Ishaq terus menerobos menuju ruangan Fathan. Dia tidak peduli dengan Tania yang berusaha menghentikan dan menghalang jalannya. “Tuan Ishaq, mohon pengertiannya. Boss kami sedang rapat. Silakan menunggu, kami akan memberikan layanan terbaik, anda tidak akan bosan.” ujar Tania dengan terus mengikuti Ishaq. Hampir saja sampai di depan ruangan Fathan. Tania mengetab bibirnya kuat. Ishaq benar-benar membuatnya kesal. Ketika Ishaq hendak membuka pintu ruangan itu, Tania berlari dan menarik tangan Ishaq. “STOP!” jerkah Tania tegas. Dia berdiri di depan Ishaq dan menghalang pintu, “Tuan Ishaq, saya benar-benar minta maaf.” Tania menyusun sepuluh jarinya. Ishaq menatap Tania datar dan dingin, “Saya bukannya bermaksud tidak sopan pada anda, tapi saya rasa seharusnya anda lebih paham akan situasi

