Eps.5 • Pemburu Bayaran?

1173 Words
"Maaf, harusnya aku nggak melibatkan kamu," sahut Rendy ketika beberapa saat yang lalu Olin melancarkan rasa penasaran. Olin sudah kepalang kecewa karena ternyata tempat ini tidak sesuai dengan harapannya. "Jadi ini bukan rumah belajar beYOUtiful ya?" gumamnya lebih kepada diri sendiri. Rendy diam saja walau sebenarnya dia sedikit merasa bersalah. Tetapi apa daya? Situasi mendadak menjadi sekacau sekarang. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Olin tentang dua orang berjaket hitam yang sedang memburunya? Rendy tidak ingin identitas aslinya diketahui oleh orang lain, termasuk orang yang pertama kali dia temui hari ini, yaitu Olin. Di sisi lain, Rendy tidak juga mau dicap sebagai seorang pembohong. "Kalau boleh tahu, mereka itu siapa sih, Kak?" Olin mengulang rasa penasaran dengan kembali melontarkan pertanyaan. Sialnya, jenis pertanyaan itu yang paling Rendy hindari saat ini. Tetapi apa boleh buat, Rendy harus menerima resiko karena sudah melibatkan orang lain. Keduanya sedang berdiri di ambang jendela kaca sebuah ruangan yang tertutup gorden ungu lembayung. Ruangan itu adalah ruangan khusus staf yang biasa digunakan para pegawai untuk beristirahat atau berguna ketika ada rapat mendadak. Tidak luas tetapi cukup untuk menampung lima belas orang di dalamnya. Terdapat dua buah meja panjang yang dikepung oleh berderet-deret kursi beroda khas furnitur kantor. Sesekali Olin mengintip dari balik gorden dan dia melihat dua pria berjaket hitam belum mau hengkang dari situ. Masih betah berada di dalam kafe. Dari jendela itu Rendy dan Olin bisa langsung melihat keadaan aula kafe. Lumayan padat pengunjung pada siang menjelang sore. Para pramusaji terlihat sibuk mondar-mandir mengantar pesanan. Dua orang pria berjaket hitam yang tadi membuntuti Rendy terlihat sedang berbincang dengan bagian kasir. Salah satunya sedang memperlihatkan sesuatu yang entah apa, sembari menunjuk-nunjuk layar ponsel. Detik berikutnya si jangkung mengeluarkan dompet. Olin tiba-tiba merapatkan gorden sampai tidak terlihat celah untuk mengintip. Kemudian matanya mencari mata Rendy. Tatapannya penuh rasa curiga. Menuntut penjelasan. "Jangan-jangan … mereka …" Olin memulai hipotesis hingga membuat Rendy menelan ludah karena gugup. "... penagih hutang ya?" tebak Olin kemudian. Suaranya cukup keras sampai nyaris berteriak. Mendengar itu sontak Rendy mendesis sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya sendiri. Detik berikutnya Rendy menggeleng. Lagi-lagi tanpa bersuara. Langkah kakinya berhenti di salah satu kursi beroda terdekat. Rendy duduk mencoba menenangkan diri. Dia sudah tidak bisa berpikir. Tidak tahu lagi dengan cara apa bisa memberitahu Olin yang sebenarnya tanpa dicap sebagai tukang bohong. "Kalau bukan rentenir, berarti mereka itu …" Olin membuat ekspresi kaget bercampur takut. Kedua matanya melotot dengan napas tertahan. Buru-buru Olin menghampiri Rendy dan berdiri di depan salah satu kursi yang berhadapan dengan Rendy. Sambil menangkupkan tangan di samping bibir, Olin sedikit membungkuk kemudian berbisik, "Pembunuh bayaran?" Mendengar hipotesis ngawur dari Olin, Rendy menghela napas panjang. Dia memijat pelipis sebelah kanan. Sudah terlalu lelah menanggapi celoteh perempuan di hadapannya yang sangat kritis imajinasi. Rendy sudah gagal membuat perhatian dua pria itu teralih. Dan kini dia harus berhadapan dengan seorang perempuan yang imajinasinya banjir. Pilihannya cuma dua; mati tenggelam di dalam lautan imajinasi Olin atau berusaha menyelamatkan diri dengan berenang ke tepian. Tuhan sedang menempatkannya di posisi yang kurang menguntungkan di waktu yang kurang tepat. "Ada nggak, perspektif yang lebih gila dari yang barusan kamu bilang?" canda Rendy dengan masih memijat pelipis. Kali ini berganti ke pelipis sebelah kiri. "Fix! Kayaknya kamu udah kena efek negatif karena terlalu sering bergaul bareng Karin. Udah berapa tahun persahabatan kalian? Ah sudahlah, bukan itu yang penting sekarang. So you must ignore it. I'm begging you." Rendy menghela napas lebih panjang dari sebelumnya. "Boleh aku jawab kalau persahabatan kami udah ngerayain ulang tahun yang ketiga puluh di tahun ini nggak? Kami bahkan dapat medali dari Guinness World Records dengan predikat persahabatan terawet sepanjang masa." Olin mengangkat kedua bahu sembari memutar kedua bola mata. "Bahkan umur Karin belum sampai kepala tiga," gumam Rendy lirih seolah menanggapi perkataan Olin. Saking lirihnya dengan artikulasi yang kurang jelas, mungkin hanya kucing yang mampu menangkap frekuensi itu. "So? Kalau bukan penagih hutang atau pembunuh bayaran, terus mereka siapa?" Olin masih belum menyerah. Rasa penasarannya begitu menuntut. Seperti sudah sangat kelaparan. Lagi-lagi dia mengeluarkan suara bisikan ketika mengatakan 'pembunuh bayaran'. Seolah frasa itu adalah sesuatu yang tabu untuk dikatakan dengan nyaring. "Oh, wait a second. I think I know who they are," sahut Olin tiba-tiba sambil menjentikkan jemari di kedua tangan sebanyak dua kali. Dia seperti mendapat wangsit. Lagi-lagi Olin membuat ekspresi yang sama. Kaget bercampur takut. Kedua matanya melotot dengan napas tertahan. Kali ini dia menutup mulut dengan kedua telapak tangan. "A-are those guys … are they police?" Di saat yang bersamaan, pintu utama ruangan itu dibuka dari arah lain. Giliran Rendy yang kini membuat ekspresi seperti Olin. Sontak Rendy berdiri. Air mukanya kaget bercampur takut dengan kedua bola mata nyaris keluar. Napasnya tercekat. Orang yang berdiri di ambang pintu sedang menatap Rendy dengan tatapan dingin dan seperti menahan amarah. "Speaking of the devil, there you are, Rendy!" *** "Halo, Olin? Are you guys okay? Kalian di mana sih?" tanya Karin khawatir dari seberang telepon. "Uhm, iya, Rin, sorry. Kami lagi di pusat oleh-oleh nih. Mendadak ada sesuatu yang pengen kubeli untuk anak-anak beYOUtiful. Entar aku berkabar lagi ya. Bye." "Kalian nggak kenapa-kenapa, kan? Kenapa bisik-bis—" Olin buru-buru menutup sambungan telepon setelah berkata 'sampai nanti' dalam bahasa Inggris. Dia tidak peduli walau masih terdengar suara Karin yang terus menanyakan keadaannya di seberang sana. Awalnya Olin tidak berniat menjawab telepon. Tetapi setelah melihat nama Karin di layar, Olin buru-buru menggeser tombol hijau. Sepertinya Karin mencium sesuatu yang tidak beres dari gelagatnya. Begitu pikir Olin. Tetapi masa bodoh. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Rendy melirik ke arah Olin yang kini berdiri di sebelah kirinya. Di tengah-tengah ketegangan suasana ruangan, beberapa detik yang lalu ponsel Olin meraung. "Ma-maaf," kata Olin takut-takut. Sesekali dia melirik balik ke arah Rendy yang kini menatapnya dengan pandangan gusar. "Pacarmu?" tanya laki-laki yang tadi membuka pintu dengan tatapan yang masih sama; menahan amarah. Usianya seperti tak jauh beda dengan Rendy. Di kanan-kiri laki-laki itu ada si petugas kasir dan seorang perempuan muda berkacamata menenteng sebuah paper board. Tangan kanannya memainkan helai rambut lurus sepanjang punggung menggunakan ujung bolpoin. Dari bibir merahnya keluar letusan gelembung permen karet. Tatapan mata lentik itu begitu sinis ke arah Olin. Rendy membuka mulut untuk menjawab. Dia sudah menyusun kalimat di dalam kepala, namun suaranya seperti terhenti di jakun dan tidak bisa lewat. "Mas Bisma, gini … aku bisa jelasin … ini uhm—" Bisma mengangkat tangan kanan sembari menggeleng. Gesturnya berkata bahwa dia menolak penjelasan apapun dari si lawan bicara. "Alice, Max, kita mulai saja rapatnya," perintah Bisma sembari duduk di kursi deretan tengah diikuti dengan Alice dan Max. "And you, Rendy Ramadhika. You STAY. Duduk di depanku." Rendy menuruti perintah Bisma. Olin mundur beberapa langkah untuk melipir ke arah pintu keluar, namun sial, gerakannya terbaca oleh Bisma. "And … you, pacarnya Rendy," panggil Bisma dengan lembut namun terkesan mengancam sekaligus. "Kamu juga silakan duduk di sebelah Rendy. Aku pengen kamu tahu seberengsek apa pacarmu ini. Prepare yourself for a moment of truth." Bisma menyeringai. Alice dan Max bertukar seringaian sinis. [ ] ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD