Bab 13

1644 Words
"Athan, buka pintunya!" Zehra terus mengetuk pintu gudang tersebut dengan kencang. Bahkan ia sampai menendangnya agar seseorang mendengar suara berisik itu dan membebaskannya dari gudang sempit tersebut. Sementara Athan hanya tertawa puas sambil berjalan meninggalkan gudang. Pria kejam itu duduk santai di kursi taman, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk bermain game. Tapi kesenangan Athan terganggu oleh seorang wanita berparas cantik dan memiliki tubuh yang seksi di mansionnya. Wanita itu mengenakan pakaian dress ketat di atas lutut berwarna merah gelap. "Hai, Athan," sapa wanita itu. Athan mendongak, kemudian tersenyum menggoda. "Hai, Monica. Kenapa kau tidak mengabariku dulu sebelum datang? Aku bisa menjemputmu." Wanita bernama Monica itu langsung duduk di pangkuan Athan sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Athan. Monica menatap penuh hasrat pada pria yang berstatus suami Zehra. Michaël yang melihat dari kejauhan saja sudah sangat kesal dengan Athan. Michaël tahu apa yang sudah dilakukan Athan pada Zehra. Tapi ia belum menemukan celah untuk membebaskan Zehra. "Kau kan sedang sakit. Jadi, biarkan aku yang mengunjungimu," jawab Monica dengan nada manja yang terdengar menjijikkan. "Boleh aku bermalam di sini bersamamu, Athan?" "Tentu saja, Monica. Kau boleh berada di sini kapanpun kau mau." Monica langsung mencium pipi kiri Athan, sehingga lipstik yang dipakainya menempel di pipi pria tersebut. "Terima kasih, Athan. Aku sangat merindukanmu. Ketampananmu membuatku tidak bisa melupakanmu sedetik saja." "Kau selalu bisa menggodaku ya." Athan yang memang sudah sangat tergoda dengan rayuan-rayuan Monica pun langsung menggendong wanita itu untuk masuk ke dalam mansionnya. Ia pun berpapasan dengan Michaël di depan pintu mansion. "Jaga wanita itu. Jangan sampai kau melepaskannya dari hukuman." "Baik, Monsieur," jawab Michaël. "Siapa wanita yang kau maksud, Athan?" tanya Monica. Athan menggeleng. "Bukan siapa-siapa. Dia tidak penting." Athan langsung melenggang pergi meninggalkan Michaël dengan segala amarah yang bergejolak di hatinya. Bisa-bisanya Athan menganggap Zehra wanita yang tidak penting. Padahal jelas sekali Zehra merupakan istri sahnya. Michaël menyesal tidak membawa Zehra kabur dari Perancis sebelum pernikahan itu terjadi. Jika saja ia tidak terbebani dengan nyawa keluarganya, mungkin Michaël sudah menyelamatkan Zehra sejak awal. Michaël memastikan Athan sudah masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia berjalan menuju gudang dimana Zehra berada. Michaël bahkan menghubungi Gilbert untuk membawakan dua botol air minum serta beberapa camilan di lemari es untuk Zehra. Tapi Michaël menyarankan Gilbert agar keluar dari pintu samping yang minim dengan penjagaan. Jika Gilbert keluar dari pintu depan sambil membawa makanan dan minuman begitu banyak, bisa-bisa para penjaga melaporkan hal ini pada Athan. Lagipula, di pintu samping tidak terdapat CCTV, jadi kali ini Michaël dan Gilbert akan aman. Gilbert keluar dari pintu samping sambil mengendap-endap, lalu bertemu dengan Michaël di samping gudang tersebut. "Monsieur, apa ini tidak berbahaya? Saya takut, Madame semakin ditambah hukumannya oleh Monsieur Athan." "Selagi tidak ada CCTV, semua akan baik-baik saja," ujar Michaël sambil membawa makanan itu ke gudang. Kebetulan, kuncinya masih menggantung dikuncian pintu bagian luar. Saat pintu dibuka, Michaël terkejut melihat Zehra sudah tergeletak di lantai. Michaël mencoba menyadarkan Zehra sambil memercikkan sedikit air ke wajah wanita malang itu. Untung saja, Zehra segera sadar. Wanita itu terduduk kemudian menangis sambil memeluk Michaël. "Aku takut, Michaël," lirih Zehra. Michaël menghela napas berat. Pria itu mengelus pundak Zehra untuk menenangkannya. "Maaf, saya terlambat menolong anda, Madame. Sekarang, anda makan ya. Saya sudah menyiapkan banyak makanan dan minuman untuk anda. Tapi maaf, saya belum bisa mengeluarkan anda dari gudang ini." "Tidak masalah. Aku mengerti," ujar Zehra sambil melepas pelukannya pada Michaël. Ia menghapus airmatanya lalu meminum air yang diberikan oleh Michaël. "Pergilah. Jika Athan tahu, kau akan dihukum." "Hhh!" Dengan berat hati, Michaël mengangguk dan beranjak keluar dari gudang. Pria itu menatap Zehra sejenak sebelum akhirnya ia kembali menutup pintu tersebut. Tapi Michaël enggan menguncinya. Michaël sengaja melakukan itu agar Zehra mudah melarikan diri dari mansion jika memang wanita itu ingin melakukannya. Sungguh, Michaël tidak bisa melakukan banyak hal untuk Zehra. Gilbert yang masih berada di sana pun merasa iba dengan nasib Zehra. "Monsieur, sebaiknya kita bantu Madame untuk kabur dari tempat penyiksaan ini. Jujur, saya tidak sanggup melihatnya tersiksa setiap harinya. Saya sering melihatnya menangis saat tidak ada orang." "Seandainya bisa, pasti sudah kulakukan sejak awal," kata Michaël sambil bersandar di pintu gudang. "Wanita baik seperti Madame tidak pantas mendapat penyiksaan seperti itu." "Itu benar. Saya berharap, Tuhan segera memberikan balasan pada Monsieur Athan agar dia menyesali segala perbuatannya terhadap Madame Zehra." Michaël mengaminkan doa Gilbert. "Sebaiknya kau kembali ke dapur. Takutnya, Monsieur memerlukanmu di sana." "Baik, Monsieur. Saya permisi." Gilbert pun berlalu dari hadapan Michaël. Disaat Michaël tengah memperhatikan keadaan sekitar, tiba-tiba ia melihat sebuah pantulan sinar dari arah kanannya. Sinar itu berasal dari balik pohon pinus yang menghiasi taman. Michaël mulai memicingkan matanya dan menyiapkan pistol jenis revolver yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Tak lupa, Michaël memperhatikan ke arah belakang, barangkali juga ada seseorang yang menyelinap di sana. Michaël terus berjalan mengarah ke pohon pinus tersebut. Dan disaat bersamaan, sinar itu mengarah ke Michaël. Untungnya Michaël langsung berjongkok untuk menghindarinya dan segera mencari tempat aman untuk bersembunyi. Sepertinya, memang ada penyusup di mansion ini. Setelah bersembunyi, Michaël langsung menghubungi Damien untuk berjaga di dalam mansion. Kemudian, Michaël kembali berjalan mengendap untuk menangkap si penyusup tersebut. Tapi sebelum itu terjadi, ternyata si penyusup sudah mengetahui pergerakan Michaël. Lantas suara tembakan pun terdengar dan hampir saja mengenai Michaël. Setelah gagal menembak Michaël, penyusup tersebut berusaha kabur, namun Michaël langsung memerintahkan penjaga di bagian depan untuk menutup gerbangnya. Penyusup itu pun terjebak dan Michaël berhasil membawanya. Penyusup tersebut terlihat memakai masker dan topi hitam. Michaël juga sempat memarahi penjaga yang ternyata tidur saat bertugas. Untung saja Michaël sangat jelih dari segala hal. "Siapa kau?!" bentak Michaël sambil menodongkan pistolnya ke kepala sang penyusup. Pria itu menatap Michaël. "Ampuni saya, Monsieur. Saya hanya disuruh seseorang." "Siapa yang berani menyuruhmu, hah?!" "Wa-Wanita yang masuk bersama Monsieur Athan. Namanya Monica. Dia meminta saya untuk masuk ke dalam dan mengambil semua harta di mansion ini." Tak lama kemudian, muncul Zehra dari arah belakang setelah mendengar suara tembakan tersebut. Zehra langsung menghampiri Michaël dengan wajah yang panik. "Ada apa, Michaël? Kenapa ada suara tembakan?" "Ada penyusup, Madame," jawab Michaël. "Ada seorang wanita yang menyuruhnya untuk mencuri harta benda di mansion ini." "Lalu, dimana wanita itu?" tanya Zehra. "Sedang berada di kamar bersama Monsieur." Tanpa pikir panjang, Zehra langsung masuk ke dalam mansion dan tidak menghiraukan larangan Michaël. Padahal Zehra masih dalam masa hukuman. Bisa fatal akibatnya jika Athan tahu Zehra keluar dari gudang tersebut. Michaël pun langsung membawa penyusup itu untuk ikut masuk ke dalam mansion dan meminta Damien yang baru saja muncul untuk mengawasinya. Sementara itu, Michaël mengikuti langkah Zehra menuju kamar Athan. Pintu kamar dibuka oleh Zehra dan betapa terkejutnya ia saat melihat Monica tengah mengangkat sebuah pisau untuk membunuh Athan. Seketika itu juga, Zehra berlari ke arah Monica dan menahan tangan wanita itu dengan sekuat tenaga. "Lepaskan aku!" teriak Monica. "Tidak! Dia suamiku! Kau tidak berhak membunuhnya!" balas Zehra sambil berusaha menarik Monica agar menjauh dari Athan. "Athan, bangun! Bangunlah!" Zehra berusaha membangunkan Athan, namun pria itu tidak memberi reaksi apapun. Tangan Monica masih ditahan oleh Zehra. Tapi sayang, cengkeraman Zehra tidak terlalu kuat, sehingga Monica begitu mudah melepaskan diri. Setelah berhasil lepas, Monica langsung menyayat lengan Zehra dengan pisaunya, kemudian berlari ke arah tempat tidur dan menindih Athan yang masih memejamkan mata. Monica sudah siap dengan pisaunya untuk membunuh Athan, namun Michaël dengan sigap mendorong Monica. Zehra mengabaikan luka di lengannya dan menarik Monica kembali untuk menjauh dari Athan. Untungnya, pisau itu sudah terlepas dari genggaman Monica. Zehra pun dengan cepat mengikat kedua tangan Monica ke belakang. "Monsieur, bangunlah!" Michaël mencoba mengguncang tubuh Athan yang sejak tadi tidak memberi reaksi apapun. "Monsieur!" Michaël yang kesal langsung menatap kearah Monica dan mendekatinya. "Sudah kau apakan Monsieur Athan, hah?!" Monica menyeringai. "Aku sudah membiusnya dengan dosis yang tinggi." "Sialan!" Zehra menampar pipi Monica dengan keras. "Kenapa kau melakukan ini pada suamiku, hah?! Kenapa?!" teriaknya. "Karena dia sudah membunuh keluargaku! Dia bahkan membunuh anakku dan menjual organnya pada orang lain! Aku ingin membalas kematian putraku!" Zehra yang mendengar hal itu pun terkejut. "Menjual organnya?" "Ya. Apa kau tidak tahu kalau suamimu itu adalah mafia jahat yang suka menjual organ tubuh manusia? Bahkan dia membuatku menjadi p*****r! Dia menjualku pada p****************g demi sebuah uang! Aku juga harus berpisah dengan suamiku karena ulahnya!" Zehra memundurkan langkahnya ke belakang sambil menutup mulutnya. Ia tidak tahu jika pekerjaan suaminya bisa sekejam itu. Memisahkan istri dari suami dan memisahkan seorang ibu dari anaknya sendiri. Sungguh, ini sangat keterlaluan. Zehra pun langsung menatap ke arah Michaël untuk meminta penjelasan. Karena selama ini, Zehra hanya berpikir ucapan orang-orang itu hanya kabar burung semata. Tapi ternyata itu benar. "Saya akan menjelaskannya setelah menahan wanita ini di penjara, Madame," ujar Michaël yang seakan tahu maksud dari tatapan Zehra padanya. "Biarkan dia pergi," ucap Zehra. "Kau tidak berhak menahan seorang wanita yang telah ditinggal suami dan anaknya karena kesalahan suamiku. Jika aku tahu dari awal maksud dan tujuannya, mungkin aku akan membiarkan dia membunuh Athan." "Madame, kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan Monsieur." Zehra menatap Michaël dengan tajam. "Persetan dengan persetujuan! Dia sudah merenggut nyawa seorang anak dan menjual organ tubuhnya! Ibu mana yang tega melihat putranya mati sia-sia seperti itu, hah?! Jawab aku! Apa ibumu akan senang saat kau dibunuh oleh Athan?! Tentu tidak, kan?!" "Baiklah. Saya akan melepaskannya." Michaël pun menyerah dan menuruti ucapan Zehra. Ia membiarkan Monica pergi dari mansion, kemudian membawa Zehra untuk keluar dari kamar. Zehra hendak kembali ke gudang, namun dilarang oleh Michaël. "Tidak, Madame. Anda tidak akan kembali ke gudang. Anda masih terluka." "Aku tidak peduli, Michaël. Lebih baik aku berada di dalam gudang, daripada harus tidur bersama seorang pembunuh kejam seperti Athan," Zehra menolak dengan tegas. "Tapi...." Zehra melenggang pergi dan mengabaikan ucapan Michaël yang terputus karena kepergiannya menuju gudang. Michaël hanya bisa menghela napas berat dan meminta Damien untuk melepaskan penyusup yang disekap di tempat berbeda. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD