "Sejak awal, aku sudah menduga hal ini akan terjadi padanya. Madame Zehra itu anak yatim-piatu sejak usia 18 tahun." Damien terkejut dan langsung menatap Michaël. "Jadi, berita itu benar?" "Ya itu benar. Dia susah payah bangkit dari keterpurukan, hingga menjadi seorang model di Perancis. Padahal dia bukan berasal dari Perancis," ujar Michaël. "Jadi, dia berasal darimana?" "Dari Turki." "Astaga." Damien tidak menyangka, sejauh itu seorang Zehra berkelana untuk mencapai kesuksesan. Tapi setelah ia berhasil, Athan dengan mudah menghancurkan segalanya. Kekuasaan memang membuat orang mampu berbuat semena-mena. Pikir Damien. Michaël menghela napas berat. "Sejujurnya, ini semua salahku. Harusnya saat itu, aku tidak memberi data pribadi asli Madame pada Monsieur." "Tapi jika kau memberi data palsu, makanya nyawa keluargamu dalam bahaya," ujar Damien yang memang tahu perjanjian Michaël dengan Athan. "Kita berada di posisi yang sama, Michaël. Tidak bisa berbuat apapun untuk membantu wanita malang itu. Kita tidak punya kuasa di sini." "Kau benar, Damien." Damien menyandarkan tubuhnya di kursi taman sambil menatap langit yang tampak cerah. "Tapi sejujurnya, aku sangat tidak suka dengan perlakuan Monsieur pada Madame. Jika aku punya kuasa, mungkin akan kuperangi dia." "Berbicara memang mudah, Damien. Tapi menerapkannya yang susah. Monsieur bukanlah orang lemah yang mudah untuk dijatuhkan. Kau sudah tahu kan bagaimana cara dia membantai seluruh musuhnya tahun lalu? Bahkan kita saja sudah sangat kewalahan. Tapi dia tetap maju dan bertahan sampai akhir. Itu tidaklah mudah," ujar Michaël. "Ya, kau benar. Tidak mudah menjatuhkannya." Saat keduanya masih sibuk membicarakan sikap Athan, tiba-tiba saja suara tembakan terdengar dari dalam mansion. Damien dan Michaël langsung berlari ke dalam untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata, Athan menembak salah satu pelayan wanita yang berusaha membela Zehra. Kondisi Zehra juga sangat memprihatinkan. Mata kiri Zehra terlihat lebam dan bengkak. Tangan Zehra pun sudah penuh dengan luka memar dan posisi Zehra terduduk lemas di lantai. Saat Michaël hendak menolong Zehra, Athan langsung berkata tegas, "Tidak boleh ada yang menolongnya! Jika kalian tetap menolongnya, maka nasib kalian akan sama seperti pelayan satu ini!" Michaël langsung melangkah mundur dan menghentikan niatnya untuk membantu Zehra. Athan meletakkan senjatanya begitu saja di sofa, lalu menjambak rambut panjang Zehra sambil menyeretnya ke lantai atas. Athan tidak peduli bagaimana sakitnya tubuh Zehra saat mengenai anak tangga tersebut, karena posisinya wanita itu diseret dalam kondisi terduduk. Kesakitan itu bisa dirasakan oleh Michaël dan Damien. Sesampainya di kamar, Zehra sudah sangat lemas dan tak berdaya. Kini ia duduk di bawah shower yang menyala, kemudian Athan meninggalkannya begitu saja. Zehra bersandar di dinding dekat shower sambil menangis. Takdir seperti apa yang ia alami saat ini? Apakah dirinya bisa bertahan dalam kondisi seperti ini? Athan sama sekali tidak memberinya ampunan sedikitpun. Di depan mata Zehra, seorang pelayan langsung ditembak mati karena berusaha membelanya. "Baba (Ayah), Anne (Ibu), aku tidak kuat dengan semua ini. Bagaimana caranya aku bisa lepas dari pria gila itu? Aku bingung harus melakukan apa. Bahkan untuk kabur dari mansion ini, aku sudah tidak sanggup," Zehra menggumam lirih. Rasa sakit itu tidak bisa terobati oleh apapun. Bahkan jika suatu saat Athan berubah, hati Zehra mungkin tetap tidak bisa menerima perubahan dari pria itu. Zehra merasa bahwa Athan memang tidak pantas untuk menerima cinta dan kasih sayang darinya. Athan benar-benar sudah sangat kelewatan dan sikapnya tidak manusiawi sedikitpun. "Suatu saat, kau akan merasakan apa yang kurasakan, Athan," ucap Zehra. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD