Beberapa jam kemudian, Athan sudah tersadar dan langsung berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Athan melihat ke arah samping kanan dan terkejut melihat Monica tidak ada di sana. Saat menoleh ke arah kiri, Athan justru dikejutkan dengan kehadiran Michaël. Ia masih berusaha mengingat hal apa yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri. Tapi sepertinya, Athan tidak mengingat apapun. Michaël pun berinisiatif untuk memberikan segelas air minum untuk tuannya itu.
"Dimana Monica?" tanya Athan setelah meminum air tersebut.
Michaël mulai bingung harus berkata apa. Tapi, ia berusaha untuk tetap tenang. "Dia sudah pergi sejak tadi, Monsieur."
"Sudah pergi?" Athan menatap Michaël sambil mengernyit, "Kenapa tidak membangunkanku? Apa kau yang mengantarnya pulang?"
"Tidak, Monsieur."
"Lalu, kau biarkan dia pulang sendirian?"
Michaël menghela napas berat. Sulit sekali untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Athan, karena ini menyangkut keselamatan Zehra juga. Jika Michaël berkata jujur, Athan pasti tidak akan mengampuni Zehra dan malah akan menambah hukumannya. Tapi jika Michaël berbohong, Athan akan semakin marah padanya dan juga Zehra. Michaël benar-benar dilema saat ini, karena ada satu wanita yang harus ia jaga.
"Apa kau tuli?" Athan menginterupsi.
Michaël tersentak lalu menggeleng. "Maaf, Monsieur."
"Apa yang kau pikirkan sampai tidak fokus pada pertanyaanku, hah? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui? Apa kau sedang menutupi sesuatu dariku?"
Athan sengaja mencecar Michaël dengan beberapa pertanyaan yang sulit, karena ia mulai curiga akan sesuatu. Pasti sudah terjadi hal yang buruk selama dirinya tertidur. Sialnya, sampai detik ini, Athan belum mengingat apapun.
"Apa anda tidak bisa mengingat sesuatu? Monica sudah membius anda dan berusaha membunuh anda, Monsieur," ujar Michaël jujur.
"Kau jangan bercanda, Michaël. Dia tidak mungkin berani melakukan itu padaku."
Michaël sudah menduga, tuannya tidak akan percaya dengan hal ini. Tapi Michaël tetap berusaha meyakinkan Athan mengenai sikap Monica. "Saya tidak bercanda, Monsieur. Anda bisa melihat CCTV yang ada di kamar ini."
Athan yang masih belum percaya pun langsung menghidupkan layar LCD besar di kamarnya untuk memeriksa rekaman CCTV tersebut. Pria itu terkejut saat melihat Monica ingin menusuknya dan Zehra yang menolongnya. Tak lupa, Athan memutar rekaman sebelum ia tak sadarkan diri. Ternyata, Monica telah menyuntikkan obat bius di lehernya saat mereka tengah b******u. Anehnya, Athan tidak merasakan apapun saat itu, karena dirinya langsung terpejam. Posisi Monica memang berada di atasnya.
"Wanita sialan!" umpat Athan kesal, kemudian ia menatap Michaël dengan tajam, "Kenapa kau membiarkannya pergi dan kenapa Zehra bisa ada di kamar ini?! Jawab!"
Michaël mulai mencari alasan untuk melindungi Zehra dari amukan Athan. "Saya memang membukakan pintu gudang karena Madame ingin ke kamar mandi, Monsieur. Saat saya balik ke gudang setelah mengantarkan Madame Zehra, tiba-tiba saya melihat seorang penyusup dan ternyata penyusup itu suruhan Monica. Karena saya memikirkan keselamatan anda, saya pun berfokus untuk menangkap penyusup itu. Dan setelah saya menahannya, Madame pun menanyakan perihal suara tembakan yang memang dilakukan oleh penyusup tersebut. Madame langsung ke kamar setelah mengetahui niat buruk Monica pada anda. Itu sebabnya, beliau ada di kamar anda saat kejadian."
"Lalu, kenapa kau membiarkannya pergi?! Di rekaman CCTV, kedua tangan Monica sudah diikat, tapi kau malah melepasnya! Apa Zehra yang menyuruhmu, hah?!" bentak Athan.
"Tidak, Monsieur. Memang saya yang ingin melepaskannya."
Athan mendecih sambil menyeringai. "Kau itu sangat tidak pandai dalam berbohong, Michaël. Aku tahu, kau berusaha melindungi Zehra, kan? Apa kau menyukainya, hah?!"
"Maaf, Monsieur. Saya tidak mungkin menyukai istri anda. Saya hanya tidak tega jika anda menghukumnya lagi. Tubuhnya sudah sangat lemah. Tolong, ampuni dia. Dia juga terluka di bagian lengan saat menolong anda, Monsieur," ujar Michaël.
Athan yang geram pun turun dari tempat tidur, lalu menarik paksa kerah kemeja yang digunakan Michaël. Tatapan tajamnya terlihat begitu jelas, sampai membuat Michaël sedikit was-was. Jika sudah seperti ini, Athan pasti akan menghajar siapapun yang menentangnya tanpa ampun. Michaël hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Michaël pasrah jika memang usianya tidak panjang lagi.
"Kuperintahkan kau untuk mencari Monica sekarang juga! Aku inginkan dia! Jangan kembali sebelum kau menemukannya! Zehra bukanlah urusanmu! Biar dia menjadi urusanku! Apa kau mengerti yang kuucapkan?!"
Michaël berusaha mengangguk disaat lehernya tertekan oleh cengkeraman tangan Athan. "Baik, Monsieur."
Athan mendorong Michaël dengan kasar. Setelah itu, ia berjalan keluar dari kamar menuju gudang. Athan ingin memberi pelajaran pada Zehra dan melupakan bagaimana perjuangan Zehra menyelamatkannya dari serangan Monica. Tanpa pikir panjang, Athan mendobrak pintu gudang secara paksa hingga pintu tersebut rusak. Zehra juga tampak terkejut sambil berdiri memegangi lengannya yang terluka.
Athan melangkah maju mendekati wanita itu, kemudian menarik rambut panjang Zehra yang masih terurai. Hal itu membuat Zehra meringis kesakitan sambil berusaha melepaskan diri. Tapi kekuatan Athan sangat tidak bisa ditandingi olehnya. Dan tanpa Zehra sadari, Athan membenturkan kepalanya ke dinding gudang tanpa belas-kasih sedikitpun. Bahkan benturan itu dilakukan sebanyak tiga kali oleh Athan sendiri, hingga membuat dahi Zehra terluka cukup parah. Darah segar mengalir hingga mengenai kelopak mata Zehra.
"Berhenti menyiksaku!" teriak Zehra dengan tatapan tajamnya.
Athan menyeringai. "Berhenti katamu? Aku tidak akan berhenti menyiksamu sampai kau mati!"
"Dasar pria tidak tahu berterima kasih! Harusnya kau bersyukur masih diberikan kehidupan sampai detik ini dan itu semua karena aku yang menyelamatkanmu! Jika tidak, mungkin kau akan mati sia-sia!" balas Zehra.
Ucapan Zehra sama sekali tidak berpengaruh pada Athan. Pria yang sudah dibutakan oleh keegoisan itu justru semakin marah dan mendorong Zehra sampai tubuhnya membentur dinding. Tulang punggung Zehra terasa begitu sakit, ditambah lagi luka di dahinya yang membuat kepalanya menjadi pusing. Zehra berusaha bangkit sambil memegangi bagian belakang tubuhnya. Ia tidak menyangka, penderitaannya akan semengerikan ini. Athan bahkan tidak menganggapnya sebagai seorang wanita. Wanita yang harusnya dijaga dan disayangi. Tapi Zehra tidak mendapatkan semua itu. Airmatanya saja tidak mempengaruhi isi pikiran Athan sama sekali. Bagaimana bisa Teresa melahirkan seorang anak seperti Athan yang kelakuannya justru tidak seperti seorang manusia? Apa yang salah?
Athan kembali mendekati Zehra, namun Zehra dengan cepat melemparkan sebuah besi berukuran sedang ke arah Athan dan mengenai d**a Athan. Pria itu tersungkur dan kesempatan ini yang diambil Zehra untuk keluar dari mansion. Zehra menahan rasa sakitnya agar bisa melarikan diri dari Athan. Tapi sayang, salah satu penjaga mansion tidak memperbolehkan Zehra pergi dari sana. Kedua penjaga gerbang justru membawa Zehra kembali kepada Athan yang sudah berada di taman sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
"Lepaskan aku!" Zehra masih berusaha memberontak, namun usahanya berakhir sia-sia. Para penjaga itu tidak membiarkannya lepas begitu saja.
Pria bengis keturanan Yunani-Italia itu seketika menyeringai sambil berjalan mendekati Zehra. Dengan gerakan cepat, Athan sudah mencengkeram lengan kiri Zehra dan membawanya secara paksa menuju gudang. Athan melemparkan Zehra begitu saja sampai lutut Zehra terbentur lantai yang penuh debu. Zehra sendiri sudah sangat kehabisan tenaga menghadapi Athan. Ternyata benar yang dikatakan orang-orang. Athan Doxiadis Carras tidak mudah untuk dikalahkan. Kekuatannya begitu dahsyat sampai Zehra kehabisan akal untuk mengalahkannya.
"Kau sudah berani melawanku, hah?!"
Athan langsung menarik rambut Zehra dari belakang sampai membuat wanita itu mendongak kesakitan. Bahkan Athan menduduki punggung Zehra yang memang sudah sangat sakit sejak awal. Zehra hanya bisa meneteskan airmata karena penyiksaan ini. Bahkan memohon pun tidak ada gunanya lagi. Athan sudah disulut oleh amarah yang begitu besar, sehingga tidak bisa berpikir jernih sedikitpun.
"Tolong, lepaskan aku...."
Suara parau Zehra tak dihiraukan sama sekali oleh Athan. Pria itu justru mengambil sebuah pisau berkarat yang ada di dalam gudang, kemudian meletakkannya di leher Zehra. Dengan wajah psikopatnya, Athan tersenyum menyeringai. "Kau tidak akan selamat dariku, Zehra. Kau sudah membuatku marah dengan segala tingkah bodohmu itu. Kurasa, ini waktu yang tepat untuk melenyapkanmu."
Zehra hanya bisa pasrah sambil menutup kedua matanya. Ia tidak ingin berharap banyak pada siapapun. Mungkin, memang inilah waktunya untuk pergi dari dunia dan bertemu dengan kedua orang tuanya di alam keabadian.
To be continue~