“Sayang, abang pergi dulu.” Kening Meysha di cium. Meysha masih diam, tapi tangan Fathan tetap di salami. Dia sama sekali tidak menatap suaminya.
“Abang pulang telat hari ini, ada acara makan malam dengan klien. Minum obat jangan lupa, ya.” Kepala Meysha di usapnya sebelum keluar dari kamar.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, baru Meysha menoleh arah pintu. Dia mengeluh perlahan. Meysha turun dari ranjang, dia hendak ke kamar mandi. Tetapi, tiba-tiba dia mendengar suara Mama mertuanya dari luar. Perlahan Meysha mendekati pintu untuk bisa mendengarkan lebih jelas.
“Nanti malam kamu pergi sama siapa?” tanya Ami.
“Pergi kemana, Ma?” tanya Fathan kembali. Ponsel di keluarkan dari saku jas, karena tiba-tiba bergetar bertanda pesan masuk.
“Ya pergi ke pesta penyambutan kepulangan Karin lah. Kamu ini bagaimana sih,” geram Ami. Baru tadi malam dia katakan pada putranya itu, tapi pagi ini sudah langsung tidak ingat.
“Oh itu. Fathan tidak bisa ikut, Ma. Ada makan malam juga dengan klien. Lagian Karin kenapa baru sekarang bikin pesta penyambutan. Sudah seminggu lebih pun dia di sini. Kasih kabar juga mendadak.” Jawab Fathan acuh tidak acuh. Matanya masih terfokus pada screen ponsel.
“What? Apa kamu bilang? Tidak bisa? segampang itu Fathan?” Ami naik angin. Tetapi dia berusaha untuk tenang.
“Karin itu teman dekat kamu. Kalian sudah bertahun-tahun saling kenal. Sekarang untuk penyambutannya saja kamu tidak bisa hadir? Makan malam klien bisa di gantikan oleh Viko. Biasanya kamu juga begitu kan demi menemani Meysha. Masak ketika Karin membutuhkan, kamu juga tidak bertindak demikian. Setidaknya ini bisa di tunjukkan sebagai ucapan terima kasihmu, karena Karin sudah merawat Meysha.” Bujuk Ami.
Fathan menatap datar pada Ami. Dia sedikit merasa pelik dengan sikap Ami yang seolah sangat mengharuskannya untuk datang.
“Lihat nanti ya, Ma.” Fathan tersenyum tipis. Tangan Ami diambil dan di salami, “Fathan pergi dulu. Asalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumus salaam. Kabari Mama secepatnya.”
Fathan tersenyum tipis serta anggukan kecil menanggapi Ami. Kemudian dia langsung berlalu pergi.
Ami menyilang tangan di d**a memandangi punggung putranya yang menjauh. Senyum mengembang di bibirnya. Dia sempat mendengus sinis ke arah pintu kamar Meysha dan putranya sebelum beranjak dari situ.
“Astaqfirullahal’azim..” Meysha langsung tertunduk lemas di balik pintu. Pelipisnya di pijit. Dia tahu jika Ami memiliki rencana lain.
Beberapa hari lalu, ketika Meysha terbangun dari tidurnya. Sadar-sadar ternyata dia masih berada dalam ruang perawatan dokter Karin. Perlahan Meysha turun dari bangsal. Teringat olehnya jika dia pergi dengan sang mertua. Mampus lah di marahi jika membuat mertuanya itu terlalu lama menunggu.
“Karin, Jika Fathan berpisah saja dengan Meysha bagaimana menurutmu?”
Tangan Meysha yang hendak menarik gagang pintu langsung terhenti mendengar perkataan mertuanya itu. Darah di jantung langsung berdesir hebat. Gagang pintu langsung di lepas kembali. Dia ingin mendengarkan pembicaraan 2 orang itu lebih lanjut.
“Ma-maksud Tante?” terbata-bata Karin bertanya.
“Karin, tante sudah tidak tahan punya menantu bodoh seperti Meysha. Teman-teman Tante terkadang seolah memojokkan Tante ketika kami berkumpul. Tante tidak bisa begini Karin. Fathan adalah putra Tante satu-satunya, tante tidak redha jika dia mempunyai istri gila.” Ami menangis sesegukan.
“Meysha tidak gila, Tante. Mentalnya hanya terganggu dan itu bisa di sembuhkan.” Jelas Karin bersungguh-sungguh.
“Itu sama saja. Kamu sendiri sudah lihat kan, bagaimana dia meringis ketakutan. Dia selalu mendiamkan diri dan menutup diri dari orang-orang.” Teriak Ami.
“Please, Tante. Dengarin Karin dulu. Meysha akan sembuh, percaya pada Karin. Humm?” Karin berusaha menenangkan Ami. Tubuh Ami di peluknya.
“Kapan Karin? Kapan dia akan sembuh? Tante sudah tidak tahan melihat Fathan menderita berbulan-bulan karena perempuan gila itu. Tante tidak terima.” tangis Ami menjadi-jadi.
***
“Morning bos, “ sapa Tania bersahaja.
“Morning.” Jawab Fathan yang berlalu begitu saja ke ruangannya. Tania kala itu langsung merasa tidak puas hati. Sudah susah-susah datang cepat dan rela lama berdiri hanya untuk menunggu bosnya itu. Tetapi, dia hanya di lirik sedikit saja.
“Apa dia tidak mengingat aku lagi?” mata Tania tidak lepas memandang sosok Fathan yang sudah memasuki ruangan.
“Tania, Nia. Hellowww…” panggil Sifa sambil melambaikan tangan beberapa kali di depan wajah Tania.
Tania tersadar, “Ee.. kau Sifa.” Tania tersenyum awkward.
“Kamu kenapa? lihat apa? terlalu serius kamu tatap ke depan, sudah seperti kucing lihat ikan asin saja.” Sifa tertawa di ujung kalimatnya.
“Bukan apa-apa, tdak lihat apa-apa. Melamun saja. Aku ke pantry dulu.” Tania berlalu pergi. Malas dia melayani Sifa. Dia kurang suka pada perempuan itu.
Sifa sudah memasang wajah bingung, “Kenapa dia?” tanyanya sendiri, “Hish, aku pikirin dia buat apa juga?” Sifa tersengih sendiri. Dia berlalu ke mejanya.
Tania melamun. Tangannya tetap lanjut menuangkan s**u bubuk ke dalam gelas. Kala itu Fathan juga tiba di pantry hendak membuat kopi. Dia memang jarang memerintah staff membuatkan kopi untuknya. Lebih suka turun tangan sendiri.
Kening Fathan berkerut melihat Tania.
Sedikit tergelak saat melihat Tania yang bersungguh-sungguh melamun hingga tidak sadar akan kedatangannya.
“Sudah mau penuh itu.” tegur Fathan.
Tania terkejut, “Err.. bos.” Dia tersenyum awkward. Ya Lord malunya. Cepat dia berdiri tegap.
“Kamu mau minum s**u atau mau makan bubuk s**u?” tanya Fathan sambil meraih gelas.
“Minum s**u dong, Bos. Saya bukan anak-anak yang suka makan bubuk susu.” Jawab Tania, “Bos mau buat apa? boleh saya bantu.” Tawar Tania.
“Yakin kamu bisa? tapi saya ragu. Sebab kamu itu anak-anak.” Fathan tertawa kecil. Tania juga sudah terlihat bingung melihat bosnya itu. Apa yang lucu? Tania garuk kepala.
“Aku anak-anak?” gumam Tania bingung. Perlahan dia melirik gelasnya. Oh god.. malunya. Pantas. Gelasnya yang di isinya dengan s**u bubuk sudah mau tumpah.
“Maaf bos. Tadi saya melamun.”
“Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan terlalu berlarut melamun. Tidak baik.” Fathan pun sudah selesai membuat kopi, “Saya pergi dulu.” dia berlalu pergi.
Haish.. kamu ini Nia. Sempat Tania mengumpati dirinya. Setelahnya, Tania tersenyum. Dia teringat bagaimana mempesonanya wajah Fathan tadi. Apalagi Fathan tertawa karenanya.
“It’s okay dia tidak ingat aku. Boleh aku ingatkan dia nanti kalau kita pernah bertemu sebelumnya. Dia suka kopi kan? Well.. nanti aku bikinin untuk dia.” Tania tersenyum sendiri.
***
Pintu ruangan Fathan di ketuk. Fathan menyuruh masuk. Terjungal kepala Tania di balik pintu.
“Siang bos. Boleh saya masuk.”
Fathan merasa pelik. Tidak pernah satupun karyawan lain di perkenankan untuk memasuki ruangannya. Untuk kepentingan apapun sudah ada yang di tunjuk untuk berhadapan dengannya. Yaitu Viko, Mike dan Sifa.
“Ya, boleh.” Ucap Fathan. Dia mencoba mengerti karena Tania karyawan baru. Mungkin lupa dengan protocol kantor.
Tania tersenyum puas. Pintu di bukanya lebar dan di tutup kembali.
Fathan melirik Id card Tania. Dia belum begitu mengetahui nama karyawan barunya ini. Tidak enak juga jika berbincang tanpa tahu nama.
“Duduklah.” Arah Fathan.
“Terima kasih bos,”
“Ada hal apa Tania?” tanya Fathan. Dia kembali menatap layar laptopnya. Karena dia tidak melihat Tania membawa dokumen penting apapun.
Dia tau nama aku?? Tania sudah mengembang senyum. Berbunga hatinya.
“Errk.. ini bos. Sebenarnya saya mau menanyakan sesuatu. Ada satu dokumen yang tidak saya mengerti.” Tania berucap ragu-ragu.
Fathan langsung berhenti dari kegiatannya. Tidak habis pikir saja dengan sikap Tania. Dia ini benar-benar tidak baca protocol kah? Tanya dokumen padaku? apa gunanya ketua devisi? Perlahan Fathan menatap Tania.
“Tania kamu tidak baca protocol kantor kah?”
Tania langsung tertegun. Errk.. salah strategi kah dia?
“Err…” Tania tergagap seketika. Tidak tahu mau bicara apa.
“Ok tidak apa-apa. Kali ini saya maafkan. Setelah ini baca protocol, okay!”
“Okay bos.” Tania mengambil napas lega.
“Bagian mana yang tidak kamu mengerti. Coba saya lihat.”
“Ini bos..” Tania cepat mengulurkan dokumen tersebut. Di tunjuknya bagian asal. Karena itu memang hanya alasan. Dia hanya ingin bertemu dengan bosnya ini.
Fathan mengangguk. Perlahan dia menjelaskan apa maksud dari dokumen tersebut. Tania mengembang senyum, bukannya mendengarkan penjelasan, dia malah asyik memperhatikan Fathan. Dia sungguh sangat tergila-gila pada bosnya ini.
“Paham?” tanya Fathan di akhir kalimatnya. Tidak ada jawaban.
Astaqfirullahal’azim. Dia malah senyum-senyum? Meja di ketuk Fathan, hingga Tania langsung tersadar.
“Ma-maaf, bos.” Tania menunduk malu.
“Kamu paham tidak ini Tania? Mulut saya sudah berbusa menjelaskan. Tapi kamu malah melamun. Jika kamu ada masalah, saya beri kamu Mc satu hari. Tenangkan pikiran kamu itu dulu.”
“Tidak perlu, bos. Saya baik-baik saja.” Jawab Tania cepat. Dia Mc? Rugilah dia tidak dapat lihat wajah bosnya.
“Serius? Saya tidak suka dengan karyawan yang membawa persoalan lain ke kantor. Jika sudah di kantor kesampingkan masalah pribadi kalian sejenak. Fokus bekerja. Jika adapun masalah yang memang sangat mengganggu, saya izinkan Mc.”
“Ya, bos. Maafkan saya. Humm.. sebenarnya..” ragu-ragu Tania berucap. Fathan mula hanya memperhatikan.
“Boss apa tidak ingat saya lagi?” tanya Tania memberanikan diri.
“Ingat kamu?” kening Fathan berkerut.
“Iya boss. Sebelumnya kita pernah bertemu di rumah sakit. Bos menabrak saya hingga terjatuh.”
Fathan tampak berfikir. Ah, iya. baru dia ingat. Kala itu berpakaian terbuka, sekarang bolehlah, lebih tertutup. Syukurlah.
“Saya ingat. Maafkan saya. Apa tangan kamu baik-baik saja?”
Cepat Tania mengusap pergelangan tangannya, “Sekarang sudah tidak apa-apa, bos. Saya berurut hari itu, 5 hari setelahnya sudah baikan.” Jelas Tania.
5 hari baru sembuh? parah berarti. Fathan merasa sedikit tidak enak.
“Benar sudah tidak apa-apa?” Fathan memastikan.
“Iya, bos.” Tania tersenyum. Fathan peduli padanya.
“Okay lah kalau begitu. Besok apa bisa kita makan siang bareng. Saya traktir, sebagai tanda permintaan maaf.” Ujar Fathan.
“Hah?”
“Kamu tidak berkenan?”
“Bukan begitu bos. Saya mau, saya mau.” Jawab Tania cepat. Mau di tolak? Rugilah.
“Ha, okay.”
Bahagia bukan main. Hatinya bersorak gembira. Tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan kesempatan ini. Dia sebenarnya sudah tahu protocol di perusahaan ini. Tapi Fathan mau saja melayaninya. Apakah Fathan juga ada hati padanya? Pikir Tania.