Bab 15

1784 Words
Disaat Zehra sudah mulai pasrah pada keadaan, disitulah Tuhan mengirimkan sosok Michaël untuk menyelamatkannya. Michaël dengan sengaja memukul kepala bagian belakang Athan dengan balok kayu hingga pingsan. Mau tidak mau, Michaël harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawa Zehra. Bahkan wanita tersebut sampai terkejut, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang kepercayaan Athan itu. Damien yang ikut bersama Michaël untuk membantu Zehra pun dengan cepat membawa Athan melalui pintu samping mansion. Karena jika sampai ketahuan oleh penjaga depan, urusannya bisa lebih panjang. Sementara Damien mengamankan Athan di kamar, Michaël bergegas membantu Zehra untuk masuk ke dalam kamar Adèle. Untungnya, wanita yang berprofesi sebagai koki di mansion itu bisa diajak bekerjasama dengan Michaël untuk melindungi Zehra. Bahkan Gilbert pun turut membantu Michaël dan Zehra. Zehra yang melihat kebaikan mereka pun merasa terharu dan bersyukur, karena ia sempat berpikir, tidak mungkin ada yang bersedia membantunya saat disiksa oleh Athan. Tapi ternyata, Tuhan mengirimkan mereka sebagai penyelamat Zehra, meskipun resiko yang akan ditanggung mereka cukup besar nantinya. Michaël sendiri sudah tidak memikirkan perjanjiannya dengan Athan, karena penyiksaan yang dilakukan oleh Athan sangat melewati ambang batas kewajaran. Bahkan menampar seorang wanita saja sudah dikategorikan sebagai seorang pecundang. Apalagi menyiksa wanita yang sudah tidak berdaya secara berlebihan. Terlihat Gilbert masuk ke kamar Adèle sambil membawa sebuah kotak P3K dan memberikannya pada Adèle. Setelah itu, Gilbert pun keluar dari kamar tersebut untuk menemui Michaël yang berusaha menyembunyikan balok kayu yang tadi digunakannya sebagai pemukul kepala belakang Athan. Michaël sembunyikan benda tersebut di tempat yang aman dan tidak akan ada seorang pun yang mengetahuinya. "Monsieur, bagaimana jika Monsieur Athan tahu?" tanya Gilbert sedikit cemas. "Hhh!" Terdengar helaan napas Michaël yang begitu berat, "Kita hanya bisa pasrah jika memang hal ini diketahui oleh beliau. Yang terpenting, Madame selamat. Jujur, itu sudah sangat kelewatan dan aku tidak suka dengan sikap kasar beliau. Saat melihat beliau menyiksa Madame, aku jadi teringat akan ibuku sendiri. Aku tidak sanggup membiarkannya mati dengan cara seperti itu." Gilbert mengangguk setuju. "Saya juga terkejut saat mengetahuinya. Terkadang saya bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang ibu melahirkan anak yang berperangai kejam seperti beliau? Apa yang dilakukan ibunya sampai anaknya bersikap seperti itu?" "Gilbert, ibu beliau orang yang baik. Hanya saja, ibu beliau mendapat cobaan berat dari Tuhan, karena melahirkan seorang putra sebengis beliau. Aku tahu bagaimana seluk-beluk keluarga beliau. Yang mengetahuinya hanya aku dan hari ini, aku mengatakan yang sebenarnya padamu," ujar Michaël sambil duduk di kursi kecil yang ada di dekat pintu samping mansion. "Dulu, ayah beliau, Chrysanthos Carras adalah seorang ketua mafia terkenal di Santorini, tepatnya di Pyrgos. Beliau sering disapa sebagai Chris dan dikenal sangat baik, terutama pada wanita dan anak-anak. Beliau juga sangat menyayangi ibunya. Nama kelompok mafia yang beliau ketuai yaitu Mávro Chéri dan sekarang digantikan oleh anak perempuannya yang bernama Natàsa Kontogouri Carras. Sifat mereka berdua sangat berbeda jauh, adiknya baik sama seperti kedua orang tuanya, sedangkan kakaknya tidak. Ibunya adalah seorang penulis terkenal di Italia yang bernama Teresa Longobardi dan memang keturunan asli Italia. Ibunya juga dikenal sangat baik dan ramah pada semua orang. Itulah silsilah keluarga Monsieur yang sebenarnya. Sifat kejam beliau tidak diturunkan dari kedua orang tuanya." "Ah, jadi seperti itu ceritanya. Saya benar-benar tidak menyangka jika keluarga Monsieur merupakan orang baik-baik. Saya juga terkejut saat tahu ayahnya seorang ketua mafia yang baik dan berbeda dari mafia-mafia lainnya." Michaël tersenyum. "Tidak semua mafia itu kejam, hanya ada sebagian yang seperti itu. Kudengar, mafia yang bernama Enzo Giovinco juga terkenal kejam di Italia. Tapi hatinya bisa luluh karena seorang wanita bernama Nieve Valente. Semuanya kembali pada individu masing-masing, Gilbert. Tuhan menciptakan sifat manusia berbeda-beda. Ada yang baik dan ada juga yang tidak baik." "Monsieur benar." Tak lama setelah Gilbert dan Michaël terdiam, Damien muncul dari pintu samping. Ia langsung menghampiri Michaël dengan raut kepanikan. "Kita harus mencari Monica sekarang, sebelum Monsieur sadar. Monica bisa kita jadikan alibi untuk menutupi kesalahan kita." "Kau benar, Damien. Ayo, kita pergi sekarang!" Michaël dan Damien bergegas pergi untuk mencari keberadaan Monica. Sementara Gilbert segera masuk ke dalam agar tidak ada orang yang curiga. Adèle sendiri sudah selesai mengobati luka Zehra. Ia juga meminjamkan pakaiannya untuk Zehra. Dibiarkannya Zehra tertidur di kamarnya dan Adèle kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. *** Sekitar 10 menit berlalu, Michaël dan Damien masih belum menemukan Monica. Mereka bahkan menunjukkan foto Monica pada beberapa orang, namun tidak ada yang melihatnya. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja, karena jika mereka pulang tidak membawa hasil apapun, bisa-bisa Athan kembali fokus pada Zehra dan menghukum mereka berdua. Mobil yang mereka kendarai terus melaju perlahan di sepanjang jalanan Kota Nice. Mereka terus berharap agar bisa bertemu dengan Monica dan membawanya secepat mungkin ke mansion. "Michaël, bagaimana jika kita tidak menemukannya?" tanya Damien yang mulai resah. Michaël melirik sekilas. "Kenapa? Kau takut dihukum oleh Monsieur?" "Ck! Aku tidak masalah dihukum mati olehnya. Jujur, aku tidak mencemaskan diriku, tapi mencemaskan keselamatan Madame Zehra. Bisa kau bayangkan bagaimana murkanya beliau saat tahu Monica tidak ditemukan dan kita dengan lancang memukulnya dengan balok kayu untuk menyelamatkan Madame. Selain kita yang dihukum, Madame Zehra juga pasti akan dihukum, mungkin bisa lebih parah dari sebelumnya," Damien menjelaskan. "Kau tenang saja. Kita pasti akan menemukan Monica secepatnya." Damien menatap Michaël dengan tatapan penuh keraguan. "Apa kau yakin?" "Tentu saja. Tuhan pasti memudahkan jalan kita," ucap Michaël penuh percaya diri. "Lebih baik, kita sama-sama berdoa agar Tuhan mempertemukan kita dengan Monica." "Amin." Dan tanpa sengaja, Michaël melihat sosok Monica sedang berjalan di tepi jalan sambil membawa sebuah koper berukuran sedang. Michaël bisa mengenalinya, meski posisi Monica membelakanginya. Pria itu pun segera menepikan mobil yang dikendarainya tepat di samping Monica. Michaël bergegas keluar, diikuti oleh Damien. Monica yang menyadari kehadiran Michaël pun berusaha untuk kabur, namun Michaël langsung menahannya dengan cepat. Monica memberontak agar terlepas dari cengkeraman Michaël. "Lepaskan aku! Kenapa kau mencegahku untuk pergi, hah?!" "Maaf, Monica. Aku harus membawamu kembali ke mansion untuk menemui Monsieur Athan. Beliau yang memintanya," ujar Michaël. "Tidak. Aku tidak mau." Monica menolak ajakan Michaël. "Aku tidak ingin bertemu kembali dengan pria yang sudah tega membunuh anakku! Karena dia, hidupku jadi berantakan seperti ini! Harusnya dia mati saja!" Michaël menghela napas berat. Ia tahu bagaimana perasaan dendam Monica terhadap Athan. Melihat anaknya terbunuh di depan mata, sudah pasti sangat menyakitkan hatinya. Monica juga harus kehilangan suaminya karena tahu Monica menjadi seorang p*****r yang disebabkan oleh Athan sendiri. Sebuah keluarga menjadi hancur hanya karena keegoisan Athan. "Maafkan aku, Monica. Tapi aku memang harus membawamu kali ini. Ada nyawa seorang wanita yang terancam di sana," kata Michaël. "Siapa yang kau maksud?" "Madame Zehra, istri dari Monsieur," jawab Michaël. Monica terkejut. "Maksudmu, wanita yang membiarkan aku pergi itu?" "Ya," sahut Damien. "Tapi, kenapa nyawanya terancam? Bukankah dia istrinya Athan?" tanya Monica dengan segala kebingungannya. Michaël menarik paksa Monica karena waktu mereka semakin terbuang untuk menjelaskan semuanya. Lebih baik, Michaël jelaskan saat berada di perjalanan menuju mansion. Monica pun terpaksa masuk ke dalam mobil dan didampingi oleh Damien di kursi belakang. Michaël dengan cepat melajukan mobilnya untuk kembali ke mansion tepat waktu. Dan di perjalanan, Damien yang menjelaskan segalanya pada Monica, karena Michaël harus fokus mengendarai mobilnya. Hanya butuh beberapa menit saja, Michaël sudah memarkirkan mobilnya di halaman mansion dan langsung membawa Monica ke dalam untuk bertemu dengan Athan. Disaat yang bersamaan pula, Athan baru saja keluar dari kamarnya sambil memegangi kepalanya. Pria itu menuruni anak tangga dan melihat Michaël sedang memegang Monica. "Ah, ternyata kau berhasil menemukannya," ujar Athan. Monica berusaha melepaskan diri dari Michaël, namun Athan sudah lebih dulu mencengkeramnya sambil memberikan tatapan tajam. Saat ini, Monica tampak ketakutan karena telah mendengar bagaimana perlakuan Athan pada Zehra dari ucapan Damien. "Tolong, lepaskan aku. Biarkan aku pergi." "Apa? Membiarkanmu pergi? Huh!" Athan tertawa menyeramkan sejenak, kemudian menyeringai dengan tatapan yang semakin tajam. "Tidak semudah itu, Monica. Kau sudah bermain-main denganku kali ini. Kau bahkan menipuku dengan segala rayuan mautmu itu agar kau bisa membunuhku. Aku sudah tahu semuanya," lanjutnya. "A-Ampuni aku, Athan," pinta Monica. Athan mendecih. "Aku tidak pernah mengampuni siapapun yang mencoba bermain-main denganku. Kau tahu kan, resiko seperti apa yang akan kau terima setelah ini, hm? Harusnya, kau berpikir seribu kali sebelum membunuhku." "Athan, aku melakukan semua itu karena dendam padamu! Kau sudah membunuh anakku dan membuat suamiku pergi meninggalkanku! Keluargaku hancur dan semua itu karena kau! Kau sudah merenggut kebahagiaanku dalam waktu singkat! Aku ini seorang ibu! Ibu mana yang tega melihat anaknya dibunuh seperti itu, hah?! Jika kau dibunuh, ibumu pasti juga akan merasa dendam pada si pembunuh!" teriak Monica kesal. "Kenapa kau tidak mati saja, hah?! Seluruh Perancis merasa ketakutan karena ulah biadabmu itu! Kau pikir, semua orang menyukaimu? Tidak ada satupun yang menyukaimu! Kau itu hanya seorang penghancur!" "Aku memang terlahir seperti itu," balas Athan santai. Monica yang sudah kesal sejak awal pun langsung meludahi wajah Athan, tanpa memikirkan keselamatannya sedikitpun. Lebih baik ia mati daripada harus hidup dalam kesedihan seperti ini. Setiap malam, ia harus merasakan ketakutan saat mengingat kematian putranya. Bagaimana putranya menjerit kesakitan dengan tangis yang tak mereda sedikitpun. Suara putranya masih terngiang di telinganya sepanjang hari di keheningan malam. "Semoga, Tuhan mengutuk setiap langkahmu! Jika aku mati, maka kutukanku akan tetap berjalan untukmu!" "Cih!" Athan mendecih, seolah meremehkan kutukan seorang ibu yang tersakiti karena ulah kejamnya. "Memangnya, kau ingin mengutuk apa, hah? Silahkan saja. Segala kutukan itu tidak akan berpengaruh padaku," tantangnya angkuh. "Wah! Ternyata, seorang Athan Doxiadis Carras tidak percaya pada kutukan? Huh! Baiklah. Aku akan mengutuk kematianmu. Suatu saat, kau akan mengalami kematian yang mengerikan, bahkan kau akan merasakan sakit itu saat kedua matamu masih terbuka. Sampai kau berteriak mengadu, tapi tidak akan ada yang menolongmu ketika hal itu terjadi." Setelah Monica selesai mengucapkan segala kutukannya, suara petir langsung terdengar begitu dahsyatnya, sampai membuat Michaël dan Damien terkejut. Tapi tidak dengan Athan. Mungkin pikiran Athan memang sudah tidak waras. Bahkan suara gemuruh petir yang dahsyat saja tidak mampu membuatnya takut sedikitpun. Athan justru tertawa sambil menodongkan pistolnya tepat di dahi Monica. "Apa kau masih punya kata-kata terakhir sebelum mati? Aku akan memberimu kesempatan untuk berbicara kembali." "Ya, mungkin sekarang kau bisa sombong, Athan," ujar Monica yang berbicara santai, namun nadanya terkesan begitu mengerikan saat didengar Michaël dan Damien. "Kutukanku bukan hanya itu saja. Semoga Tuhan membebaskan Zehra Ergen dari jeratanmu, dan kau akan menangis mengingatnya saat kau sedang sekarat. Kau akan tetap merasa kesakitan sampai Zehra bersedia datang untuk menemuimu kembali. Jika Zehra tidak datang, kau akan tetap tersiksa dalam waktu yang lama." "Monica, tolong jangan berbicara seperti itu," pinta Michaël. Monica menatap Michaël. "Kenapa kau masih membelanya? Dia itu memang pantas mendapatkan hukuman seperti itu. Dia tidak pantas hidup dengan tenang. Suatu saat, ucapanku itu akan dijawab oleh Tuhan dan aku akan merasa bahagia di atas sana saat melihat Athan menangis tersiksa di dunia. Camkan itu baik-baik." To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD