Eps.1 • Pacar Baru Mama?
Kediri, 2009
Heboh. Riuh.
Suara bising alat musik masih bisa terdengar dari tempatnya berdiri saat ini. Aula sekolah terlihat begitu penuh, sesak, bercampur suasana haru. Kombinasi aroma parfum ratusan orang berjejalan saling mendominasi kualitas udara.
Masih terdengar bunyi kenong dipukul berulang kali disusul irama tertentu berpadu dengan bunyi gong serta harmonisasi kendhang, saron, demung, bonang, kempul, gambang dan sinden.
Tujuh orang penari dengan kaki telanjang sedang menyajikan serangkaian gerak nan gemulai. Jemari lentik itu meraup udara yang kini memunculkan bau melati bercampur keringat bapak-bapak yang saling berlomba menunjukkan eksistensinya masing-masing. Gerak pinggul salah satu penari di barisan paling depan begitu aduhai. Memikat mata penonton, khususnya para penonton laki-laki di deretan paling depan. Matanya sesekali mengedip seperti mengundang penonton untuk menari bersamanya di atas panggung.
Leher itu jenjang. Ditumbuhi jakun. Sebuah DSLR EOS 600D menggantung di sana. Tali pengikat kameranya bermotif monokrom snoopy. Mata kamera dalam genggaman pemuda itu masih tertuju pada obyek di kejauhan. Bagian depan lensa sedikit diputar untuk mencari titik fokus pada tulisan ‘Wisuda Purna Siswa SMA Negeri Banyusewu Kota Kediri’ yang terpajang besar-besar pada dinding panggung. Kemudian lensa kembali diputar sedikit berlawanan arah. Zoom out. Sehingga yang tertangkap frame sekarang ini adalah obyek tujuh orang penari perempuan.
Rambutnya sengaja diberi pomade hari ini karena dia ingin tampil rapi dan mengesankan di hadapan Lauren. Terlihat seorang ibu-ibu mengayunkan kipas tangan warna merah dengan motif batik. Dari belakang hanya bisa terlihat rambutnya yang tergerai sebahu. Baru saja dibicarakan, Lauren berjalan menghampirinya dari deret kursi wali murid.
“Rendy, kamu nggak apa-apa, kan, Mama tinggal pulang duluan? Mama mendadak ada urusan,” kata Lauren keras-keras. Tubuhnya agak dicondongkan supaya apa yang Lauren katakan bisa tertangkap telinga Rendy di tengah ingar-bingar yang semakin memekakkan telinga. Gema tepuk tangan para penonton bergaung di seantero aula.
“Iya, Ma. Acara inti juga udah selesai kok. Bentar lagi penutupan. Makasih ya, Mama udah nyempatin datang. Aku antar Mama ke parkiran, yuk,” kata Rendy sembari mematikan kamera.
“Ah, nggak usah, Ren. Mama bisa sendiri kok. Kamu lanjutin aja tuh motret-motretnya,” tolak Lauren.
Rendy menyodorkan tangan kanannya seperti hendak meminta sesuatu. “Kunci mobil, Ma,” pintanya. “Rendy bantu mundurin mobilnya.”
“Udah nggak usah repot. Mama nggak bawa mobil hari ini,” tolak Lauren.
“Terus Mama tadi naik apa? Kalau gitu, Rendy anterin ya?” Rendy sedikit berteriak karena alunan musik kembali dimainkan.
Lauren bersikeras menolak tawaran Rendy yang ingin mengantarnya pulang. Mendadak sekelebat kilau yang berasal dari leher Lauren menarik perhatian Rendy untuk menoleh detik itu juga guna melihat apa sebenarnya yang ada di sana.
Emas?
“Mama beli kalung baru?” tanya Rendy penuh selidik. “Kok tumben? Mama, kan, nggak suka pakai kalung.”
Kedua mata Lauren tidak berani menatap mata Rendy. “Oh, ini?” gagapnya. Tangan kanan Lauren meraba liontin berbentuk hati. “Ini ... uhm, ini pemberian, Ren.”
Pemberian?
“Dari siapa, Ma?” tanya Rendy. Ia makin curiga dengan gelagat ibunya.
Sebentar-sebentar jemari Lauren mengusap hidungnya yang tidak gatal. Lalu lebih sering mengecek ponsel. Detik berikutnya Lauren tersenyum.
“Mama pergi dulu, ya. Bye, Sayang,” kata Lauren setelah mengecup pipi Rendy.
Tidak ada balasan apapun dari mulut Rendy. Lagipula Rendy enggan berkomentar lebih jauh soal Lauren yang menjadi sangat sibuk semenjak dia menjadi ibu tunggal. Rasanya sudah lama sekali hari itu berlalu. Hari di mana Lauren dan suaminya memutuskan semua perkara gana-gini di meja hijau. Hari di mana Rendy memulai hidup barunya dengan tinggal berdua saja bersama Lauren.
Rendy menginjak usia sepuluh tahun ketika Lauren bercerai dengan suami keduanya tanpa karunia anak. Sebelum itu, Rendy telah terbiasa tumbuh dan melalui masa balita tanpa dukungan dan kasih sayang dari ayah kandungnya. Rendy tidak memiliki ingatan satu pun soal ayah kandungnya. Bahkan Rendy tidak bisa mengingat momen kebersamaan yang telah dia lalui bersama ayah biologisnya itu.
Lauren telah memusnahkan semua foto-foto yang berhubungan dengan mantan suaminya hingga Rendy telah lupa seperti apa wajah ayahnya. Dulu Rendy terlalu berharap bahwa suatu hari ayahnya akan datang menemuinya lagi. Namun harapan itu hanya tinggal sebutir debu. Rendy berhenti berharap. Dia benci menunggu sejak saat itu.
Tetapi yang membuatnya penasaran hari ini adalah soal kalung itu. Kalung emas dengan liontin hati yang dipakai Lauren membuat hati kecilnya bertanya-tanya. Lauren tidak mungkin habis menang lotre. Rendy juga tidak bisa begitu saja menyimpulkan bahwa ibunya mencuri kalung itu dari seseorang. Keluarga kecil mereka berkecukupan, bahkan bisa dibilang lebih dari cukup. Kalau benar itu adalah pemberian, maka Rendy perlu mengecek kebenarannya.
Rendy bergegas menyusul Lauren. Setelah sampai di depan gerbang, Rendy melihatnya. Lauren melambaikan tangan ke arah Honda Jazz warna putih. Dari kursi kemudi turun seorang paruh baya dengan kemeja berdasi. Seorang laki-laki!
Siapa sih?
Rendy ingin melihat lebih dekat namun rasanya tidak mungkin, karena dia tidak boleh ketahuan sedang mengawasi Lauren dari tempatnya berjongkok saat ini. Lensa kamera siap membidik obyek di kejauhan. Rendy memutar bagian depan lensa untuk mencari titik fokus kemudian saat laki-laki itu mengecup pipi Lauren, telunjuk Rendy menekan tombol shutter.
●♡●
Jogja, 2018
Tulisan ‘Rumah Belajar BeYOUtiful’ terpajang besar-besar di sebuah spanduk yang tertempel di dinding teras. Beberapa pot bunga dan tanaman sejenis sansevieria berjejer di kanan-kiri jalan masuk dekat pagar. Pagarnya terbuat dari kayu yang dipotong asal-asalan kemudian dirakit memanjang membentuk semacam pembatas. Pagar rumah ini seperti sengaja dibuat dari kumpulan kayu bekas. Masih jelas terlihat serat-serat khas dari kayu di permukaannya. Pemiliknya sengaja tidak memberi finishing berupa pelitur. Biar terlihat lebih autentik saja, mungkin. Atau barangkali sedang malas menghamburkan uang.
Suara deru mesin dari sebuah Vixion hitam baru saja dimatikan oleh si pemilik. Kaki yang dibalut converse hitam menjejak jagang, kemudian cowok itu turun dari motor.
“Rin,” sapa Rendy sambil lalu kepada satu-satunya gadis yang sedang menyiram tanaman di pelataran teras BeYOUtiful. Rendy mengangkat tangan kirinya sekilas. Gerak tubuhnya lesu. Malas sekali. Dia jatuhkan p****t di atas kursi kayu panjang yang ada di dekat spanduk.
“Lho, tumben pagi banget, Ren,” jawab Karin sembari masih menyiram tanaman.
“Sialan, aku masih ngantuk,” keluh Rendy lebih kepada dirinya sendiri. “Hari Minggu gini harusnya aku masih bisa nambah durasi tidur sampai siang nanti.” Tangan kanan Rendy mengacak rambut bagian depan dengan kesal. Tangan kiri mengaduk isi ransel dan mengeluarkan DSLR miliknya. Mulutnya menguap lebar-lebar.
“Nggak baik tauk bangun siang. Memperpendek umur,” sahut Karin.
Rendy hendak mengabaikannya tapi kata-kata Karin begitu menggelitik otak kecilnya hingga Rendy tidak tahan untuk tidak berkomentar. “Untungnya nggak memperpendek rezeki, ya kan?”
“Iya, itu juga. Bisa dipatok ayam,” sambar Karin.
“Setahuku sih ayam nggak doyan nge-patok duit. Entahlah kalau ayam yang lain,” jawab Rendy asal. Jemarinya memberi isyarat tanda kutip pada kata ‘ayam’.
“Maksudnya?” Karin memutar bola mata. Malas menanggapi candaan Rendy yang lebih terdengar seperti candaan bapak-bapak. Dad jokes.
Tiba-tiba suatu ingatan menyentak benak Karin. Sesuatu terlintas, menuntut rasa ingin tahu. Sejenak Karin menghentikan kegiatannya menyiram. Gembor diletakkan di sembarang tempat. Kemudian bergegas duduk di hadapan Rendy.
“Omong-omong, gimana hasilnya? Udah dapat orangnya?” tanya Karin antusias.
●♡●